Matthelina

Matthelina
Chapter 12


__ADS_3

Aku Hamil!


Badannya terasa lelah, tapi sapaan papanya membuatnya bertambah mengeluh. Mau apa lagi, Tuan Jonathan? Matthew berbalik menghadap ke arahnya, kebetulan ia sedang melewati kamarnya.


“Aku dengar kau menolak dipindah tugaskan ke Jakarta?” tanyanya, menghampiri Matthew. “Ada apa? Bukannya dari dulu kau selalu ribut ingin kembali ke Jakarta?”


Tidak bisakah dia tidak mengurusi masalahnya? Matthew mendengus. “Kenapa memangnya? Apa sekarang Anda sudah puas melihat saya, sehingga Anda ingin mengusir saya?”


Berkonfrontasi lagi? Anak ini pikirannya tak sedewasa umurnya. Jika tidak punya tujuan, papanya pasti tidak akan bermulut manis dengannya. “Kesehatanku sedang kurang baik, mana bisa mengurusi dua perusahaan sekaligus, di tempat yang berbeda negara, pula. Jadi, aku memutuskan untuk menempatkanmu sebagai presdir di sana.”


“Lalu, bagaimana dengan posisi direktur di perusahaan?”


“Tenang, tidak akan kosong. Ada mama tirimu yang menggantikan.”


Oh, jadi ini rencana wanita itu? Matthew melirik ibu tirinya yang sedang bersandar di ambang pintu sambil tersenyum.


Papanya sering membanggakan wanita yang tidak bisa mengurus anak--yang katanya lulusan terbaik di Oxford University--tapi lebih senang menghabiskan uang papanya dengan mempercantik diri daripada mengganti popok adik tiri perempuannya. Matthew mencibir, tapi tak bisa menahan senyum ketika papanya mengatakan semua omong kosong itu pada semua koleganya.


Matthew kembali mengalihkan pandangannya pada papanya. “Akan kupikirkan.”


Sama seperti papanya, Matthew tidak betah berlama-lama dengannya. Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah menuju kamarnya, terkekeh membayangkan bagaimana jadinya perusahaan jika ditangani oleh wanita berotak tumpul seperti mama tirinya itu.


-;-;-;-


Kalau itu kau, Elina akan bilang: “Aku membutuhkanmu, Matthew. Aku sedang mengandung anakmu,” tapi sayangnya, pria itu bukan dia. Itu hanya ilusi. Kenapa dia berputar-putar di kepalanya sih?


“Austin?” Elina tersentak, cepat-cepat menjauhkan tubuhnya.


Antara malu dan kesal. Kenangan buruk di masa lalu masih belum termaafkan sehingga menyimpan dendam.


“Maaf. Terima kasih,” hanya itu, lalu ia berlalu begitu saja. Bukan karena canggung, lebih tepatnya muak melihat wajahnya.


Memangnya wajahnya seburuk itu? Tidak. Elina membenci sikap plin-plannya, keegoisannya, dan reputasinya yang konyol itu!


Sepertinya sudah berbulan-bulan yang lalu ia menyatakan, bahwa jangan pernah menampakkan wajahnya, apalagi memegang tangannya seperti ini. Kalaupun harus membuatnya terluka, Elina tak peduli jika menghempaskan genggaman itu dengan kasar.


“Apalagi, Austin? Kurang dengan ucapan ‘terima kasih’ dariku tadi? Baiklah, aku akan mengucapkannya sampai 10 kali supaya kau puas!” Elina ketus.


“Please, Lin, berikan aku kesempatan.” Pake memohon lagi. Elina malah tambah dongkol.


Tidak ada hal yang seperti itu, apalagi jika hatinya telah terkunci bagi orang macam Austin. Mau seperti apa dan apa pun yang ingin dilakukan Austin, terserah, Elina tak peduli. Jika Austin tak mau enyah dari hadapannya, maka Elinalah yang akan pergi.


“Elina!” Austin berseru agak memelas, saat Elina bersikeras berjalan meninggalkannya.


Sekalipun terdengar, anggap saja tidak mendengarnya. Bahkan kalau perlu, Elina menutup kedua telinganya. Untuk apa dia memanggilnya? Untuk apa dia datang lagi ke kehidupannya? Kalau ia tahu tentang kondisinya sekarang, apa dia masih mau terima Elina?


Austin terpaku menatap Elina yang semakin jauh. Ia berpikir, Elina begitu marah dan keras kepala saat ini, padahal yang sebenarnya gadis itu tengah mengusap air mata kepedihan dari masalah yang sedang menderanya.


