Matthelina

Matthelina
Chapter 19


__ADS_3

Di ujung kebun sebelah Barat, ada sebuah taman dengan jalan setapak empat arah. Semua jalan itu bertemu di satu titik, di mana sebuah kolam air mancur terletak.


Air mancur mengalir dari sebuah kendi kecil yang dipegang oleh patung dua cupit. Elina mendongak, halo melingkar di sekeliling patung, indah sekali.


Matthew dan Elina melangkah ke arah air mancur sambil mendengarkan cerita pria itu tentang kebun ini. Ibunya sangat suka bunga, maka ayahnya menyuruh seseorang mendisain kebun ini.


Elina mengangguk, melihat ke kanan dan kiri jalan ini, terdapat semak setinggi pinggang yang dirawat dan selalu dipangkas. Tapi ia heran, tukang kebun yang ia tahu hanya satu, bagaimana bisa dia merawat kebun yang luas sendirian?


Kebetulan Matthew juga menceritakannya: "Ada 5 tukang kebun yang merawat kebun ini, dua di antaranya adalah pekerja di kebun teh."


"Oh." Ya, hanya itu tanggapan Elina. Habis mau bicara apalagi?


Air di kolam menggodanya untuk duduk di tepi kolam, menyentuh sejuknya air dengan ujung jarinya. Senyumnya terulas, dan momen itu dimanfaatkan Matthew untuk mengambil fotonya dengan ponsel secara diam-diam. Nyaris saja ketahuan. Matthew menurunkan ponselnya, pada saat Elina menoleh ke arahnya.


Titik air hujan jatuh di ujung hidung Elina, ia terhenyak. Hujan, katanya pada Matthew. Pria itu menegadahkan tangan kanannya, benar beberapa tetes air terasa.


Matthew melepaskan mantel untuk melindungi kepala Elina. "Ayo, kita kembali ke vila."


Tetapi awan hitam tak sabar untuk menumpahkan bebannya. Hujan langsung mengguyur tanah dengan lebat, sehingga mereka tak sempat kembali ke vila.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk berteduh di gudang perkakas kebun. Matthew mencoba membuka pintu gudang, tapi terkunci. Mau tidak mau, mereka di sini. Untungnya, atap gudang lebih panjang ke depan, jadi tubuh mereka tak teralu kuyup oleh derasnya hujan.


Matthew menyadari bahwa Elina merasa sangat kedinginan. Tubuh wanita itu menggigil sambil mendekap tubuhnya, kadang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


Ia juga kedinginan, tapi ia lebih iba pada Elina, apalagi dikondisinya yang sedang mengandung. Diraihnya tangan Elina, menggosok-gosokkannya sambil meniupkannya.


"Masih dingin?"


Namun, pertanyaan itu tak dijawabnya. Elina terlalu larut dalam hangatnya perhatian Matthew yang kesekian kalinya. Pandangan itu tidak lepas, walaupun pria itu membalas tatapan itu.


"Aku tanya, apa masih dingin?" ulang Matthew setelahnya.


Iya, Matthew telah menghangatkan hatinya yang dingin, yang keras bagai batu, dan berduri seperti bunga mawar.


Gemeretak suara gigi beradu terdengar. Elina masih merasa kedinginan. Tangannya dilepaskan dari genggaman tangan Matthew, dan langsung mendekap tubuhnya.


Tak perlu minta izin. Tak peduli jika wanita itu marah dan menamparnya. Matthew memeluk tubuh Elina, erat. Meletakkan kepala Elina di dadanya, yang bisa Elina dengar degup jantung yang begitu cepat.


Elina mendelik. Pria ini ... apa yang sedang dirasakannya? Detak jantungnya sama cepatnya dengan dirinya. Apa dia juga merasakan hal sama dengannya?

__ADS_1


Elina ingin tahu. Ia ingin menatapnya, ingin mencari tahu lewat matanya yang tak pandai menipu. Ia menjauhkan kepalanya dari dada bidang Matthew. Di saat itu juga, pandangan mereka bertemu.


Sendu. Sesuatu yang beberapa kali dilihatnya pada setiap kesempatan. Pandangan apa itu? Dan Elina tak bisa berhenti, ataupun berkutik, seolah ia tersihir untuk terus menatapnya. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang hingga terasa nyeri. Ia menegang, tatkala wajah Matthew perlahan mendekat.


