Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH EMPAT


__ADS_3

Apa-apaan semua ini?


Logan melirik Tita dengan tercengang. Tak lama kemudian, Nina melepaskan pelukannya.


"Bagaimana kabar kamu? Kapan kamu ke sini?" cecar Nina. "Oh, iya! Kabar mama dan papamu bagaimana?"


Logan semakin tercengang. Sebenarnya, apa yang terjadi. Butuh waktu baginya untuk mencerna semuanya.


"Em ... Nina," panggil Tita gugup. "Gue boleh pinjam Logan sebentar? Ada yang mau gue omongin sama dia."


Nina tersenyum lebar. "Oke! Tapi jangan lama-lama, ya. Lo harus cepat-cepat balikin tunangan gue, oke?"


Tunangan? Logan melongo. "Nina, kita ini sudah—"


"Logan!" seru Tita cepat, panik. "Please, ikut gue sebentar!"


Logan menatap Nina beberapa saat, merasa ada yang ganjil. Dan firasatnya itu benar, saat Tita menjelaskannya di luar ruang inap Nina.


"Apa yang terjadi sama Nina? Kenapa dia bisa kecelakaan?" buru Logan agak gusar.


"Dua hari yang lalu, dia mengalami kecelakaan. Tapi nggak ada yang nabrak dia, apalagi jalanan malam itu sedang sepi," cerita Tita.


"Kok bisa?" Logan mengernyit.


"Kayaknya, dia sengaja menabrakkan diri. Soalnya, ada saksi mata yang bilang kalau dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan ugal-ugalan."


Ini yang bertambah aneh! Apa alasan di balik tindakan Nina itu? Apa karena tak penolakan yang dilakukan Logan?


Logan menghela napas. Dibilang menyesal, tidak ada yang bisa dilakukan. Semua yang terjadi bukan atas kehendaknya. Sebenarnya, hatinya juga merasa sakit telah menorehkan luka di hati orang yang sangat dicintainya itu.


"Terus," desah Logan. "Bagaimana keadaannya? Kenapa dia masih menganggapku sebagai tunangannya?"


"Dokter bilang, Nina mengalami amnesia sebagian," jawab Tita.


"Amnesia sebagian?" ulang Logan, mengernyit.


"Dia hanya ingat pada kenangan yang terjadi sebulan yang lalu. Jadi, dia nggak ingat kalau kau sudah menikah dengan perempuan lain."


Logan memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam, lalu menghelanya sambil bersandar di tembok. Sebuah masalah datang lagi!


"Lalu, apalagi kata dokter?" lirih Logan, muram.


"Amnesia ini sementara saja. Kita harus terus mengingatkan dia pada kejadian sebulan yang lalu."


Benar! Logan akan kembali ke dalam, menceritakan semua yang terjadi sebulan setelah mereka putus dan soal pernikahannya dengan Anna.


Nina menoleh dan tersenyum kala Logan kembali. Ia tercengang melihat ekspresi serius Logan. "Ada apa? Kok serius banget?"


Logan menatapnya tanpa berkedip, terdiam lama sambil mengatur napas, lalu kata itu keluar:


"Nina, aku ingin memberitahukan semua yang sudah kau lupakan."

__ADS_1


Nina mengernyit, bingung. "Yang terlupakan? Maksudnya?"


"Dokter bilang, kamu menderita amnesia."


"Amnesia?" Nina tertawa mencemooh. "Lelucon apalagi ini, Logan? Aku ... Aku ingat semuanya, kok."


Logan menghela napas. Sebenarnya, ia tidak tega harus mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, karena Nina sedang dalam keadaan bingung. Tapi bagaimanapun juga, Nina harus tahu kebenarannya.


"Nina, sebenarnya ... Sebenarnya kita sudah putus." Logan memejamkan mata saat mengatakannya. Kata-kata yang diucapkannya terasa pedih, sehingga agak tercekat di tenggorokannya.


