Matthelina

Matthelina
Chapter 25


__ADS_3

Monika melangkah enggan saat berada di depan kantor polisi, bahkan ia berdiri cukup lama untuk mengumpulkan semua keberaniannya untuk menghadapi sesuatu yang amat dibencinya.


Namun, Matthew benar, sikapnya tidak bisa seperti ini. Ia harus menghadapinya, melangkah ke dalam dan menemui Dimas.


Ia menoleh, melihat Dimas yang berpakaian biru, khusus untuk para narapidana, berjalan ke arahnya dan duduk di depannya. Pria itu terpana melihat Monika yang ingin menemuinya. Tapi kemudian, ia berprasangka bahwa kedatangannya hanya untuk mengatakan hal yang menyakitkan.


Monika menunduk, penuh penyesalan. "Aku minta maaf"? kata selanjutnya yang membuat Dimas ternganga. Salahkah yang ia dengar? Atau Monika yang telah salah berucap?


"Aku telah memfitnahmu, menjauhimu dari Justin, dan membencimu tanpa alasan," Monika melanjutkan. "Kau tahu, menikah tanpa cinta itu sungguh berat bagiku. Tapi demi ibu, aku terpaksa menikah denganmu."


Dimas tidak kaget mendengar pengakuan itu. Sudah sejak lama ia mengetahuinya. Sebenarnya, ini juga salahnya. Kenapa ia tak bertanya dulu pada Monika? Kenapa ia tak memberi rentang waktu untuk saling menyesuaikan diri dan saling mengenal? Dan tidak seharusnya ia serakah ingin memiliki Monika seutuhnya.


Namun, untuk apa membahas itu, manusia pernah lalai, pernah khilaf. Tak ada gunanya menyesali yang sudah lewat. Ia tersenyum, lalu menatap wanita yang dicintainya itu.


"Aku tidak pernah memiliki simpanan maaf untukmu. Bagiku, kau tidak pernah salah," ucapnya. "Mungkin, aku terlalu buta."


Monika menegadah, tercengang menatap Dimas. "Tapi, aku memang salah."


"Menyadari kesalahan sudah cukup bagiku. Tak perlu membahas masa lalu lagi."


Monika tersenyum. Adiknya benar, ia terlalu bodoh dan buta bahwa Tuhan telah memasangkannya dengan pria yang sangat baik. Maaf, karena sulit untuk memberikan hatinya untuknya.


"Aku sudah mencabut laporanku. Mulai sekarang, kau boleh menemui Justin kapanpun kau mau."


Dimas tersenyum semringah. Bahagia sekali, Monika telah berubah. Ia tak mengharapkan apa pun lagi, bahkan pada pernikahannya yang telah retak. Asal bisa bertemu dengan Justin, membina hubungan baik dengan Monika, adalah hal yang patut disyukuri.


"Terima kasih, Monika. Aku berharap, kelak kehidupanmu akan bahagia."


Mengapa mendengar Dimas berkata begitu, Monika jadi merasa kecewa? Apa pria itu benar-benar ingin melepaskannya? Jika memang begitu, ia berdoa semoga Tuhan memberikan segala hal yang terbaik untuknya, termasuk "cinta".


"Kau juga, Dimas. Semoga kau selalu bahagia."


-;-;-;-


Justin melambaikan tangan pada Elina. Setelah lebih dari sebulan ia diasuh olehnya, hubungan mereka semakin dekat. Elinapun turut sedih ketika harus mengendong anak itu untuk terakhir kalinya.


Matthew sudah mengatakan akan mengantarkan Elina ke rumahnya. Dia membawakan tas Elina ke dalam bagasi mobil. Tetapi rumah yang dimaksud oleh Elina bukan rumah kontrakan ibunya, melainkan rumah kontrakan yang sudah disewa Matthew selama setahun.


Kesan Elina sejak mobil berhenti di depan rumah adalah "berlebihan". Rumah ini tidak terlalu besar, tapi bagi Elina ini sangat tidak pas. Ia hanya tinggal sendiri, tapi rumah itu memiliki dua kamar. Peralatan sudah tersedia; sofa, meja, kulkas, peralatan dapur, dan mesin cuci.


Hawa sejuk dari AC menghela kulit Elina ketika pintu dibuka oleh Matthew. Ia menatap protes, tidak perlu pakai AC, kipas angin sudah cukup baginya.


