Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER TUJUHBELAS


__ADS_3

Rumah yang begitu jauh, terletak di daerah pinggiran kota. Anna menghela napas beberapa kali saat perjalanan karena betapa membosankannya pria di sampingnya ini.


Rasanya mata ini begitu berat, ingin tidur sejenak. Akan tetapi, kalau ia tidur, pria itu tidak tahu jalan menuju rumahnya.


Di perempatan jalan itu, sedikit lagi menuju rumahnya. Anna pun agak berseru, "Setop, Pak. Sampai sini saja."


"Apa ini rumahmu?"


"Eng ... saya cuma mau diturunkan di sini." Anna mencoba mencari alasan, karena tidak mau pria itu tahu di mana rumahnya.


Tapi, pria itu malah membantahnya. "Tidak, aku akan mengantarkanmu sampai rumah."


Anna tidak akan membiarkan itu. "Tidak!" teriaknya tiba-tiba, membuat Logan menoleh. "I ... Itu! Itu rumah saya."


Jelas sekali kalau Anna sangat gugup, dan Logan tidak mempercayainya.


"Di mana rumahmu?"


"Saya sudah bilang di sana, 'kan?" jawab Anna setengah kesal, setengah memelas. "Sudah kelewatan, Pak."


"Kamu tidak mau memberitahukan alamat rumahmu yang asli karena takut aku mengetahuinya, 'kan?" tebak Logan, sinis.


"Iya! Karena lo itu cowok berbahaya, sadis, nggak berperasaan, yang mungkin bakal teror gue dan keluarga gue," gumam Anna di dalam hati.


Anna berpikir untuk mencari ide agar bisa melepaskan diri dari pria itu. Dan aha! Senyumnya terkembang saat melihat sebuah warung sembako di pinggir jalan.


"Setop! Setop! Setop!" seru Anna tiba-tiba, cukup kencang, hingga sontak membuat Logan menginjak rem. "Saya turun di sini. Mau beli ... em ... roti."


"Kamu lapar?" tanya Logan. "Akan saya belikan, kamu tunggu sini!"


Apa pria itu tahu pikirannya? Buru-buru Anna mencegah. "Pak, Pak, Pak! Saya aja yang beli."


"Bilang aja kamu mau kabur, 'kan?" tuding Logan.


Anna terhenyak. "Bukan gitu. Yang saya maksud, rotinya itu bukan makanan, tapi ... Pembalut...," suara Anna memelan karena agak malu mengucapkannya. "Bapak nggak mungkin membeli *i*tu, 'kan?"


Logan terlihat sedang berpikir. Anna tersenyum, menyangka bahwa Logan terpengaruh. Tapi nyatanya....


"Aku akan membelikannya. Lagipula, aku mau beli minuman," kata Logan, senyumnya lebar tapi menandakan sebuah sindiran.


Anna mendecak. Aduh, gagal! Kalau begini, bagaimana lepas dari pria itu? Apa getok aja kepalanya sampai pingsan?


Logan keluar dari mobil, menghampiri warung kecil itu. Di sebelah kiri etalase warung berdiri sebuah show case yang penuh dengan minuman-minuman dingin. Diambilnya dua botol minuman rasa teh dari sana, kemudian diletakkan di atas etalase.


"Ini dua, roti cokelatnya dua, dan pembalut satu pak," urai Logan sambil mengambil dompet dari dalam saku celananya. "Berapa totalnya, Bu?"


Ibu yang punya warung sempat bingung lalu tersenyum kecil saat Logan menyebutkan "pembalut". Pikirnya, Logan suami yang baik karena membelikan benda penting buat istrinya.


Setelah membayar semua belanjaan itu, Logan kembali masuk ke dalam mobil. Dia lega karena Anna masih di dalam mobil sambil tersungut-sungut.


Pikiran kabur memang ada di benak Anna tadi. Tapi, pria itu cukup cerdas, karena pintu mobil dikunci saat dia keluar.


"Nih!" Logan memberikan kantong berisi roti, pembalut dan minuman. "Makan rotinya."


"Nanti aja di rumah," kata Anna seraya meletakkan plastik di dashboard mobil.


"Kalau kataku makan sekarang, ya, sekarang," sahut Logan, nada bicaranya agak meninggi. "Saya atasan kamu, lho. Kamu harus nurut."


