
Pria bertemperamen itu
Matthew menyuruh Elina untuk pulang dengan taksi. Ia memberikannya sejumlah uang untuk membayar taksinya, lalu ia bergegas mencari taksi lain untuk dirinya.
Klien Matthew sangat cerewet. Berulang kali mengatakan "Saya hanya ingin bertemu dengan atasan kamu!" dengan menggunakan Bahasa Jepang. Rudi panik, tak bisa mengatasi masalah ini. Dan mereka hampir saja kehilangan kontrak, jika Matthew tidak muncul dari pintu masuk restoran ini.
Matthew yang melompat dari taksi dan berlari ke dalam restoran, mengubah sikap menjadi tenang. Ia tersenyum khas, lalu menghampiri kliennya yang akan beranjak dari kursinya. Ia membungkuk sedikit, memberi salam dan menjabat tangan kliennya.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama, Tuan Hanazono."
-;-;-;-
"Apa itu?"
Monika yang baru turun dari lantai atas, ingin tahu isi kantong plastik putih yang dibawa oleh Matthew. Pria itu baru pulang bekerja. Ia panik, lalu langsung menyembunyikan kantong itu.
"Bukan apa-apa... Lagian, kok pengin tahu aja sih?"
Dari romannya, Monika mulai curiga. Mata tajamnya meneliti ekspresi Matthew yang memucat dan gugup. Pasti ada yang disembunyikan. Gumamnya dalam hati.
Matthew menatap waspada. Daripada Monika terus mencurigainya, maka ia harus memberikannya alasan yang logis. "Ini susu buat cowok. Kakak tahu kan, susu untuk memperbesar otot?"
"Yang di iklan itu?" sahut Monika.
Sejujurnya, Matthew tidak tahu, tapi ia terpaksa mengangguk dan tersenyum.
"Tapi kan, ototmu sudah cukup besar. Untuk apa ditambah lagi?"
Mulai lagi deh! Bisa-bisa penyidikan Monika malah membongkar rahasianya. Aduh, bagaimana ya...?
Bersamaan dengan itu, ia melirik Elina yang berjalan keluar dari dapur sambil membawa sebotol susu untuk Justin. Mereka saling melempar tatapan, tapi hanya sekejab karena tak ingin Monika memergoki mereka.
Monika akan menoleh ke arah pandangan Matthew. Akan tetapi, Matthew buru-buru mencegah, mengalihkannya dengan topik lain. "Kak, Justin mana? Apa dia sudah tidur?" tanya Matthew. "Aku kangen banget sama dia."
"Ah ... ada. Dia lagi di atas. Elina mau memberikannya susu dan menidurkannya," jawab Monika.
Matthew ke lantai atas bersama dengan Monika. Yang ditanyakan kakaknya pasti soal pekerjaan. Matthew rasa kakaknya punya seseorang yang mengawasinya karena tahu bahwa ia kelayapan sebelum bertemu dengan Tuan Hanazono.
"Katanya kau mengikuti seseorang. Katakan, siapa dia? Kenapa kau mengikutinya? Kalau tadi kau terlambat, kita tidak akan mendapatkan kontrak itu!" omel Monika.
Tidak salah lagi, Matthew geram pada Rudi. Siapa lagi yang akan mengadu pada Monika? Dasar!
"Jawab, Matthew!" desak Monika, dan Matthew tersentak.
"Ah, itu—"
Matthew melirik pada wanita yang membuatnya meninggalkan klien dan hampir kehilangan kontrak besar, yang saat ini baru keluar kamar. Elina menghampiri Monika, memberitahukan bahwa Justin telah tidur tanpa meminum susunya.
"Baiklah. Kau boleh beristirahat" kata Monika, yang diberi anggukan oleh Elina sebagai jawaban.
__ADS_1
Elina melirik Matthew, begitu juga dengan sebaliknya. Mereka tidak tahu bagaimana bersikap setelah mengetahui kebenaran itu. Matthew sangat bahagia, ingin rasanya melakukan sesuatu untuk Elina dan bayi itu. Maka, ia mencari artikel tentang ibu hamil setelah dirinya membersihkan badan.
-;-;-;-
Elina kembali menyelinap ke halaman belakang sesudah diizinkan beristirahat. Kejadian hari ini di ceritakan pada Raima, tanpa menudingnya. Raima hari ini berlibur, jadi mau berapa lama ia bercerita tentu akan didengarkannya.
