
Sensi
Elina melirik Matthew yang sedang memasukkan mainan Justin ke sebuah boks hijau. Aih, pria itu tetap tampan meski hanya memakai kaus lengan panjang abu-abu, celana jins biru, dan rambut yang tidak tertata rapi. Di telinganya terpasang earphone, memutar sebuah lagu dari ponselnya.
Elina menggeleng. Apa sih yang ada di dalam pikirannya? Kenapa tatapannya jadi memuja begini? Kayak ABG labil aja.
Kalau dipikir, dengan adanya Matthew di sini, itu pertanda bahaya bagi Elina. Cepat atau lambat kehamilannya akan terbongkar. Sebaiknya, pengguguran kandungan secepatnya dilakukan.
“Sini, biar aku yang meletakkannya,” kata Matthew, membuyarkan lamunan Elina.
Elina terkesiap dan tersadar bahwa boks biru sudah terisi penuh olehnya. Elina beringsut sedikit, membiarkan pria itu mengangkat dan membawa boks itu ke kamar Justin.
Pasangan ini diam saja selama membereskan mainan. Tak ada yang mau memulai percakapan. Matthew memang agak pendiam, tapi ia terlalu canggung untuk bicara dengan Elina, walaupun banyak sekali yang ingin ditanyakan. Berbeda dengan Elina, yang memang tak ingin berbasa-basi dengan Matthew. Lagipula, tidak ada yang ingin dibicarakan. Ia juga sadar akan posisinya yang hanya sebagai pengasuh di rumah ini. Jadi harus jaga sikap.
Tapi Matthew tidak tahan jika pertanyaan itu tersimpan terus. Akhirnya, sebuah pertanyaan basa-basi dilayangkannya, yang membuat hatinya cukup lega. “Apa kabar?”
Elina tertegun, padahal pikirannya sedang berkecambuk mengenai cara melenyapkan anak ini secepatnya. “Hmm … baik.”
Matthew menelan air liurnya. Hening lagi, karena berharap Elina akan berbalik menanyainya. Akan tetapi, gadis itu tetap bergeming dan terus menyelesaikan pekerjaannya.
“Apa ibumu sudah sembuh?” Akhirnya, Matthew lagi yang memancing.
Walaupun sangat ingin, tapi Elina tetap pada prinsipnya untuk tidak menatap pria itu. “Sudah.”
Matthew bisa gila karena perempuan ini. Kenapa sikapnya sedingin itu? Apa dia sedang menjaga jarak? Dan ya ampun, ia tak mampu menahan diri untuk melihat ke arah Elina. Setelah sebulan berlalu, kenapa wajah wanita itu terlihat berseri dan semakin cantik?
Habis itu? Tidak ada lagi. Jawaban terakhir Elina membungkam Matthew hingga semua mainan telah selesai dibereskan. Pada saat itu, Monika sedang menuju ke lantai atas dan melihat adiknya tengah membantu Elina untuk membawakan boks mainan terakhir.
“Tidak seperti Matthew?” gumamnya dalam hati. Monika menduga, bahwa mereka bukan hanya sekadar saling mengetahui nama, kemungkingan mereka sudah saling mengenal.
Penasaran, ia menjegat Matthew ketika akan keluar dari kamar Justin.
“Kak Monik?”
“Matthew, kau harus jawab jujur! Kau dan Elina saling mengenal kan?”
Matthew terkejut, Monika langsung menembaknya dengan pertanyaan itu. Harus jawab apa? Haruskah ia jujur?
Saat ia sedang berpikir, Elina muncul beberapa meter di belakang Monika. Ia melirik, melihat Elina yang tanpa ekspresi lalu turun ke lantai bawah.
Monika mendengar derap langkah itu, dan menoleh ke arah anak tangga. Terlihatlah Elina.
“Matthew! Jawab!” serunya mengagetkan pria itu.
“Emangnya kenapa?” jawab Matthew sambil berjalan ke luar kamar, “Kakak curiga karena aku membantu dia membereskan mainan?”
