Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH SEMBILAN PART 2


__ADS_3

Ayah memperhatikan mama yang terus bermuram durja di kamar. Ia tak mengatakan apa pun, bahkan enggan menatap Anna.


Sebagai kepala rumah tangga, tentu ayah tak ingin suasana dingin ini terus seperti ini. Anna juga sedih, dan ia khawatir akan mengganggu kesehatannya di masa kehamilan.


"Ma," panggilnya, lembut ketika ayah duduk di sampingnya. "Kita tidak bisa seperti ini. Bagaimanapun, kita harus membuat sebuah keputusan."


Mama hanya menoleh sedikit, tampak tak berminat membahas soal yang menyakitkan hatinya ini.


"Saya tahu Mama kecewa pada Anna, tapi yang terjadi bukan atas kemauannya," kata ayah lagi. "Tasya sudah menceritakan semuanya. Kehamilan Anna karena kecelakaan yang tidak bisa dihindari."


Akhirnya, ayah menceritakan kronologi peristiwa di kapal pesiar yang menimpa Anna. Mata mama langsung berurai air mata. Anak gadisnya itu kenapa bernasib malang begini?


"Tapi, apa tidak ada cara selain menikahkan mereka?" isak mama. "Mama tidak mau Anna menikah dengan pria tidak seiman."


Ayah termenung sejenak, lalu menggeleng muram. "Hanya itu jalan satu-satunya."


Mama menghela napas, tangisan semakin keras di dalam pelukan suaminya. "Jika memang begitu, kita setujui saja pernikahan mereka. Kita beri syarat agar Anna tetap pada keyakinannya."


Ayah mengangguk setuju. Tak perlu buang waktu lagi, ayah mengambil ponselnya, menghubungi nomer telepon yang tertera di kartu nama berwarna emas itu.


"Halo, Pak Matthew. Maaf mengganggu. Apa kita bisa bertemu? Kami ingin membicarakan soal pernikahan Anna dan Logan."

__ADS_1



"Menikah dengannya?" Renung Anna, dengan dagu bersandar di atas meja.


Ia menghela napas. Bagaimana bisa dua orang keras kepala yang tidak saling cinta berada dalam lingkaran hubungan yang sakral itu? Ia tidak yakin hubungan ini bertahan lama.


Ia menguap lebar. Kehamilan ini sering membuatnya mengantuk. Tadinya, ia beranjak ke ranjang untuk tidur, tetapi suara ketukan pintu kamar menahannya.


Dibukanya pintu kamar, sontak ia terkejut melihat mamanya di depan pintu sambil membawa segelas jus mangga. Terharu rasanya, sampai tak sadar kalau air mata sudah menggenangi matanya.


"Terima kasih, Ma," kata Anna sambil mengambil minuman itu.


Hatinya bagai tertusuk duri tajam, tetapi ia tetap memaksakan tersenyum, mulai ikhlas dengan semua yang terjadi.


"Tidak apa-apa," kata mama. "Mama dan ayah sudah memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya."


Anna menaikkan wajahnya, tertegun. "Maksudnya?"


"Kamu harus siap-siap. Sebentar lagi, kamu akan menjadi istri sekaligus seorang ibu."


Apa? Ini lebih mengejutkan dari jatuhnya bom nuklir! Artinya, orangtuanya setuju menikahkannya dengan Logan?

__ADS_1


Mama meninggalkan Anna yang masih tidak percaya mendengar hal itu. Sadar mamanya sudah tidak ada di sini, Anna masuk ke dalam kamar.


"Aduh, kenapa jadi gini?" gumamnya, lalu meminum jusnya sedikit.


Ia sampai berpikir keras karenanya, sambil duduk di ranjang dan menikmati jusnya sampai habis.


"Apa aku bicarakan aja sama Logan?" gumamnya pada tenggakan terakhir.


Lantas, ia beranjak, akan turun ke bawah untuk meletakkan gelas. Tidak dinyana, ia hampir saja menabrak Logan yang muncul di depan kamarnya. Ia mendelik, mengalihkan tatapannya pada pria bertubuh tinggi itu.


"Pak Logan?" Kemudian, ia mendeham sambil memalingkan wajah. "Ada apa Bapak ke sini?"


"Cepat ganti baju! Aku tunggu di bawah," katanya datar.


Ganti baju? Anna mengernyit heran. "Tunggu!" serunya, mencegah Langkah Logan. "Bapak mau bawa saya pergi?"


Logan berbalik tepat di hadapan Anna sekarang. "Iya. Jadi, jangan buang waktu saya. Cepat ganti baju!"


Anna memanyunkan bibirnya. Inilah sifat yang tidak disukainya pada pria itu. Siapa yang tahan dengan pada pria yang tidak ada lembut-lembutnya kalau bicara?


Ah, terserah! Anna pun menuruti katanya. Ia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.[]

__ADS_1


__ADS_2