Matthelina

Matthelina
Chapter 15


__ADS_3

Tidak akan kubiarkan


Pagi ini, Matthew ada pertemuan dengan klien di sebuah restoran, mendadak pula. Ia bergegas masuk ke mobil, ketika sekertarisnya, Rudi, sudah menyiapkan mobil.


Saat melintas di sebuah jalan, ia melihat sosok familiar di depannya. Dua wanita, sedang menaiki sebuah motor matik. Gadis di belakangnya menoleh ke samping kanan, dan Matthew bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Elina?" gumamnya, heran.


Hati bertanya: dengan siapa dia pergi, dan mau ke mana? Astaga! Ia menepuk keningnya, ia ingat kalau Elina hari ini akan pergi berobat. Semua pertanyaan itu disingkirkan dari otaknya.


Mobil berhenti di sebelah motor itu, saat lampu merah. Matthew melihat seseorang yang mengendarai motor yang ditumpangi oleh Elina.


Iya, itu Raima! Dikira Elina naik ojek, tapi ia menumpang motor sahabatnya itu. Hati Matthew berdetak, gelisah, ada sesuatu yang membuatnya ingin mencari tahu.


Semalam, ia mendengar bahwa Elina menghubungi Raima. Apa mereka merencanakan sesuatu? Masuk akal jika Elina minta bantuan Raima pagi tadi, karena gadis diizinkan untuk berobat. Tapi bisa saja, semalam Elina membicarakan sesuatu sambil mengendap-endap. Malam itu, sebenarnya Matthew agak ragu dengan alasannya.


Lampu hijau menyala, dan motor Raima melaju ke jalan yang lurus.


"Pak! Ikuti motor itu!" perintah Matthew.


"Tapi Pak, kita akan pergi menemui klien—" tegur Rudi.


Tapi Matthew menukas, menoleh dengan wajah kesal. "Aku atau kau bosnya?"


"Aa.. Anda, Pak."


"Kalau begitu, turuti perintahku!"


-;-;-;-


Mereka memasuki daerah Bekasi Selatan, di mana ada sebuah perumahan yang terdiri bangunan lama, dan sedikit bangunan rumah yang baru. Tadi mereka mengikuti motor Raima sampai di sini, hanya saja Matthew kehilangan jejak. Mereka dihadapi oleh sebuah jalan pertigaan.


Lurus atau ke kanan? Entahlah, tapi Matthew menyuruh supir untuk jalan perlahan. Kebetulan, motor Raima muncul di sebelah kanan pertigaan ini.


Matthew menepuk pundak supirnya dengan tidak sabar. "Ikuti dan blokir laju motor itu!"


Mobilnya berhasil menghadang motor Raima. Wanita itu mengernyit tidak senang, lalu turun dari motornya. Baru akan menghampiri mobil, Raima terhenyak, langkahnya langsung berhenti.


Matthew? Bagaimana pria itu ada di sini? Apa dia melihatnya sedang membonceng Elina? Apa yang akan dikatakan pada pria itu? Dan Raima harus cepat-cepat mencari jawabannya.


"Raima, tidak perlu mengelak lagi, ke mana kau bawa Elina pergi?" tanya Matthew langsung.


Raima menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala. Ish, kalau sudah terjepit gini, mana mungkin bisa memberi pria itu alasan. Apa mungkin ... beritahu saja?


"Mister, aku..."


Raima memejamkan matanya erat. Elina, sori.


Ia menahan napas. "Mister, Anda perlu tahu kebenaran ini karena Anda juga bersangkutan dengan masalah ini."


"Oke, ceritakanlah," desak Matthew.

__ADS_1


"Elina ... dia sebenarnya tidak ingin siapa pun tahu, tapi Anda harus tahu, supaya Anda bisa mencegah perbuatan yang akan disesalinya nanti."


Apa maksud gadis ini? Raut wajahnya memohon, tetapi ia tertekan karena keraguannya yang sejak tadi mengusiknya. Matthew tidak akan mendesak, biarkan gadis itu tenang dan menyampaikannya sendiri.


"Elina ... dia HAMIL!"


Ekspresi apa yang harus ditunjukkan, kaget atau senang. Senyumnya mengembang, apalagi mendengar bahwa bayi yang dikandung oleh Elina adalah darah dagingnya.


"Terus, di mana dia sekarang?" tanya Matthew.


"Dia di klinik aborsi," jawab Raima.


Bagai disambar petir di siang bolong. Elina ... dia akan menggugurkan bayi mereka? Matthew gelisah, bergerak tidak keruan dengan panik. Tidak, ia harus mencegah tindakan bodoh Elina itu!


