Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH LIMA


__ADS_3

Pandangan mata yang cukup lama, memunculkan sebuah rasa yang tak dapat diartikan.


kruyuk


Anna dan Logan tertegun. Entah bunyi perut siapa itu. Lalu, keduanya jadi salah tingkah dan saling menjauh.


"Kamu lapar?" tanya Logan.


Anna yang sudah terduduk di ranjang, menggeleng. "Aku ketiduran menunggu kamu."


"Ngapain kamu nunggu aku? Aku sudah suruh Kenan buat menjaga kamu."


Anna diam saja. Tadi, Kenan memang mengajaknya untuk makan malam, tapi ditolaknya.


"Kamu udah makan?"


Logan melirik Anna, terhenti saat akan meraih handuk. Ia menghela napas. "Ya, udah. Habis mandi, kita makan," katanya seraya menoleh pada Anna.


Mereka makan di sebuah restoran yang ada di luar hotel. Logan sengaja memilih banyak makanan untuk Anna. Tidak akan ia biarkan ibu dari anaknya kelaparan.


"Bagaimana keadaan Nina?"


Pertanyaan yang meluncur dari bibir Logan membuatnya menegang sesaat. "Baik."


Hanya itu. Anna merasa kalau Logan menyembunyikan kebenaran lain. "Katakan saja, aku tidak akan tersinggung hanya karena kamu membicarakan soal mantanmu."


Logan menyipit. Kenapa ucapan Anna terdengar seperti cemburu?


"Dia sudah siuman," sahutnya. "Tapi, dia mengalami amnesia sebagian."


Nama penyakit yang aneh, tapi tidak asing. Anna pernah mendengarnya di sebuah acara FTV pagi. Mungkinkah Nina tidak mengingat beberapa kenangannya, termasuk Logan? Ah, pantas saja pria itu terlihat muram.


"Kenapa tidak menjaganya? Dia pasti membutuhkanmu," kata Anna kemudian.


Logan tersenyum sinis. Yah! Ia yakin kalau Anna pasti sedang cemburu.


Sambil meraih gelas anggur, ia berkata, "Aku punya istri yang harus kujaga."


Anna menaikkan wajahnya, terkesima mendengar ucapan itu. Bukan, ia sama sekali tidak tersanjung, tapi aneh saja jika Logan berkata begitu. Dia tidak sedang menggombal, 'kan?


"Lagipula," tambah Logan. "Di sana ada sahabatnya yang menjaga. Orangtuanya juga akan segera datang."


Anna mengangguk paham. "Oh. Kalau begitu, bagaimana kalau kita jenguk Nina?"


Logan sangat terkejut, bahkan sampai menjatuhkan sendok yang ada di genggamannya.


"Kenapa? Kok kaget banget?" tanya Anna heran.


"Em ... Aku ..." Logan gelagapan, bingung.

__ADS_1


"Aku setuju!" seru Kenan, yang tiba-tiba berdiri di samping Logan dan menepuk pundaknya. "Besok, aku akan ikut menjenguk."


"Ya, sudah. Kita pergi bertiga," sambut Anna dengan senang hati.


"Bertiga?" sahut Logan menoleh, memprotes. "Oke. Tapi, dia naik mobil sendiri."


"Ish! Temanku ini pelit banget sih," goda Kenan. "Menyewa mobil mahal, ditambah bensin yang harganya selangit. Ongkos yang aku punya hanya untuk makan dan untuk membeli tiket pulang. Ayolah, aku nebeng, ya?"


Anna tahu Kenan hanya bercanda, tapi ia tetap membujuk Logan. "Udah, kasih Kenan tumpangan."


Logan tak memberikan jawaban yang diinginkan, hanya memberikan tatapan menusuk. "Anna, kau istriku atau bukan?"


"Saya istri sah Anda, Tuan Logan," sela Anna dengan nada menyindir.


"Kalau begitu, turuti kata suamimu. Dan kau!" Lalu, Logan menoleh pada Kenan. "Hentikan drama 'pura-pura miskin'‐mu itu! Aku tahu aset yang kau miliki."


Bukannya takut, Kenan justru mencemoohnya dengan merentangkan tangannya ke depan. "Wow, wow, wow. Oke, jangan marah."


Mereka membubarkan diri, kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Besok pagi sekitar jam 10, mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nina.


Sesampainya di sana, yang ada di ruang tunggu hanya Tita. Orangtua Nina sudah datang, tapi mereka baru saja pulang untuk beristirahat.


"Hai, Tita," sapa Kenan, saat mereka sampai di depan gadis itu. "Udah lama nggak ketemu sama kamu?"


Tita terlihat sebal, apalagi sapaan Kenan yang terdengar seperti sedang mengejeknya. Dasar kunyuk!


"Maaf, gue lupa ngasih tahu lo," jawab Tita, terlihat gugup. Kemudian, tatapannya mengarah pada Anna. "Logan, ada hal yang mesti lo tahu."


Logan mengernyit. Apa ini hal serius yang berkaitan dengan kondisi Nina? "Ada apa, Tita?"


