Matthelina

Matthelina
Chapter 11


__ADS_3

I Need You


Dewi langsung memeluk Matthew setibanya di rumah. Memang benar kata Monica, anak laki-lakinya itu sangat tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalahnya.


Dewi menggandeng lengan Matthew, membawanya ke ruang makan untuk melanjutkan makan siang yang tadi tertunda.


Dengan helaan lembut, Matthew melepaskan lingkaran tangan ibunya dan menolaknya. Ia beralasan bahwa saat ini dirinya sedang lelah, ingin beristirahat di kamar.


Matthew menghempaskan tubuhnya di ranjang. Langit-langit kamar yang berwarna putih perlahan memunculkan bayangan seseorang yang akan berpisah dengannya. Tangannya mengapai, seolah membelai wajah seseorang itu.


Namun, ia tersadar, kala ilusi itu menghilang. Elina, tidak percaya bahwa gadis itu mengatakan selamat perpisahan sambil tersenyum. Apa dia tidak tahu, bahwa ia tak ingin mendengarnya? Bahkan, ia ingin Elina mencegahnya pergi.


“Jika dia meminta, aku akan menurutinya,” gumamnya sendu.


Di tempat lain, Elina yang baru saja sampai di rumah, mengurung diri di kamar. Ia berdiri di tepi jendela, menatap tetesan air hujan yang turun beberapa menit yang lalu. Embun memburamkan pemandangan jalan yang ramai oleh anak-anak yang sedang bergembira di bawah hujan.


Beberapa saat kemudian, ia larut dalam lamunan. Sepintas ingatan, tanpa sadar menghangatkan hati. Tangan ini, digenggamnya oleh pria itu, dan itu adalah momen terakhir yang tidak akan terulang lagi.


Kepalanya saat ini dipenuhi oleh bayang-bayang pria itu. Ia bersedekap, lalu melihat embun yang ada di jendela. Ia mengangkat jari telunjuknya, melukiskan sesuatu pada embun itu. “Mister M” itulah yang ditulisnya.


Ia termenung lagi sambil bersidekap. “Inilah akhirnya. Mulai sekarang, aku harus mengatur ulang semua rencana. Aku harap, setelah ibu sembuh, tidak ada kejadian buruk lagi.”


-;-;-;-


Tidak ada yang berubah di London, meski satu bulan telah berlalu. Matthew yang terlihat kini lebih tenang, dan beraktifitas seperti biasa.


Sejak meninggalkan Jakarta, Matthew menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Tak ada waktu untuk bersenang-senang, meski ketiga sahabatnya mengajaknya menghabiskan malam dengan hanya sesloki sampagne.


“Anda ingin makan siang di luar, Pak?” tanya Gery, sekertarisnya, setelah Matthew menandatangani sebuah berkas.


“Belikan aku—”


Matthew terdiam. Yang diinginkannya saat ini adalah seporsi rujak yang sambalnya agak pedas. Tapi ini London, mana ada makanan seperti itu?


“Jadi, Anda ingin saya belikan apa?” tanya Gery, membuyarkan lamunan Matthew.


“Pergilah. Nanti saja aku makan,” jawab Matthew, lantas beranjak dari kursinya.


Gery keluar ruangan bersamaan dengan perginya Matthew ke arah jendela besar yang ada di belakangnya. Ia bersandar di sana, menatap salah satu gedung, hingga akhirnya angannya melambung entah ke mana.


Matanya terpejam. Masih segar di dalam ingatannya, kala tubuh mungil itu ia peluk dari belakang; begitu hangat dan menggairahkan. Bibir merah jambu yang ranum itu, ia sesap, begitu manis bagai madu. Setiap sentuhan, bagaimana ia memilki wanita itu seutuhnya, terpatri kuat dalam benaknya.


Elina, nama itu yang disebut-sebut hampir setiap hari dan dalam mimpinya. Wanita itu telah mengunci pikirannya dengan bayang-bayangnya.


Apa kabarnya gadis itu? Apa dia baik-baik saja? Bahagiakah dia di sana? Apa Elina mengingat pria pertama yang memilki tubuhnya? Itu hanya akan jadi pertanyaan yang tak akan pernah terjawab.


“Kau bukan robot, Matt.”


Seruan seseorang mengembalikan rohnya ke raganya. Spontan membuka mata, tanpa menoleh, ia menyahuti orang itu, “Jaga ucapanmu. Apa tinjuku kurang keras waktu itu?”


Fritz bergidik. Tidak. Cukup saat itu saja ia menerima pukulan bertubi-tubi dari Matthew, begitu ketiga pria itu sampai di London.


