Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH SEMBILAN PART 1


__ADS_3

Mata Anna membulat, tercengang melihat keluarga Jonathan telah duduk berhadapan dengan ayahnya. Mamanya melirik dan menyenggol lengannya.


Anna hanya menggeleng sebagai jawaban. Habisnya, baik Logan maupun kedua orangtuanya, tidak ada yang memberitahu.


Elina menoleh ke arahnya begitu menyadari kedatangannya. Ia pun tersenyum, lalu melirik anaknya. "Logan, bawa Anna ke sini."


Logan tercengang sejenak, beranjak dari kursi dengan kikuk. Dihampirinya Anna, lalu mengulurkan tangan ke arahnya, begitu sampai di depannya.


"Ayo, ikut aku," ujarnya setengah hati.


Anna menatap uluran tangan itu dengan bingung. Namun, ia tetap menerimanya, dan membiarkan pria itu membawanya ke sebuah sofa untuk duduk di sampingnya.


Mamanya pun duduk di samping ayah ketika itu. "Tasya, tolong buatkan teh."


Tasya melirik pada kakaknya sejenak, tersenyum, sebelum berjalan ke arah dapur.


"Maaf, kedatangan kami tanpa diberitahukan dulu," mulai Matthew.


Ayah tersenyum canggung. "Tidak apa-apa. Tapi, boleh kami tahu maksud dari kedatangan kalian ke sini?"


"Sebelumnya perkenalkan, saya Matthew. Ini istri saya, Elina. Dan yang di sana anak saya, Logan," kata Matthew sambil menunjuk. "Kami datang ke sini ingin melamar Anna untuk anak kami, Logan."


Hal yang tak pernah diduga, Anna dan Logan terkejut. Rencana ini sepertinya tidak diketahui oleh pria itu. Ayah dan mama juga kaget, tapi kemudian tersenyum walaupun masih bingung.


"Saya tidak masalah kalau soal ini. Saya menyerahkan semua keputusan pada Anna," jawab ayah, lirikan matanya mengarah pada Anna.

__ADS_1


Anna hanya tersenyum paksa, lalu memalingkan wajah sambil menggerutu di dalam hati. Keputusan apa? Menikah? Bukannya ia sudah mengatakannya pada Elina dan Matthew?


Ini kabar baik, senyum mama merekah begitu lebar. "Bagaimana Anna? Apa kamu mau menerimanya?"


"Em ...," gumam Anna bingung, berpikir keras.


Saat itu, Tasya datang dengan membawa nampan berisi teh. Adnan menyusul sambil membawa tiga toples kue kering, yang kemudian disajikan di atas meja.


"Silakan diminum," kata mama, menawarkan. "Kuenya juga. Maaf, hanya ini yang bisa kami sajikan."


"Tidak masalah." Elina tersenyum, meraih cangkir teh.


Tamunya menyeruput teh dengan nikmat, kecuali Logan. Rasanya sulit untuk menelan apa pun, bahkan hanya seteguk air.


"Maaf, sebelum Anna menjawab, kami ingin memberitahukan sesuatu," kata Matthew, setelah meletakkan cangkir ke meja. "Ada satu masalah lain yang cukup menghambat mereka."


"Apa itu, Pak?" tanya ayah.


"Logan dan Anna berbeda keyakinan," jelas Elina.


Ayah dan mama semakin tercengang sambil menatap. Anna menengok sedikit, melihat reaksi mereka.


"Maksudnya, Nak Logan non-muslim?" tanya mama.


"Iya," sahut Matthew, mengangguk.

__ADS_1


Sudah pasti, kalau dilihat dari ekspresi orangtua Anna, sepertinya mereka menentang.


"Maaf, Pak, Bu. Tapi, kami tidak bisa menikahkan Anna dengan laki-laki yang berbeda keyakinan dengannya. Kami tidak mau Anna berpindah keyakinan," tutur ayah, berusaha tidak menyinggung.


"Saya tahu, Anna memiliki iman yang kuat terhadap keyakinannya," timpal Elina. "Begitu juga dengan Logan. Tapi kami punya solusi lain untuk mengatasi hal ini."


"Benar. Pernikahan beda keyakinan sudah banyak yang melakukan," sahut Matthew, menambahkan ucapan istrinya.


Sepertinya, ayah tidak tertarik dengan ide itu. "Meski begitu, kami tetap menolak. Maaf."


"Tolong dipikirkan lagi," cetus Elina. "Masalahnya, ini demi kebaikan kita. Anna sedang mengandung anak Logan."


Terkejut? Tentu saja! Bahkan mata mereka sampai melotot. Anna terhenyak ketika tatapan itu mengarah padanya. Ia hanya dapat menunduk, air matanya mulai menggenang pada pelupuk matanya.


Tidak bisa dipercaya, anak kebanggaan mereka telah menorehkan aib di wajah mereka. Mama syok, sampai menangis. Tubuhnya seketika melemas, terjatuh di dekapan ayah.


Anna langsung menoleh, berseru panik bersamaan dengan Tasya. "Mama!"


"Maaf, saya antarkan istri saya dulu ke kamar," kata ayah meminta izin.


Setelah dipersilakan oleh Elina dan Matthew, ayah dan Tasya memapah mama ke kamar. Hal ini membuat Anna semakin terpuruk dalam rasa bersalah.


Elina mendekap tangan Anna dengan lembut, dan berkata, "Maafkan kami karena sudah mengungkapkannya. Kami tidak ada pilihan lain."


Anna mendongak, matanya yang sembab menatap nanar wanita itu. Ia menyeka air matanya, menjawab dengan sisa isakan, "Nyonya dan Tuan sama sekali tidak salah. Serapat apa pun menutupinya, pada akhirnya akan terungkap juga."[]

__ADS_1


Maaf, aku kurang sehat belakangan ini. Kepala pusing terus karena kecapekan mungkin. Jadi maaf, bab ini hanya sedikit. Makasih bagi yang masih nungguin kisah Logan dan Anna.


__ADS_2