
Setelah Elina mengambil sweater warna birunya, ia dan Matthew pergi keluar. Berjalan-jalan di area perumahan yang jalannya telah sepi, mencari tempat untuk berbicara secara leluasa.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk duduk di sebuah taman bermain mini. Selama dalam perjalanan menuju ke sana, tak ada satu pun yang berbicara. Mereka terlalu sibuk memikirkan jawaban apa yang harus dipersiapkan untuk menemui titik terang dari permasalahan mereka.
Angin malam menerpa kulitnya. Elina langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, berjalan sambil menatap langit malam yang mendung tanpa bulan dan bintang. Lalu, kembali fokus ke jalan setapak yang menuju taman.
Elina memilih duduk di sebuah ayunan tunggal, tapi Matthew hanya berdiri dan menatapnya.
"Bicaralah."
"Aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan kejadian dua tahun yang lalu, saat kau memilih meninggalkan aku," kata Matthew tegas, tanpa basa-basi.
Elina menghela napas panjang. Tadinya ia mau mendebat, tapi diurungkan setelah melihat keseriusan Matthew.
"Pertama, aku akan menjawab tudinganmu waktu itu." Elina beranjak dari ayunan. "Aku TIDAK dengan sengaja menggugurkannya."
Elina menceritakan kronologis bagaimana bayinya bisa keguguran. Dan ia meminta pada Matthew, jika tidak percaya, silakan tanyakan pada Monika dan Dewi.
Matthew tentu tak meragukan hal itu. Pantas saja keduanya diam saat William mengatakan kebohongan bahwa Elina sengaja mengugurkan kandunganya, lalu pergi begitu saja sebelum ia sadar dari koma.
"Kedua." Elina menunjukkan dua jarinya. Setelah itu, ia mengambil dompet dan mengeluarkan dua cek yang tertulis jumlah nominal yang berbeda. "Aku tidak pernah memakai uang dari ayahmu."
Matthew melihat cek yang diacungkan oleh Elina di hadapannya. Masih utuh. Tanda tangan ayahnya terlihat jelas di sana.
"Aku bahkan tidak pernah merasa mengambilnya," Elina melanjutkan. "Saat aku ingin kembali ke Jakarta, ayahmu mendatangiku. Dia menyuruhku untuk pergi selamanya dari kehidupanmu. Jika tidak, mereka akan melakukan sesuatu pada ibu dan adikku."
Matthew tidak terkejut soal itu, William memang suka mengancam demi mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Dan itu lewat dua orang yang sangat disayangi Elina.
"Aku mencintaimu, tapi adik dan ibuku juga orang terpenting dalam hidupku," ucap Elina. "Hanya saja, tak ada yang bisa melindungi mereka kalau bukan aku. Jadi, aku memilih pergi hanya untuk sementara."
Artinya, Elina tidak pernah berniat pergi selamanya? Dia akan kembali? Tapi kenapa sampai dua tahun lamanya?
Elina mengambil tangan Matthew dan meletakkan kedua cek itu di tangannya. Sambil menghela napas ia duduk di ayunan, tak lama kemudian termenung.
"Mengetahui aku keguguran, Kevin menyarankan aku untuk ke Jakarta, menunggumu sembuh dan menghindari ayahmu," ucap Elina, sementara Matthew duduk di ayunan yang satunya.
"Ayahmu meletakkan cek itu ke tanganku setelah dia mengancam, lalu meninggalkanku yang sedang menangis karena dilema yang kuhadapi saat itu," kata Elina lagi. "Aku menceritakan semuanya pada Kevin dan meminta bantuan agar merahasiakan kepergianku darimu."
Elina menoleh, tersenyum getir pada Matthew yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang tak dapat terbaca. Lalu, kisahnya dilanjutkan, yang mana kesalahpahaman antara Matthew dan Kevin tertuntaskan. Matthew terkejut, tak menyangka bahwa sahabatnya itu telah membantu Elina pindah ke tempat lain, membiayai kuliahnya, adiknya, dan kehidupan mereka dengan mencairkan uang pembagian hasil keuntungan perusahaan yang dibangunnya.
"Tapi aku meminta Kevin untuk tidak memakai uang itu lagi, karena aku sudah bekerja. Mungkin aku akan mengembalikannya suatu saat nanti," Elina menambahkan.
"Tidak perlu," tukas Matthew. "Kau berhak mendapatkannya, karena kau salah satu pemilik saham di perusahaanku."
"Tapi kita sudah tidak punya hubungan lagi, Matthew."
Lagi, mulut cantiknya itu mengatakan yang membuat hatinya seperti dihantam oleh gada besar. Sakit sekali. Tolong, jangan berkata begitu, Elina!
"Aku sudah mengatakan semuanya." Lantas, Elina berdiri, menoleh sedikit pada Matthew yang juga beranjak dari kursi ayunan. "Terserah jika kau menganggap itu kebohongan atau kejujuran. Saat ini aku tidak ingin berharap, ataupun memintamu untuk kembali ke sisiku. Aku pasrah."
