Matthelina

Matthelina
[season 2] CHAPTER DUAPULUH TUJUH


__ADS_3

Dalam sekejab, rumor pun menyebar. Setiap langkah, Sifa melihat beberapa karyawan berkumpul, atau berjalan sambil berbisik mengenai keributan tadi.


"Mbak Anna pasti merasa malu," gumamnya dalam hati.


Gita berjalan cepat memasuki ruang kerja Anna. Hampir saja, ia menjatuhkan botol minuman yang dibawa oleh Sifa karena tak sengaja menyenggol lengannya.


Gita terkejut sekejab. "Sori. Sifa, mana Anna?"


"Di meja kerjanya," jawab Sifa.


Kedua gadis itu menghampiri meja Anna, yang kini tengah memijat kepalanya yang pening. Anna menyadari keberadaan mereka, lalu menoleh.


"Kak, ini saya bawakan minum," kata Sifa sembari memberikan botol minuman air mineral.


"Terima kasih."


Anna sempat melirik Gita ketika menerima botol itu. Ia tak sanggup berlama-lama menatapnya, karena kelihatannya gadis itu seperti akan menerkamnya oleh pertanyaan.


"Benar yang gue dengar dari orang kalau lo ... Hamil?" cecar Gita, seakan ragu untuk mengatakannya.


Anna menenggak minumnya sambil memikirkan jawaban apa yang harus dikatakan. Namun, Gita sepertinya tidak sabar mendengarnya. Jadi, ia hanya minum sedikit air, dan menjawab:


"Semua orang mendengarnya dengan jelas. Jadi, itu bukan rumor." Setelah itu, Anna melanjutkan minum.


"Terus, benar kalau kamu berselingkuh sama bos Logan?"


Anna terkejut bukan main, sampai menyemburkan air. Sifa dan Gita terkejut dan cemas. Lantas, Sifa memberikan sehelai tisu untuk Anna.


"Gosip!" sahut Anna, tegas, setelah selesai mengelap bibirnya.


"Terus, kok bisa lo hamil anaknya si bos?"


Jadi, dia meragukannya? Anna mendengus. "Gita, kita berteman nggak setahun dua tahun! Lo tahu kan kalau gue anti selingkuh?"


Iya, juga. Gita jadi meragukan gosip itu. Hanya saja, ia penasaran. Kenapa kehamilan ini terjadi? Sayangnya, pertanyaan itu tak sempat ditanyakan karena telepon pada meja kerja Anna berdering.


"Halo, Pak," angkat Anna.


Perlahan, dahi Anna mengernyit, membuat Sifa dan Gita saling menatap tercengang. Sepertinya, ada hal serius yang mengharuskan Anna untuk ke ruangan CEO setelah menutup telepon itu.


"Anna." Gita menyentuh lengan Anna, mencegahnya pergi. "Ada apa?"


Anna menaikkan kedua bahunya, rada cemas juga, sebenarnya. "Nggak tahu." Lalu, ia menghela napas. "Gue pergi dulu."


Pikirannya berkecambuk. Mungkin Logan ingin membicarakan kesepakatan lagi soal bayi ini? Atau dia masih berniat untuk membujuknya melakukan aborsi?


Anna berhenti melangkah, mulai ragu lagi. Kalau memang begitu, ia tidak akan pergi ke sana. Tapi ... Bagaimana kalau bukan hal itu yang ingin dibicarakan....


Ah! Pergi saja lah. Apa pun yang mau dikatakannya, ia tak perlu gentar meskipun alur detakan jantungnya cukup kencang bahkan sampai sesak.

__ADS_1


Sesampainya di sana, ia berhenti melangkah. Diketuknya pintu itu, setelah ada sahutan dari dalam, ia membuka pintu.


Seseorang yang dilihatnya dari balik meja kerja itu bukan Logan, melainkan seorang pria setengah baya yang ketampanannya masih terjaga. Sementara Logan, duduk di hadapan pria itu, menoleh pada Anna.


"Silakan masuk, Nona Anna," kata pria itu, sopan.


Dengan canggung, Anna masuk ke dalam, lalu dipersilakan duduk oleh pria itu. Anna baru mengetahui bahwa pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Matthew, ayahnya Logan, setelah pria tua itu memperkenalkan diri.


"Saya sudah melihat semuanya tadi," mulai Matthew, menegakkan badannya dan meletakkan jemarinya yang saling terjalin di meja. "Tapi saya masih belum paham dengan apa yang terjadi. Jadi, tolong ceritakan biar permasalahan ini bisa diselesaikan."


"Biar aku saja yang menjelaskan," kata Logan, sebelum Anna menyerobot untuk berbicara.


Pria itu melirik Anna, yang juga sedang menatapnya. Dengan tatapan serius Logan menceritakan kejadian awal saat di kapal pesiar satu bulan yang lalu.


Matthew mendengarkan dengan seksama dan tanpa menyela sambil meletakkan jalinan jemarinya di dagu. Setelah itu, ia membuat kesimpulan.


"Jadi, ini bukan perselingkuhan?" tanya Matthew.


"Bukan, Pak," sahut Anna, langsung mengelak. "Ini hanya 'kesalahan satu malam' saja, Pak."


"Dan Logan menolak bertanggung jawab?"


"Iya, Pa," timpal Logan seraya mengangguk.


Matthew menghela napas, ekspresi tenangnya berubah menjadi gusar. "Logan, Papa kecewa sama kamu. Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk jadi pengecut begini!"


Baik Logan maupun Anna, saling menunduk. Dari pengamatan Anna, Logan tampak tak kuasa melawan papanya.


