
Matthew membuka kacamatanya. Tatapan tajam dan tidak sukanya mengarah pada Austin, yang mengisyarakatkan: "Jangan dekati wanitaku!"
Austin melongo sekejab, lalu berkata dengan agak ragu karena bingung dan tak percaya, "Foto prewedding?"
"Iya. Maksudku bukan hanya dia, tapi dia akan berfoto denganku, calon suaminya," jawab Matthew cepat, selanjutnya menatap Elina mesra.
Elina tercengang heran. Apa-apaan ini? Wajah Elina memerah karenanya, tersipu mendengarkan pengakuan Matthew di depan Austin, pula.
"Oh, begitu?" kata Austin kikuk, lalu merentangkan tangan sebelah kanan. "Mari, silakan masuk."
Pundak yang dirangkul oleh Matthew kenapa rasanya tidak nyaman, ya? Maksud Matthew melakukan ini agar terlihat mesra gitu? Tapi Elina merasa ini sangat berlebihan.
Diliriknya Matthew yang tatapannya lurus pada satu objek, dan itu adalah pada Austin. Elina berpikir, mungkin Matthew cemburu? Jika memikirkannya jadi geli sendiri. Kenapa harus cemburu, kalau dia selalu bilang bahwa "aku miliknya"? Tidak akan ada yang mengambil Elina dari dirimu, Matthew!
Austin membimbing mereka sampai di depan sebuah meja, dengan dua orang pegawai wanita yang duduk di belakangnya. Mereka tersenyum ramah. Sementara itu, ia berjalan ke arah anak tangga, yang menuju ke arah lantai atas.
"Ada yang bisa saya bantu, Bapak dan Ibu?" tanya seorang pegawai, dari
yang tersemat di dada kanannya tertulis namanya, Helena.
"Kami sudah buat janji untuk foto prewedding," jawab Matthew, yang tanpa sadar, senyumnya telah membuat wanita itu terpesona. Dan Elina tahu itu.
Setelah tersadar, wanita itu membolak-balik halaman sebuah buku dengan kikuk. "Ah, iya! Pak Matthew Jonathan, ya? Silakan naik ke lantai atas, photografer-nya sudah menunggu."
"Baiklah."
Matthew menghela lembut tubuh Elina agar berjalan duluan di depannya. Mereka menaiki tangga yang ada di samping kanan dekat pintu masuk tadi.
Mereka terkejut melihat hanya ada Austin di sana, sedang membelakangi mereka sambil mengecek kameranya. Apa dia photografer-nya?
Austin menoleh dan tersenyum. Tapi di mata Matthew, senyuman itu hanya pada Elina. Maka, ia menarik pinggang Elina, merapatkannya ke tubuhnya.
"Oke, Pak Matthew dan Nona Elina. Tolong ganti baju dulu, sementara beberapa asisten saya menyiapkan background-nya," ujar Austin.
"Lho? Saya minta background-nya di tempat yang terbuka," protes Matthew. Entah mengapa, sejak tadi Elina merasa Matthew terlihat sewot terus.
"Benar," kata Austin, berjalan mendekat. "Tapi kita ambil foto untuk sampul undangan pernikahan, itu pesan Ibu Monika tadi."
Baiklah, Matthew mengalah. Ia berdiri enggan sekaligus jengkel, berjalan menuju ruang ganti. Sementara Elina yang merasa tak enak pada Austin setelah perlakuan Matthew tadi, ia langsung meminta maaf padanya.
Sifat agresif Matthew keluar, saat mereka berpose di depan kamera. Elina merasa aneh dan tidak nyaman. Hasil fotonya jadi terlihat dibuat-buat, meski tidak semua orang nantinya menyadari hal itu.
Pemotretan selanjutnya dilakukan di dekat danau buatan yang ada di vila keluarganya, sesuai permintaan Matthew. Matahari sore, dengan langit berwarna jingga yang terlihat cantik, membuat air danau bagai permata yang bersembunyi di dalam air, berkilat-kilat.
Matthew dan Elina telah berganti pakaian, tapi bukan baju pengantin, melainkan pakaian masyarakat Inggris di abad ke 18. Elina memakai gaun biru panjang, rambutnya dibentuk ikal dan digerai. Sementara Matthew, dengan gagah memakai kemeja yang dilapisi oleh rompi warna putih dan mantel panjang warna hitam, juga celana panjang berwarna senada. Mereka terlihat seperti Mr. Darcy dan Miss Elizabeth Bennet.
