Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH DELAPAN


__ADS_3

Apakah Anna tidak sadar bahwa Logan sangat mengkhawatirkannya dan bayi mereka?


"Bertemu dengan orang seperti itu bisa terjadi kapan saja," ucap Logan. "Tadi aku ke rumah orangtuamu karena ingin bersilahturahmi dengan mereka. Tapi apa yang kulihat tadi, kau hampir celaka karena orang itu."


Anna makin bertanya-tanya dalam benaknya. Hatinya terasa menghangat mengingat kejadian di rumah orangtuanya tadi. Ucapan "istrinya" yang dikatakan oleh Logan membuatnya tersentuh. Padahal, bukan pertama kalinya Logan menyebutnya begitu. Apa pria itu mulai....


Tidak, Logan. Jangan buat Anna berprasangka lagi. Anna tidak mau tersakiti karena perasaan itu. Anna pun melepas pelukan itu, lalu berjalan menuju ranjang sembari berkata pelan:


"Terserah kamu aja."


Logan melirik gerakan Anna, diam-diam tersenyum karena besok ia akan melakukan hal yang akan dilakukannya sebagai suami Ia menghembuskan napas. Jantungnya jadi berdebar menanti hari itu.



Berkas terakhir bermap biru ini adalah berkas yang terakhir yang ditandatanganinya. Sebelum tepat pukul 3 sore, pekerjaannya berakhir, lantas ia akan beranjak dari kursi.


Namun, pintu ruangannya diketuk dari luar. Ia menduga mungkin Anna yang datang.


"Masuk!" serunya.


Bukan ternyata. Sepasang kaki jenjang yang begitu cantik dengan sepatu heels merah muncul. Saat Logan melihat rupa wanita itu, ia terkejut.


"Nina? Kau...."


"Surprise!" seru wanita itu tersenyum, dengan penampilan barunya.


Nina yang dikenal Logan dulu adalah seorang gadis berpakaian manis dan menawan. Namun, gadis itu telah memotong rambut cokelat panjangnya menjadi sepanjang bahu dan diwarnai hitam. Gaun putih yang dipakainya juga cukup ketat, dan batasnya hingga di atas lutut.


Sambil membuka kacamata hitamnya, Nina menghampiri Logan, berdiri di samping pria itu. Wajahnya perlahan didekatkan ke wajahnya, tapi Logan menghindar dengan cepat.


Nina tertegun sesaat, agak kecewa. Lalu, tersenyum lagi sambil menegakkan badan. "Apa kabar, Logan? Kenapa kau pulang duluan ke Jakarta? Kan aku sudah katakan, kita akan kembali ke sini bersama."


Logan menoleh dengan dahi mengernyit. Yang dibilangnya apa? Bukankah orangtua Nina akan menjelaskan semua yang terlupakan oleh Nina sebulan yang lalu?


"Nina ..." Logan memejamkan mata sejenak. "Kita udah putus—" Ucapannya menggantung karena terlalu pedih untuk membuat hati gadis itu merasa sakit.


Tiba-tiba Nina memegang kepalanya. "Ah! Kepalaku sakit!" jeritnya.


Logan beranjak, memegangi bahu Nina agar dia tidak terjatuh. "Nina, kau kenapa?" tanyanya cemas.



Biasanya, kalau sudah tidak ada pekerjaan, Kenan akan langsung pulang. Namun, kali ini ia malah duduk di kursinya dengan angan melayang jauh.


Seorang pegawai mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendengar sahutan Kenan. Wanita itu membawakan sebuah berkas yang berisi resume dari calon sekretaris yang sudah diwawancara.

__ADS_1


"Ini, Pak. Kami memilih dua kandidat yang memenuhi syarat," kata wanita itu sambil meletakkan berkas-berkas itu di meja.


Kenan mengambil salah satu berkas, lalu dibacanya dengan seksama sambil mendengarkan penjelasan dari wanita itu tentang si kandidat. Namun, salah satu pelamar menarik perhatiannya.


"Wajahnya mirip Anna," gumamnya pelan, melihat foto pelamar itu.


Ah, ngaco banget! Apa karena dari tadi memikirkan Anna, semua wajah orang dibilang mirip.


"Jadi, Bapak pilih yang mana?" tanya pegawainya, ketika melihat Kenan meletakkan CV pelamar sambil menghela napas.


"Kalau menurut kamu, siapa?"


"Pelamar yang CV-nya Bapak pegang tadi," jawab wanita itu polos.


"Saya juga setuju sebenarnya. Ya, sudah. Hubungi dia!"


"Baik, Pak." Wanita itu menundukkan kepala sejenak, lalu pergi keluar ruangan setelah mengambil CV para para pelamar di meja Kenan.


