
Elina tersenyum melirik Logan yang begitu terpana melihat Anna. Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Logan sembari berbisik, "Samperin dia!"
"Ah!" Logan tersentak. "Nggak usahlah, Ma. Kan ada ayahnya."
Mamanya tetap memaksa dengan menyenggol lengan Logan, sampai tak diduga Logan hampir terjatuh ke depan.
Ah, baiklah! Logan menghela napas, melirik Elina antara pasrah dan jengkel. Dengan langkah enggan, Logan menghampiri Anna lalu memberikan uluran tangan sambil berusaha tersenyum di depannya dan ayah mertuanya.
Anna melirik ayahnya. Pria itu tersenyum seakan bersyukur telah memberikan anaknya pada seseorang yang tepat. Ayah melepaskan lengannya dari pegangan Anna, kemudian perlahan mundur, membiarkan Logan membawa Anna berjalan menuju pelaminan.
Langkah pasangan itu disirami oleh kelopak bunga mawar dari beberapa tamu undangan yang berdiri di samping kanan dan kiri mereka.
Anna menahan senyum, cringe, karena ide ibu mertuanya ini agak berlebihan. Rasanya seperti sedang di film bollywood saja. Tapi, ia tidak sadar bahwa mungkin semua ini akan jadi kenangan manisnya, kelak.
"Mereka serasi, ya, Sayang," komentar Elina, berbisik pada Matthew.
Matthew tersenyum, lalu menimpali. "Jadi teringat waktu kita menikah dulu."
Anna dan Logan sampai di pelaminan, lalu duduk pada kursi yang disediakan. Orangtua mereka yang duduk di kursi yang ada di samping mereka, mulai berdiri. Para tamu undangan pun satu per satu menghampiri pelaminan untuk memberikan selamat pada pasangan itu.
Entah sudah berapa lama mereka harus tersenyum, menyalami tamu-tamu itu, mereka sudah pegal melakukannya. Dan, rasa lapar menyerang Anna. Ia merutuk, apalagi ketika kedatangan Kenan ke pelaminan.
Logan tak tenang melihat Kenan menghampiri mereka sembari tersenyum. Pria itu mengulurkan tangan sembari mengucapkan selamat padanya.
"Terima kasih," balas Logan dengan dingin. "Tapi, bukannya aku tidak mengundangmu?"
"Tante Elina yang mengundang," sahut Kenan, tersenyum mengejek. "Nggak enak kan kalau nggak datang?"
Ah, pria ini! Rutuk Anna dalam hati sambil melirik Logan. Lalu, ia mengalihkan pandangan pada Kenan sembari tersenyum.
"Terima kasih sudah datang, ya," katanya.
"Sama-sama. Semoga aja pernikahan kalian bahagia." Tiba-tiba, arah tatapan dingin Kenan mengarah pada Logan. "Karena kalau tidak, aku yang akan menggantikan Logan untuk membahagiakanmu."
Meski ekspresinya datar, hati Logan terasa terbakar mendengarnya. Beraninya dia berkata begitu, apalagi dia tersenyum setelah mengatakannya, barulah dia enyah dari pandangannya.
Anna menatap kedua pria itu dengan khawatir, bulu romanya sampai meremang. Belum usai juga perang dingin mereka? Kenapa semudah itu persahabatan mereka jadi berantakan? Ia merasa bahwa dirinya yang menyulutkan api di dada mereka.
.
.
.
Elina dan Matthew turun dari pelaminan untuk berbaur dengan kolega mereka. Namun, karena Matthew harus bergabung dengan para pebisnis, Elina jadi harus ditinggal dalam kelompok kolega yang terdiri dari para istri-istri pebisnis, termasuk Eiliya.
__ADS_1
"Hei, apa kabar? Selamat, ya, atas pernikahan Logan," kata Eiliya.
Elina tersenyum. "Baik. Kamu cuma berdua sama Malvin? Mana Nathan?"
"Dia masih di Amerika. Tapi, dia titip salam kok. Em ... Ngomong-ngomong, Logan pintar banget cari calon istri. Cantik banget," goda Eiliya.
Pujian yang membuat Elina cukup bangga, tetapi ada seorang wanita di kelompok mereka menimpali:
"Jeng, yang pakai kerudung itu besan kamu?"
Elina melirik pada mamanya Anna yang sedang mengobrol dengan tamu undangan lain. "Iya. Apa ada masalah?"
"Iya. Kamu mengijinkan anakmu menikahi dengan wanita yang berbeda keyakinan?" komentar wanita itu lagi, agak setengah berseru.
Eiliya merasa canggung dengan keadaan ini, melirik Elina yang masih mempertahankan senyum. "Jeng, jangan bicara seperti itu."
"Memangnya ada masalah?" tukas wanita itu.
