Matthelina

Matthelina
Chapter 41


__ADS_3

Monika dan Dewi gembira mendengar kabar baik di pagi ini. Cinta Matthew dengan Elina akhirnya kembali bersatu. Pernikahan pun pasti akan segera berlangsung. Hanya saja, masih ada yang dikhawatirkan oleh Dewi.


"Lalu, bagaimana dengan papamu? Dia sangat menentang hubungan kalian," katanya. "Dia bisa saja mengancam Elina lagi." Monika mengangguk, menimpali.


"Tenang saja," kata Matthew yakin. "Apa pun yang mau papa lakukan, dia tidak bisa menghalangi pernikahan aku dengan Elina. Aku akan bertindak."


Jika memang seperti itu, walaupun masih agak merasa cemas, Dewi dan Monika mendukung rencana mereka.


"Jadi, kapan kau mau melamar Elina?" cetus Monika girang. "Biar aku dan mama mempersiapkan acara lamarannya."


"Hmm ..." Matthew duduk bersandar di sofa. "Kalau bisa secepatnya."


-;-;-;-


Dengan alasan demi kepentingan proyek kerja sama perusahaan, Matthew datang ke kantor. Padahal, itu hanya alasannya saja untuk melihat Elina.


Meskipun tidak ada yang tahu mengenai hubungan dirinya dengan pemilik perusahaan Inggris itu, tetap saja Elina merasa canggung. Begitu bosnya meninggalkannya dengan Matthew di ruang rapat, Elina langsung memprotes.


"Kenapa ke kantor? Dan lagi, kau hanya ingin bicara berdua denganku saja."


Matthew tersenyum jahil. Ia belagak santai dan arogan saat mengatakan, "Biar saja. Sekalian saja kita beritahukan soal hubungan kita."


"Matthew!" Elina ingin marah, tapi ia hanya berseru pelan, takut ada yang terdengar sampai di luar."


Pria ini senang sekali membuat wajah Elina memerah karena kesal. Tapi itu semua justru tampak menggemaskan di matanya. Bagaimanapun juga, wanita keras kepala itu harus dilunakkan. Diraihnya tangan gadis itu sembari tersenyum, lalu dikecupnya.


"Aku ingin mengawali hubungan kita lagi. Maukah, kau menikah denganku?"


Kali ini, wajah memerah Elina bukan karena kesal, melainkan karena tersanjung. Tapi tidak seru jika tidak membalas kejahilannya tadi. Ditariknya tangan yang digenggam oleh Matthew tadi.


"Ini yang disebut lamaran?"


"Memangnya, aku harus apa?" Lucu sekali, pria ini begitu polos wajahnya. "Apa aku harus menulis sebuah CV seperti melamar pekerjaan, begitu?"


Elina meletakkan tangannya di dagunya, berpura-pura sedang berpikir. "Sepertinya ada yang kurang...."


"Cincin?"


Elina menunjukkan cincin lamaran yang dulu Matthew sematkan ke jarinya dulu. "Sepertinya tidak perlu."


"Lalu apa?" tanya Matthew bingung.


Sulit sekali membuat pria ini mengerti, sampai Elina gemas. Tapi lucu juga ya, Matthew sudah hidup selama 30 tahun, tapi cara melamar secara romantis saja tidak tahu. Bukannya Elina banyak tingkah, tapi Elina ingin hal istimewa untuk perkawinannya yang pertama dan terakhir dengan pria yang sangat dicintai.


Elina menghela napas, lalu beranjak dari kursinya. "Bagaimana kalau kita pergi kencan? Kita belum pernah pergi berkencan kan?"


Tapi sayangnya, kencan itu dibatalkan. Matthew mendadak harus pergi ke Bandung untuk sebuah urusan. Jadinya, Kevin mengajak Elina untuk menonton film, karena ada film yang ingin dia tonton.

