Matthelina

Matthelina
Chapter 38


__ADS_3

Matthew terbangun sambil memegangi kepalanya yang sakit. Matanya menatap ke sekitar--kamar yang asing. Lalu, ia melihat ke bawah, kenapa dalam keadaan telanjang dan hanya ditutupi oleh selimut putih?


Apa yang terjadi?


Ia mendesah, tak lama kemudian mendelik, menyadari sesuatu. Ia menoleh cepat, menemukan sosok Elina sedang tertidur di sebelahnya, dalam keadaan yang sama dengannya.


Apa dia telah melakukan sesuatu tadi malam di kamar ini dengannya? Sepertinya memang. Dilihatnya pakaian mereka berserakan di lantai dan ranjang.


Kesalahan yang sama lagi! Bagaimana ini bisa terjadi? Tunggu, ia akan mencoba mengingatnya.


Semalam seingatnya, ia mendapat telepon dari sekertarisnya, bahwa sebuah perusahaan ingin membicarakan soal kontrak kerja sama dengannya. Sekertarisnya itu tidak ikut karena sedang sakit, jadi ia yang pergi sendirian ke hotel yang sudah disepakati.


Matthew menunggu di restoran hotel. Katanya asisten direktur itu yang akan mengurus soal kontrak itu. Maka, ia pun menunggu.


sekiranya sudah hampir 20 menit menunggu, orang yang dimaksud tak muncul. Matthew kesal dan akan beranjak dari kursi. Namun, seseorang menghampiri dan menyapa.


"Matthew? Kapan kau ke Jakarta?" kata Kevin.


"Sudah seminggu. Ada urusan apa kau ke Jakarta?"


"Biasa, bisnis. Sekalian bertemu dengan sahabatku di sini."


"Wow, jadi sudah punya teman orang Indonesia rupanya?"


"Jelas dong."


Setelah itu, Kevin memesan sebotol anggur pada pelayan. Mereka mengobrol sejenak sambil minum. Kata Kevin, sudah lama tidak mengobrol seperti ini. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.


Matthew pun menyahut setuju. Sebenarnya bukan hanya masalah pekerjaan, tapi masalah hati yang masih terluka oleh seorang wanita.


Baru tiga seloki, tapi kepala Matthew sudah berat. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, menuliskan bahwa pertemuan diadakan di kamar hotel 107.


Susah payah Matthew berdiri sambil berpengangan pada meja.


Kevin bertanya dengan cemas, "Kau kenapa?"


"Hanya sakit kepala saja, jangan khawatir," jawab Matthew.


"Lebih baik kau istirahat."


"Tidak. Aku harus menemui sesorang di hotel ini. Kau tahu kan, bisnis tetaplah bisnis."


"Tapi kau tidak apa-apa?"


Matthew menggeleng, berusaha menegakkan badannya. "Ya, aku baik-baik saja. Aku mau pergi dulu."


Sambil berjalan dengan sempoyongan, Matthew menghampiri dan memasuki lift. Tak berapa lama kemudian, ia sampai di lantai yang menuju kamar 107. Di sanalah kesadarannya mulai mengabur, bahkan ia mengatakan hal bodoh pada Elina, hingga akhirnya ia membawa wanita itu dalam nikmatnya surga dunia.


Matthew menepuk jidatnya. Kenapa ia mengulangi hal bodoh itu lagi gara-gara alkohol?


Lalu, ia menatap Elina. Wanita bodoh ini, kenapa bisa ada di sini? Apa dia mendengar semua ucapan yang tidak sadar keluar dari mulutnya?


Di dekati wajahnya ke arah Elina hanya beberapa senti, menatapnya dengan mata sendu dan pilu. Tangannya mengelus pipinya. Ya, wanita itu memang nyata ada di depannya. Kerinduannya untuk melihat wajahnya kembali akhirnya terjadi. Namun....


