Matthelina

Matthelina
chapter 30


__ADS_3

Seketika suasana di ruangan itu membeku bagai terkena sentuhan sihir es. Baik Monika dan Dewi sama-sama, bahkan lebih terkejut dari yang tadi.


Apa yang terjadi pada anak lelakinya yang penurut itu? Sejak kecil sudah disuapi oleh nasehat moral ketimuran yang religius. Semuanya Matthew serap dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, kenapa dia melanggarnya? Apa Dewi, yang sebagai ibu, masih kurang memberikan nasehat lainnya? Atau karena kemegahan London yang membuat Matthew berubah?


Dewi sangat syok. Ia sangat sedih, sampai asmanya kambuh sebelum air matanya sempat keluar.


Matthew dan Monika panik saat mendengar napas sang ibu tersendat-sendat sambil memegang dadanya. Mereka menghampiri, termasuk Elina yang hanya berdiri di dekatnya. Lantas, Monika dan Matthew membawanya ke luar rumah menuju mobil. Elina berjalan mengikuti mereka, tapi dicegah Matthew, menyuruhnya untuk menunggu di rumah. Monika melajukan mobilnya, membawa Dewi ke rumah sakit terdekat.


-;-;-;-


Monika berjalan bolak-balik di depan kamar ibunya dirawat dengan perasaan cemas. Menunggu dokter, yang memeriksakan keadaan ibunya, keluar dari ruangan itu dan segera memberitahukan kondisinya.


Ia melirik Matthew, yang duduk di lorong ini, dengan jari-jari yang disatukan untuk menopang dagunya. Termenung sedih, kadang mendesah frustasi dan duduk dengan resah.


Kejadian ini, entah siapa yang harus disalahkan. Ia perlu tahu apa yang terjadi, dan ia membahasnya sekarang. Didekatinya Matthew, lalu duduk di sampingnya. Matthew pun menoleh.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanyanya pelan dan tenang. "Kau tidak mungkin seperti itu, kalau bukan karena rayuan Elina, kan?"


Matthew menatap geram. Bisa-bisanya kakaknya menuding Elina seperti itu. "Apakah di matamu, Elina tampak seperti itu?" tanyanya tersinggung.


Selama ia mengenal Elina, yang terlihat hanyalah seorang gadis lembut, sopan, selalu menjaga sikap. Tapi bukannya yang tampak di luar, belum tentu sama dengan yang ada di dalam hatinya, kan?


"Lalu, ceritakan. Bagaimana awalnya kehamilan itu terjadi?" kata Monika mengalihkan.


Matthew menceritakan awal tragedi liburan yang dirancang oleh ketiga temannya, lalu memberinya minuman alkohol berkadar tinggi dan berviagra, selanjutnya pemerkosaan yang ia lakukan, tanpa mengatakan hal sebenarnya tentang Elina yang merupakan seorang wanita panggilan.


Awalnya Monika terkejut, tapi ia merubah pandangan tentang Matthew; adiknya tidak pernah berubah, kehamilan itu dikarenakan ketidaksengajaan. Ia sedikit lega, walaupun keresahannya belum hilang karena masalah ini belum usai.


"Lalu, kenapa kalian tidak menikah?" Monika lanjut bertanya.


Matthew mengunci rapat mulutnya, menunduk dan termenung. Jawaban atas pertanyaan ini sangat memilukan. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan hatinya.


"Untuk apa aku menikahinya, jika Elina tidak mencintaiku?" jawabnya pahit. "Aku membuat perjanjian dengannya: akan membiayainya selama kehamilan, sampai bayi kami lahir. Elina akan memberikan anak itu padaku untuk diasuh, setelah itu dia akan pergi untuk selama-lamanya."


Monika menutup mulutnya, terkejut, tak percaya Elina seegois itu.


Karena tak ada tanggapan, Matthew melanjutkan, "Rumah itu, aku sewa selama setahun untuk dia tinggali."


"Bagaimana dengan orangtuanya? Apa mereka tahu?"