Elina menahan napas, saat bibir mereka hanya berjarak beberapa mili. Sepertinya tak bisa dihindari lagi. Lagipula, ia tak mau menghindarinya. Perlahan mata terpejam, tubuhnya luruh, pasrah, membiarkan bibir pria itu kembali menyentuhnya.


Begitu lembut. Begitu menggairahkan. Rasanya melayang sejenak dan lupa bahwa hal itu seharusnya tidak boleh terjadi. Tak sadar bahwa tangan Elina mulai mendekap pinggang Matthew, membalas ciuman itu dengan tak sabar, hingga kehabisan napas.


Hal itu memercikan nafsu Matthew untuk muncul. Rasanya ingin lagi mengulangi kejadian di malam itu, tapi kini secara sadar, bukan karena pengaruh alkohol maupun viagra. Pelukannya dipererat.


Elina mengeram pelan. Sialnya, hal itu harus disudahi. Elina menatap kecewa saat ciuman itu dilepaskan. Ponsel Matthew berbunyi, dan itu telepon dari Monika.


Matthew menatap Elina sejenak. "Halo, Kak..." Seketika ia mendelik, mendengar suara panik yang disertai tangisan dari ujung telepon. Kemudian, ia terpekik kaget. "Apa? Justin diculik?"


-;-;-;-


Sesampainya di rumah, Dewi menangis meraung-raung dalam pelukan Monika yang juga sedang menangis. Bibi Sari tertunduk sedih, berdiri di dekat mereka.


Elina menutup mulutnya, lalu bergegas masuk bersama dengan Matthew. Monika melihat mereka berdua, tak bisa menyembunyikan kepiluan mereka atas apa yang menimpanya.


"Bagaimana bisa Justin diculik?" cecar Matthew agak geram.


Monika bilang penculiknya mendorong Dewi yang melihatnya sedang menggendong Justin. Dewi berteriak, dan Bibi Sari datang untuk membantu. Tapi sayangnya, Bibi Sari takluk oleh gertakan pisau yang diacungkan ke arahnya. Dan Monika baru sadar hal itu terjadi, melihat ibunya turun dari lantai atas sedang dipapah oleh Bibi Sari sambil menangis.


"Apa Bibi melihat wajah orangnya?" tanya Matthew mengalihkan pandangannya pada Bibi Sari.


Wanita itu menggeleng. "Tidak, Tuan Matthew. Wajah penjahatnya ditutup dengan topeng." Dewi mengangguk sedih membenarkan.


Elina berjalan mendekat dan menghampiri Monika. Wanita itu terlihat tegar, walau dirundung kesedihan. "Maafkan saya, Nyonya. Kalau tadi saya tidak pergi keluar meninggalkan Justin."


"Itu juga bukan salahmu," sela Matthew. "Lagipula, kau juga tidak akan bisa mengatasi penculik itu, kalaupun kau ada di sini."


Matthew menyuruh Monika untuk membawa Dewi ke kamarnya. Kasihan dia, menangis tanpa henti sejak tadi. Ia juga menyarankan Elina untuk berganti pakaian, dan gadis itu mengangguk.


Makan malam sudah disiapkan oleh Bibi Sari dan Elina di ruang makan, tapi tak ada satu pun yang turun maupun berada di sana. Bibi Sari berinisiatif untuk memanggil Monika dan Dewi, sedangkan Elina yang akan memanggil Matthew.


Elina perlahan menuju kamar Matthew, membuka pintu kamarnya sedikit, tapi tidak langsung masuk. Langkahnya tertahan menemukan Matthew duduk termenung di ranjang. Di tangan kanannya memegang ponsel, lalu tangan kirinya memangku keningnya, mendesah frustasi. Ia jadi tidak berani mendekat. Bukan karena takut, tapi memberikan waktu padanya untuk menenangkan diri.


"Ada apa?" gumam Matthew, yang menyadari keberadaannya.

__ADS_1


Elina kembali berbalik. "Makan malam sudah siap. Turunlah."


Makan? Bagaimana bisa perutnya terisi di saat seperti ini? "Duluan saja. Kau harus makan. Dan jangan lupa minum susunya."


Elina menghela napas. "Dan kau tidak makan?"