“Kau ini, aku hanya bercanda. Jangan dibawa serius,” ia beralasan, dengan agak sedikit bergetar karena ngeri mengingat kejadian hari itu. “Segelas americano hangat, kurasa cocok untuk cuaca hari ini? Di seberang kantormu ada kafe—kau sedang malas keluar, kan?—kita beli di sana saja. Bagaimana?”


Apa melontarkan tatapan dingin cukup untuk mengusir pria bawel itu? Mungkin tidak. Hanya membuatnya bergidik dan terdiam sejenak.


“Matt,” panggil Fritz, setelah kurang 5 menit hening. “Aku lihat, kau senang sekali melamun? Apa yang kau pikirkan? Pekerjaan? Wanita? Oh, Lisa atau Elina?”


Matthew menoleh cepat, tatapannya kali ini sangat tajam. Fritz tak berani menggodanya lagi, dan benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat.


“Oke, aku pergi, ya, Matthew.”


Fritz buru-buru berpamitan dan ngacir dari ruangan Matthew. Benar-benar pria yang menakutkan! Kenapa ia tidak bisa menghentikan mulut embernya?


Di jalan, Fritz bergumam sendiri. Yang dikatakannya sama sekali tidak salah. Elina mengubah total hidup Matthew. Kevin dan Franz bilang, saat mereka di bandara, akan kembali ke London, Matthew menoleh ke arah pintu masuk. Kakinya seolah tak ingin melangkah pergi meninggalkan Jakarta. Sebab, kesalahan terindahnya ada di sana.

__ADS_1


Fritz nenyatakan sebuah gagasan pada Kevin dan Franz: apakah kita ke Jakarta lagi?


“Tidak, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur,” tolak Kevin.


“Benar, sudah cukup kita membuat masalah dengan Matthew,” timpal Franz.


Lagipula, untuk apa ke Jakarta? Matthew saja ragu saat ditugaskan ke perusahaan yang ada di Jakarta. Meski di sana ada ibu, kakak, dan keponakannya, jika hanya akan membuatnya menggenang masa lalu yang pahit saja, ia takkan bahagia.


Matthew meletakkan surat pindah tugas itu di atas meja. “Katakan pada Presdir, aku tidak bersedia.”


“Tapi, Tuan …”


“Keluarlah!” Matthew mengibas-kibaskan tangan, berhasil membungkam Gary.


Sekertarisnya keluar ruangan tak lama kemudian. Matthew bersandar pada punggung kursi sambil mendesah. Surat yang dibawa Gary tadi menarik perhatian. Diliriknya sedikit sambil berpikir.


Ke Jakarta? Haruskah ia ke sana?


-;-;-;-


Lagu “selamat pagi” dari Ran, mengalun dari radio yang ada di ruang tengah. Di kamar, Elina telah berpakaian rapi, memasukkan beberapa buah buku ke dalam tasnya.


Ia memandangi selembar formulir yang telah diisi. Hari ini, ia akan menyerahkannya. Setelah semuanya telah disiapkan, Elina berjalan keluar kamar.


Bahagia sekali rasanya. Senyum yang dulu memudar telah kembali terulas di bibirnya. Ibu yang merupakan kebahagiaan terbesarnya telah dioperasi dan dinyatakan sembuh. Sekarang, ibu memulai usaha baru yaitu berjualan nasi uduk.


“Kak, nggak jadi berangkat?” Frasya menepuk pundak Elina, mengaburkan lamunannya.


Elina melihat gadis itu menghampiri ibu sambil membawa sebuah kotak untuk makanan. “Resek banget sih kamu, Dek!” serunya pura-pura marah.


Frasya tersenyum, lalu memberikan kotak itu pada ibu. “Berapa bungkus ini, Bu?” tanya Frasya mengintip plastik merah besar yang berisi beberapa bungkus nasi uduk.”


Bersamaan dengan dijawabnya pertanyaan Frasya, suara mesin motor terdengar. Raima, dia datang untuk mengantarkan Frasya, sekalian ia ke pasar untuk membeli sesuatu.


Frasya segera naik ke atas motor. Raima yang melihat Elina sudah rapi, menawarinya juga tumpangan.


Elina tersenyum. Bersyukur sekali ia berjodoh dengan sahabatnya yang begitu baik pada keluarganya. Tapi, Elina menolak. “Gue naik bis aja.”


“Yakin, lo?”


Elina mengangguk, lalu mencium tangan ibunya. “Elin pergi dulu, ya, Bu.”


Elina bersenandung di setiap langkahnya, menikmati kicauan burung, hangatnya sinar matahari pagi sambil membawa formulir itu. Tak sabarnya ingin kembali kuliah. Kehidupan normal yang dulu direncanakan, kembali berjalan sesuai rotasinya.