Melihat Elina memakai gaun itu, Matthew semakin mengaguminya. Dia sangat cantik, meski memakai baju apa pun dia tetap terlihat cantik.
Ia berjalan mendekati Elina, yang menoleh dan tersenyum, begitu menyadari kedatangannya.
"Aku seperti melihat seorang putri Inggris," puji Matthew, mulai lagi buat Elina tersipu.
Seorang gadis berkacamata mendatangi mereka, mengatakan bahwa pemotretan akan segera dimulai. Matthew mengulurkan tangannya, dan Elina menerima uluran tangan itu dengan senyum merekah. Mereka berjalan beriringan menuju ke sebuah titian, lalu berdiri di dekat ujung titian ini.
Matthew dan Elina mulai berpose, tetapi Austin merasa gaya mereka kurang mesra. Austin mendekat, memberikan pengarahan pada Matthew.
Awalnya, Matthew merasa baik-baik saja saat pria itu mulai menunjukkan beberapa pose. Namun, begitu Austin menyentuh tangan Elina untuk diletakkan ke pinggang Matthew, apalagi pria itu menggeser posisinya dan memperagakan pose itu bersama dengan Elina, habis sudah kesabaran Matthew.
Ini yang mau foto prewedding siapa? Kenapa Austin yang berdiri di depan Elina, meletakkan tangannya di pinggang pria itu, dan memeluk pinggang wanita yang akan jadi milik Matthew?
Matthew menghela tubuh Austin dengan kasar, menjauhkannya dari Elina. "Jangan sentuh istriku!"
__ADS_1
Elina tertegun, lalu wajahnya memerah. Tadi yang ia dengar itu tidak salah, 'kan? Istri? Mereka saja baru melakukan sesi prewedding, bagaimana bisa dibilang seperti itu? Tapi meski agak memalukan, Elina cukup senang mendengarnya.
Austin yang merasa terkejut dan tidak enak hati meminta maaf. "Aku tidak bermaksud macam-macam. Aku hanya memberitahukan gayanya saja."
"Omong kosong!"
Karena Matthew semakin marah, Elina maju dan mencoba menenangkan Matthew. Ia memegang lengannya, menegurnya dengan lembut.
"Matthew, please. Udah, ya?"
"Apa maksudnya tadi? Kau menyukai istriku?" tuduh Matthew. "Dia memang cantik, tapi kau harus tahu bahwa dia sudah memiliki AKU!"
"Iya, saya minta maaf tapi saya...."
"Apa?" potong Matthew tajam. "Jika kau mau menunjukkan posenya, kau cukup beritahu aku. Tak usah kau memandangnya dan menyentuhnya."
Matthew semakin panas, bahkan ia tak mendengarkan Elina. Suara Matthew semakin meninggi, di sanalah Elina berdiri agak ke tengah dan melerai. Namun yang terjadi, Matthew menepis tangan Elina agak kuat. Alhasil, Elina terhuyung, dan karena ujung hak tinggi sepatunya tersandung, ia kehilangan keseimbangan lalu tercebur ke danau.
Kedua pria itu menoleh dan terkejut.
"ELINA!" teriak Matthew panik.
Bergegas ia membuka mantelnya, lalu melompat ke dalam air untuk menolong Elina. Air di danau itu sama sekai tidak dalam, jadi Elina tidak tenggelam. Hanya saja, gaunnya terlalu panjang membuatnya kesulitan untuk menggapai daratan.
Matthew menghampirinya, lalu menggendongnya sampai kembali ke titian tadi. Melihat Elina menggigil, Matthew segera memakaikannya mantel yang tadi ia pakai dan memeluknya.
"Ayo, kita ke vila." ajak Matthew gemetar karena kedinginan juga.
Elina mengangguk. Matthew menggendongnya, lalu berjalan melewati Austin, yang di dalam lubuk hatinya merasa agak cemburu pada mereka. Sejujurnya, iya! Dirinya memang masih menyukai Elina.
Matthew berseru memanggil pembantu, begitu memasuki vila. Dia memerintahkan wanita setengah baya berbadan gemuk itu membuatkan air hangat untuk mandi dan minuman yang menghangatkan tubuh, sementara ia membawa Elina ke kamar.
Kira-kira setengah jam kemudian, setelah Matthew mandi air hangat dan berganti pakaian, ia mendatangi kamar Elina. Diketuknya pintu, lalu dibukanya setelah ada sahutan dari Elina.
Matthew semakin tak berani, tatkala wajah wanita itu tak menunjukkan ekspresi apa pun. Tebakannya, wanita itu pasti marah.