Matthew menggeleng. "Ibu dan adiknya tidak tahu, hanya teman Elina yang tahu. Mereka telah sepakat untuk merahasiakan kehamilan itu."


Monika menegakkan badannya. "Kenapa tidak kau bujuk saja untuk menikahinya?"


Matthew menoleh dan menatap mata kakaknya itu. "Bagaimana perasaanmu waktu kak Dimas melamarmu?"


Monika pun membisu.


"Aku tidak mau memaksa Elina. Kau sudah tahu bagaimana akhirnya menikah dengan paksaan, kan?" Matthew melanjutkan. Kemudian, ia bersandar sambil menghela napas. "Aku tidak mau membuatnya terluka, walau aku tahu dia tidak akan sepertimu. Lebih baik aku yang terluka."


Monika menatap adiknya lamat-lamat, menangkap sesuatu di balik kata-katanya. Sesaat mengatakan itu, Matthew menyandarkan kepalanya ke dinding, matanya menyendu. Kata-kata yang diucapkannya terdengar tulus. Mungkinkah ini....


"Matthew,"panggilnya.


Matthew menoleh. "Hmm?"


"Apakah kau mencintai Elina?"


Sebelum mengatakannya, Matthew terdiam cukup lama menatap Monika, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. Kemudian, baru ia menjawab lirih, "Iya, aku sangat mencintai Elina."


-;-;-;-

__ADS_1


Elina di rumah menunggu dengan resah. Pria itu tak juga memberikan kabar dan sulit dihubungi. Apa yang telah terjadi? Dan malam semakin larut. Ia tak henti-hentinya merasa cemas, menunggu di ruang tamu sambil terus melihat ke arah pintu.


Ia langsung sigap berdiri, melihat pintu dibuka dari luar oleh Matthew. Pria itu tertegun, mendapati gadis itu sedang melangkah ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Nyonya Dewi?" cecarnya.


"Dokter telah mengatasinya. Jangan cemas," jawab Matthew. "Apa kau sudah makan?"


Nasi di meja makan telah mendingin, begitu juga dengan ayam goreng dan sayur capcaynya, diletakkan di dalam tudung saji, tanpa sempat ada yang menyentuhnya.


Matthew mengajak Elina ke meja makan untuk makan bersamanya, meski sedang tidak nafsu makan. Jika ia mogok, Elina pun juga begitu. Ia tak mau Elina mengabaikan kesehatannya dan bayinya yang sedang dikandungnya.


Makanannya dilahap seperti biasa, tetapi Elina tetap saja tidak mau makan. Nasinya diaduk-aduk, tampak tidak selera. Matthew berhenti mengunyah dan menegurnya.


"Makanlah. Jangan mencemaskan apa pun."


Elina mendongak, terdiam sejenak. "Ini salahku."


"Tidak ada yang salah," Matthew menyela, kembali menyantap makanannya


"Jika semua itu tidak terjadi...."


"Maka takdir tidak akan mempertemukan kita," decak Matthew, gemas.


Keduanya hening dan saling menatap sesaat. Ada sesuatu perasaan yang muncul di antara mereka berdua, entah itu apa. Setelah itu, kecanggungan terjadi. Elina mengalihkannya dengan terpaksa menyantap makanannya, begitu juga dengan Matthew.


Namun kemudian, Matthew kembali berkata, "Jika itu bukan kau, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin yang kudapatkan adalah seorang wanita licik yang suka memeras. Kita tidak akan saling mengenal, berbagi cerita, dan...."


Perasaan. Itulah yang hendak ia ungkapkan. Tapi ia meraih gelas dan menenggak sisa airnya sampai habis. Setelah itu, tak ada pembicaraan lagi, bahkan setelah makan malam itu selesai.


Matthew membantu Elina mencuci piring--ia yang kebagian tugas membilas piring yang sudah disabuni Elina, kemudian ia menata piring ke rak. Tak ada pembicaraan selama itu.


Elina yang sedang duduk di meja makan menoleh, pandangannya mengikuti arah pria itu, yang kini tengah duduk di sampingnya, dengan segelas susu hangat.