Ia berhenti di sebuah halte, dan bergegas menaiki bis kopaja yang baru datang. Ia memilih duduk di dekat jendela, agar bisa menikmati udara yang belum terlalu tercemar oleh polusi.


Bis berhenti di halte dekat kampusnya. Gugup rasanya, setelah berbulan-bulan cuti kuliah, lalu kini berdiri di depan gerbang kampus. Masih teringat cemoohan orang-orang itu; tapi ia tidak takut, ia akan menyelesaikan kuliahnya yang tinggal satu semester lagi selesai.


Elina menghela napas. Baiklah Elina, kau harus siap! Gumamnya di dalam hati, memantapkan keputusannya. Lantas, ia berjalan ke area kampus. Ia menengok ke kanan dan kiri sampai menuju ke sebuah koridor. Tak ada yang berubah. Para mahasiswa di sini sepertinya sudah melupakan sosoknya.


Elina menyipitkan mata, membaca papan kecil yang tergantung di atas sebuah ruangan. Ah, sebentar lagi tujuannya hampir sampai! Ia tersenyum, lantas mempercepat langkahnya. Formulir pergantian jam mata kuliah tak pernah lepas dari tangannya, seolah tak boleh lecek ataupun sobek, karena kertas itu harus sampai di tangan dosen.


Tinggal selangkah lagi, ia sudah berada di dekat pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika ada perasaan tidak nyaman pada tenggorokannya.


“Huek!” Elina spontan menutup mulutnya.


Apa yang terjadi? Sepertinya, tadi pagi keadaannya baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba mual begini? Oh tidak, rasa mualnya tidak tertahankan. Formulir ini dilupakannya sejenak, ia bergegas berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya di westafel.


Mendadak tubuhnya melemas dan kepalanya pusing. Ia bersandar di dekat westafel untuk memulihkan diri, sebelum keluar dari kamar mandi.


Ini aneh, kondisi tubuhnya tiba-tiba melemah. Apa karena ia terlalu capek? Kemudian, ia membasuh wajahnya dengan air di westafel, tanpa sengaja ia menatap pantulan bayangannya di cermin.


Ia menyadari bahwa ini bukan karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit. Ia tak mau menduga maupun menyetujuinya, tapi jika dilihat dari gejalanya, mungkin saja ini tanda-tanda kehamilan.


Elina menutup mulutnya dan mendelik cemas. Buru-buru ia menampik. Tidak! Jangan menyimpulkan terlalu cepat. Yang ditakutkan belum pasti jika tidak diperiksa dulu.

__ADS_1


Dihapusnya air mata yang mengalir di pipinya. Rencananya ini diubah, formulir yang ada di tangannya tidak akan diserahkan sekarang. Ia bergegas berlari keluar kampus, menghentikan sebuah angkot yang membawanya ke sebuah klinik terdekat.


-;-;-;-


Klinik kecil yang cukup ramai. Elina berjalan memasuk lobi klinik, menghampiri meja pendaftaran. Langkahnya ragu; tangannya bergerak gelisah sejak berada di depan klinik. Kecemasan menghadapi kenyataan, sempat membuatnya ingin berbalik pergi.


Tapi keputusan akhirnya adalah masuk ke dalam klinik dan mendaftarkan diri sebagai pasien. Seorang wanita berbaju putih, yang dari tampangnya judes, menanyainya beberapa hal, seperti data pribadi dan keluhan.


Wanita itu memberikan nomor antrean padanya, dan menyuruhnya menunggu sebelum tiba gilirannya dipanggil.


Seakan kaki-kaki tak sanggup digerakkan, ia melangkah perlahan di koridor yang mengarah pada ruang pemeriksaan. Di depan ruangan, terdapat beberapa orang yang duduk menunggu giliran. Ada pasangan suami-istri, ibu dengan anak dan adik perempuannya yang menemaninya, sedangkan di sebelah Elina seorang wanita hamil besar sendirian.


Wanita itu tersenyum dan menyapa, kala Elina duduk di sampingnya. “Sendirian aja? Mana suaminya?”


Elina hanya tersenyum sebagai jawaban.


“Masih muda? Baru nikah, ya?” Wanita itu bertanya lagi, dan Elina tak menjawabnya kecuali tersenyum. Habis bagaimana lagi? Ia tidak bisa berbohong.


“Mbak sendirian?” Elina sengaja bertanya, agar wanita itu tidak lagi mengorek tentang dirinya.


“Iya.” Saat dia menjawab, Elina merasa bersalah karena wanita itu menunduk sedih. Kemudian, ia memandang pasangan bahagia di sebelah sana sambil tersenyum pahit. “Saat wanita sedang hamil anak pertama, suami akan melakukan apa pun untuk istrinya. Tapi mungkin saya tidak akan pernah merasakan hal itu.”