__ADS_1


Meski harus kecewa, Elina mau tidak mau menghabiskan waktu kurang lebih dua jam bersama dengan Kevin. Pria itu agak aneh hari ini, mengoceh terus, menyampaikan rasa bahagianya karena Elina dan Matthew bersatu kembali menjadi sepasang kekasih.


"Tinggal nunggu undangan nih?" goda Kevin, masih menyesuaikan diri berbicara Bahasa Indonesia.


Elina meringis, menahan tawa mendengar celetukan yang aksennya masih bercampur. "Iya. Tadi dia melamarku, tapi aku suruh dia untuk membuat lamaran yang romantis."


"Elina, kenapa mempersulit dia? Kan, dia orangnya tidak romantis. Kasihan dia, pasti sedang memikirkan cara melamarmu."


Elina tahu. Tapi ia yakin, Matthew pasti tidak memusingkan soal itu. Buat apa dia memiliki banyak pegawai, kalau bukan untuk disuruh-suruh. Pria itu tentunya menggunakan mereka untuk mempersiapkan lamaran romantis untuknya.


"Aku hanya ingin mengujinya sedikit. Boleh, kan?"


"Uh, kau sungguh jahil!" kata Kevin, diselingi tawa.


Sehabis itu, mobil dilajukan ke tempat Kevin menginap. Katanya, ada yang ingin ditunjukkan pria itu. Kevin membimbingnya ke area belakang hotel.


Elina terpana, begitu kakinya melangkah ke taman itu. Di atasnya ada payung-payung bermacam warna tergantung. Pada ujung gagangnya, terdapat sebuah foto-fotonya yang diambil oleh Matthew saat ia sedang hamil dulu. Senyumnya terkembang. Siapakah yang menyiapkan ini? Matthew?


Elina menoleh pada Kevin, ingin menanyakan maksud semua ini. Tetapi pria itu sudah tidak ada. Kevin diam-diam undur diri, begitu Elina terkesima oleh kejutan ini.


Lalu, Elina melangkah ke arah payung warna merah muda. Ia melihat ada tulisan di bawah sebuah foto.


Itu adalah foto saat ia sedang memegang cangkir teh, dengan perutnya yang agak membesar, menunduk sambil tersipu. Elina tidak ingat kapan foto itu diambil. Mungkin Matthew memfotonya diam-diam. Di bawahnya juga tertulis: "You are always on my mind".


Matthew, Matthew. Bisa aja bikin senyum Elina terkembang terus.


Suara anjing mengalihkannya. Seekor anjing pudel putih berlari menghampirinya dan berhenti. Elina jongkok di depannya. Ada kertas?


Anjing itu lalu berjalan duluan memasuki hotel, lalu memasuki sebuah lift yang kemudian berhenti di lantai 3. Langkahnya dilanjutkan sampai di depan kamar 107.


Dalam benaknya, Elina menebak-nebak ada apa dengan kamar ini? Bukankah ini kamar tempat bertemunya dirinya dengan Matthew pertama kali?


Di knop pintu, sebuah kertas tergantung. Di sana juga tertulis: "Masuklah. Impian dan kebahagiaanmu ada di dalam sana."


Apa lagi ini? Elina pun akhirnya menekan pintunya dan membukanya perlahan. Ia melongok ke dalam. Kosong, tidak ada orang. Tapi ia tak mau berprasangka dulu. Lantas, ia masuk ke dalam, berjalan menuju bilik sebelah kanan. Di sana ada sesosok pria sedang duduk di tepi jendela, memandang ke arah luar.


Begitu menyadari kehadirannya, pria itu menoleh dan tersenyum. Elina juga tersenyum, karena pria itu adalah kekasihnya, Matthew.


Pria itu melangkah pelan ke arah Elina. Tangan kanannya disembunyikan di balik punggung, dan saat dia sampai di depan Elina, tangan itu dikeluarkan, dengan menggenggam sebuket bunga.