Tangannya menggenggam erat gelas yang berisi susu jahe hangat. Ia mulai goyah dan enggan melangkah. Tetapi mau sampai kapan seperti itu? Tidak mungkin membiarkan susu ini jadi dingin dan tidak terminum. Sungguh, wanita ini yang membuatnya lemah!
"Ini, susu jahe. Minumlah," kata Matthew, berdiri di samping Elina.
Elina mengambil susu itu dari tangan Matthew, kemudian meletakkannya di atas nakas. "Terima kasih." Setelah itu, ia kembali menatap Matthew.
Ditatap seperti itu, tentu saja membuatnya bertambah canggung. Elina jengkel melihatnya seperti itu. Buat apa bergeming di sana, dengan ucapan yang tertahan di lidah, seolah yang sedang dihadapinya adalah seorang guru galak yang membawa penggaris panjang. Seperti itulah pemikiran Elina tentang pria itu sekarang.
"Matthew." Elina menepuk ruang kosong yang ada di sisi ranjangnya.
Ini isyarat bahwa Elina sedang tidak marah? Dan lagi, wanita tersenyum tipis. Matthew jadi tidak segan lagi untuk mendatanginya dan duduk di sisi yang kosong itu. Ia lega, kini kata itu bisa diucapkan tanpa ragu.
"Matthew, apa kau meragukanku?" tanya Elina, lembut tapi serius.
Kenapa harus bertanya begitu? Matthew buru-buru meraih tangan Elina dan mengenggamnya. "Sama sekali tidak."
Elina membisu sesaat, menatap lamat-lamat pria yang bisa dilhat dari jawabannya yang tulus. Namun.... Ia menghela napas dan menghembuskannya panjang.
"Austin adalah mantan pacarku, sebelum kita bertemu."
Kata itu sempat tercekat di dalam tenggorokannya karena keraguan sempat terbesit dalam benaknya. Ia menunggu dengan tegang. Entah apa reaksi yang akan terlihat di wajah pria itu.
"Sebelum kita tidur bersama di hotel 2 setengah tahun yang lalu?" tanya Matthew memperjelas, dan Elina mengangguk sebagai jawaban.
Ada sedikit kelegaan--setidaknya, Elina sudah melupakan Austin dan mencintainya sekarang. Tapi Austin, mungkin masih ada rasa pada Elina. Pantas saja!
__ADS_1
Melihat Matthew memalingkan wajah dengan ekspresi gusar, Elina menyimpulkan bahwa kejujuran itu malah semakin membuat semua ini kacau. Tapi jika tidak dijelaskan, kesalahpahaman malah semakin melebar.
Genggaman tangannya dipererat, berhasil membuat Matthew kembali menoleh padanya. "Bukannya aku bermaksud menyembunyikannya darimu. Hanya saja, aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Tak ada lagi yang bisa ia katakan. Matthew hanya tersenyum hambar, lalu memalingkan wajahnya lagi. Saat ini, perasaannya cukup terluka. Elina mengerti itu, pahit rasanya mengetahui kenyataan seperti ini. Bagaimanapun semua harus dijelaskan, tak boleh ada yang ditutup-tutupi. Apalagi, pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
"Kita pernah membahas ini sebelumnya, bahwa cinta...."
"Harus didasari oleh kepercayaan," sela Matthew menimpali.
"Benar," sahut Elina, tersenyum. "Jika semua orang menunjuk padamu bahwa kau salah, maka aku tidak akan meragukanmu, kecuali aku melihat buktinya. Itulah cinta."
Matthew hening sejenak, merenung kembali sebelum Elina kembali berkata:
"Terserah jika mereka mengatakan aku buta, bodoh, atau sebagainya. Yang mengetahui tulusnya rasa cintamu hanyalah aku."
Dan yang tahu seberapa tulusnya cinta Elina adalah Matthew sendiri. Oh sungguh, ia merasa bersalah. Karena terlalu dibutakan oleh rasa cemburu, ia jadi takut bahwa Elina akan pergi dari sisinya dan direbut oleh pria itu. Gara-gara itu juga, ia membuat orang yang dicintainya celaka.
"Maafkan aku, Elina." Matthew memelas. "Aku cemburu. Aku terlalu marah karena pria itu berusaha mencari perhatianmu. Kau lihat dia menyentuhmu!"