"Nggak masalah," sela Elina, mengerti akan maksud Eiliya. "Saya tahu bahwa pernikahan seperti ini dilarang. Tapi cinta tidak bisa memilih. Tuhan yang berkehendak atas takdir mereka. Jika mereka harus bersatu dalam perbedaan, apa yang bisa kita perbuat?"
Semua wanita itu seolah menjahit mulutnya, tak dapat membantah.
Dengan anggun, Elina mengangguk sopan sambil tersenyum. "Saya permisi dulu, ya. Silakan menikmati hidangannya."
☘
Anna memegangi perutnya. Duduk di tempat ini sungguh membosankan, dan membuatnya lapar. Logan memperhatikan itu, melihat keringat Anna yang menetes di dahi, dan sikapnya yang tampak tidak nyaman.
Tasya yang juga menyadarinya, menaiki pelaminan dan menghampiri kakaknya. "Lo kenapa, Kak? Pusing? Mual?"
"Ah! Enggak." Anna menegak, memperlihatkan senyum dipaksa. "Gue nggak apa-apa."
"Yakin?" tanya Tasya skeptis.
Anna mengangguk, tersenyum lebar untuk lebih membuat Tasya yakin. "Iya, gue yakin."
Tasya menyerah, dan akhirnya turun ke bawah. Senyum Anna memudar, memperlihatkan ekspresi menyesal. Uh! Kenapa sulit sekali bilang kalau "ia lapar"? Anna menghela napas.
"Kamu ingin apa?"
Pertanyaan yang membawa angin segar ke telinganya, tapi juga membuat matanya membulat. Anna memandang Logan dengan heran. Kenapa tiba-tiba dia begitu? Sikapnya ini disebut apa? Perhatian? Anna ragu menyimpulkan begitu.
"Em ... Sebenarnya, aku lapar sih?" jawab Anna.
Logan menghela napas. "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Nasi pakai rendang, tumis sayur, kuah gulai kayaknya enak?"
"Baiklah." Logan beranjak dari kursi. "Akan aku ambilkan."
Dia mau mengambilnya? Serius?
"Kenapa kamu yang ambil?" tanya Anna, menghentikan gerakan Logan. "Kan bisa minta ambilkan sama pelayan."
Logan sedikit membungkuk, mendekatkan wajah hingga spontan membuat Anna beringsut. "Biar lebih dramatis," bisiknya kemudian, tersenyum sinis.
Dramatis? Mulut Anna bergumam tanpa suara. Ya, pernikahan ini layaknya seperti film; mulai dari Logan menjemputnya dan berjalan bersama ke pelaminan dengan dihujani kelopak bunga mawar. Lalu, memotong kue bersama, saling menyuapi kue. Jika mengingat adegan itu, Anna jadi mual.
"Kalau aku menginginkan pernikahan ini, pasti aku akan sangat senang diperlakukan seperti itu," gumamnya sepelan mungkin.
Tanpa suara, tahu-tahu piring berisi makanan ada di depannya. Anna tertegun, lalu melirik Logan.
"Benar kan yang gini?" tanya Logan.
"Iya. Terima kasih." Canggung, Anna mengambil piring itu dari tangan Logan. "Bapak nggak makan?"
Bapak lagi? Logan menyipitkan mata jengkel, lalu menegur keras, "Panggil namaku!"
"Iya," sahut Anna, mati bosan ditegur terus olehnya. "Kamu nggak makan? Duduk kayak gini terus bikin lapar lho."
"Kamu sedang hamil, makanya kamu lapar terus," sahut Logan datar, sesekali melirik.
"Iya, juga," gumam Anna, lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Lahap sekali Anna makan, dengan cepat ia menghabiskan setengah piring makanannya. Namun, ada tamu yang baru datang dan ingin berfoto bersama. Mereka para rombongan teman-teman Tasya yang diundang olehnya.
Anna meletakkan piringnya, lalu berdiri bersama mereka. Sang fotografer bersiap untuk mengambil gambar, tapi kembali menurunkan kameranya.
"Maaf, Mbak. Itu mulutnya ...," katanya, menunjuk bibirnya.
"Kenapa?" Anna tertegun, bingung.
Logan juga awalnya tidak mengerti, tetapi pada akhirnya paham dan menoleh pada Anna. Di bibir wanita itu, ada sebutir nasi dan agak berminyak.
Tanpa berpikir, Logan mengusap bibir Anna dengan ibu jarinya. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat Logan berhenti dan terus memandangi bibir ranum yang pernah diciumnya saat malam di kapal pesiar itu.
Jantungnya berdebar lagi, apalagi adegan itu terus menghasut gairahnya untuk melakukan sesuatu yang bertentang dengan akal sehatnya.
Perlahan, ia memajukan wajahnya. Anna tertegun, kemudian terhenyak kala menyadari jarak mereka semakin dekat.
Pria ini, nggak mungkin mau menciumnya di depan orang banyak, 'kan?[]
__ADS_1