Maksa banget! Anna jadi semakin jengkel. Lalu, ia membalasnya, "Tapi sekarang kita sedang tidak di kantor, Pak. Jadi, terserah saya mau melakukan apa pun."

__ADS_1


Gadis keras kepala, Logan sudah lelah menanggapinya. Lebih baik, ia mengunyah rotinya saja daripada mengomel.


"Pak, tolong turunkan saya di sini," pinta Anna, setengah hati melunak.


"Saya tidak akan mengubah keputusan saya," timpal Logan, dingin.


Anna menghela napas. "Ya, sudah. Bapak jalankan mobilnya. Saya mau pulang karena sudah mengantuk."


Logan menoleh, memasang wajah mengesalkan. "Siapa kamu berani memerintah saya? Pacar bukan, apalagi istri."


Anna membuang muka, melipat kedua tangannya. "Kalaupun saya jadi istri Bapak, saya juga nggak bakal bisa perintah Bapak," celetuknya sangat pelan.


Logan memiringkan kepala, mencoba menengok wajah Anna. "Kamu bilang apa?"


Anna terkesiap dan menoleh cepat. "Ng ... nggak ada!" sahutnya cepat, lalu menyeringai untuk meyakinkan pria itu.


Roti dan minuman sudah ludes dilahap oleh Logan. Sekarang, ia menghidupkan mesin mobil, lalu melajukannya perlahan karena Anna bilang kalau rumahnya ada di dekat di komplek ini.


Anna menunjuk sebuah rumah kecil berpagar biru tanpa teras.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Logan, skeptis.


Anna manggut-manggut, tapi raut wajahnya tak meyakinkan. "Saya tinggal di sini. Memangnya menurut Bapak saya tinggal di rumah mewah? Saya bukan orang kaya."


"Makanya kamu berani menipu saya malam itu?" sindir Logan cepat.


Lagi-lagi! Panas telinga Anna mendengarnya. Ya, sudahlah. Ucapan itu akan ia dengar terakhir kalinya untuk hari ini. Sudah cukup mendengar tuduhannya yang berkali-kali diucapkannya.


Anna membuka pintu mobil. "Terima kasih atas tumpangannya," kata Anna, nadanya agak menyindir. Lalu, ia turun dari mobil, berjalan pincang menuju pagar rumah.


"Ya, sudah. Kamu masuk sana!" kata Logan.


Anna pun tersenyum, berusaha menahan kekesalannya. "Ya, saya akan masuk. Bapak silakan melajukan mobilnya, dan hati-hati di jalan, ya."


"Baiklah." Logan mengalah, kemudian menghidupkan mesin mobil tetapi tidak langsung dilajukan. Ia berkata dulu pada Anna sebelum pergi, "Ingat. Meskipun saya tidak memiliki bukti keterlibatan kamu atas kejadian malam itu, bukan berarti kamu bebas. Saya akan tetap mengawasi kamu!"


"Ya, ya, ya," kata Anna jengkel sambil memalingkan wajah. Dasar bawel!


Akhirnya, pergi juga pria itu. Anna berdiri di sana, memastikan mobil Logan menjauh. Anna menghela napas, mobil Logan menghilang di balik belokan pertigaan.


Suara anjing menggonggong terdengar dari rumah ini. Anna terlonjak kaget sambil menoleh. "Aduh, bikin kaget aja!"


Anjing itu menggonggong lagi, membuat Anna panik. Daripada disangka maling sama orang, Anna buru-buru pergi dari tempat ini menuju rumahnya yang terletak sekitar 100 meter dari rumah ini.


Saat ia sampai di rumah, hanya ada mama yang duduk di sofa dengan TV menyala. Sebelum menghampirinya, Anna berusaha berjalan normal dan menutupi keningnya yang benjol dengan poni.


Anna berjalan perlahan menghampiri mamanya. Pas dilihat dari dekat, Anna mendengus. "Hmm ... Kebiasaan nih, Mama. Nyalain TV, tapi malah ketiduran."


Dan Anna pulalah yang mematikan TV, lalu membangunkan sang ibu dengan menepuk-tepuk pelan bahunya.


"Ma, kalau mau tidur, di kamar aja," kata Anna.