Dia mana mengerti dan mana tahu, Austin bukan sosok yang tepat untuk saat ini. Yang dibutuhkannya adalah Matthew, pria yang menghamilinya, yang memenuhi isi kepala Elina dengan wajah tampannya.


Di dalam hati, ia memanggil nama pria itu, menangis di tengah jalan, tak peduli pada tatapan orang yang ditemuinya. Sampai tidak sadar, bahwa dirinya kehilangan arah. Ia tertegun, lalu tercengang. Jalan apa yang baru saja dilaluinya? Mengarah ke mana sajapun Elina tidak tahu.


Ia tersesat, seperti hidupnya kini. Ia tak tahu harus menuju ke mana untuk mencari jalan keluar yang tepat. Untuk saat ini, yang terpikirkan soal ibu dan adiknya. Tapi ia tak berani menghadapi mereka dengan keadaannya yang seperti ini.


Akhir tujuannya mengarah pada rumah sahabatnya, Raima—hanya itu yang terpikirkan saat otaknya tak dapat berpikir jernih. Ia tampil di depan rumah Raima, yang membuatnya tercengang saat membuka pintu.


Jarang sekali Elina datang dengan senyuman—mungkin kurang lebih seminggu ini, Raima melihat seulas senyum cantik di bibirnya—seperti sebelumnya, muram dan basah kuyup. Tak pernah Raima tidak bertanya-tanya di dalam hati: ada masalah apa lagi yang menimpa gadis ini? Lalu, kenapa membiarkan dirinya kebasahan? Apa dia tidak bawa payung?

__ADS_1


“Masuklah!” Buru-buru Raima menarik Elina ke dalam rumahnya. Kasihan kedinginan, ditambah lagi hujan semakin deras.


Raima menutup pintu, menyuruh Elina ganti baju dulu supaya tidak masuk angin. Sedangkan dirinya, melangkah ke dapur, membuatkan dua gelas susu jahe untuk menghangatkan tubuh di malam yang diguyur hujan awet.


“Sori gue ganggu lo,” gumam Elina, kedua tangannya memegang segelas susu jahe hangat yang harum.


“Emang pernah gue ngerasa direpotin sama lo?” Raima tak sepenuhnya setuju dengan ucapan Elina itu.


Mereka sudah lama bersahabat. Ucapan “terima kasih” dan “maaf” tidak ada dalan kamus persahabatan. Apa pun itu, tidak akan jadi masalah bagi Raima.


Elina tersenyum hambar.


Raima meletakkan susunya, setelah disesapnya sedikit. “Coba, sekarang cerita. Apa yang bikin lo dateng ke rumah gue, dengan kondisi kayak tadi? Lo kayak habis patah hati tau, nggak.”


Mungkin bisa dibilang benar; patah hati karena harapan hidup bahagianya musnah yang disebabkan oleh ini. Tetapi haruskah diceritakan? Raima adalah tempat Elina berbagi setengah kisahnya untuk diceritakan, sedangkan setengahnya untuk disimpan sendiri. Hanya saja, masalah ini agak lebih sensitif. Ini adalah kisah tentang dunia barunya yang akan membuatnya berubah total dalam segi apa pun. Bagaimana pandangannya, jika Raima tahu soal kehidupan baru yang ada di dalam tubuhnya?


Elina berusaha untuk kuat, tapi tetap saja serapuh porselen yang mudah pecah. Saat itu juga, air mata terlihat mengalir perlahan di pipinya. Raima terkejut, mengulurkan tangannya ke arah pipi Elina, mengelap air mata itu.


“Hei, kenapa? Ada apa lagi, Lin?” tanyanya cemas.


Tangisan itu tanpa suara, hanya isak kecil yang tertahan. Elina berusaha tabah, tak akan menangis sampai meraung-raung seperti di sinetron—menangis seperti itu akan membuat dirinya terlihat lemah.


Dihelanya lembut tangan Raima dari kedua pipinya. Ia berhenti terisak, dengan sisa keberanian dan ketenangan yang diusahakan, akhirnya sebuah pernyataan yang memang harus diucapkannya, “Gue hamil.”


Kaget sampai mulut terbuka, bingung, tak percaya, bahkan sejuta pertanyaan berputar-putar dalam benak, pasti hal seperti ini yang akan terjadi pada ibu dan adiknya di menit awal. Raima saja sulit mencerna pernyataan Elina, bahkan kehilangan kata-kata. Bedanya, ibunya akan jatuh pingsan setelah air matanya berjatuhan, dan Frasya akan memandang jijik pada kakaknya.


Hening, tak ada kata yang keluar dari mulut kedua wanita itu, hanya suara desis air hujan yang menabrak genteng dan tanah, juga suara petir yang kadang bersahutan. Elina tak sanggup memandang Raima, menunduk resah. Kalau Raima, pandangannya gelisah, masih tak percaya dengan yang didengarnya.