Lebih dari curiga, sebenarnya. “Ya, aneh aja. Nggak biasanya kamu begitu.”
“Aku cuma kasihan. Itu aja,” Matthew berdalih.
Sebenarnya Monika tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu. Melihat Matthew tak berniat mengatakan semuanya, ia tak melanjutkan.
“Ya, udah. Istirahat sana! Oh iya, papa tadi nelepon. Nanyain kamu udah sampai atau belumnya," ujar Monika, kembali berbalik.
Matthew tersenyum singkat. Papa, yang sering beradu debat dengannya, mengkhawatirkannya? Agak aneh kedengarannya, tapi ia tak peduli. Ia tak ingin hari terbaiknya dirusak karena memikirkan orang yang dibencinya itu
Lantas, ia beranjak ke kamar. Benar kata Monika, ia harus istirahat untuk menjalankan hari pertamanya bekerja besok. Ia tersenyum, mengingat pertemuan dan kejadian hari ini bersama dengan Elina. Hatinya tenang ketika melihatnya. Akhirnya, bisa juga tidur nyenyak.
-;-;-;-
Kebiasaan saat hamil adalah bangun sekitar jam 2 pagi. Apalagi pikirannya berkutat pada kejadian tadi siang, yang cukup membuatnya kuatir.
Ia memutuskan untuk beranjak dari ranjang, perlahan keluar kamar agar bi Jumi tidak terbangun. Ia memasuki pekarangan halaman belakang dengan waspada, lalu jari-jarinya dengan cepat mencari nomor Raima, dan menghubunginya.
Ia mendecak, panggilan pertama tidak diangkat, begitu juga dengan panggilan kedua dan ketiga. Ia menekan tombol dial dengan kesal saat panggilan keempat.
Syukurlah tersambung. Tapi saat Raina mengangkatnya, Elina langsung sewot, "Kok lama banget sih, ngangkatnya?"
Raima terkejut sekejab. Dasar ibu hamil, bawaannya sensi terus. "Sabar, Bu. Sori, aku baru aja sampai di rumah," jawabnya terkekeh.
Elina jadi tidak enak hati karena kesal oleh prasangka buruknya. "Sori. Ima, gue butuh bantuan lo."
Terdengar suara derit pintu terbuka. "Bantuan apa cantik?"
"Gue nggak bisa ceritain alasannya sekarang, tapi gue butuh pinjaman duit."
Raima terkekeh. "Ya, ampun. Bilang aja kali, nggak usah ragu gitu. Bilang, berapa yang lo butuhin?"
Elina terdiam, menggigit bibir bawahnya. Ragu dan takut, sambil melihat-lihat di sekitar tempat itu. "Emang, berapa banyak duit yang harus dibayar buat aborsi?"
Sepertinya Raima kaget bukan kepalang, sampai seruannya di ujung telepon membuat Elina menjauhi ponselnya dari telinga. "Lo mau aborsi sekarang?"
__ADS_1
Tanpa sadar Elina mengangguk. "Iya."
Setelahnya, si penerima telepon terdiam. Entah apa yang sedang terjadi dan yang sedang dipikirkan Raima, Elina menunggu sampai wanita itu kembali berkata.
Raima menghela napas. "Gini aja, besok gue dateng jemput lo—sekitar jam 10an—gue bawa duitnya, sekalian anterin lo ke klinik. Tapi gue nggak nungguin lo, ya. Soalnya besok gue mau kirim duit."
"Iya. Thanks, Ima."
"Hmm ... udah sana tidur. Ibu hamil nggak boleh bergadang," canda Raima diselingi tawa kecil.
Elina tersenyum. Nasihat itu akan didengarnya hari ini saja karena besok predikat "ibu hamil" tidak akan melekat lagi pada dirinya.
Sambungan telepon terputus. Sekarang, ia harus kembali ke kamar, sebelum bi Jumi atau siapa pun menyadari kalau dirinya menghilang di malam hari.
