Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER SEBELAS


__ADS_3

Ruang pesta telah dipenuhi oleh pengunjung. Kapal telah meninggalkan dermaga, perlahan berlayar di senja berlangit jingga.


Sementara di lantai bawah begitu ramai, justru lantai atas sangat sepi. Seorang pria berseragam pelayan sedang berjalan di lorong yang di penuhi oleh bilik-bilik khusus tamu.


Pelayan itu berhenti di depan sebuah kamar. Setelah melihat ke sekeliling tempat itu aman, barulah dia masuk ke dalam kamar itu sambil membawa troli.


Di atas troli terdapat sebuah tas kecil. Dia menyeringai begitu membuka dan melihat isi tas. "Oke, saatnya kita mulai.


Dia mengeluarkan seluruh isi tas yang berupa beberapa buah kamera berukuran kecil. Kemudian, kamera-kamera itu disembunyikan diberbagai tempat. Setelah memastikan semuanya telah benar sesuai rencana, pria itu buru-buru keluar kamar.


Ia tahu di lorong ini ada CCTV. Jadi, ia berusaha bersikap normal dan tak memperlihatkan wajahnya ke kamera. Ketika ia sampai di ujung lorong, dikeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu menghubungi seseorang.


"Halo, Pak. Semuanya sudah saya pasang."


"Bagus," sahut seseorang di ujung telepon. "Tinggal kita lakukan rencana selanjutnya."


🍀


Ketika semua orang berkumpul dan menikmati pesta, Logan memilih berdiri di dek kapal, termenung, dengan tangan memegang segelas anggur yang disesapnya sedikit-sedikit.


Ia mendesah. Rasa anggur tidak akan sepahit ini jika Nina ada di sampingnya. Sayangnya, Nina tidak ikut karena pergi ke Jepang untuk menemui guru pianonya.


"Hampa," desahnya.


Sementara itu, Anna berjalan di belakangnya, cepat-cepat menghampiri seorang pelayan wanita. "Mbak! Mbak!"


Pelayan itu berhenti dan menoleh. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanyanya seraya tersenyum ramah.


"Saya mau tanya, di mana ruang ganti pengantin wanitanya, ya? Saya temannya Yerina." Anna menambahkan karena tak ingin dicurigai karena menanyakan hal itu.


"Oh. Mari ikut saya. Saya juga akan ke sana," ujar pelayan itu, begitu ramah hingga Anna merasa senang jadinya.


"Baiklah." Anna mengangguk, lalu berjalan mengikutinya.


Ruangan itu ada di sekitar lantai atas kapal ini. Setelah sampai di depan ruangan, si pelayan membukakan pintu. Anna terpana melihat luas ruangan bercat putih, terlebih lagi pada penampilan Yerin yang begitu mempesona dengan gaun pengantinnya.


Yerin baru saja selesai berdandan. Ia menoleh begitu melihat pantulan bayangan Anna dari cermin. Senyumnya merekah, berdiri, dan akan menghampiri Anna.


"Eh! Di sana aja. Gue yang akan ke tempat lo," seru Anna.


Yerin duduk di sebuah sofa panjang tanpa sandaran. Anna menempelkan pipinya pada pipi Anna sembari mengucapkan selamat atas pernikahannya.


"Makasih udah datang," kata Yerin, tetapi tertegun setelahnya. "Badan lo kok panas?"


"Gue agak flu dari pagi ... huacih!" jawabnya, lalu tiba-tiba menunduk dan menutup mulutnya dengan saputangan untuk bersin. "Sori, ya."


"Nggak apa-apa. Lo di sini aja dulu ... em, lo udah berobat?" tanya Yerin, terlihat cemas.


Anna menggeleng. "Mana sempat. Gue pikir, gue bakal sembuh kalau udah ngerjain kerjaan gue di kantor."


"Tapi malah tambah parah, 'kan?" tukas Yerin, geram. "Lo itu kebiasaan dari masa kuliah deh—kalau sakit malah dibawa gerak, nunggu sampai parah baru deh berobat. Lo bukan Wonder Women tahu, nggak?"


Anna meringis, berusaha tertawa. Memang seperti itu kelakuannya sejak dulu. Mamanya terbiasa membuatnya tidak lemah, tetapi karena itu ia jadi suka memaksakan diri. Ranti sahabatnya sejak SMA selalu mengomel karena sifatnya itu.