Matthew menjauhkan tubuhnya, beranjak dari ranjang, mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ia keluar, ia melihat Elina sudah terbangun, menoleh ke arah suara pintu terbuka.


Matthew berjalan ke depan cermin dengan acuh tak acuh seakan menganggap Elina tidak ada. Kemudian, ia memakai pakaiannya tanpa mengatakan sesuatu, yang sebenarnya tertahan dalam benaknya.


Tapi akhirnya Elinalah yang tidak tahan dalam situasi ini. Dengan hati-hati, ia berkata, "Matthew, aku...."


"Apa?" sahut Matthew dingin. Tertangkap nada kemarahan di dalam katanya.

__ADS_1


Elina hening sesaat. Entah mengapa ia jadi ragu berucap setelah mendengar sahutan dan sikap Matthew yang kasar. "Apa kabar?"


Matthew melirik Elina dalam pantulan cermin. Saat itu ia sedang memakai dasinya. "Kenapa kau bertanya? Seharusnya kau sudah tahu bagaimana keadaanku?" Nada bicara semakin tinggi, tak bisa ditahan lagi emosi yang terpendam selama 2 tahun ini.


Elina menunduk, meratap. "Maaf."


Kemarahan Matthew semakin menjadi. Ia berbalik, secepat kilat menghampiri Elina dan mencengkram kuat kedua lengannya.


"Maaf? Apa kau tidak memikirkan aku, setelah mendengar kau menggugurkan anak kita dan pergi begitu saja? Siapa dirimu Elina? Jangan hanya karena kau cantik, lalu kau mempermainkanku? Jangan kau bilang kalau semua itu ada alasannya."


Memang semuanya ada alasannya, tapi Elina tak menjawabnya dan hanya menangis, yang membuat Matthew semakin gusar.


"Wanita licik, hapus air matamu itu! Aku tidak akan luluh oleh air mata palsumu itu!" hardik Matthew, menghela tubuh Elina dengan kasar, lalu pergi meninggalkannya.


Sebenarnya ini sangat menyakitkan, membentak wanita yang masih menempati hatinya itu.Tapi ia tak dapat menahan perasaannya. Ia ingin Elina tahu rasa sakit yang dialaminya selama dua tahun ini.


Ia berjalan di lorong dengan tubuh lemas, masuk ke dalam lift yang kosong. Di situlah air matanya tak dapat dibendung lagi. Ia bersandar, lalu perlahan terjatuh sambil menyesali ucapannya itu.


Apa ia tahu, bahwa Elina sama menderitanya dengan dia. Tak hentinya menangis dan menyesal. Kerinduan hanya dapat dipendam. Tapi setelah rindu itu dilepaskan, malah rasa sakit yang muncul. Pertemuan yang menyesakkan ini menyisakan sebuah kesalahpahaman. Entah, apa takdir bisa memisahkan benang yang semakin kusut dan semrawut itu?


-;-;-;-


Bisa terbayangkan betapa cemasnya hati Ibu, mendapati anak gadisnya tidak pulang tanpa kabar yang jelas. Begitu sampai di rumah pukul 5 pagi, Elina langsung diinterogasi oleh Ibu dan Frasya yang terlihat marah.


"Kakak ke mana aja semalam? Tidur di mana? Katanya pergi rapat, tapi kenapa baru pulang?"


Rentetan pertanyaan Frasya membuat Elina semakin bingung. Apa yang harus ia jawab? Tidak mungkin kan, ia mengatakan yang sebenarnya?


"Aku memang rapat. Tapi karena direkturnya lama datangnya, rapat diundur beberapa jam," jawab Elina, tanpa melihat pada adiknya.


"Terus tidur di mana?"


"Di hotel. Direkturnya yang membayarkannya untukku." Elina tidak mungkin menjawab kalau ia menginap di rumah Raima. Bakal ketahuan bahwa ia berbohong. Frasya pasti sudah mencari tahu dan menghubungi Raima tadi malam.