Elina menerimanya dengan perasaan bahagia. Setelah itu tak ada lagi, hanya sampai situ kejutannya. Elina kira, lamaran yang ditunggunya akan diucapkan oleh Matthew.


Tetapi tak mengapa. Kejutan ini sudah cukup. Jika memang bukan ini waktunya pria itu melamarnya, Elina akan tetap menunggunya.


"Terima kasih," ucap Elina.


Matthew tersenyum simpul. "Elina." Wanita itu mendongak menatapnya. "Aku hanya bisa memberimu kejutan seperti ini. Kau tahu aku bukan pria yang romantis; ini saja aku sampai pusing memikirkannya. Aku berusaha mencari tahu cara wedding proposal yang romantis di internet."

__ADS_1


"Hah? Ini lamaran?" tanya Elina terkejut.


"Iya," sahut Matthew yang justru heran pada keterkejutan Elina. "Emangnya, kau pikir apa?"


"Oh. Terus?"


"Ya, terus...."


Elina menghela napas jengkel. Kenapa soal ini otak Matthew justru berjalan lambat? Ia jadi tidak sabaran.


"Ya, kau tidak bilang kata ajaibnya?"


Kata ajaib? Aduh Elina, kenapa tidak bilang langsung saja? Matthew bingung lagi memikirkannya, walau pada akhirnya ia mengerti maksudnya.


Matthew mendeham. "Elina, aku bukan pria yang sempurna, mungkin juga bukan pria yang bisa memberikan semua keinginanmu. Tetapi aku punya cinta, kasih, dan sayang yang akan kuberikan padamu selama aku bernapas, selama aku mampu."


Entah kata ini Matthew ambil dari internet atau bukan, yang pasti Elina tersentuh mendengarnya. Ia bisa merasakan ada ketulusan dari ucapannya itu.


"Jika berkenan, maukah kau menjadi pemilik hati ini, menemaniku hingga mataku memburam, wajahku tak tampan lagi dan penuh keriput--karena aku lebih tua darimu, pasti akan menua lebih cepat."


Elina tertawa kecil. Selingan kata itu, membuat suasana haru berubah menjadi agak sedikit ceria.


"Apa sudah?"


"Harusnya menunjukkan cincin ya? Tapi kau bilang tidak perlu," jawab Matthew polos.


Elina tertawa kecil lagi. Lalu, ia menunjukkan sebuah cincin yang pernah Matthew berikan. Dilepaskannya cincin itu dari jarinya, lalu ia meminta Matthew memakaikannya sambil berlutut.


"Aku jawab dulu, baru kau masukkan cincinnya ke tanganku, ya?" kata Elina.


Matthew mengangguk, melakukan yang dikatakan oleh Elina. Dia berlutut, meraih tangan Elina sembari berkata, "Jadi, apa jawabanmu?"


Pikiran jahil Elina menggelitik. "Jawab apa?"


"Ya itu tadi."


"Yang mana?" sahut Elina pura-pura polos.


Matthew mendecak. "Ayolah, Elina, lututku ini sakit."


"Serius, kau belum bilang apa pun."


Dasar wanita ini, sekarang mulai suka mempermainkannya ya? Matthew sampai gemas dan berseru spontan, "Menikahlah denganku!"


Elina terkejut, lalu seulas senyuman terbentuk di bibirnya. Puas dan senang mendengarnya. Ia tak langsung menjawab. Ia menghela tubuh Matthew agar berdiri--kasihan juga kelamaan berlutut begitu.


"Pasangkan cincinnya." Elina menyodorkan jarinya.

__ADS_1


Akhirnya. Dengan dengan perasaan bahagia dan haru, Matthew menyematkan cincin itu ke jari manis Elina. Dikecupnya tangan calon istrinya itu.


Kebahagiaan yang sempat tertunda itu akhirnya terwujud. Kini, tak ada satu pun yang mampu memisahkan mereka lagi, termasuk William.[]


__ADS_2