.


.


.


Nina duduk termenung di ranjang. Jemarinya memainkan cincin berpermata biru yang melingkar pada jari manisnya. Pintu kamarnya yang terbuka mengalihkan perhatian, lalu senyum di bibir terkembang.


"Logan," panggilnya, bahagia. Rasanya ingin bergegas menghampiri pria itu, jika saja kondisinya tidak dalam seperti ini.


Ternyata, pria itu tak datang sendirian. Nina menoleh ke belakang Logan, membalas senyum Anna dan sapaan Kenan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kenan, tersenyum renyah seperti biasa.


"Baik," jawab Nina, lalu melirik Anna. "Oh! Bukannya kamu karyawan Logan? Gebetannya Kenan, 'kan? Apa kabar?"


"Seperti yang Anda lihat, Nona. Saya baik-baik saja," jawab Anna.


Nina tersenyum, lalu mengalihkan pandangan pada Kenan. "Jadi, udah sampai mana hubungan kalian?"

__ADS_1


Bukan Kenan menjawab, tetapi Logan yang langsung menanggapinya dengan cepat. "Anna sudah menikah dengan pria lain. Dan sekarang, dia sedang hamil."


Awalnya, Nina agak terkejut dan bingung karena reaksi Logan itu. "Oh, jadi begitu. Selamat, ya, Anna."


"Ah! Iya." Anna tersenyum kaku sambil beberapa kali melirik Logan, lalu menundukkan kepala.


"Logan, coba lihat ini!" Nina memperlihatkan jari manisnya yang berhiaskan sebuah cincin berpermata biru. "Aku meminta Tita untuk mencarinya. "Untung saja, polisi menemukan cincin ini di TKP saat terjadi kecelakaan."


Logan terhenyak. Itu cincin pertunangan mereka. Jemari Logan sudah tidak mengenakan cincin itu, melainkan cincin pernikahan yang bentuknya sama dengan Anna.


Ia khawatir jika Nina menanyakannya dan melihat cincin lain yang melingkar di jarinya.


"Cincin ini," gumam Nina sambil memperhatikan cincin itu, "adalah menyimpan kenangan yang sangat membahagiakan." Lalu, ia menatap Logan sambil tersenyum. "Logan, aku sudah memutuskan untuk berhenti berkarier. Aku ingin menjadi istrimu, melahirkan dan membesarkan anak kita."


Logan tercekat, Kenan kaget, sementara Anna memalingkan wajahnya yang muram.


Teringat oleh ucapan Tita tadi, bahwa ada semacam trauma di otak Nina, sehingga jika dia mendengar atau mengingat suatu hal yang membuatnya syok, maka itu akan menimbulkan rasa sakit yang bisa mengancam diri Nina.


Hal itu yang membuat Logan mengunci bibirnya rapat, tak bisa mengakui bahwa dirinya adalah suami Anna.


"Logan?" panggil Nina, heran. "Kok melamun?"


Logan terkesiap. "Ada apa?"


"Bagaimana menurutmu?" cecar Nina.


Anna melirik Logan. Rasanya tak sanggup lagi bagaimana jawaban Logan setelah ini. Maka dari itu, ia membuat alasan. Diambilnya ponsel miliknya dari dalam tas, berpura-pura ada yang sedang meneleponnya.


"Em ... Maaf. Saya mau permisi keluar. Ada telepon masuk dari suami saya," kata Anna.


Kenan melirik kepergian Anna. Sepertinya, Anna merasa sedih. Ia tak bisa membiarkannya sendirian.


"Maaf Nina, aku juga mau permisi ke kamar mandi. Kalian ngobrol aja dulu."


Kenan bergegas keluar, segera menyusul Anna yang sedang berjalan perlahan di lorong ini sambil menunduk. Ia akan melangkah kaki untuk menyusulnya, tapi tidak jadi, ia hanya mengikutinya saja dari jarak yang agak jauh.


Anna terus melangkah, termenung dengan wajah muram. Tanpa terasa, air mata menggenang, terasa pedih hati ini. Namun, tiba-tiba ia tersentak, lalu menghapus air matanya.


"Kenapa aku malah jadi begini? Harusnya, aku merasa senang dong, karena akhirnya Logan kembali pada cintanya. Ya, 'kan?" gumam Anna.


Kenan menghela napas, bergumam di dalam hati, "Siapa yang mau kamu bodohi, Anna?"


Tiba-tiba, Anna berhenti berjalan, membuat Kenan terhenyak. Mungkin ia sadar bahwa ada yang mengikutinya. Maka, iapun berbalik.


"Ngapain kamu ikutin aku?" tanya Anna.


Sudah telanjur ketahuan, mana bisa mengelak. Kenan menghela napas, menatap Anna beberapa saat. Kemudian, perlahan ia menghampiri Anna, berdiri di depannya dengan jarak kurang lebih satu meter. Anna pun tertegun, menunggu sebuah kata dari pria itu.


"Untuk saat ini, akulah yang akan melindungimu."[]

__ADS_1


__ADS_2