Matthew meminta Raima untuk mengantarkannyan ke tempat itu, setelah memberi instruksi pada Rudi untuk menggantikannya dalam pertemuannya dengan klien. Tentu saja, Rudi menolak, tapi tak bisa berbuat apa pun karena bisa mengancam kariernya.


-;-;-;-


Raima menurunkannya di tempat ia menurunkan Elina. Matthew turun dari motor, tercengang.


Jalan berbatu dan berdebu? Inikah yang dilalui oleh Elina yang sedang mengandung? Nekat sekali? Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya dan bayinya?


Raima menghentakkannya dari lamunannya. "Mister ikuti saja jalan ini, nanti akan ada sebuah klinik di akhir jalan ini." Lalu, Raima menghidupkan mesin motor. "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai sana. Saya masih ada urusan."


Matthew mengangguk sambil tersenyum singkat.


"Saya harap, Mister bisa mencegah aborsi itu. Saya tidak mau Elina mengulangi dosa berat lagi," ucap Raima, sebelum meninggalkan Matthew di jalan yang sepi, bersemak, dan berbatuan.


Setelah napas hampir habis dan pendek-pendek, beberapa langkah lagi klinik itu terlihat. Dengan terengah-engah, Matthew menghampiri tempat yang lebih mirip dengan rumah hantu itu.


Ia mendobrak pintunya. Sempat tercengang dengan keadaan di dalam yang berbeda dari luar. Bergegas ia menghampiri meja pendaftaran.


"Ada pasien yang bernama Elina...." Matthew terhenti karena tidak tahu nama lengkap wanita itu.


Suster itu mengernyit. "Anda siapa, Pak?"


Matthew tertegun. Pasalnya, ia harus jawab apa? Dia bukan teman, kekasih, bahkan suami Elina. Dia hanya seorang pria yang menanamkan benih di dalam rahim Elina.


Tak ada waktu menghadapi hal sepele ini. Ia langsung berlari menuju ruangan yang ada di sudut lorong sebelah kanan, tak mengindahkan seruan suster tadi, yang juga mengejarnya.


"Pak, maaf. Anda dilarang masuk! Berhenti, Pak."


Matthew membuka pintu ruangan itu. Ternyata benar, Elina baru akan menjalani operasi. Di tangan dokter itu sudah ada suntikan bius yang akan disuntikkan ke lengan Elina. Derap langkahnya cepat, melesat menghampiri ranjang Elina.


Wajah gadis itu tampak terkejut dan kehilangan kata-kata ketika Matthew sampai dihadapannya. Kemudian, Matthew mengangkat tubuh Elina, menggendongnya pergi dari ruangan ini.


"Tunggu, Pak. Anda tidak bisa membawanya. Dia akan menjalani operasi," kata dokter berusaha mencegah.


Elina melihat pria itu memejamkan mata, geram. Aborsi? Hei, dokter. Matthew tidak mau anak yang tidak berdosa itu dibunuh dengan cara keji seperti itu.


Maka, ia berbalik, berucap dengan nada dingin dan tajam, "Aborsi dibatalkan!"

__ADS_1


Matthew membawa Elina keluar, melewati suster itu yang nampak tercengang, lalu pergi tanpa mencegahnya.


Elina didudukkan di kursi ruang tunggu yang sepi. Huh, gadis ini ternyata badannya berat juga. Mungkin karena ada tambahan manusia kecil di dalam tubuhnya.


Matthew berdiri di hadapan Elina, menatapnya dengan alis yang menyatu di keningnya, menghela napas yang tak beraturan sampai perlahan tenang. Lalu, berkacak pinggang, masih dengan kekesalan yang tersisa.


Sedangkan Elina, membisu dengan kepala menunduk. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, bahkan di dalam pikirannya sekalipun. Dia hanya menunggu, tak mau menyela karena keadaan pria itu.


Matthew mendengus. "Aku sudah bilang kalau ada sesuatu, katakan saja padaku. Kenapa kau sembunyikan kehamilanmu?" kata Matthew geram tapi tetap tenang.


Mata Elina menyendu. Jari-jari tangan yang gelisah disatukan erat-erat. "Aku sudah berprinsip sejak memilih jalan salah itu: bahwa aku tidak akan melibatkan pria yang meniduriku, jika risiko itu terjadi. Aku tidak akan menuntut pertanggung jawaban. Aku yang akan menanggungnya." Kata itu mengalir lancar tanpa dipersiapkan, berdasarkan yang ada di dalam hatinya. Dengan nada datar. Dengan tanpa ada penyesalan.