Tetapi Matthew menyahutinya begini: "Tapi aku tidak mau kepanasan saat aku datang ke sini. Aku sudah terbiasa pakai AC." Dan Elina hanya menggeleng.


Lantas, Elina berjalan ke arah dapur yang luas. Ada Mesin cuci di dekat kamar mandi? Itu juga tidak perlu! Elina bisa mencuci dengan tangan. Makanya, Matthew bisa merasakan tangan kasar Elina. Tapi bukan karena itu masalahnya Matthew membeli benda itu--toh, ia tak masalah juga dengan tangan kasar Elina--karena ia tak mau Elina kelelahan.


"Kau sedang hamil. Dokter bilang, kau tidak boleh kerja berat," katanya menambahkan.


Elina mendecak. Mencuci bukanlah pekerjaan yang berat. Ia akan menyahutinya, tetapi Matthew keburu berjalan ke luar. Mereka sampai di ruang tamu yang tidak terlalu luas. Di samping kanan ada dua kamar dan lorong menuju dapur. Elina duduk di sofa bersebrangan dengan Matthew, setelah membawa dua cangkir teh yang lalu dihidangkannya.


"Aku juga akan menyewa seorang pembantu," kata Matthew, baru saja Elina duduk di sofa.


"Tidak usah. Aku masih bisa menyelesaikan pekerjaan rumah," jawab Elina, yang langsung menambahkan ketika Matthew hendak menyelanya. "Meskipun sedang hamil."


Percuma mengemukakan alasannya, Matthew membantahnya dengan keras. "Tidak. Aku akan tetap mengirimkan pembantu"


"Aku bilang tidak--" Elina mendelik, wajah Matthew telah persis di depan wajah. Huh, dia menggertak lagi!


Elina beringsut mundur, tapi Matthew terus mendekatinya. Ia semakin panik, lalu mendorong Matthew sambil memekik, "Apa-apaan sih..."

__ADS_1


Bukannya Matthew terjungkal, malah Elina sebaliknya. Matthew menahan tangan Elina yang akan mendorongnya, menghelanya pelan hingga terdorong ke sofa. Ia **** Elina. Jantung gadis itu berdetak was-was.


Matthew semakin berani, wajahnya terus didekatkan, hingga bibir mereka jaraknya hanya terpaut kurang setengah senti. Melihat gadis itu mulai cemas, di dalam hati ia bersorak girang.


"Jadi, apa keputusanmu?"


Lihatlah senyum jahat itu! Elina tidak boleh merasa terintimidasi oleh gertakannya itu. Ia berusaha tenang, dan menjawab, "Oke, tapi ketika perutku membuncit lebih besar."


Matthew mengernyit. Sepertinya negosisasinya berhasil? Saatnya Elina memanfaatkan kesempatan dengan beralasan. "Katanya, ibu hamil harus tetap bergerak, setidaknya melakukan pekerjaan yang tidak mengangkat benda berat. Lagipula, orang bilang kalau ibunya pemalas, anaknya nanti juga pemalas."


Matthew mulai perlahan menjauhkan wajahnya sedikit. "Benarkah? Baiklah, asal jangan membawa beban yang berat."


Pernapasan Elina melonggar karena pria itu telah menjauh dari tubuhnya. Matthew kembali ke sofa, lalu menyesap teh buatan Elina. Minuman itu membasahi tengorokkannya yang sejak tadi hanya menelan air liur karena tak tahan pada bibir Elina. Sayang, bibir itu tidak jadi diciumnya.


"Bukannya, minggu depan kau ada jadwal cek kandungan?" kata Matthew renyah.


Mata Elina membulat. Ia sendiri tak ingat kapan waktunya, kenapa pria itu bisa tahu? "Em ... memang kenapa?"


Matthew bergumam sendiri sambil mengingat-ingat. "Sepertinya, besok aku akan sibuk."


Meskipun begitu, Elina mendengar dan berseru, "Aku bisa minta Raima untuk mengantar."


Matthew memajukan tubuhnya, menatap dengan ekspresi protes. "Ayah bayi itu aku atau Raima?"


Tentu saja kau! Pertanyaan macam apa itu? "Tapi kau kan, sedang sibuk," sahut Elina menahan gemasnya.


"Aku bisa minta izin." Matthew kembali bersandar di sofa. "Aku kan, bosnya."


Elina membuang muka, mencibir di dalam hati. Huh, mentang-mentang!


