
"Selamat ulang tahun, kami ucapkan."
Nyanyian dari Frasya dan Ibu sambil bertepuk tangan. Di meja terdapat sebuah kue ulang tahun, yang di atasnya tertancap dua lilin angka 24.
Elina tersenyum bahagia, juga sambil bertepuk tangan. Frasya berseru, "Make a wish, Kak." Maka, Elina menautkan kesepuluh jarinya dan menutup mata. Sebuah doa dipanjatkan dalam hati, lalu meniup lilinnya.
"Yey!" Frasya berseru. Tepukan tangan mengiring, kemudian memeluk Elina sambil mengucapkan selamat.
Ibu pun juga melakukan hal yang sama. "Semoga apa yang kau inginkan terkabul," ucapnya kemudian.
"Amiiiin." Semoga Elina dapat bertemu dengan kekasih hatinya segera.
Bukan hanya makan kue hari ini, tapi juga membuat nasi tumpeng mini buatan Ibu. Elina juga sudah berjanji akan memberikan sumbangan untuk anak yatim di hari ulang tahunnya. Maka keesokkan harinya, ia mengunjungi panti asuhan dan memberikan sejumlah uang pada pengurus panti.
Senyumnya terkembang, anak-anak mengucapkan selamat dan menyalaminya.
Suara tangis bayi mengalihkan perhatiannya, saat ia akan beranjak pulang. Salah seorang wanita muda yang juga membantu mengurus panti, membawa seorang bayi. Elina merasa tertarik pada bayi perempuan, yang kata pengurus panti ditemukan di dalam bak sampah, dalam keadaan baru dilahirkan.
"Boleh saya gendong, Bu?" kata Elina meminta izin.
"Boleh, Mbak."
Wanita itu menyerahkan bayi itu ke dalam gendongannya. Perasaan haru dan sedih langsung melingkupinya, kala bayi itu berada di tangannya. "Ibu macam apa yang tega membuangnya seperti ini?" gumamnya, dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.
Ia jadi teringat pada bayinya dulu. Jika ia tak bertemu dengan Matthew, mungkin ia juga akan menjadi ibu yang kejam seperti ibu dari bayi ini. Tapi setelah itu, timbul rasa sayang pada bayinya, walaupun pada akhirnya Tuhan telah mengambilnya sebelum dilahirkan.
Sempat ia berpikir, bagaimana wajahnya ketika dia lahir? Apa dia bayi laki-laki yang tampan seperti ayahnya? Atau bayi perempuan yang mirip dengan dirinya? Andai saja, ia bisa menjaga bayi itu dengan baik, mungkin dia akan lahir dengan kasih sayang berlimpah darinya dan Matthew.
"Kak," tegur Frasya, membuyarkan lamunannya. "Kakak kok nangis?"
Elina tersentak, menatap bayi itu tak lagi menangis. Dihapusnya air matanya, cepat-cepat bayi itu dikembalikan ke dalam gendongan pengasuh tadi. "Kasihan sekali dia," katanya. "Apa dia sudah bernama?"
"Kami belum memberikan nama untuknya, Mbak," jawab ibu panti. "Apa Mbak punya usul mau memberikan nama apa?"
Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat itu, mereka tengah membicarakan kembali soal nama calon bayi mereka di meja makan malam itu. Matthew sibuk browsing internet, lalu diletakkan ponselnya, mengalihkan pandangannya pada Elina yang sedang menghabiskan susunya.
"Elina, aku sudah mempersiapkan nama untuk anak kita," katanya antusias.
Elina melirik sedikit, kemudian meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja. "Apa?"
"Untuk bayi laki-laki namanya Malvin. Untuk bayi perempuan namanya Eiliya."
"Hmm ... bagus. Terus, apa artinya?" tanya Elina, mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Matthew.
__ADS_1
"Artinya cinta."
"Cinta?" Elina mengernyit.
"Iya. Mereka bayi yang terbentuk karena cinta dari kita berdua."