Ia tahu bahwa Raima yang memberitahukan pada Matthew soal kehamilan dan rencana aborsi itu. Buktinya, Raima tak merespon dengan berseru kaget. Hening di ujung telepon, mendengarkan.
Baru kali ini ia menyahuti, "Jadi, bagaimana selanjutnya? Apa dia mau bertanggung jawab?"
"Iya," kata Elina, "dia bersedia."
"Jadi, lo bakal nikah sama dia dong?" Mulai lagi deh, berseru keras di telinganya. Sepertinya nyawanya udah ngumpul.
"Enggak sih. Gue kan, udah pernah bilang, kalau gue nggak mau nikah."
Benar juga. Ah, andai saja Elina tak mengalami trauma akibat pernikahan gagal orangtuanya, ia pasti tidak akan menolak lamaran Matthew. Tapi Raima, tak semua Married By Insiden akan terjadi di dunia nyata. Salah satu yang menganutnya adalah Elina.
Di sebelah arah pintu samping, Elina mendengar suara. Elina cepat-cepat mematikan telepon setelah mengucapkan kalimat terakhir. Sikapnya diubah seperti biasa, meletakkan ponsel di samping kirinya sambil terus waspada.
Sepertinya pria ini senang sekali mengejutkannya. Matthew muncul dengan membawa segelas susu cokelat di tangan kanannya.
Sudah pria itu duga, pasti Elina ada di sini. Sejak tadi ia mencarinya, menanyakan pada bibi Jumi, sampai teringat untuk melangkah ke kebun belakang ini.
Mau apalagi pria ini? Matthew menghampiri sambil menatapnya, dan kini berdiri di depannya. Jantung Elina berdetak kencang. Sepertinya, pria itu mau memarahi dan menceramahinya. Atau mungkin membicarakan soal bayi ini?
"Ini, habiskan!" kata Matthew.
"Terima kasih," ucapnya tanpa memandang wajah Matthew.
Setelah itu, Matthew duduk di samping kanannya. Gawat, detak jantungnya semakin tidak tenang. Kenapa begini? Benar-benar risi. Benar-benar canggung. Dan pandangannya tak lepas dari Elina. Tolong, jangan menatap seperti itu. Rasanya bagai mau ditelan hidup-hidup olehnya.
"Tenang, aku tidak mencampur racun di dalamnya," kata Matthew, tersenyum meledek. "Itu susu khusus untuk wanita hamil. Aku membelinya sebelum sampai di rumah. Jadi, minumlah. Nanti keburu dingin."
Susu ini dibelikan untuknya? Elina tersentuh. Tapi kenapa ia melakukan ini? Apa dia peduli pada bayi ini?
Matthew senang melihat Elina meminum susu itu walau menyisakan setengah gelas. Setidaknya, ada nutrisi yang masuk ke tubuh Elina untuk diserap oleh bayinya.
"Aku tidak tahu kau suka rasa apa. Jadi, aku memilih rasa cokelat," kata Matthew lagi.
Justru Elina sangat menyukai cokelat. "Tidak, aku suka kok. Terima kasih."
Sadarkah Elina, kata itu sudah kedua kalinya diucapkan. Matthew bosan mendengarnya. Sejujurnya, tak perlu Elina mengucapkan "terima kasih", toh ia akan melakukannya dengan senang hati. Demi dia dan bayi mereka.
Keheningan tercipta, tetapi di masing-masing otak mereka berselimut berbagai kata yang enggan diucapkan. Perasaan masing-masing juga berbeda, dan mereka menutupi kecanggungan dengan caranya sendiri; Elina sedikit-sedikit meminum susunya, sedangkan Matthew menatap bulan yang bersembunyi di balik awan, seakan malu untuk menampakkan diri.
Matthew mulai resah. Jari-jari tangan mengetuk-ketuk bangku kayu, hingga tanpa sadar jari kelingkingnya menyentuh jari kelingking Elina. Ia tertegun dan menoleh, menunggu reaksi Elina yang berhenti meminum susunya dan menatapnya.
Spontan mereka bergegas menarik tangannya dan meletakkannya di atas paha. Suasana ini jadi semakin tak karuan, Elina buru-buru menghabiskan susunya lalu bangkit.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya mau permisi ke kamar," katanya.
Matthew turut berdiri. "Oh, oke. Gelasnya biar aku yang letakkan ke dapur."
Elina melirik gelas yang ada di tangannya. "Nggak usah, biar saya saja, sekalian mau dicuci." Ia mulai bingung harus bersikap apa. "Kalau begitu, saya permisi."
