Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DELAPAN


__ADS_3

Nina Agnesia



Anna tercengang dalam beberapa saat. Kenapa Logan menanyakannya? Apa dia tahu soal kalung ini?


"Saya menemukannya di sebuah restoran cepat saji," jawabnya.


"Nemu?" Logan mengernyit, kemudian termenung, mengingat cerita Nina beberapa hari yang lalu.


"Entah, aku tidak ingat jatuh di mana. Sudah aku cari di semua tempat, tapi tidak ketemu. Mungkin di restoran MD?" kata Nina waktu itu.


Kenan melihat Logan dengan heran, lalu bertanya. "Kenapa, Logan? Apa ada yang salah?"


Logan melepaskan pegangannya dari kalung itu. "Kalungnya seperti kalung yang kuberikan saat jadian dengan Nina."


Anna terkejut. Berarti, pria dan wanita yang bertengkar di restoran waktu itu adalah Logan dan Nina?


Meski kecewa, tapi Anna mesti mengembalikan kalung ini. Maka, dilepaskannya kalung itu dari lehernya, yang kemudian ia berikan pada Logan.


"Pak, Kalung ini punya sejarah yang sangat berarti buat Bapak dan pacar Bapak," ujarnya. "Jadi, saya kembalikan kalung ini ke Bapak. Maaf, kalau saya telah lancang memakainya."


Logan menerimanya dengan tercengang. Anna meminta izin untuk berjalan duluan masuk ke dalam gedung. Sementara itu, Logan menatap kepergian Anna sambil memasukkan kalung itu ke dalam saku jasnya.


Kenan tersenyum dan kagum sambil melihat Anna yang telah menghilang dari balik dinding lorong. "Dia cewek yang jujur."


Logan langsung menoleh kaget pada sahabatnya itu. "Jangan bilang, lo suka sama dia?"


"Apa salahnya?" sahut Kenan, protes, mengikuti Logan yang telah berjalan duluan. "Dia cantik, baik...."


"Kalau lihat cewek, jangan dari luarnya aja," tukas Logan, menyindir, memasuki lift kosong.


"Kayak nggak gitu aja." Kenan balas menyindir, dan ternyata berhasil membuat Logan tersinggung. Kenan tersenyum menang, dan ia mulai menyerang lagi. "Dengar, ya, Logan Jo. Gue pastiin ke elo, kalau cewek itu bukan cuma cantik, tapi berhati malaikat."


Logan yang jengkel tidak membalas. Pintu lift pun tertutup, percakapan ini juga diakhiri.


🍀


Matanya berbinar saat jemarinya menari di atas tuts piano. Suara melodi mengalun indah memenuhi ruangan. Bibirnya melengkungkan senyum, lalu memejamkan mata menikmati alunan lagu.


"Kapan mau ke London?" Pertanyaan itu membuatnya berhenti memainkan piano.


Dia memutar kursi ke arah seorang gadis berambut panjang itu. "Kenapa? Kangen banget sama Stuart?" godanya, terkekeh.


"Nina ..." tegur gadis bernama Tita, agak tersipu. "Aku ngomong serius nih. Sebentar lagi kan mau lomba."

__ADS_1


Seolah ucapan Tita dianggap enteng, Nina, kembali memainkan piano sambil berkata, "Santai aja. Lagian, aku udah bilang akan ada rencana."


"Rencana tunangan sama Logan?" tukas Tita. "Yakin mau tunangan sama dia? Huh! Sejak kapan Nina yang anggun nggak berpendirian begini?"


"Piano, logan, keduanya sangat berharga bagiku. Aku tidak mau kehilangan Logan, ataupun impianku," balas Nina. "Ini hanya tunangan, menikah bisa kapan saja."


Tita menghela napas, menghempaskan diri di sofa. "Logan itu tipe tidak sabaran. Dia pasti akan mendesak kamu untuk nikah sama dia, sementara kariermu baru dimulai."


Satu tuts nada rendah ditekan oleh Nina. "Kamu nggak tahu, Logan itu pria paling sabar di dunia," ucapnya lembut, tapi penuh penegasan. "Tita, jangan coba-coba membuatku goyah, ya."


"Huft! Terserah kamu sajalah." Tita beranjak dari sofa. Begitu suara sepatu haknya terdengar melangkah, suara piano terdengar kembali.


Ucapan Tita mengganggu pikiran Nina, hingga menciptakan nada lagu yang semula lembut berubah menjadi cepat dan penuh emosional.


Ponselnya yang bernada dering lagu "Nocturne" berbunyi di atas meja rias. Nina pun beranjak ke sana, meraih ponsel itu.


"Logan!" serunya girang, lalu buru-buru menjawab telepon itu. "Halo, Sayang."