Di ujung tepi cangkir, ada seulas senyum jahil di bibir Matthew, sambil melirik Elina yang tak berdaya. Ia lakukan itu agar wanita itu tak lagi menolak apa pun yang diinginkannya. Segelas teh sudah habis, pembicaraan hari ini sepertinya sudah cukup. Lantas, Matthew beranjak dari kursi, dan melirik arlojinya--sudah jam 9.


Elina melirik cangkir bekas Matthew. Kalau gitu, kenapa tehnya habis tak tersisa? Apa maksudnya pria ini? Senyumannya juga jahil.


Pria itu keluar dari dalam rumah, lalu masuk ke dalam mobil. Setiap gerak-gerik pria itu, Elina memperhatikan dengan heran, bertanya-tanya, dan menerka-nerka. Entahlah, sepertinya pria itu agak berubah sifatnya. Apa yang mempengaruhinya? Bayi dalam kandungan Elina kah?


-;-;-;-


"Laporkan!" perintah seorang pria bersuara bass, tak sabar.


Seorang pria berkacamata hitam meletakkan beberapa lembar foto di atas meja kerja pria itu. Seketika tatapannya berubah bengis. Semua foto itu dilemparkan hingga berserakan di lantai.


Jonathan amat geram. Penugasan Matthew ke Jakarta bukan hanya ingin menempatkan istri mudanya sebagai direktur di perusahaannya yang ada di Inggris, tapi juga untuk mengembangkan kinerja Matthew, yang kelak mewarisi semua harta dan perusahaannya. Tapi apa yang dilakukannya? Malah berduaan dengan wanita rendahan yang berprofesi sebagai pengasuh? Apa hubungan mereka? Dan siapa wanita itu?


Dengan kemarahan yang tersisa pada sudut bibirnya, ia berkata pada mata-matanya, "Cepat, selidiki lagi! Aku ingin tahu lebih banyak mengenai mereka!"


-;-;-;-


Elina meminta izin pada Matthew untuk ke rumah orangtuanya, dengan diantar oleh Raima. Syukurlah Matthew mengijinkan, pria itu pasti sangat mengerti betapa Elina merindukan ibu dan adiknya, setelah satu bulan lamanya berpisah. Maka siang itu, ia dijemput Raima, kemudian diantarkannya.


Pelukan hangat langsung Elina dapatkan dari ibunya, ketika pintu dibuka. Frasya juga langsung menghampiri dan menggandeng lengan kakaknya, memasuki ruang tamu. Elina terpana, agak sedikit berubah, penataannya, dan penambahan beberapa barang di sudut ruang tamu. Kata ibu itu hasil dari uang kiriman mingguan Elina.


Uang mingguan? Elina tercengang, menoleh pada Raima yang langsung menaikkan kedua bahunya. Seingat Elina, ia belum kirim apa pun, bahkan gajinya, yang ingin ia berikan pada ibunya, masih berada di tangannya.


"Iya, Kak," timpal Frasya menggenggam tangan Elina. "Majikan Kakak sangat baik ya? Pasti Kakak betah kerja di sana."


Elina terpaksa tersenyum, lalu kembali termenung. Kira-kira siapa yang kirim uang? Kerjaannya Raima? Ah, ia tahu. Matthew!


"Nak, ayo kita makan. Ibu udah masak makanan yang kamu suka," kata ibu.

__ADS_1


Elina tersenyum haru. Apa pun yang ibunya masak, akan jadi makanan favoritnya. Baginya, masakan ibu yang paling enak dibandingkan masakan chef terkenal sekalipun.


Ibu menghela lembut Elina ke meja makan, disusul oleh Raima dan Frasya. Tanpa sengaja ibu melirik pinggul Elina yang tampak agak berubah. Apa ini hanya perasaannya saja? Tapi kemudian, diabaikannya karena tak ingin berprasangka buruk. Mungkin Elina lebih sedikit berisi karena majikannya memberinya makanan enak.


Ibu meletakkan gulai ikan emas kesukaan Elina setelah dua sendok nasi diletakkan di atas piring.


"Ibu cuma sayang sama kak Elina nih?" kata Frasya berpura-pura cemberut. "Aku nggak pernah diambilin."


Elina, Raima, dan Ibu tersenyum. Ibu menyuruh Frasya untuk menyerahkan piringnya, lalu mengambil dua sendok nasi. Melihat hal ini, air mata Elina meleleh lagi. Ia bersyukur, kehidupan ibu dan adiknya bahagia. Dan semoga selalu begitu.