Matthew memberikan susu itu pada Elina, sambil kembali berujar, "Kau tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal sendirian?"


Susu yang diterimanya tak langsung diminum. Elina tampak sedang berpikir, lalu sebuah anggukan ia berikan sebagai jawaban.


"Kau harus ingat, jangan sampai telat makan. Beritahu aku jika terjadi sesuatu. Dan, jaga bayi kita."


Bayi kita. Terkadang Elina merasa risi mendengar Matthew mengatakannya. Ia ingin memprotes, juga mengatakan bahwa ia tak mau menganggap bayi itu. Tetapi kali ini, ia senang mendengarnya. "Bayi kita", ia juga ingin mengucapkannya. Ia tersenyum di balik gelas.


"Tapi mungkin, aku tidak akan menginap di rumah ini lagi." Suara Matthew seakan lesu, disertai oleh desah napas berat.


Elina berhenti meminum susunya, lalu melirik. Sejujurnya, ia merasa kecewa tanpa kehadiran Matthew. Dia yang menemani setiap malam, meski beda kamar. Memberikan rasa aman, kala teror pria asing menghantuinya selama beberapa minggu terakhir. Melihat wajahnya setiap hari, memasakkannya makanan. Itu adalah saat-saat senyumnya kembali merekah tanpa ia sadari.


"Kakakku yang melarangku," Matthew melanjutkan. "Aku sudah menceritakan permasalahan kita. Dia juga sudah tahu alasan kita tidak menikah. Tapi demi menjaga kehormatan keluarga dan kesehatan ibuku, aku hanya diperbolehkan menemuimu."


Elina meletakkan gelasnya lesu. Tidak apa-apa, itu adalah ide yang tepat. Lagi pula, ia tidak berhak melarang Matthew.


"Aku mengerti," gumam Elina, setelah lama terdiam. Bibirnya mengulas senyum tipis, ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. "Tenang saja, aku akan menjaga diri dan bayi kita."


Mata Matthew membulat, hatinya mencelus. Saat Elina mengatakan "bayi kita", ada rasa haru dan bahagia. Andai mereka adalah pasangan yang saling mencintai, ia akan menjadi pria yang paling bahagia. Namun, kecemasan tetap terperangkap di dalam pikirannya. Senyuman Elina, malah membuatnya semakin gelisah.


-;-;-;-


Matthew menghubungi seorang supir untuk menjemputnya di suatu tempat. Ia akan langsung ke kantor, lalu memerintahkan supir untuk membawa bajunya ke rumah ibunya.


Ia bekerja seperti biasa, bertemu dengan klien, dan rapat, seperti itu hampir setiap hari selama dua bulan. Ia juga mengunjungi Elina hampir setiap sore. Meski gadis itu tak meminta apa pun, ia tetap membawakan makanan, susu--jika sudah habis--bahan makanan, yang segera ia susun dalam kulkas.


Gadis itu tak berubah sama sekali, hanya saja hubungan mereka tak sekaku yang kemarin. Elina menanyakan kabar keluarga Matthew, pekerjaannya, dan kesehatannya. Matthew senang melihat perubahan pada hubungan mereka, tapi tetap saja ia tak berharap bisa menikahi wanita itu.

__ADS_1


Bukan hanya perubahan itu saja, ada perubahan yang lain pada Elina. Perutnya. Usia kandungannya telah memasuki bulan keempat. Perut Elina mulai membuncit, sudah mulai mudah lelah dalam mengerjakan beberapa pekerjaan, kadang sulit berjalan. Kakinya juga membengkak. Pakaian yang ia pakai sekarang adalah daster yang longgar.


Namun, melihat perubahan itu membuat Matthew semakin sulit menahan diri. Elina semakin seksi dan menggairahkan, dengan perutnya yang buncit itu. Akal sehatnya berkecambuk oleh nafsu yang menderu, sampai ia sering membayangkan bisa bercumbu dan bercinta dengan Elina.