"Oh, iya. Mana Gita?" tanya Yerin, tiba-tiba teringat pada gadis itu.

__ADS_1


"Aku disuruh duluan. Katanya, ada kerjaan yang mau diselesaikan," jawab Anna, kemudian kembali bersin.


Yerin jadi semakin khawatir, lalu memanggil seorang pelayan yang masih berada di sana untuk mengambilkan sebuah obat dan air minum.


Pelayan itu bergegas mengambil apa yang diperintahkan, tak lama kemudian datang kembali membawa air dan satu strip obat flu.


"Ini." Yerin memberikan obat lalu air pada Anna. "Lo di sini dulu sampai acara dimulai. Gue bakal minta pelayan siapin kamar buat lo istirahat habis sesi foto."


Anna jadi tidak enak hati, meskipun Yerin sahabat baiknya. Setelah menelan obatnya, ia buru-buru menolak, "Nggak usah, Ye. Gue masih tahan kok, apalagi gue habis minum obat. Nanti juga sembuh kok."


Aduh, ngeyel banget sih nih orang, sampai Yerin menjitak kening Anna karena sangking gemasnya.


.


.


.


Sekitar pukul 7 malam, para tamu undangan diminta untuk berkumpul di tempat pesta diadakan karena acara akan segera dimulai.


Tak lama kemudian, pintu lain dari ruangan ini terbuka. Sepasang insan yang telah menjadi suami-istri memasuki ruangan, menebarkan senyum kebahagiaan. Tepuk tangan meriah dari para tamu mengiringi langkah mereka.


Pelaminan dipenuhi oleh bunga, mereka duduk di kursi yang disediakan bagai raja dan ratu yang menawan. Anna berdiri di dekat pelaminan, tersenyum ke arah pengantin baru itu.


Pembawa acara memulai acara dengan beberapa patah kata dari kedua mempelai yang membuat para tamu undangan terenyuh. Kata cinta, tatapan lembut, dan senyum kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah mereka, tanda bahwa mereka sepasang kekasih yang larut dalam kasih yang suci.


Sebuah kue pernikahan dibawa masuk oleh pelayan. Farhat memegang tangan Yerin yang sedang memegang pisau kue, lalu mereka memotong kuenya.


"Nah, kedua mempelai, silakan saling menyuapi pasangannya," kata pembawa acara


Di tengah keriuhan, Anna yang tak dapat menikmati pesta sepenuhnya. Mendadak kepalanya pening. Ia mengernyit, memegangi keningnya yang pusing.


Takut terjatuh, lantas ia mencari tempat duduk. Di atas pelaminan, Yerin menyadari bahwa Anna sudah tidak ada di tempatnya. Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan, mencari sosoknya.


"Sekarang, waktu yang paling ditunggu!" seru si pembawa acara. "Waktunya lempar bunga!"


Para tamu undangan, yang kebanyakan perempuan dan belum menikah berkumpul. Meski Yerin merasa cemas pada Anna, ia harus tetap melemparkan bunga ini sambil membelakangi para tamu undangan yang bersiap mendapatkannya.


Bunga berhasil didapatkan oleh seorang wanita yang bernama Kania. Setelah itu, Yerin kembali duduk ke kursi pelaminan, dan menghubungi Gita.


"Gita, tolong cariin Anna, ya," pintanya.


"Anna lagi duduk di kursi dekat panggung pelaminan," sahut Gita. "Kayaknya, dia kelihatan pusing banget."


Kursi dekat panggung ini? Yerin langsung mencari sosok Anna, yang mana sedang bersama Gita.


"Ya, udah. Nanti, ada pelayan yang datang buat antarkan dia ke kamar," tutup Yerin.


Yerin membuktikan perkataannya, seorang pelayan perempuan datang menghampiri Gita dan Anna.


"Nona Anna, Nyonya Yerina sudah mempersiapkan kamar untuk Anda," kata pelayan itu.


Lalu, Gita menimpali, "Anna, mending lo istirahat dulu. Lagian, kapal baru balik ke dermaga besok pagi."