Nina mematung dengan mata mendelik. Putus? Seakan ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Di dalam hati, ia membantah. Ia mencoba melengkungkan senyuman dan tertawa kecil.


"Bohong! Jangan bercanda deh, Logan," gumamnya.


Logan mendekatkan tubuhnya, menggenggam tangan Nina, dan menatapnya serius. "Aku tidak bohong! Kita sudah putus, dan aku menikahi wanita yang aku perkosa di kapal pesiar."


"Nggak mungkin ...," lirih Nina, air matanya menggenang. "Kau pasti bohong! Bohong!"


Nina menjerit sambil menangis, menutup kedua telinganya. Logan memeluknya untuk menenangkannya. Kemudian, Nina meremas rambutnya, rasa sakit di kepalanya berdenyut tak tertahankan.


Tak lama kemudian, badan Nina terkulai lemas tak sadarkan diri. Logan dan Tita panik.


"Nina! Nina!" Logan menepuk-nepuk pelan pipi Nina, lalu ia menatap Tita. "Cepat panggil dokter!"


.


.


.


Selang beberapa waktu, Tita keluar dari ruangan bersama dengan dokter. Spontan Logan beranjak dari tempat duduknya, langsung menghampiri mereka.


Logan langsung mencecar dokter itu, tetapi ia tak dapat jawaban langsung. Dokter hanya berkata kalau dia perlu melakukan CT Scan pada otak Nina, untuk mendapatkan hasil pastinya.


Apa ada masalah lain lagi yang terjadi pada Nina? Logan menatap Nina lewat jendela kecil yang terdapat di pintu, matanya sendu. Ia menghela napas, mengacak rambut dengan frustasi.


Tita memandangnya sedih. "Istri lo pasti cemas. Lo pulang aja, biar gue yang temanin Nina. Nanti kalau ada kabar terbaru tentang Nina, gue kabarin lo."


Benar juga, Anna pasti mencarinya. Ia harus segera pulang. Ia pun mengangguk, lalu berkata, "Jangan lupa kabarin aku. Aku pulang dulu."


Logan berjalan perlahan meninggalkan tempat ini. Tita melipat kedua tangannya di dada, berbalik menghadap pintu, memandang Nina dari sebuah jendela kecil.


"Mau sampai kapan lo kayak gini, Nina?" gumamnya.



Matthew menatap dingin pada wanita yang menjadi ibu tirinya itu. Di ruangan kecil ini, mereka sama-sama membawa pengacara masing-masing, melakukan sebuah mediasi.


Charlotte membuka kacamata hitamnya, tersenyum sinis. "Jadi, apa kau mau mengabulkan permintaanku? Aku berjanji mencabut gugatanku kalau kau setuju."


Ditatapnya wanita itu beberapa saat tanpa sepatah katapun, hanya sebuah senyum percaya diri yang terlihat. "Harun, tolong berikan surat wasiat papaku!"

__ADS_1


Pria setengah baya yang wajahnya dipenuhi oleh jenggot putih tipis itu mengeluarkan sebuah berkas, lalu membukanya.


"Sudah jelas tertulis rincian dari pembagian harta William Jonathan," ujar Matthew. "Seharusnya, kau tak perlu buang uang hanya untuk menggugat hak yang bukan milikmu."


Meski sudah tersudut, Charlotte tetap bersikeras. "Aku tahu perusahaan itu milikmu. Tapi apa kau tidak memikirkan adik tirimu? Dia juga anak dari William. Setidaknya, beri dia salah satu perusahaanmu."


Matthew tersenyum mencemooh. "Harun, berikan lagi surat perjanjian itu!"


Harun mengeluarkan sebuah berkas pernyataan kesepakatan hak milik properti keluarga Jonathan.