"Kau pikir, dengan aborsi adalah bentuk tanggung jawab?" tukas Matthew, kemarahannya meledak. "Apa yang kau pikirkan?"


Elina tak menjawab lagi dalam beberapa saat. Pria itu memarahinya. Kenapa? Apa dia tak setuju bayi ini dilenyapkan? Apa dia peduli pada bayi ini? Tidak. Pasti karena sebuah penyesalan.


Matthew perlahan menenangkan diri. Diliriknya wanita itu. Ia penasaran, apa yang sedang dipikirkan olehnya? Ekspresinya tak bisa ditebak, menyimpan banyak misteri, sulit terbaca. Harus dengan cara apa agar dapat memancingnya berbicara banyak. Ia yang sangat tak sabaran, harus mendesak.


"Kenapa kau tidak memberitahukanku kalau kau sedang hamil?" Akhirnya, bicara dengan agak lunak yang ia pilih.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan, jika kau mengetahuinya?" cetus Elina datar, mendongak menatap Matthew.


"Aku akan bertanggung jawab," jawab Matthew langsung dan tegas.


Elina tersenyum mencemooh. "Tanggung jawab? Yang seperti apa?"


Matthew melongo. Memang yang seperti apalagi kalau bukan dengan membesarkan anak itu bersama-sama dalam sebuah ikatan yang dinamakan "pernikahan".


Walaupun ini adalah keputusan yang terburu-buru, tapi Matthew bersungguh-sungguh. Ia berlutut di depan Elina, menatapnya serius, lantas berkata lirih tapi tegas, "Kita menikah."


Sebenarnya Elina tersentuh, bahkan sempat tak menyangka bahwa kata itu akan terucap dari bibir Matthew. Namun ia telah berkaca bahwa pernikahan adalah neraka dunia, sumber kesengsaraan, mematikan akal sehat, penyakit hati dan kejiwaan, akar dari kejahatan. Cinta tak menjamin kebahagiaan dari pernikahan. Semua itu akan hilang seiring waktu, berubah menjadi asing seperti pernikahan ayah dan ibunya.


Oleh karenanya, Elina memusnahkan impian memakai gaun putih, berdiri di altar, bersumpah janji suci sehidup semati di depan Tuhan, dan menggandeng pria idaman yang akan menempuh serba-serbi kehidupan bersamanya, berharap kebahagiaan abadi sampai akhir hayat.


Pernikahan ayah dan ibunya itu terjadi atas dasar cinta, tapi tidak utuh dan tidak bahagia. Lalu, bagaimana dengan pernikahan atas paksaan karena harus bertanggung jawab? Yang ada Elina hanya akan menghadapi hari-hari buruk dengan pria bertemperamen pemarah. Akhirnya, anak ini yang jadi korban. Semua itu telah dipikirkan. Makanya, lebih baik anak ini tidak perlu terlahir di dunia, jika hanya akan menjadi korban dari kesalahan kedua orangtuanya.


Elina memejamkan mata, dan inilah keputusannya: "Aku tidak mau menikah."


Matthew terhenyak. Ia mencoba mencari makna dari ekspresinya, tapi tak menemukan apa pun. Wanita itu terlalu baik dalam menyembunyikan perasaannya.


" Tapi kenapa? Apa karena kita tidak saling cinta?"


"Dengan atau tanpa cinta, tidak ada bedanya," sahut Elina serak. "Aku sudah memikirkan hal itu sejak lama, bahwa pernikahan bukan jalan terbaik."


Lalu maunya apa? Matthew bergegas berdiri, wanita itu selalu berhasil membuatnya kehilangan akal. Bibir yang pernah ia kecup itu dulu, kenapa hanya mengeluarkan ucapan yang pahit saja? Ia tak habis pikir. IA TAK HABIS PIKIR!


Matthew mengacak rambutnya, frustasi. "Oke, kita tidak usah menikah, tapi bukan berarti anak itu dilenyapkan. Soal cara bertanggung jawab, nanti kita pikirkan, jaga saja bayi itu. Dan sekarang, ayo kita pulang."


Tak ada respon, tapi Elina tetap setuju dengan saran itu. Bahkan, saat tangan Matthew menghelanya lembut untuk berjalan bersama dengannya keluar dari klinik ini, ia tak keberatan meskipun merasa risi.[]


**Author note:

__ADS_1


Sori kalau dikit, dan telat up karena file bab 15 hilang.**


__ADS_2