Tentu saja, setiap pasangan menantikan kelahiran anak pertama yang harus dijaga dengan baik. Tetapi itu akan berbeda pada kehamilan kedua dan seterusnya, seperti yang terjadi pada wanita hamil yang diantarkan oleh adiknya ke klinik.


“Mbak hamil anak ke berapa?” tanya Elina kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


“Anak pertama.”


Elina mengangguk. Sebenarnya, itu hanya pertanyaan basa-basi saja. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan orang lain.


Tetapi wanita itu melanjutkan sembari membelai lembut perutnya yang buncit. Senyumnya terulas getir. “Kami telah menanti anak ini selama 5 tahun. Tapi suami saya belum sempat menggendongnya, karena maut mengambilnya dari sisi saya.”


Elina bersimpati mendengarnya, sekaligus salut. Wanita itu tetap tegar meski sedang hamil. Yang membuatnya lebih kagum, dia tetap berjuang hidup, tak pernah mengeluh ataupun menangis di kala sulit dalam cerita yang didengarnya dari wanita itu.


Wanita itu kembali menambahkan sambil mengelus perutnya. “Karena saya yakin, Tuhan punya rencana lain yang lebih indah dengan menghadirkan anugrah ini.”


Pembicaraan berakhir karena sekarang tiba giliran wanita itu diperiksa dokter. Elina tersenyum dan mempersilakan. Giliran Elina dipanggil adalah setelah dua pasien lainnya. Dan ia masuk ke ruang pemeriksaan, kurang lebih selama hampir setengah jam menunggu.


“Selamat pagi.” Baru masuk saja, sapaan ramah dari seorang dokter menyambutnya. Sungguh mengherankan, dokter yang bernama Andriani itu sangat murah senyum, sangat berbeda dengan wanita ditempat pendaftaran tadi. Apa dokter itu asal menerima karyawan?


“Jadi, Anda ingin memeriksa apa Anda hamil atau tidak?” tanya dokter itu, yang diberi anggukan oleh Elina sebagai jawaban. “Oke. Apa sebelumnya sudah diperiksa dengan test pack?”


“Belum, Dok.”


Dokter mengangguk paham. Lalu, dia menyuruh Elina ke kamar mandi, yang ada di sudut ruangan ini, dengan membawa sebuah wadah kecil sebagai tempat untuk menampung urinnya. Elina melakukan perintahnya sesuai prosedur. Urin tadi kemudian diberikan pada suster untuk diperiksa dengan menggunakan test pack.


Dokter tersenyum, ketika hasil dari benda itu telah keluar, seolah semua ini adalah kabar yang begitu membahagiakan. Tapi Elina merasa bahwa itu adalah pertanda buruk.


“Selamat, Nona Elina. Sebentar lagi, Anda akan menjadi calon ibu,” ujarnya.


Sekujur tubuhnya terasa lemas. Apa yang ditakutkan terjadi. Berulang kali ia bergumam seperti itu di dalam hati. Hancurlah sudah masa depannya. Rencana yang dirancangnya juga berantakan. Bagaimana selanjutnya kehidupannya berjalan? Entahlah, Elina tak mampu memikirkannya.


-;-;-;-


Tertatih, Elina berjalan di trotoar dengan mata yang dipenuhi oleh air mata. Dikeluarkan kertas formulir yang akan diserahkan ke kampus. Benda ini sudah tidak berguna lagi. Tak ada harapan untuk meneruskan cita-citanya, karena Tuhan menakdirkannya sebagai seorang ibu.


Dengan isak yang semakin menjadi, dirobeknya kertas itu, lalu membiarkan serpihannya terbang ditiup angin, bersama dengan rencana indahnya.


Ternyata tidak ada happy ending buatnya. Kebahagiaan sekejab itu hanya jeda dari semua penderitaan, sebelum Tuhan kembali mengujinya dengan cobaan yang lebih berat.


Kehamilan ini membuat tubuhnya mudah lemah. Kepalanya pusing lagi, dan kakinya tak mampu menopang tubuhnya, hingga tiba-tiba tubuhnya nyaris terjatuh, jika seseorang tidak buru-buru menangkapnya.


Elina terkejut, seseorang menopang tubuhnya dari belakang. Saat menoleh, ia terpana melihat sosok itu.


“Are you ok, Elina?” Suara lembut seorang pria, yang bayangnya ia coba usir sebulan yang lalu.

__ADS_1


Matanya terasa panas, tak dapat membendung lagi air mata ini.


Matthew, aku membutuhkanmu.[]


__ADS_2