Elina tersenyum lembut. "Cemburu wajar, Matthew. Tapi kalau kau percaya pada cintaku, tidak akan ada sedikitpun terbesit rasa cemburu. Itu lebih bagus. Karena... aku lebih suka pada Matthew yang sikapnya lembut, daripada Matthew yang pemarah."
Tawa Elina menular pada Matthew. Perasaannya sedikit lebih baik sekarang. Mereka terdiam setelahnya, lalu saling memandang. Matthew meraih kening Elina dan mengecupnya lembut.
Ah, wanitanya yang kadang melemahkannya, juga kadang memberinya kekuatan. Elina rapuh, tapi kenapa bisa membuat pria pemarah ini luluh?
"Minumlah susunya. Nanti dingin," kata Matthew setelahnya.
"Iya."
Ternyata memang hampir dingin susunya. Elina cepat-cepat menghabiskan susunya, lalu memberikan gelasnya pada Matthew.
Matthew keluar kamar, membiarkan Elina malam ini istirahat. Sebenarnya, ia ingin bermesraan dan tidur bersama dengannya. Tapi karena insiden tadi, sebaiknya ia tidak mengganggunya dulu.
Beberapa langkah setelah meninggalkan kamar Elina, Matthew berpapasan dengan Austin. Ia tak menghiraukannya dan terus berjalan. Akan tetapi, Austin berhenti di depannya dan memanggilnya.
"Tolong jangan salah paham," kata Austin. "Sebenarnya, saya tidak ada maksud untuk...."
"Tidak usah dijelaskan," tukas Matthew, dingin. "Elina sudah menceritakannya. Besok, tolong foto kami lagi di sana. Dan aku akan menyuruh pembantuku menyiapkan kamar untukmu dan asistenmu."
Austin merasa tersanjung. Pria yang baik. Gumamnya dalam hati. Saat Matthew berjalan melewatinya, ia berkata, "Tidak usah, aku...."
Matthew menoleh lewat pundaknya. "Berkendara di malam hari sangat berbahaya. Lagi pula, kami masih memakai jasamu. Jadi, menginap saja, dan lakukan persiapan untuk pemotretan besok."
Austin mengangguk. Tapi belum sempat Matthew kembali melanjutkan langkahnya, ia berujar sembari tersenyum, "Aku turut bahagia atas pernikahan Elina dengan Anda." Kemudian ia merenung, tersenyum pahit pada sekelebat ingatan masa lalu yang terlintas sejenak. "Elina akan sangat mencintai seseorang yang dipilihnya. Tetapi ketika hatinya tersakiti, tidak akan ada tempat lagi untuk orang itu di hatinya."
Matthew tak mengucapkan sepatah katapun. Entah apa yang terjadi pada hubungan Austin dan Elina dulu, jika dari raut wajah dan maksud dari perkataannya, Austin ingin memberitahukan agar Matthew selalu menjaga hati Elina. Tentu saja, ia menerima pesan itu. Ia membalasnya dengan senyuman, lalu berbalik dan melangkah pergi.
Austin terus memandang pria itu, sampai akhirnya lenyap ke dalam kamar yang ada di sebelah. Perasaan bahagia dan lega merayapi hatinya. Senyum tulus terulas. Meski kini ada sedikit penyesalan, ia akan merelakan Elina dan mendoakannya agar selalu berbahagia dengan cintanya.
-;-;-;-
Frasya melompat girang dari kursinya, setelah melihat dirinya begitu cantik setelah telah dirias. Gaun hijau toskanya selutut yang dibelikan oleh Elina begitu cocok dengannya.
Bukan karena itu yang membuatnya bahagia. Pasalnya, hari ini kakaknya akan menikah! Ia tak sabar menjadi penggiring mempelai wanitanya.
Karena rasa tak sabarnya itu, ia sampai ingin menemui kakaknya yang ada di kamar. Mungkin, saat ini Elina sudah selesai dirias. Setengah berlari ia ke kamar Elina, mengetuk pintu kamarnya sembari berseru.
"Kak! Kakak! Boleh aku masuk?" serunya, lalu mempersiapkan kamera yang ada di ponselnya. Ia akan berswafoto dengan Elina.
Tapi kok, tidak ada jawaban? Aneh. Ia mencoba mengetuk pintu lagi dan berseru lebih kencang.Kepanikan melanda. Ia membuka pintu, mencari jawaban atas dugaan buruk yang dipikirkannya tadi.
__ADS_1
Bukan karena Elina sedang pingsan atau sedang berada di dalam kamar mandi yang membuatnya tak menyahuti Frasya, wanita itu tidak ada di manapun. Elina menghilang![]