"Udah," sela Ibu. "Tadi udah jelas kan? Biarkan kakakmu ke kamarnya dan istirahat sebentar. Kamu bantu Ibu masak deh."


Frasya mau tak mau menurut. Dengan wajah cemberut, ia berjalan ke dapur. Sementara itu, Ibu menatap Elina sejenak lalu menyuruhnya ke kamar.


Di dalam kamar, Elina bergumam sesal karena telah berbohong lagi pada Ibu. Kebiasaan yang sangat buruk!


"Maaf, Ibu."


-;-;-;-


Resek! Bosnya pulang dari bulan madunya yang ke sekian lusa ini. Tapi yang membuatnya sebal adalah rapat dadakan yang harus dilaksanakan hari ini juga!


Bosnya memang suka gitu, apa-apa serba mendadak. Elina belum mempersiapkan berkasnya. Ia asal saja mengambil beberapa tumpuk berkas, berlari ke ruang rapat, di mana bosnya sudah lebih dulu di sana.


Aduh! Elina menabrak seorang pria berbadan tinggi, saat ia akan memasuki ruang rapat. Berserakan sudah berkasnya di lantai. "Maaf", hanya itu yang terucap, lalu ia segera berjongkok untuk memunguti berkas itu.


Orang yang ditabrak tak mengatakan apa pun, bahkan terkesan tak acuh. Malah, orang itu menginjak dan menendang kertasnya. Bukan main kesalnya Elina.


Siapa sih, si sombong itu? Ia akan segera melihat wajahnya.


Namun, keberanian itu menciut begitu melihat wajah seorang pria yang ada di ruang rapat bersama dengannya. Wajahnya malah memucat, tak tahu mau melakukan apa, sampai bosnya menegur dengan keras beberapa kali untuk meminta sebuah berkas.


"Ah, iya ... iya, ini berkasnya," kata Elina kikuk.


"Oke, Pak Matthew. Ini adalah konsep kontrak kerja sama kita, yang akan dibacakan oleh Elina," kata Bosnya sambil menunjuk Elina.


Tetapi Elina gagal fokus. Ia termenung melihat Matthew sambil terus berdiri di samping bosnya.

__ADS_1


"Elina!" bentak bosnya.


"Iiiiya, Bos!"


"Tadi kamu nggak dengar saya bilang apa?"


Elina celingak-celinguk, bingung. Seorang temannya, yang juga anggota rapat, menggerakkan mulutnya. "Presentasi".


Grogi, Elina menjelaskan bentuk kerja sama dan isi kontrak. Matthew menatapnya dengan pandangan yang tajam dan dingin, bikin makin kikuk saja. Akhirnya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain dan terus berbicara sampai selesai.


Matthew memajukan tubuhnya, memangku dagunya dengan kedua tangannya. "Nona, Anda sedang melakukan presentasi di depan saya. Tapi kenapa kenapa pandangan mata Anda ke arah lain? Apa wajah tampan saya ini menakutkan?"


Elina mendengus sembari menoleh. Matthew, kau sungguh kekanak-kanakkan! Apa hal seperti itu harus dibahas?


"Maaf, Pak. Saya rasa dia sedang grogi," jawab bos Elina membela.


Matthew menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Memangnya sudah berapa tahun kamu bekerja di sini?"


Bos Elina bingung melihat perubahan suasana yang bisa mengancam kerja sama ini. Maka, ia yang menjawab dengan hati-hati dan sabar, "Sudah be...."


"Saya mau Nona itu yang menjawab," potong Matthew tegas.


Apa ini, Matthew? Kau mau berperang dengan Elina? "Sudah hampir dua tahun."


"Hmm ..." Matthew mengangguk cemooh. "Lalu, kenapa Anda masih saja gugup? Seharusnya Anda sudah terbiasa bicara di depan umum kan? Apa karena Anda tertarik pada saya?"