Logan mendongak cepat. "Hanya itu cara satu-satunya, Pa. Kami tidak mungkin menikah karena kami berbeda keyakinan."


Benar sekali. Dan Anna menimpali, "Sebenarnya, saya punya cara lain, Pak."


"Cara apa?" tanya Matthew, tertarik.


"Saya hanya ingin Pak Logan membiayai saya selama kehamilan sampai melahirkan. Kalau Pak Logan tidak mau membesarkannya, biar saya saja yang melakukan. Asal, Pak Logan mau membiayai semua kebutuhan anak itu, termasuk pendidikannya."


Bukan ide yang buruk. Dan Logan langsung menimpali, "Saya setuju! Cara itu terdengar lebih baik."


"Tapi Papa tidak setuju!" tukas Matthew tegas. "Kasihan Anna, keluarganya harus menanggung aib itu. Lagipula, anak butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya."


Anna pun yakin, kalaupun ia dan Logan menikah, anak itu hanya mengenal Logan sebagai ayah tanpa merasakan belaian sayang darinya.


Logan menghirup napas dalam-dalam, dihembuskan dengan kencang sebagai tanda ketidaksetujuannya. "Pa, kami tidak saling mencintai. Percuma menikah, kalau pada akhirnya kami pasti akan bercerai."


Matthew terdiam, menatap lamat-lamat kedua insan muda yang pikirannya masih belum matang itu. Kemarahan tidak ada gunanya untuk menghadapi mereka. Lambat laun, ekspresi dan sikapnya berubah tenang.


"Logan, Anna, tidak ada yang tahu takdir seperti apa yang akan kalian hadapi nanti. Cinta tidak menjamin pernikahan bakal awet."


Setelah itu, Matthew beranjak dari kursi. "Coba kalian pikirkan lagi," lanjutnya. "Logan, antarkan Anna pulang! Selama seminggu ini, Anna tidak boleh bekerja dulu."

__ADS_1


Apa? Anna langsung mendongak, memprotes, "Saya tidak apa-apa kok, Pak. Saya masih kuat bekerja."


"Tidak, kamu harus istirahat," sahut Matthew. "Anna, tolong jaga cucu saya." Tatapan Matthew kini teralihkan pada anaknya. "Logan, cepat antarkan Anna pulang!"


Pulang bersama? Anna dan Logan saling tercengang.


"Nggak usah, Pak. Saya bawa motor kok," sahut Anna, menolak.


Namun, Matthew tak mau mendengarkannya, dan malah berkata, "Kalian juga belum makan siang, 'kan? Logan, bawa Anna ke restoran, pesankan makanan yang Anna suka!"


"Tapi, Pa—"


"Nggak ada tapi-tapi!" potong Matthew. "Anak itu akan jadi pewaris utama keluarga Jonathan. Jadi sebagai ayahnya, kamu harus menjaga dan memberikan yang terbaik buat Anna dan bayi itu."


Matthew pun melangkah pergi, membiarkan Anna dan Logan yang tak berdaya pada keputusan itu.


"Cepat beres-beres!" perintah Logan pada Anna. "Aku akan mengantarkanmu pulang."


"Tidak perlu, saya masih ada pekerjaan," sahut Anna.


Anna terhenyak sekejab ketika tatapan tajam Logan mengarah padanya.


"Bisa tidak, kamu menurutiku?"


Ayolah! Apa dia benar-benar akan melakukan perintah papanya? Dikira, Anna tidak tahu bahwa Logan tidak ingin melakukan hal itu?


"Bapak tidak akan kehilangan warisan hanya karena tidak melakukan perintah pak Matthew," kata Anna sedikit menyindir. "Nanti, tinggal bilang saja kalau Anda sudah melakukan semua yang dimintanya. Beres, 'kan?"


Sadar tidak bahwa Anna semakin membuat pria itu kesal. Logan menghampirinya dengan tatapan bengis, membuat Anna gemetaran dan tanpa sadar beringsut mundur.


Logan terus melangkah maju, hingga akhirnya Anna pun terpojok dan tak bisa mundur karena ada tembok. Atmosfir dingin ini, membuat firasat Anna tidak enak.


"Semua itu karena kamu!"


"Sa ... sa ... saya? Kenapa saya yang disalahkan?"


"Kalau saja kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak mengadu pada Kenan, pasti tidak akan seperti ini!" tuding Logan, meninju tembok.


Anna tersentak, spontan menutup mata. Memang harus ia akui hal itu benar, dan ia menyesali keputusannya untuk bercerita pada Kenan.


"Tapi," Anna memberanikan diri untuk menatap wajah Logan, "saya nggak tahu kalau Kenan akan membongkarnya."


"Alasan!" bentak Logan. "Kamu sengaja mengatakannya supaya dapat simpati dari Kenan, kan? Sebenarnya, dari awal kamu berencana ingin memanfaatkannya, dan membujuknya agar dia yang bertanggung jawab atas bayi itu. Iya, 'kan? Heh! Dasar gadis picik!"


Sudah Anna duga, pria itu pasti akan menudingnya seperti ini. Ia tak bisa menahan hinaan ini lagi! Tangannya terkepal kuat, ingin rasanya meninju wajah pria itu, tak peduli jika ketampanannya berkurang.


Namun, ia tak melakukannya, malah menyindirnya sambil mengetuk-ketuk dinding, "Amit-amit jabang bayi! Semoga anak ini sifatnya nggak sama kayak Bapaknya!"


Kemudian, Anna menginjak kaki Logan dan mendorongnya. Logan menjerit kesakitan, berseru memanggil Anna yang sedang keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


"Rasain!" gumam Anna, kesal.[]


__ADS_2