Ucapan itu, membuat Matthew kehilangan harapan. Berarti Elina sudah siap melepaskannya? Jangan, ia tak rela.
Sakit di hati ini tak bisa ditahan lagi, sampai ia memegangi dadanya. Diraihnya tangan Elina yang telah berjalan beberapa langkah darinya. Wanita itu menoleh, dan Matthew menghampirinya.
__ADS_1
"Apa kau tahu kenapa wajahku lebam begini?" tanya Matthew datar. "Itu karena kau."
Ya, Elina tahu. Kedatangan Matthew ke rumahnya juga ia ketahui dari Kevin tadi. Tapi Elina hanya menatapnya, seolah ekspresinya menyatakan: "Iya, memang kenapa?".
"Obati!"
Mata Elina membulat. "Hah?"
"Obati lukaku. Kau harus bertanggung jawab," kata Matthew seenaknya. "Belilah obatnya di apotik atau warung ... terserahlah! Pokoknya, luka ini harus kau obati."
Elina tercengang beberapa saat. Apa pria ini tak mendengarkannya bicara panjang lebar tadi? Tapi kenapa malah membahas dan menyuruhnya mengobati luka? Sikap apa ini? Apa dia sedang munghukum Elina?
Bukan. Elina tak menyadari bahwa Matthew sempat tersenyum. Pria itu berpikir, bahwa apa cara ini bisa membuatnya terus bersama dengan Elina? Mungkin dia akan berubah pikiran, walaupun ia tahu betapa keras kepalanya wanita itu.
"Ya, udah. Obatinya di rumahku aja," kata Elina. "Lagi pula, ini sudah tengah malam, tidak ada warung yang buka."
Matthew bersorak girang di dalam hati, tersenyum sekejab, lalu mendeham sambil mengubah sikapnya menjadi dingin.
"Ya, udah. Bawa aku ke rumahmu."
-;-;-;-
Elina membawa kotak P3K-nya ke teras. Ia tak mau ada tetangga yang mengatakan macam-macam tentang dirinya yang membawa seorang pria pada tengah malam ke rumah.
Matthew menjerit dan terlonjak, saat Elina mengompres lukanya. Alhasil, Ibu dan Frasya keluar dari dalam rumah. Lagi pula, Frasya sejak tadi menahan kantuknya dan duduk di ruang tamu untuk menguping. Benar-benar dibuat penasaran, ada hubungan apa di antara kakak dan laki-laki yang sudah punya anak itu?
Elina dan Matthew menoleh pada Ibu dan Frasya yang sudah berdiri di samping mereka.
"Ada apa?" tanya Frasya yang terlihat sekali penasaran.
Matthew merutuk. Cengeng? Apa Elina pikir ini tidak perih? Memang sih, tidak seperih hati yang sedang terluka, tapi tetap saja luka fisik terasa sakit juga.
Ibu kembali ke dalam rumah, akan membuatkan minuman. Sedangkan Frasya enggan beranjak karena ingin mengawasi kedua orang yang suka menyembunyikan sebuah rahasia itu. Tetapi Ibu memanggilnya, jadi terpaksa menghampiri dapur.
Elina mendekatkan kapas yang sudah diolesi oleh cairan antiseptik yang berwarna merah. Matthew refleks menghindar dan berkata:
"Pelan-pelan, Oke!"
Elina mengangguk. Geli sekali. Seorang pria bertemperamen buruk, yang suka memukul orang untuk menyalurkan emosinya ketakutan oleh obat antiseptik?
"Kenapa?" tanya Matthew tersinggung.
"Tidak."
"Kau selalu menjawab tidak. Aku cium bibirmu itu, baru tahu rasa!"
Elina tertegun, tangannya berhenti mengusapkan obat ke wajah Matthew. Apa maksud pria ini? Bikin jantung Elina berdegup kencang tak keruan aja!
"Elina," panggil Matthew lirih dan lembut. "Jangan pergi lagi dariku."
Tidak salahkah yang Elina dengar? Ucapan itu bagai bulu halus yang menggelitik hatinya, hingga membuatnya mematung tak percaya. Ia mencoba mencari kebenaran itu lewat mata biru sang pemilik hatinya. Mata itu menyimpan kelembutan yang dulu pernah ada, tidak seperti tatapan dingin penuh amarah yang ia lihat tadi pagi.
Dia kembali. Dia prianya yang begitu mencintainya. Dia yang begitu mempercayai ketulusan dan cinta Elina.
__ADS_1
Jika Ibu dan Frasya tidak datang, sebuah pelukan akan ia berikan sebagai penyambutan kembalinya pria terkasihnya ke sisinya. Mereka saling menjauhkan diri, duduk di tempatnya seolah sedang tidak terjadi apa pun di antara mereka.
Ibu meletakkan secangkir kopi hangat ke meja Matthew, dan segelas teh hangat untuk Elina. Beliau berdiri menghadap Matthew, menanyakan sesuatu hal yang jawabannya ingin diketahui oleh Frasya sejak tadi.