"Ikannya juga dong, Bu," seru Frasya, pura-pura manja.


Raima tertawa dan menggoda Frasya. "Tante, jangan mau, kebiasaan dia, mah. Entar dikasih es krim, mintanya pizza lagi."


Frasya memeletkan lidahnya, sementara Elina dan Ibu tertawa bersama. Kemudian, makan siangpun dimulai dengan berbagai obrolan, termasuk menyinggung pekerjaan Elina.


Ibu dan adiknya baru tahu kalau Elina menjadi pengasuh di sebuah rumah keluarga berada. Ibu sedikit ngeri saat mendengar ada seorang pria lajang tinggal di sana. Namun ia lega, karena tidak terjadi apa pun pada anaknya. Apalagi, mendengar bahwa pria itu sangat baik.


"Meskipun begitu, kamu harus tetap hati-hati dan jaga diri ya?" nasehat Ibu.


Jaga diri? Elina tersenyum pahit. Kesuciannya telah terenggut, bahkan ia sedang mengandung. Maafkan anakmu yang lalai ini, Bu.


Ketika Elina akan memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya, tiba-tiba rasa mual menghentak. Elina spontan menutup mulut. Semua orang menoleh mendengar suara yang berasal darinya. Lalu Raima sama paniknya dengan Elina, yang kemudian berlari ke kamar mandi karena rasa mual yang semakin jadi.


Pikiran Ibu memunculkan praduga. Ia tak langsung angkat bicara. Hal yang ingin ia tegaskan dari dugaannya itu akan ia tanyakan setelah makan.


"Kakak kenapa? Sakit?" cecar Frasya, begitu Elina kembali hadir di meja makan.


Ibu hanya melirik sambil terus makan.


"Nggak. Tadi tersedak tulang ikan," Elina berbohong.


Elina cepat-cepat menghabiskan makanannya sebelum rasa mual kembali muncul. Dan ketika hal itu terjadi, ia secepatnya berlari ke kamar mandi. Saat keluar, ia melihat Frasya dan Raima sedang mencuci piring.


"Kak, dicariin ibu di kamar," seru Frasya.


Elina mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya. Terlihat Ibu sedang duduk di atas ranjang, sedang mengganti sarung bantal. Senyum khasnya terulas kala mendengar derit ensel pintu terbuka, menoleh pada anak tunggalnya.


"Ibu cari aku?"


"Iya. Kamu nginap di sini ya?"


Jika ia bisa, dengan senang hati ia mengiyakannya. "Nggak bisa, Bu. Ijinnya cuma sekarang. Aku akan balik lagi ke rumah majikanku."


Gerakan Ibu terhenti. Senyum itu memudar perlahan bersama dengan kekecewaan. Meskipun sedih rasanya, ia menghibur diri dan diusahakan tersenyum. "Ya sudah. Lain kali jangan menolak."


Sabarlah Ibu. Anakmu ini tidak akan pergi lagi setelah anak yang tidak diharapkannya lahir. Takkan lagi ada yang memisahkan Elina dan ibunya. Ini memang agak berat untuk dijalani, tapi demi ketentangan hati ibunya, Elina tersenyum dipaksakan.


"Nak, boleh Ibu tanya?" Ibu berbalik sedikit menghadap Elina. Sorot matanya serius, membuat jantung Elina berdegup tak keruan.


"Tanya apa, Bu?"


"Apa kamu sedang hamil?"[]


***Jawaban apa ya, yang bakal Elina jawab? 😞 Tunggu episode selanjutnya 😀. Kapan itu? Emm nggak tau deh 😆. Kayaknya mungkin aku cuma bakal up 2 atau 3 kali dalam seminggu.


😲 but why, thor?


Kata Beta readerku: demi ketentraman hp baruku, kewarasan otakku, dan kedamaian kehidupan Beta Readerku 😅.

__ADS_1


Oh, ya. Yang kemaren itu, kenapa ada dua bab 23 dan 24. aku sendiri juga nggak tau. Mungkin Mangatoonya yang eror. Padahal, aku udah liat kalau yang terkirim bab 23 dan 24 cuma satu. Ya sudahlah. Kalo ada yang kurang, komplain aja ya. See you 😘***


__ADS_2