Matthew mengangguk, lalu memberi jalan dan setelahnya ia yang menyusul. Ini di luar dari perkiraan, ia tak seberani itu menunjukkan perhatian yang ingin dilakukannya. Mungkin, ia harus lebih banyak mengenal wanita itu.
-;-;-;-
Janggal. Begitulah yang dirasakan oleh Elina, setelah semalam Matthew memberikan segelas susu padanya. Pagi ini, pria itu juga melakukan hal yang sama.
Sebelum anggota keluarga yang lain bangun, Matthew telah ke dapur dengan sudah berpakaian rapi dan lengkap. Saat itu, Elina juga sedang di dapur, ingin membuatkan sarapan untuk Justin.
"Pagi," sapa Matthew, meraih sebuah toples berisi bubuk susu warna cokelat.
Elina tak berani menoleh, jadi hanya melirik sambil berkata, "Pagi, Tuan." Seketika itu, Elina menjadi heran. Bukan soal sapaan, tapi keberadaan pria itu di sini, sepagi ini.
Walau hanya sekilas, Elina melihat Matthew menuangkan beberapa sendok bubuk susu ke dalam gelas. Suara gelas yang beradu dengan sendok terdengar, berarti ia sedang mengaduk susu itu.
Setelahnya, Matthew menggeser pelan gelas itu ke arah Elina, yang saat itu tengah memblender jus alpukat untuk Justin.
"Minumlah." Hanya itu kata Matthew, tanpa senyum dan basa-basi. Lalu, ia keluar dari dapur.
Elina melirik susu itu sambil berpikir. Apa Matthew sedang menunjukkan rasa perhatiannya? Dia tadi sedang sadar, kan? Bukan sedang mengigau, kan? Tapi Elina akhirnya menyentuh gelas itu dan meminum susunya.
Satu persatu semua anggota keluarga turun ke ruang makan untuk sarapan. Elina bergegas ke kamar Justin untuk memandikannya.
"Justin, anak mama sudah wangi, ya?" kata Monika, merebut pelukan Justin dari gendongan Elina.
Anak yang pintar, tingkahnya membuat orang tersenyum dan gemas. Justin meraih mangkok makanannya dan menyuapkannya ke dalam mulut tanpa dibantu Elina. Dewi memujinya, sementara Monika mencium pipi tembam yang menggemaskan itu.
Elina turut tersenyum. Tak sengaja matanya melirik Matthew. Setitik kebahagiaan menyentuh hatinya, sehingga senyum itu terulas dari bibir itu. Hati Elina menghangat, mengelus lembut perutnya. Pria bertemperamen itu semakin jelas bahwa dia mempedulikan anak ini. Dia menyayangi Justin, tentu juga akan mencintai darah dagingnya sendiri. Bisa terlihat bentuk perhatiannya pada Justin. Ia pasti bisa jadi ayah yang baik.
Lama-lama Matthew sadar ada sepasang mata indah yang memperhatikannya. Ia menoleh, dan senyumnya menghilang—Elina kecewa saat itu. Elina terkesiap, dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Justin.
Matthew beranjak dari kursi, lalu menghampiri Elina. Ia menghela tubuh Elina ke kursi yang tadi diduduki olehnya. Tak perlu menyuruh, Matthew mendudukkannya di kursi itu.
"Jangan terlalu lama berdiri, nanti kau kelelahan."
Tidak hanya Elina, Monika dan Dewi sama tercengangnya. Mereka heran, juga bertanya-tanya. Sikap yang tidak biasa, menurut Dewi, tapi bagi Monika itu adalah bentuk perhatian yang tak biasa. Semakin kuat dugaannya bahwa di antara Matthew dan pengasuh anaknya itu ada sesuatu. Pandangan mata Elina dan gerak-gerik Matthew telah menyimpukannya.
Ini pasti mengundang kecurigaan dan pertanyaan. Maka, Matthew mengambil tas kerjanya, bersikap santai dan berkata, "Baiklah, aku pergi kerja dulu."
"Tunggu, Matthew!" panggilan Monika membuat Matthew kembali berbalik. Matthew mendecak jengkel.
"Iya, Kak Monik?"
"Setelah selesai sidang minggu depan, aku mau kita berlibur ke villa kita yang ada di puncak." Lalu, Monika mengalihkan pandangannya pada Elina. "Kau juga ikut, ya, Elina."
__ADS_1
Elina tertegun. "Saya?"[]