Elina tertawa dan Matthew juga. Nama itu bukanlah sebuah candaan, atau gombalan Matthew untuk menyenangkan Elina. Memang benar, anak itu adalah buah cinta mereka. Tetapi bayi itu sudah tidak ada, dan nama yang dipersiapkan itu tidak bisa diberikan padanya.
Jadi....
"Aku berikan nama anak ini Eiliya."
-;-;-;-
"Elina keguguran, dan dia pergi entah ke mana."
Mata biru itu dipejamkan. Perih menusuk sampai ke dalam hatinya yang penuh oleh luka. Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya, sejak keluar dari mulut William.
Karena terlalu lama dalam keadaan koma, syaraf-syaraf Matthew jadi kaku. Jadi, ia harus diterapi, sampai ia bisa bergerak dan berjalan seperti saat sebelum kecelakaan.
Tanpa buang waktu dan tanpa menghiraukan ucapan William, Matthew bergegas mencari Elina ke Jakarta. Sayangnya, ia tak menemukan wanita itu. Ia sudah cari di rumah yang ia sewa, ternyata Elina sudah membereskan barang-barangnya. Lalu, mencari ke rumah kontrakan ibu dan adik Elina tinggal, tidak ada hasil juga--mereka telah pindah sejak 3 bulan yang lalu. Harapan satu-satunya adalah Raima.
"Maaf, Mister. Aku juga nggak tahu," jawab Raima penuh penyesalan. "Dia tidak pamit pada saya, waktu ibu dan Frasya pergi. Tapi katanya pemilik kontrakan, Elina yang bawa mereka pergi."
Matthew mendesah frustasi. "Please, Raima. Jangan bohong."
"Terus, apa dia pernah hubungi kamu?"
"Nggak. Saya malah coba hubungi nomornya, tapi nggak aktif-aktif sampai sekarang."
Matthew kembali tanpa harapan. Hatinya remuk, dengan sisa kenangan yang sering muncul dalam benaknya. Dua tahun ia berkubang dalam siksaan rindu dan hati yang sakit. Menjalani kehidupannya di kota angkuh yang bernama London.
Baru kali ini, ia kembali ke Jakarta karena urusan bisnis. Usianya telah menginjak 30 tahun. Dan kini tengah berada di dalam pesawat bersama dengan sekertarisnya yang bernama Gery.
Ia menerima sajian itu, lalu memakannya tanpa komentar. Segelas anggur yang nikmat membuatnya tertidur, mengenyahkan kenangan yang kembali berputar di otaknya.
Akhirnya, ia sampai di Jakarta. Ia ingat saat menginjakkan kakinya di bandara ini bersama dengan ketiga sahabatnya, lalu bertemu dengan ... ah, teringat lagi!
"Mari, Tuan," kata Gery, mengajak Matthew untuk keluar dari bandara menuju mobil jemputan yang sudah menunggu.
Supir yang masih sama, bekerja di rumah Dewi, Pak Rano. Pria itu melirik Matthew dari kaca spion, yang lebih fokus pada berkasnya dibanding mengajaknya mengobrol, seperti saat dulu-dulu ketika mereka bertemu. Pria itu begitu dingin, tak lagi menyapanya atau sekadar tersenyum padanya. Pak Rano pun juga tidak melakukan apa pun. Pria itu telah berubah.
"Maaf, Den. Boleh saya mendengarkan radio?" tanya Pak Rano.
__ADS_1
"Silakan," jawab Matthew, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya.
Pak Rano memutar saluran berita. Si pembawa acara membacakan topik soal cuaca. Hari ini cuaca mendung, katanya.
Ya, awal bulan November, di mana awan hitam menggelantung di langit, siap menumpahkan rintik-rintik air ke bumi. Dan bulan ini tepat dua tahun dirinya kehilangan Elina.
Matthew menoleh ke jendela mobil. Gerimis mulai menitik di kaca jendela mobil. Diperhatikannya rintik-rintik air, tak menghiraukan keluhan Pak Rano tentang hujan yang akan membuat Jakarta banjir.