“Serius, Lin?” Kemudian, komentar itulah yang diucapkannya sambil memandang Elina.


“Kenapa lo sembunyikan ini?” keluh Raima gusar.


Elina meletakkan gelasnya ke meja. “Gue telat datang bulan selama 10 hari, tapi gue ngalamin morning sickness tadi pagi, pas banget waktu gue mau nyerahin formulir perpindahan jam kuliah.” Elina menghela napas berat. “Terus gue coba periksa ke klinik, dan hasilnya positif hamil.”


Yang hamil Elina, tapi yang berpikir keras mencari solusi malah Raima—tanpa bertanya dulu pada Elina. Tiba-tiba ia berdiri, akan beranjak dari sana.


“Gue harus kasih tahu Matthew,” gumamnya menegaskan.


Kasih tahu pria itu? Elina harus mencegahnya! Sebelum Raima melangkah, Elina mengenggam tangannya. “Jangan,” kata Elina, “gue belum siap.”


Wajah gadis itu memelas? Kenapa sikapnya ini? Kenapa dia membuat keputusan yang bodoh lagi? Gadis yang sulit ditebak dan terlalu tertutup. Tak heran, Raima sering mengernyit dan tak memahaminya.


Sambil kembali duduk, Raima bertanya kesal, “Apanya yang belum siap? Kenapa lo … ragu sama Matthew?”


Iya, apa yang membuatnya ragu? Elina sendiri masih bimbang pada ketulusan Matthew yang sering diterimanya. Ia merasa bahwa pria itu bukan siapa-siapa di dalam hidupnya, tak salah dalam hal ini. Dia tidak perlu bertanggung jawab, karena dialah yang membuat keputusan bodoh itu. Risikonya dialah yang tanggung, itu memang tekadnya dulu untuk menjual tubuhnya demi uang 80 juta.


Gejolak semua dilemanya membuatnya tak dapat berpikir jernih. Elina menunduk dan terdiam. Barulah menatap dan menanggapi Raima. “Jangan melakukan apa pun sebelum gue membuat sebuah keputusan. Gue masih belum bisa berpikir, jadi bisakah lo merahasiakannya dari siapapun?”


Raima menatap lekat-lekat gadis itu, memahaminya lewat matanya yang sendu dan mengiba. Elina benar, dialah yang seharusnya membuat kuputusan, bukan sahabatnya yang sok tahu ini. Ia mengerti dan mengangguk. Ia akan berjanji untuk tutup mulut sampai Elina sendiri yang menyampaikan soal kehamilannya pada yang lain.


-;-;-;-


Ibu termenung di depan kamar anak sulungnya yang tertutup rapat sejak makan malam 30 menit berlalu. Ada yang aneh, senyum Elina tak tampak lagi. Perubahan sikap juga sering terjadi. Ia juga betah mengurung diri di kamar, sama seperti yang dulu.


Ia bertanya: “ada apa?” dan Elina hanya menjawab: “tidak apa-apa,” sembari tersenyum tipis.


Rencana kuliah lagi juga gagal. Dia bilang kalau saat ini keuangan mereka belum stabil, jadi kuliahnya ditunda dulu untuk sementara waktu, apalagi Frasya akan masuk kuliah. Biarlah dia yang mengalah.

__ADS_1


Tapi yang membuat Ibu berdetak curiga pada saat makan malam berlangsung. Gadis itu menyentuh makanannya sedikit, lalu tiba-tiba membekap mulutnya.


“Ada apa, Elina,” tanya Ibu cemas.


Elina menoleh dan menggeleng. Suara orang hendak muntah terdengar darinya. Langsung saja, Elina bergegas berlari ke kamar mandi. Dan itu bukan hanya terjadi pada malam ini.


Ibu tidak mau menduga-duga, tapi begitulah firasat yang bergumam lirih di dadanya. Apakah Elina sedang mengandung? Namun, dilema pun datang: tidak mungkin. Elina gadis baik dan taat, mana mungkin melakukan kesalahan sebesar itu? Kemudian, ia berpikir bahwa Elina pasti hanya sedang tidak fit.


Seminggu berlalu, pagi itu Ibu dibuat heran oleh keputusan tiba-tiba Elina. Dia membawa tas jinjing hitam berukuran sedang keluar dari kamarnya, dengan berpakaian rapi.


“Mau ke mana kamu, Nak?” tanya Ibu, yang baru saja memberikan uang kembalian pada seorang pembeli.