Mamanya tersentak, sontak melihat ke arah anak perempuannya itu. "Udah pulang kamu, Nak?" Lalu, ia memberikan tangannya untuk disalami oleh Anna.


Anna tersenyum lembut. "Mama nungguin Anna? Kan Anna udah bilang nggak usah nungguin. Anna punya kunci cadangan kok."


"Ya, udah. Mama mau tidur di kamar," kata mama seraya beranjak dari sofa. "Kamu juga deh istirahat di sana."


Anna merangkul mamanya. Keduanya berjalan bersama keluar dari ruang tamu. Namun, siapa yang bisa menyembunyikan sesuatu dari sang ibu? Mamanya curiga melihat jalan Anna yang pincang.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya mama, memperhatikan kaki Anna.


Anna terhenyak, panik. "Em ... Nggak apa-apa—" jawabnya agak menggantung.


"Ayo, duduk. Sini, Mama pijitin." Mama menarik tangan Anna, membawanya ke sofa.


"Nggak usah, Ma. Aku tidak apa-apa," tolak Anna, menahan langkahnya.


Tapi Mama tetap memaksa. Mama menekan pundak Anna supaya duduk di sofa, sementara wanita itu mengambil obat pijat.


Mama kembali dengan membawa obat gosok. Saat akan menuangkan minyak itu, Anna mencegahnya lalu merenggut botol minyak itu dari tangannya.


"Biar aku aja yang pijat kaki aku. Mama istirahat deh."


Mama tidak memaksa. Maka, dibiarkan Anna memijat pergelangan kakinya sambil mengoleskan minyak gosok.


"Kenapa bisa jadi begini?" tanya mama, cemas.


Anna memutar bola matanya, berpikir. "Em ... tadi aku terpeleset di kamar mandi kantor."


"Makanya, kamu hati-hati," seru Mama, tak sengaja memukul bagian kaki Anna yang sakit.


Sontak, Anna menjerit kesakitan. Mama langsung kaget, lalu panik sampai latah. Mamanya meminta maaf pada Anna berkali-kali atas ketidaksengajaannya melakukan hal itu.


🍀


Logan, Kenan, dan Evan melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Evan mengatakan bahwa pemilik perusahaan Trijaya Group ingin bertemu dengannya mengenai kesepakatan yang pernah ia tawarkan.


"Selamat pagi, Pak Edo," sapa Logan, mengulurkan tangan dan menjabat tangan pria paruh baya itu.


"Selamat pagi, Pak Logan," balas pria itu.


Logan mempersilakan tamunya untuk duduk. Evan langsung mengeluarkan sebuah berkas, yang kemudian diletakkan di atas meja.


"Ini adalah rincian soal tanah bekas pabrik gula itu," terang Logan.


"Em ... Kenapa Anda ingin menjualnya?" tanya Pak Edo, setelah membahas berkas itu dengan pria yang diduga orang kepercayaannya.


"Karena pabrik itu—" Bunyi ponsel Logan membuatnya berhenti berucap.


Logan meminta izin untuk memeriksa pesan masuk yang berisi sebuah video dari nomer yang tidak dikenal.


"Video apa ini?" gumamnya, akan menekan tombol "play". Namun, gerakannya terhenti saat membaca pesan yang muncul di bawah video itu.


"Kalau Anda tidak ingin video skandal Anda dengan wanita ini tersebar, maka Anda harus menuruti permintaan saya."


Logan mendelik. Video skandal? Jangan-jangan video....


"Maaf, Pak Edo. Saya mau pergi keluar sebentar," katanya, meminta izin.


Semua orang saling menatap bingung. Mereka bisa melihat kerutan kecemasan di wajah Logan, seperti sedang ada masalah yang menimpanya.


Logan menjauh dari tempat itu, bersembunyi di sebuah ruangan menuju pintu darurat. Napasnya tersenggal-senggal, gugup, sekaligus tegang.


Ditatapnya layar ponselnya, dengan ibu jari di atasnya. Ia menelan air liurnya, menegang ketika mulai menekan tombol "play".


Ternyata benar! Para penipu itu akhirnya bergerak dengan mengirimkan video pemerkosaan yang dilakukannya terhadap Anna di kapal pesiar malam itu.


"SIAL!" teriaknya, membanting ponselnya.[]

__ADS_1


__ADS_2