Hening. Pikiran Matthew berkabut oleh keresahan dan kebingungan. Ia hanya memikirkan anak itu. Apa yang akan dilakukan penjahat itu padanya? Dan sekarang, ia malah menyalahkan diri sendiri. Benar, kalau ia tak menyusul Elina, setidaknya ia bisa mencegah penjahat itu membawa Justin. Akan ia pertaruhkan nyawanya, meski harus dilukai oleh sebilah pisau.


Keraguan untuk mendekati Matthew menghilang. Bagaimanapun pria itu tak boleh terpuruk seperti ini. Tadinya ia hanya berdiri di dekatnya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sampingnya.


"Kau juga harus makan. Bagaimana kau bisa mencari Justin jika kau tak menjaga kesehatanmu," bujuk Elina. Baru kali ini, Matthew mendengar ucapannya yang halus, bukan datar dan dingin seperti biasanya.


Matthew langsung menoleh. "Bagaimana aku bisa makan? Aku memikirkan keadaan Justin; apa dia baik-baik saja? Apa penjahat itu melakukan sesuatu padanya?" ucapnya berusaha memahan amarah. "Dan polisi, mereka tidak bisa membantu jika hilangnya belum 24 jam. Padahal, aku sudah mengatakan semuanya, bahwa ini kasus PENCULIKAN!" Napas Matthew terengah-engah, lalu menutupi wajahnya kembali dengan kedua tangannya.


"Tenanglah. Aku yakin, Justin pasti baik-baik sajaโ€”"


"Tenang katamu?" tukas Matthew, amarahnya memuncak. "Kau bisa berbicara seperti itu karena tidak mengerti dengan apa yang kami rasakan! Ya, ya, benar, kau memang tidak mengerti. Kau saja tidak peduli pada bayi kita dan mau melenyapkannyaโ€”"


Matthew mendelik, sadar bahwa tidak seharusnya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tapi semua itu tidak bisa ditarik. Gadis itu menunduk sedih, ia telah melukainya. Dan itu juga membuatnya terluka. Ia mendesah, memalingkan wajah, menyesali ucapannya itu. Pasti, Elina akan semakin menjauhinya, tak sudi melihat wajahnya.


"Maaf," gumamnya lirih. "Aku tidak bermaksud...."


"Yang kau katakan benar, aku wanita egois. Aku telah hampir membunuh anak yang tak berdosa ini," ujar Elina, mengelus perutnya.


Mungkin keberadaannya di sini hanya akan membuat suasana hati Matthew semakin buruk. Lantas ia berdiri, akan beranjak pergi. Tetapi dengan cepat Matthew meraih tangannya, menariknya kembali untuk duduk di sampingnya. Pria itu menyandarkan kepalanya di pundak Elina.


"Jangan pergi."[]


author note:


Hai... cuma nyapa aja. Sebenarnya, setengah dari bab ini adalah lanjutan dari bab 18 ๐Ÿ˜ฎ. Loh kok gitu. Em... app nulis aku udah mulai lemot kalo sudah 1500 kata. Rasanya mau banting hp waktu itu, jadi cuma sampe 1700 kata dan langsung aku publikasi. Tapi kalau kali ini aku minta bantuan sama beta reader aku yang amatir dan sue ๐Ÿ˜… (kemarin2 nggak, karena dia lagi sibuk dan aku nggak mau ditelen sama dia kalo dia lagi ngamuk).


Yang dia komenin itu kissing in the rain(kayak judul lagu)


๐Ÿ‘ง: Wi, masa lo bikin adegan gituan di depan gudang?


๐Ÿ‘พ: napa emang? Kan tempatnya sepi ini. Nggak ada yang liat pula. Banyak tau orang yang ngelakuin hal mesum di tempat kayak gitu ๐Ÿ˜. Kayak nggak tau aja deh.


๐Ÿ‘ง: dasar cewek berotak super kotor (nih, si mahmud suka baca komik ya?) cewek bf.

__ADS_1


๐Ÿ‘พ: biarin udah gede ini(ketawa jahat)


sebenarnya sih nggak sering nonton bf kalo nggak diracunin sama bf girl ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„. Aku nyolong wifi buat nonton drakor, tapi udah lama nggak nonton soalnya lagi sibuk dan harus nulis juga. Padahal byk banget drakor bagus ๐Ÿ˜ญ. Mungkin nunggu drakor penulis kesukaan aku: kim eun suk. Tapi awal tahun 2020 ๐Ÿ˜ญ. Jadi mungkin aku mau cepet2in tamatin matthelina kayaknya.


__ADS_2