"Sedang apa kau?"
Elina terhenyak, matanya mendelik. Suara itu ... apa pria itu memergokinya tengah membicarakan rencananya dengan Raima? Ia tak berani menoleh, tapi tak bisa terus-terusan bergeming. Jadi, ia berbalik.
Matthew berdiri sekitar 3 meter darinya, menatap dengan penuh tanda tanya dan menyelidik. Tatapan itu hampir berhasil menggoyahkan sikap tenang Elina. Dalam sekejab, kegugupan itu berhasil disembunyikan.
"Tuan Matthew? ... saya tadi sedang menelepon Raima. Takut mengganggu bi Jumi, jadi saya neleponnya di sini," ujar Elina.
Alasan yang masuk akal, tapi tetap saja Matthew menaruh curiga padanya. "Oh, ya sudah. Kembalilah ke kamarmu!"
Elina mengangguk singkat, lalu berjalan melewati Matthew, yang menyusulnya dan berjalan di sampingnya. Tak ada kata, hanya kecanggungan yang melingkupi keduanya. Tapi nama Raima muncul, menjadikannya topik pembicaraan di tengah suasana yang kaku ini.
"Raima ... apa kabar?"
"Baik," jawab Elina.
"Adikmu sudah lulus?" tanya Matthew lagi.
"Belum, sekitar dua bulan lagi lulus."
Matthew mengangguk. Aduh, apalagi ya, yang harus dikatakan? Hening lagi? Ya, itu terjadi saat beberapa langkah lagi hampir menuju teras pintu samping.
"Raima masih bekerja di situ?" Akhirnya, soal sahabat Elina lagi yang dibahas.
Elina termenung, sendu. "Raima tidak akan pernah bisa berhenti, kecuali jika Mami Sarah yang melepaskannya."
"Maksudnya, Raima dikontrak?"
Elina mengangguk. "Em ... bisa dibilang begitu."
Lalu, ia kembali berucap, "Untung saja, kau tidak ikut menjadi seperti dia."
Elina mulai tidak nyaman. Membahas masa lalu dan teringat akan malam itu ... Elina tidak mau menjawabnya.
Kenapa diam? Matthew menyimpulkan, Elina pasti tidak mau membahasnya karena suatu alasan. Baiklah, ganti topik!
"Kenapa kau tidak melanjutkan kuliah, dan malah bekerja?"
Oh Tuhan, apa Matthew salah bicara? Sekalinya Elina menunjukkan wajahnya, ekspresi tak senang yang terlihat. Ucapannya juga kali ini agak sengit:
Elina berhenti melangkah. "Kenapa Anda ingin tahu?" Dan jika Matthew bukan majikannya, ia akan menambahkan: "Anda tahu, Anda telah melewati batas!"
Sangat mengejutkan. Mata Matthew sampai membulat, tak menyangka, gadis kalem ini ternyata sangat sensitif. Mungkin ini pertanyaan pribadi, jadi ia merasa terganggu.
"Kenapa kau jadi marah?" Matthew memejamkan mata. Ah, menyesal malah menanggapinya dengan kesal juga.
"Anda—"
Sudahlah, menjawabnya dengan kemarahan bisa mengancam rahasia dan pekerjaannya. Meskipun masih kesal, Elina berusaha bersikap lunak.
"Maafkan saya, Tuan. Sudah malam, saya mau permisi kembali ke kamar," katanya agak dingin, kemudian masuk ke dalam rumah.
Matthew mendengus, mengacak rambutnya dengan frustasi. Ada apa dengan wanita itu? Lama-lama ia bisa jadi gila!
-;-;-;-
Berulah lagi. Rasa mualnya datang tiba-tiba, saat Elina menyuapi Justin. Entah apa yang menyebabkannya mual. Ia berusaha agar tidak membekap mulut, ataupun bersikap yang mengundang kecurigaan.
Tapi mau sampai kapan? Ia tak tahan.