Lambu lalu lintas menyala merah, mobilpun berhenti. Di depannya tampak sesosok wanita sedang menyebrang sambil menutup kepalanya dengan tas. Matthew masih melihat ke arah yang sama, sehingga tak menyadari bahwa wanita berbaju krem yang melintas tepat di depan mobilnya tadi adalah Elina.
Baru ia menoleh ke arah depan, ketika Elina sudah sampai di ujung jalan, yang kemudian berlari menuju halte bis. Hari ini, Elina tidak mengendarai motornya karena sedang diperbaiki. Ia naik bis untuk ke suatu tempat, di mana seseorang yang sangat dirindukannya menetap.
Ia melangkah turun dari bis, menyusuri jalan menuju ke sebuah gang. Hujan kini hanya setitik air yang tidak akan membuat bajunya basah. Bocah-bocah berlarian dengan basah kuyup karena bermain hujan, melintas di depannya. Senyumnya terulas. Jadi kangen sama suasana di tempat ini.
Sampailah ia di depan rumah yang pintunya kini telah berubah warna catnya, tapi bentuknya masih sama. Sore-sore gini biasanya dia masih di rumah; maka, diketuknya pintu itu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita cantik, yang memakai kaus putih ketat dan hot pants, keluar sambil menguap.
Elina tersenyum dan menyapa, "Hai, Ima. Apa kabar?"
-;-;-;-
Meski kaget, tapi Dewi dan Monika menyambut kedatangan Matthew dengan bahagia. Sudah dua tahun tidak ke Jakarta, bahkan Justin selalu menanyakan om favoritnya itu.
Matthew langsung memeluk Justin yang sudah besar dan mulai masuk pra-sekolah. Digendongnya anak itu, dan tiga kotak mainan langsung diberikan padanya.
"Terima kasih, Om." Aduh, lucunya Justin saat mengucapkannya. "Om, kita main, yuk!"
Matthew tersenyum dan akan menjawab, tetapi Monika keburu menyela. "Omnya lagi capek. Nanti aja, ya?"
Justin yang tak bisa melawan ibunya, memanyunkan bibirnya, dan mengalihkan kekecewaannya pada mainannya.
Monika menyuruh Matthew untuk ke kamar, setelah seorang pembantu telah meletakkan kopernya ke kamar. Matthew pun menurut, lalu berjalan ke lantai atas.
Di rumah ini juga punya banyak kenangan. Setiap langkah ingatannya melayang pada masa lalu. Ia berhenti di anak tangga terakhir lantai atas, kemudian menoleh pada teras yang ada di depan kamar Justin. Di sana bayangan Elina sedang membereskan mainan muncul.
Begitu juga saat malam hari, di mana matanya sulit terpejam. Ia melangkah ke taman belakang, mematung di sana sambil melihat bangku panjang kayu yang kosong. Ada kenangan manis di sana, saat ia dan Elina makan rujak. Ia juga sering menemuinya di sini, hanya sekadar memberikan segelas susu hangat buatannya.
Bibirnya saat berucap, sikapnya, pelukan hangatnya, dan senyumannya ... ah, kenapa wanita itu selalu menghantui pikirannya? Sudah dua tahun, dan dia tidak mau pergi, meski hanya bayangannya. Cintanya terlalu terpatri di hatinya, sehingga sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa ia cintai selain Elina.
Sejak Elina pergi, ia lupa cara bahagia, tertawa, bahkan air matanya sudah kering hanya untuk merindukannya saja. Ingin membencinya, tapi sulit. Apa cinta ini kutukan?
Denyutan di kepalanya semakin hebat. Matanya terpejam erat sambil memegangi kepalanya. Setelah rasa sakit itu berkurang, ia mendongak lalu tertegun.
__ADS_1
Entah ini halusinasi atau kenyataan, ia melihat Elina sedang duduk di sana, menoleh padanya. Perutnya rata, rambutnya diikat cepol hingga terlihat lehernya yang putih. Dia tersenyum. Senyuman yang terakhir dilihatnya, saat mereka telah menyatakan cinta.
"Elina?"[]