"Nina, aku mau mengajakmu makan siang. Apa kamu—"


"Ya, aku mau," sahut Nina, menyela.


"Oke. Aku akan menjemputmu nanti."


"Oke, Sayang."


"Mau ke mana kamu, Nina? Mama ingin bicara," kata wanita berambut pendek sebahu dan agak ikal itu.


"Mau bicara apa, Ma?" tanya Nina, matanya membulat.


"Soal ucapan kamu waktu makan malam kemarin." Mamanya berjalan masuk, kemudian Nina mengikutinya. "Benar, kamu ingin bertunangan dengan Logan?"


Kedua wanita itu kini duduk di sofa, saling berhadapan. Nina berpikir sejenak, lalu berkata sambil tersenyum riang. "Benar, Ma. Aku akan bertunangan sebelum kepergianku ke London. Kenapa memangnya?"


"Em ... Tidak," jawab sang mama tercenung sejenak. "Mama dan papa senang dengan keputusan itu. Tadi, mamanya Logan menelepon, katanya mereka akan mengajak kita makan malam untuk membicarakan soal acara pertunangan kamu sama Logan."


Senyum Nina semakin lebar dengan mata berbinar. Bahagia sekali mendengar hal itu sambil menggenggam erat tangan mamanya. "Benarkah? Aku senang banget, Ma."


Nina langsung mendekap tubuh ibunya, meluapkan kebahagiaan yang ditunggunya selama 5 tahun hubungan antara dirinya dan Logan.


🍀


"Pukul dua belas," gumamnya sambil melirik arlojinya.


Kenan keluar dari mobil, berjalan menuju pintu masuk gedung. Sejak tadi, ia memang berada di dalam mobilnya. Padahal, urusan pekerjaan dengan Logan sudah selesai sejak tadi.

__ADS_1


Ia menjelajahi sebuah ruangan khusus karyawan sambil memperhatikan beberapa wanita yang ingin dicarinya. Akan tetapi, wanita yang dicarinya itu tidak ada.


Lantas, ia menghampiri seorang wanita yang sedang berpapasan dengannya. "Maaf, kamu tahu pegawai baru yang kerja di sini?"


"Pegawai baru?" gadis itu membeo, lalu berpikir sejenak. "Kayaknya, nggak ada pegawai baru di sini?"


"Masa? Coba kamu ingat-ingat," seru Kenan, heran. "Dia tidak terlalu tinggi, cantik, rambutnya hitam lebih sebahu tapi di bawahnya ikal. Terus ... Ah! Ada lesung pipi di sini." Ia menunjuk pada pipi kanannya.


"Aaaaa...."


"Nia!" Seseorang memanggil gadis tadi, lalu menghampiri mereka. Menyadari ada Kenan, ia tersenyum sopan, lalu menoleh lagi pada gadis itu. "Nia, print data yang gue kirim dari e-mail. Tolong, nanti dicek dulu, oke!"


Nia telah pergi, Kenan langsung bertanya pada gadis berkulit sawo matang itu.


"Maaf, apa kamu tahu pegawai perempuan yang baru masuk kerja hari ini?"


"Oh, mungkin Anna. Dia asisten manager baru," jawab gadis itu.


"Aku nggak tahu namanya. Tapi dia ada lesung pipi di sebelah kanan, 'kan?"


"Benar, Pak."


Kenan tersenyum lebar. "Kalau begitu, bisa kasih tahu di mana ruangannya?"


Gadis itu melirik arlojinya. "Kalau jam segini, dia biasanya sedang ke mushola, Pak."


"Kok kamu tahu?" Alis Kenan meninggi sebelah. "Kan dia baru masuk kerja."


Bibir gadis itu tersenyum hangat. "Saya kenal dia sejak kami bekerja di kantor yang sama, dulu."


Kenan mengangguk mengerti. "Terima kasih, ya," ucapnya ramah.


.


.


.


Setiap hari, Anna selalu beribadah shalat Zuhur, sebelum makan siang. Anna begitu khusyuk, larut dalam suasana sunyi mushala. Di sana, hanya ada berapa orang yang sedang beribadah.


Kenan berdiri di ambang pintu mushala, memperhatikan Anna. Senyumnya terkembang, lalu masuk ke dalam mushala.


"Assalamualaikum warohmaullah," gumam Anna sambil menoleh ke kanan, lalu ke kiri.


Sedetik kemudian, ia tersentak melihat seorang pria berada di dekatnya, menatap dengan senyuman, terpesona.

__ADS_1


"Bapak ... sedang apa di sini?" tanya Anna, menatapnya aneh. "Ini shaf buat perempuan."


Kenan terdiam, begitu lama menatapnya, kemudian berucap, "Waktu saya melihat kamu begitu khusyuk shalatnya, saya berpikir: kapan saya bisa menjadi imam kamu?"[]


__ADS_2