"Permisi ya, Nyonya." Langsung saja Elina meletakkan mangkok makanan Justin ke meja, lalu ia bergegas ke kamar mandi.
Ia memuntahkan makanan tanpa ada suara. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi. Tapi ... ia mendelik, tubuhnya terasa gemetar. Apa karena banyak sekali makanan yang dimuntahkan?
Lantas, ia akan kembali ke ruang makan. Baru beberapa langkah, tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.
Matthew yang baru turun dari lantai atas melihat Elina yang wajahnya terlihat pucat, dan jalannya yang perlahan-lahan sambil berpegangan pada dinding. Ia terkejut, saat melihat tubuh Elina terhuyung.
__ADS_1
Sontak ia berlari menuruni tangga, dengan sigap menahan tubuh Elina agar tidak terjatuh.
"Kau kenapa? Apa kau sedang sakit?"
Apa ini disebut pria yang acuh tak acuh? Matthew bertanya dengan raut wajah yang begitu cemas. Elina terenyuh. Bayi ini, apa ia beritahukan saja?
"Aku tidak apa-apa." Canggung, Elina langsung saja berdiri. "Terima kasih."
"Elina," panggil Matthew cepat, sebelum Elina beranjak pergi.
Gadis itu sedang membelakanginya, jadi ia berdiri di hadapannya. "Kalau kau sakit, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk bekerja."
Jika Elina berani, ia akan menyahut: "Apa urusan Anda, Tuan Matthew?" Tapi ia tersenyum singkat, dan hanya berkata, "Terima kasih atas perhatian Tuan. Saya tidak sakit. Permisi."
Monika terkejut melihat keadaan Elina setelah kembali dari kamar mandi. Hal yang sama ditanyakannya pada Elina: "Kamu sakit? Kok mukanya pucat gitu?"
Elina tersenyum. "Saya nggak apa-ap—"
"Kak," tiba-tiba Matthew datang menyela, "suruh Elina istirahat dan pergi berobat."
Elina menoleh protes, tapi Matthew tak menghiraukannya. Hal ini malah menaruh curiga bagi Monika. Bentuk perhatian yang tidak biasa, walaupun adiknya, pada dasarnya, memang baik.
"Ya, Monika," timpal Dewi. "Kasihan Elina. Pasti lelah menjaga Justin seharian. Ya, toh?"
Monika mengangguk setuju, setelah beberapa saat menimbang-nimbang. "Ya udah, kamu hari ini istirahat. Lagipula, aku sedang tidak ada jadwal sidang."
Elina mau menolak, tapi kalau dipikir, ia tidak perlu cari alasan untuk keluar hari ini.
"Nanti jam 10, saya izin ya, Nyonya."
-;-;-;-
Sesuai janji, Raima menemui Elina di perempatan jalan yang agak jauh dari rumah majikannya. Motorpun dilajukan ke daerah bilangan Bekasi.
Kata Raima, kliniknya agak masuk ke dalam gang tempat mereka berhenti. Di sana ada sebuah klinik kecil, tapi tidak ada yang tahu bahwa itu adalah klinik aborsi. Tempatnya juga cukup terpencil dan sepi. Jalan yang dilalui juga banyak semak-semak yang tinggi dan berbatuan.
"Ini duitnya." Raima mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di telapak tangan Elina. "Sori, gue cuma bisa nganterin sampai sini."
Elina menggeleng sambil tersenyum simpul. Baginya, ini lebih dari cukup. "Nggak apa-apa. Makasih ya, Ima."
Raima meninggalkan Elina, sebelum melangkahkan kakinya ke jalan berbatuan. Di samping kanan dan kiri jalan ada rerumputan liar yang kering dan agak tinggi. Selain itu, banyak rumah-rumah terbengkalai, rusak, dan tidak berpenghuni.
Elina cukup kelelahan, meski jalan yang ditempuh hanya mengikuti arah jalan ini, tapi jaraknya agak jauh dari jalan utama. Kira-kira 10 meter, terlihat sebuah bangunan mirip rumah, berpagar besi yang sudah karatan, dinding bercat putih yang warnanya sudah pudar, bahkan berlumut. Tidak ada plang nama yang terpasang di depan bangunan ini.