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel. Sebuah pesan, yang membuatnya mengernyit sejenak, lalu menghela napas panjang.


"Saatnya jadi hero."



Anna sudah bersiap untuk pergi ke dokter kandungan sore ini. Ia menunggu di kamar, duduk di depan cermin hias.


"Nyonya, boleh saya masuk?" seru seorang pelayan, setelah mengetuk pintu kamarnya dua kali.


"Masuk saja." Anna membalas seruan itu.


Si pelayan membuka pintu, mengangguk hormat sambil tersenyum. "Nyonya, ada Tuan Kenan di luar."


Kenan? Anna menaikkan alisnya sebelah. "Oh, saya akan menyusulnya ke ruang tamu."


Anna keluar ruangan dengan dibuntuti oleh pelayan tadi sampai ruang tamu. Kenan yang melihat Anna datang menghampiri, berdiri sambil mengulas senyum.


"Udah siap?" tanyanya.


Mata Anna membulat. "Siap ke mana?"


"Ke dokter kandungan."


"Dokter kandungan...."


Sejenak, Anna tertegun karena teringat oleh ucapan Logan semalam.

__ADS_1


Jika Kenan yang datang, berarti Logan masih sibuk bekerja. Dan Logan meminta bantuan Kenan untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Memang bukan masalah besar, tetapi Anna jadi kecewa. Senyumnya luruh, bersamaan dengan kebahagiaan dan khayalan menyenangkan bersama dengan Logan saat memeriksakan kandungan selayaknya pasangan suami-istri yang lain.


"Ya, sudah." Anna menghela napas. "Aku ambil tas dulu."


.


.


.


Anna tak tampak seperti dirinya yang ceria kini—bermuram durja sambil menatap pemandangan di luar kaca jendela mobil.


Kenan memperhatikan rasa kecewa gadis itu melalui kaca spion. Ia menghela napas, tak ada yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan perasaan itu dari benak Anna.


"Anna," seru Kenan, berhasil membuat Anna mengalihkan perhatiannya. "Masa ada pelamar pekerjaan di kantor aku yang kalau di foto wajahnya mirip sama kamu."


Senyum getir Anna terulas. "Emangnya, kamu buka lowongan kerja untuk jabatan apa?"


"Sekretaris," sahut Kenan. "Sekretaris lama aku harus mengikuti suaminya ke Semarang setelah nikah. Jadi, aku buka lowongan kerja. Sudah banyak pelamar, dan tadi dipilih dua kandidat yang hasil interview-nya oke."


"Kenapa nggak bilang sama aku? Adikku sedang mencari pekerjaan baru." Anna mengatakan ini hanya menggodanya saja, sungguh tidak serius.


"Kenapa dia cari pekerjaan baru? Apa karena gajinya kecil?" timpal Kenan, menoleh sedikit.


"Nggak. Dia tidak betah karena bosnya genit."


"Wah! Dia lebih nggak betah lagi kalau kerja sama bos pecicilan kayak aku," seloroh Kenan, hingga akhirnya membuat Anna tertawa.


Kenan mengubah suasana hati Anna dengan obrolannya, meski masih tersisa rasa kecewa yang tertahan di hati Anna.


Sepuluh menit sebelum pukul 4 sore, mobil Kenan sudah terparkir di rumah sakit. Pria itu membukakan pintu buat Anna, lalu berjalan di sampingnya menuju pintu masuk rumah sakit.


Hal mengejutkan terjadi ketika mereka sampai di depan pintu masuk. Mereka berpapasan dengan dua sosok tak asing, yang sedang berjalan bersama sambil merangkul.


Tak disangka Anna akan melihat hal ini. Kalau tidak, Kenan akan menghalangi pandangan Anna. Namun sayangnya, keberadaan Logan dan Nina sudah di depan mata. Logan terkejut, mereka mematung dalam beberapa saat.


"Ah! Kepalaku sakit, Logan," desis Nina, sontak menggenggam erat tangan Logan.


Anna memalingkan wajah, menghela udara menyesakkan yang terkekang di dadanya.


"Anna." Kenan menyentuh pinggang Anna, menghelanya pelan. Dialah yang paling menyadari situasi yang semakin tak nyaman ini. "Ayo, kita masuk ke dalam."


Seandainya Logan tak terkekang oleh Nina, ia akan berlari menghampiri Anna, merenggut posisi Kenan di sampingnya, lalu membawanya ke ruang dokter kandungan.

__ADS_1


Namun, ia hanya dapat menatap kepergian mereka, mengepalkan tangannya sampai jari-jarinya memutih.[]


Aduh, maaf banget kemarin abis nulis malah ketiduran.


__ADS_2