"Seandainya saya bisa, saya akan memberikan salah satu perusahaan untuk Aurellie," kata Matthew. Kemudian, jari telunjuknya menekan-tekan kertas itu sambil berkata tegas, "Tapi, papa dan mama sudah membuat perjanjian, bahwa yang mendapatkan atas hak milik perusahaan adalah hanya anak mereka. Jadi, kau dan Aurellie tidak berhak apa-apa atas perusahaan itu."


Skakmat! Charlotte memukul meja agak pelan, kesal karena telah kalah. Sekarang, bagaimana caranya untuk memenangkan gugatan itu?


Pintu ruangan ini terbuka, lalu Aurellie muncul dengan berseru, "Mama, stop it!" Lantas, ia berjalan menghampiri Matthew.


"Aurellie?" gumam Charlotte, tercengang.


Aurellie menghadap Logan. Ekspresi wajahnya memelas, tampak tidak enak hati pada Matthew. "Maaf, atas tindakan mama ini, ya, Kak."


"Aurellie! Apa-apaan ini?" sahut Charlotte murka, menghela Aurellie menghadap ke arahnya. "Kenapa kau yang harus minta maaf?"


"Aku menahan diri agar tidak membencimu, karena kak Matthew mengajarkanku untuk tidak melakukannya," lirih Aurellie dengan geram tertahan. "Tapi hari ini kau sudah membuatku malu! Keserakahanmu, keegoisanmu ... Ah! Kenapa aku bisa terlahir dari rahim wanita ini?"


"Aurellie!" tegur Charlotte, berseru marah.


"Kau tahu, meskipun kak Matthew tidak memberikanku perusahaan, tapi dia memberiku sebuah modal usaha yang sesuai passion aku," kata Aurellie. "Restoran cepat saji, yang sudah punya outlet di berbagai sudut kota London dan Manchester. Dari sanalah aku memberimu uang."


Charlotte menggerutu. Uang yang tak seberapa itu mana cukup untuknya, dan Aurellie tahu.


"Ma, jika Mama masih ingin menikmati hidup Mama, ikut denganku, berperan menjadi ibu, mertua, dan nenek yang baik. Jalani masa tua yang damai," tambah Aurellie.


"Kau mengejekku?" sahut Charlotte, melirik sinis.


"Tapi kalau kau masih mau meneruskan hal konyol ini, jangan pernah anggap aku sebagai anakmu lagi. Meskipun kau memohon, aku tetap tidak akan menerimamu lagi. Kau sudah kelewat batas!"


Charlotte beranjak dari kursi, mengangkat tangannya, akan menampar. Untung saja, Matthew bergegas berdiri dan meraih tangan Charlotte.


"Jangan coba-coba melakukan hal kasar pada adikku!" sergah Matthew.


Charlotte melotot marah, menghempas tangan Matthew, lalu pergi begitu saja setelah meraih tasnya dalam keadaan murka.



Malam hampir larut. Ketika Logan sampai di hotel, Anna ditemukan sudah terlelap di ranjang. Entah apa dia menunggunya atau tidak, sampai ketiduran.


Logan meletakkan ponselnya di nakas, berjalan mendekat, bersimpuh di samping ranjang. Saat itu, posisi Anna sedang menyamping. Logan memangku dagunya, termangu menatap wajah Anna. Anak rambut yang menutupi wajahnya disingkirkan, lalu menyentuh lembut pipi Anna.


"Semuanya kacau, entah apalagi yang harus aku hadapi setelah ini?" gumam Logan dalam hati. "Aku tidak mau menyakitimu, tapi aku juga tidak bisa menyakiti Nina."


Mungkin sentuhan Logan terasa olehnya, sehingga Anna tersentak. Mata Anna perlahan akan terbuka. Alih-alih terkejut, Anna menatap pria itu lamat-lamat, begitu lama seakan terhipnotis.

__ADS_1


Logan pun sama, seakan tak rela melewatkan saat-saat memandang wajah manis Anna. Larut dalam perasaan yang tak disadarinya.[]


Maaf ya, para readers. aku nggak sempat edit karena mata udah 5 watt. selamat membaca ya.


__ADS_2