Nggak salah ini? Bulu roma Elina meremang karena rumah ini mirip rumah hantu yang angker. Tapi setidaknya, rumah ini masih lebih baik, rumputnya tidak dibiarkan tinggi dan dipangkas.
Dengan langkah yang ragu, Elina melewati pagar yang terbuka dan memasuki klinik itu. Betapa takjubnya ia saat masuk ke dalam, sangat berbeda dari penampilan luarnya! Ruangannya bersih, pencahayaannya cukup, tertata rapi, bahkan ber-AC.
Seorang wanita yang duduk di meja pendaftaran menyapanya dengan ramah dan senyuman. Elina tersenyum canggung, lalu menghampiri.
"Saya ingin aborsi, Mbak," kata Elina antara ragu dan yakin.
Wanita itu memberikan selembar kertas ke arahnya. "Tolong diisi dulu, ya?"
Setelah melalui proses registrasi dan pembayaran, Elina diarahkan ke koridor sebelah kanan, yang mana ruang operasi ada di ujung koridor.
Elina duduk di salah bangku yang kosong di koridor ini, hanya dia pasien yang akan diaborsi. Tapi di dalam ruang operasi masih ada pasien, dan mereka keluar tak beberapa lama kemudian.
Sepasang remaja? Elina terkejut. Mereka masih sekolah, ke sini dengan seragam putih abu-abu. Yang laki-laki memapah kekasihnya yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Tahan ya, sayang," kata remaja laki-laki itu.
Miris. Bagaimana nasib si gadis kelak? Masa depan telah hancur, sama sepertinya kini. Yang ditakutkan pada saat menikah. Apa yang akan dikatakannya pada si suami, jika tahu dia sudah tidak suci dan pernah aborsi?
Makanya, Elina memutuskan untuk tidak menikah. Kehidupan pernikahannya akan kacau; tidak ada cinta, yang ada kebencian. Hari-hari dilewati oleh pertengkaran. Dan akhirnya perceraian tak terelakan.
"Ibu Elina, silakan masuk," panggil seorang suster yang keluar dari ruangan itu.
Elina tersentak dari lamunan. Ia menyahut, lalu beranjak dari kursi. Langkahnya pelan dan gugup saat akan melangkah masuk. Pikirannya kembali berbalik, rasanya ingin dibatalkan saja niatnya itu, dan bergegas keluar dari ruangan.
Namun, ia sudah di sini, tak bisa keluar lagi. Seorang dokter wanita menghelanya lembut menuju ranjang operasi. Suster yang tadi memberikannya sebuah pakaian, lalu menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya.
Kemudian, ia berbaring. Selama dokter melakukan persiapan, Elina gugup bukan kepalang. Mata terpejam, tangannya *** seprai putih, di dalam hati bergumam: "Maafkan aku, Tuhan. Aku tahu ini salah, dan aku juga benci melakukan ini. Tapi Engkau tahu, bahwa aku memiliki alasan untuk berbuat keji seperti ini."
Dokter menghampiri dengan memegang sebuah suntikan. Jarum suntik akan menyentuh kulit Elina, tapi suara ribut di luar menghentikan tindakan itu.
"Ada apa di luar?" tanya dokter itu. "Cepat periksa!"
Sebelum suster mencapainya, pintu telah terbuka. Seorang pria tampan muncul di balik pintu. Elina kaget, bagaimana Matthew bisa ada di sini?
Matthew menghampiri ranjang, tak menghiraukan teguran dokter itu, yang mencoba mencegahnya. Pria itu menatap Elina marah, lalu menggendong tubuhnya dan hendak membawanya keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
"Apa yang Anda lakukan? Pasien ini akan dioperasi," tegur dokter itu tegas.
Matthew berbalik, menatap dingin pada dokter itu. "Aborsi dibatalkan!"[]