Anna berpikir sejenak, sebelum sebuah anggukan menjadi jawabannya. Setelah itu, si pelayan memapah Anna untuk beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruangan pesta.

__ADS_1


.


.


.


Farhat memang bukan teman atau orang terdekatnya, tetapi rekan bisnisnya. Logan diundang ke acara ini, tetapi hanya sendirian saja. Rencana membawa Nina batal.


Logan tak berbaur dengan siapa pun. Tempat ini terasa membosankan. Ia hanya berkeliling, membalas sapaan orang-orang yang mengenalnya, lalu duduk di sudut ruangan sambil menikmati segelas wine.


"Apa Anda ingin segelas lagi, Tuan?" Entah sejak kapan, seorang pria berpakaian pelayan menghampirinya.


Logan menoleh. Tepat sekali, pelayan itu datang ketika gelasnya sudah kosong. "Terima kasih," katanya sambil menukar gelas kosong, dengan segelas wine yang ada di atas nampan.


Pelayan itu pergi, sambil menunjukkan seringai misterius yang tampak jahat. Sementara itu, Logan mulai menyesap wine satu-satunya yang ada di nampan yang dibawa pelayan tadi.


Sedikit demi sedikit, ia menyesapnya. Dan semakin lama, rasa pusing di kepalanya begitu terasa. Tubuhnya mulai lunglai, bahkan sulit untuk menegak.


"Kenapa panas gini, ya?" gumamnya sambil membuka kancing kemeja bagian atas. Padahal, suhu AC saat ini cukup dingin, tetapi badannya mengeluarkan keringat.


Ia terhuyung, tapi ia bisa mengendalikan diri agar tidak terjatuh. Hal ini, mengundang pelayan tadi untuk menghampirinya kembali.


"Apa Tuan merasa lelah? Kami menyiapkan kamar untuk setiap tamu yang ingin beristirahat," katanya.


Pandangannya nanar, seakan kelopak matanya berat untuk dibuka. "Baiklah. Antarkan saya ke sana," kata Logan, serak.


Pelayan tadi membantu Logan untuk menunjukkan letak kamarnya sambil memegangi tubuhnya. Ketika menyusuri lorong, diam-diam pelayan itu tersenyum misterius.


"Silakan masuk, Tuan," kata si pelayan, setelah membuka pintu.


Langkah Logan sempoyongan mencapai ranjang. Ia mematung sejenak, lalu tersenyum melihat sosok seorang gadis sedang terbaring di sana.


Logan membuka jas dan kemejanya, lalu merayap perlahan mendekati gadis itu, yang kini sedang membelakanginya.


"Nina," bisiknya lembut ke dekat telinga gadis itu.


Tangannya mulai membelai rambut gadis itu dan menyingkap lehernya. Sebuah kecupan kecil ia benamkan ke lehernya. Gadis itu merintih pelan.


Logan membalikkan tubuh gadis itu, dalam sekian detik ditatapnya wajah cantik itu sebelum bibirnya menyentuh dan mengecup bibir gadis itu.


Meski matanya terpejam, gadis itu membalas ciumannya, semakin membuat Logan tak tahan untuk menyentuh setiap inci tubuhnya.


Logan beranjak ke atas tubuh gadis itu, lalu mulai memeluknya, dan melucuti apa pun menempel di tubuhnya.


"Nina...," lirihnya.


Namun, saat pertengahan permainan, tiba-tiba mata gadis itu terbuka sedikit. Ia mencoba melihat siapa pria yang sedang berada di atasnya itu.


"Pak Logan?" gumamnya kaget, langsung mendelik.


Logan melihatnya seolah dirinya adalah Nina, tetapi yang tidur di ranjang adalah Anna. Melihat tubuhnya sudah dalam keadaan tanpa busana, lantas Anna memberontak.


"Pak, jangan! Tolong lepaskan saya!" jerit Anna, sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Logan


Mungkin karena sudah dikuasai oleh gairah yang tak terkendali, Logan justru tak mengindahkannya dan semakin melecehkan Anna.

__ADS_1


Air mata Anna mengalir, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan pria itu. Akhirnya, ia tak melawan lagi, pasrah ketika Logan mengecup bibirnya lembut, menyentuh seluruh tubuhnya dan merenggut kesuciannya malam ini.[]


__ADS_2