“Aku diajak bekerja oleh temanku. Aku akan tinggal bersama dia, karena tempatnya jauh dari sini,” jawab Elina, lalu mengeluarkan senjata pamungkasnya agar Ibu tak curiga, tersenyum.


“Di mana itu?”


“Di pinggir kota,” ujar Elina, lantas mengangkat tasnya. “Ya udah, aku pergi dulu, ya, Bu.”


Kepergian yang mendadak tanpa banyak penjelasan. Ibu tak bisa bertanya banyak, memberikan tangannya untuk dicium dan memanjatkan doa pada anaknya meski tak rela harus terpisah oleh jarak.


Ibu dan Frasya menatap pasrah ketika Elina melangkah jauh dari rumah ini. Rindu dan cinta mereka dibawa olehnya. Mereka berharap, semoga Tuhan selalu melindunginya, memberkahinya dengan kesehatan dan rezeki, dan mengembalikannya ke sisi mereka, segera.


-;-;-;-


Matthew meletakkan tasnya di sebuah kursi yang ada di di lobi bandara. Akhirnya, menginjakkan kakinya lagi di Jakarta. Desahnya dalam hati. Suara dering ponselnya berbunyi, segera ia mengangkatnya.


“Iya, aku baru saja turun dari pesawat,” sahutnya di ujung telepon. Beberapa detik ia terdiam, lalu saat pandangannya tertuju pada seseorang, ia berkata, “Ya, baru saja Pak Rano datang. Aku tutup dulu teleponnya ya, Ma.”


Pria berkulit sawo matang, kurus, dan memiliki penampilan bersahaja, tersenyum menghampiri dan menyapa. Pak Rano, seorang supir yang telah 20 tahun bekerja di keluarga Matthew, mengambil tasnya dan membawanya.


“Apa kabar, Pak Rano?” Ini bukan pertanyaan basa-basi, karena sudah hampir dua bulan yang lalu Matthew tak bertemu dengannya.


Dengan sifat santun dan lembut, Pak Rano menjawab, “Baik, Den Matthew. Aden kayaknya tambah ganteng.”


Matthew tertawa mendengar pujian itu. Sambil berjalan menuju mobil yang terparkir, Matthew menanyakan soal keadaan di rumah, termasuk ibunya. Tentu saja, dengan senang hati Pak Rano menceritakannya dengan logat Jawa yang kental.


Selama di perjalanan, banyak hal yang Matthew tanyakan. Pak Rano sudah dianggap seperti keluarga, dan Matthew menghormatinya. Setelah pembicaraan berakhir, Matthew menatap jalanan Jakarta. Meskipun ia tak begitu hapal dengan rute jalan di sini, tapi berkat GPS, ia mampu menemukan jejak Elina. Bersama gadis itu, telah banyak kejadian yang dilalui olehnya.


Tuh kan, teringat Elina lagi!


Matthew memangku dagunya, termenung. “Sedang apa dia sekarang?”


Lamunan tentang Elina melupakan macetnya jalanan Jakarta, sampai ia tak sadar bahwa mobil telah sampai di depan rumah ibunya. Pak Rano membukakan pintu mobil untuknya, kemudian dia berjalan ke arah pintu dan membunyikan bel.


Pintu terbuka lama sekali, tapi Matthew menekan bel rumah dengan sabar-- hanya dua kali lalu dia menunggu. Selang beberapa saat, pintu rumah terbuka. Ia sudah menyambut ibunya dengan senyuman. Namun, yang terjadi malah ekspresinya berubah tercengang begitu melihat seseorang yang baru saja menguasai otaknya dengan bayang wajahnya.


Orang yang membukakannya pintu juga sama terkejutnya. Gadis berpakaian selayaknya seorang pengasuh, rambut panjang dan hitamnya dicepol—dengan poni disingkirkan ke sebelah kanan, mematung tak percaya melihat sosoknya.


Takdir macam apa ini? Entahlah. Mungkin Tuhan telah menautkan benang merah di antara Elina dan Matthew.[]


***Author Note:


Nggak nyangka gara2 sakit jadi molor nulis. Berhari2 di rumah—duduk, tidur, duduk, tidur, ya gitu terus. Tapi ni bab nggak selesai2 karena otak tumpul kalo lagi sakit. Hadeuh. Akhirnya, nyelesain baca novel yang aku beli setahun yang lalu, dan belum sempat dibaca (baru dirobek plastiknya aja 😁😁😁)


Oh iya. Karena aku sedikit sibuk dan demi alasan jaga kesehatan juga, Matthelina cuma publish 2 kali seminggu aja, kira2 hari selasa dan jumat. Tapi aku akan bikin agak lebih panjang sikit dari biasanya.


Oke, itu aja. Selamat membaca 😊***

__ADS_1


__ADS_2