"Nak, kamu temannya Elina?"
Hampir lupa mengenalkan diri. Matthew sontak berdiri, mengulurkan tangan dengan badan sedikit membungkuk. "Perkenalkan, Bu. Saya Matthew, pacarnya Elina."
Semuanya terkejut, termasuk Elina. Bahkan Elina mencubit lengan Matthew, tak setuju mengatakan hal itu tanpa kesepakatannya terlebih dahulu.
"Sejak kapan? Bukannya Kak Matthew sudah menikah dan punya anak?" Rasa penasaran Frasya yang begitu kuat, pertanyaan itu spontan meluncur dari mulutnya.
Anak? Matthew tercengang dan bingung. Lalu, Elina menjelaskan soal Frasya yang melihatnya membeli sekaleng susu untuk bayi di supermarket.
Matthew tertawa kecil, lalu menjawab, "Oh, itu untuk keponakan saya."
Lega sih, tapi tetap aja Frasya penasaran. Padahal Ibu mau bertanya lagi, tapi Frasya yang mendahului. "Sejak kapan kalian pacaran?" Lalu tatapannya mengarah ke Elina. "Kok Kakak nggak kasih tahu?"
Elina melotot pada Frasya, protes. Ia rasa sudah cukup interogasinya, Neng. Tetapi Matthew tak mempermasalahkannya. Pertanyaan itu ia jawab dengan sopan.
"Sudah lebih dua tahun. Selama ini saya tinggal di London, jadi jarang terlihat."
Ini yang lebih mengejutkan Ibu dan Frasya. Selama itu, hubungan mereka tidak pernah dikasih tahu? Frasya sampai melirik sebal karena Elina menyembunyikan kenyataan itu.
"Terus kak Kevin?"
"Dia cuma teman," sela Elina. "Udah, tidur sana! Besok kuliah kan?"
"Tapi, Kak...."
"Iya, Frasya," timpal Ibu lembut, menyentuh pundak anak gadis keduanya itu. "Nanti kamu ngantuk di kampus."
Matthew jadi kasihan pada Frasya. Gadis itu mempunyai rasa ingin tahu yang besar. "Frasya, kalau kita ketemu lagi, aku janji akan ceritakan semuanya sama kamu."
Wajah yang kusut seperti baju yang belum disetrika, berubah cerah saat janji itu diucapkan. Matthew berhasil membujuknya, tapi malah membuat Elina merengut padanya.
"Kau selalu membuat keputusan tanpa berunding padaku," kata Elina agak pelan suaranya, setelah Ibu dan Frasya masuk ke dalam rumah.
Matthew tersenyum polos. "Kenapa memangnya? Biar saja dia tahu."
"Tapi aku belum siap untuk memberitahukan 'kalau aku pernah hamil' pada Ibu dan Frasya." Seketika Elina murung, memikirkan risiko yang terjadi jika Matthew mengatakannya.
Matthew beranjak dari kursinya, lalu berjongkok di depan Elina. Tangan kirinya menggenggam tangan Elina, sedangkan tangan kanannya mengelus lembut kepala gadis yang amat dicintainya itu.
"Tenanglah. Bagaimanapun, kita harus mengatakan hal itu, sebelum orang lain yang memberitahukannya, supaya tidak salah paham. Aku akan mencoba merahasiakan beberapa hal dari mereka. Biar aku yang bicara nanti."
Elina membungkuk dengan kedua tangan meraih pundak Matthew dan melingkarkannya. Dipeluknya hangat pria itu, tersenyum lega. Ucapan pria itu bagai sihir yang menentramkan hati, memunculkan keberanian untuk menghadapi apa pun masalah yang ada di depannya.
Matthew berdiri, lalu meminum kopi yang telah disuguhkan oleh calon ibu mertua dengan tulus. Hari sudah terlalu larut, dan ia akan pamit pulang.
Diraihnya kepala Elina, lalu Matthew mengecup keningnya. "Aku pamit ya? Tolong sampaikan salamku pada Ibu dan Frasya."[]
**Maaf, sabtu nggak jadi up karena gabut melanda. Bab ini sebenarnya subuh sabtu udah lebih 500 kata aku tulis, tapi sorenya abis pulang malah males nerusin. akhirnya malah baca komik di mangatoon 😆. abis udah lama nggak baca komik. langsung aku baca habis (sebenarnya baru sampai bab 106) komik Pharaoh's concubine-nya. aku suka banget sama ceritanya, dan gambarnya bagus. aku sampai dimarahin sama beta readerku dan dibilang nggak serius bikin novel.
__ADS_1
ya ampun, demi Tuhan. bukannya aku nggak serius atau nggak niat, cerita ini udah aku bikin draftnya 3 tahun yang lalu di Wattpad di akun yang lama. tapi aku juga manusia, yang kadang mengerasa bosen atau butuh mood boster buat ngelakuin sesuatu. apalagi aku juga kerja. stres kali, mbakyu ku tersayang.
oh, ya. aku paling up kamis, jumat, sabtu jam 7 malam teng! oke. see you**.