Elina nyaris tertawa, tapi untungnya dapat ditahan. Alhasil, ia hanya tersenyum. "Iya!" sahutnya. "Saya tertarik oleh wajah tampan Anda."


Suasana riuh, berbagai komentar lirih terdengar di seluruh ruangan ini. Elina tersenyum, walau merasa menyesal karena telah mengatakan hal konyol demi melawan Matthew. Pria itu terdiam menatapnya, tampak tak berkutik.


Tapi Matthew tetap membalasnya. "Waw, saya sangat terkejut. Pak Adolf, di mana Anda mendapatkan asisten unik seperti Nona itu? Andai saya bisa mempekerjakannya sebagai asisten saya." Lalu Matthew menoleh pada Elina sambil tersenyum sinis.


Elina hanya bisa menghela napas. Sengajakah pria itu? Apa maksudnya melakukan semua ini? Apa dia ingin mengeluarkan Elina dari pekerjaan ini?


Rapat pun selesai. Akhirnya bisa keluar dari ruangan neraka ini dan suasana yang tak mengenakan tadi. Semua orang sudah keluar, kecuali Elina dan Matthew.


Elina sedang membereskan berkas-berkas, sedangkan Matthew sedang duduk di seberang sana sambil memperhatikannya. Lalu terdengar suara langkah kaki. Entah pria itu mau menuju pintu keluar atau sedang berjalan mendekatinya, yang pasti Elina harus bergegas keluar dari ruangan ini lebih dulu sebelum ia kembali bertatap muka dengannya.


Namun, pria itu terlalu cepat, tangannya sudah mengenggam lengannya.Matthew menghelanya dengan kasar, sehingga Elina terpaksa menatap wajahnya.


"Aku telah menyimpulkan sesuatu, sejak pertemuan kita kemarin malam," kata Matthew.


"Apa?"


"Kau sengaja diutus untuk merayuku dan tidur denganku, agar perusahaanmu mendapat kontrak itu."


Wajah Elina mengeras, tangannya terkepal. Penghinaan ini terlalu kejam dan menyakitkan, tapi Elina memilih untuk menahannya.


Sejenak Elina memejamkan mata, lalu membuka mata dan menoleh. "Terserah. Percayalah pada apa yang Anda percayai, Tuan Matthew Jonathan. Tapi saya mohon, tolong jangan membawa masa lalu kita ke dalam pekerjaan."


"Oh, apa kau menganggap aku ini adalah sebuah ancaman? Ya! Selama ini hidupmu sangat tenang; bekerja di perusahaan besar, menikmati uang yang diberikan oleh papaku...."


Meski kesabaran ini hampir habis, Elina tetap menahannya dan berusaha mengabaikan Matthew. Biarlah dia berbicara sesukanya. Elina berbalik, akan pergi, tapi Matthew menahan tangannya lagi.


"Kenapa kau pergi? Jawablah aku!" katanya tersinggung.


Elina menghela napas kuat. "Apa yang harus aku jawab, sedangkan kau hanya mempercayai apa yang kaupikirkan selama ini. Percuma jika kau tak mau mendengarkan aku."


"Ya!" tukas Matthew. "Aku memang tidak akan pernah percaya dengan semua yang kau katakan dari mulutmu yang berbisa itu."


Harga dirinya telah terluka. Hatinya telah berlumuran darah oleh luka sayatan dari Matthew. Orang yang sangat dicintainya sudah tak mempercayainya. Begitu sakit mendengar setiap ucapannya itu. Air mata tak kuasa ditahannya lagi, menggenang di pelupuk matanya yang bening.

__ADS_1


Cukup. Jika cinta berubah jadi benci, maka ia hanya bisa pasrah. Ia akan menjauh jika itu takdirnya. Dan kini, ia menghela pegangan tangan pria itu, dan berlari keluar ruangan dengan air mata yang bercucuran. Tak peduli pandangan mata karyawan lain dan membicarakannya.[]


__ADS_2