Ia menggeleng, mengenyahkan pikiran itu. Sebaiknya, ia berkonsentrasi menyetir mobilnya yang dilajukan ke arah rumah ibunya. Ia memasuki rumah, sapaan ibunya menyambutnya, yang kala itu sedang bersama Monika dan Justin di ruang tamu.


"Bagaimana keadaan Elina?" tanya Dewi, pada Matthew yang sudah duduk di sampingnya.


"Baik, Ma. Dia sangat sehat," jawab Matthew.


"Matthew, bulan besok, aku yang antar Elina USG ya?" kata Monika. "Aku penasaran ingin lihat jenis kelamin anakmu."


Matthew langsung melirik tajam. Mana bisa begitu, ia pun juga penasaran dengan jenis kelamin bayinya. "Tidak. Aku yang akan mengantarkan Elina USG," tegasnya.


"Tapi kan...."


"Aku ini ayah dari bayi itu. Akulah yang berhak tahu lebih dulu jenis kelamin anakku," sela Matthew dongkol.


Monika menutup mulutnya, dan tersenyum. Ah, adiknya ini lucu sekali. Seperti inikah kelakuan calon seorang ayah?


Dewi menoleh pada Matthew, kembali membahas topik soal Elina. "Apa dia mengalami keluhan selama kehamilan?"


Matthew akan menjawab, tetapi Monika menyela. "Yang ada Matthew yang mengeluh, Ma." Kemudian, ia tersenyum mencemooh sambil melirik Matthew.


Di dalam hati Matthew bergumam kesal. Kakaknya ini buat malu saja. Untung saja Dewi tidak mengerti maksud dari becandaan Monika.


Daripada dibully lagi sama Monika, lebih baik ia pamitan ke kamarnya, mengistirahatkan diri dari letihnya pikiran, fisik, dan batin.


Ia merebahkan diri ke ranjang, bersandar di kepala ranjang tapi tak terpejam. Bayangan Elina berputar-putar terus di kepalanya. "Ah, enyahlah! kenapa menggangguku terus?" katanya dalam hati. Tapi....


Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Dihidupkan layar ponselnya, munculah foto Elina yang menjadi wallpaper ponselnya. Gadis itu tengah tersenyum sambil melihat pada cangkir yang tengah dipegangnya. Memakai terusan warna krem yang agak lebar, tapi tak dapat menyembunyikan perutnya yang membuncit.


Matthew tersenyum. Foto itu ia ambil secara diam-diam, saat mereka tengah mengobrol di ruang tamu rumah yang ia sewa. Dua bulan terakhir ini, ia selalu menikmati senyuman manis yang ada di bibir Elina. Karena itu, ia mencari momen yang pas, agar dapat mengambil fotonya.


Jari telunjuknya di arahkan ke layar ponsel, membelai foto Elina, khususnya ke perutnya. Beberapa minggu lagi, ia akan mengetahui jenis kelamin anaknya ... bukan, buah cinta mereka. Laki-laki atau perempuan? Ia tak peduli. Melihat buah hatinya lahir ke dunia saja sudah cukup membuatnya bahagia.


Apa Elina juga menantikan ini? Ia berharap, Elina merubah pikirannya, dan membuka hatinya untuk pria ini. Ia ingin, jemari-jemari kecil anak mereka dituntun bersama olehnya dan Elina.


-;-;-;-


Tiba-tiba jadwal berubah? Matthew geram pada sekertarisnya itu. Siang ini ia bebas, jadi bisa mengajak Elina untuk makan siang di luar bersama. Tapi jadwal pertemuan dengan klien mendadak berubah. Ia terpaksa membelokkan setir mobilnya menuju sebuah restoran yang ada di hotel Grand.


Restoran itu ada di lantai 2 di gedung ini. Matthew melangkah masuk ke dalam restoran sendirian, tanpa sekertarisnya, karena klien itu hanya ingin menemuinya saja.


Kliennya adalah seorang wanita berkebangsaan Inggris, yang menunggu di meja nomor 15, yang terletak di tengah ruangan. Tanpa buang waktu, Matthew melangkah menuju ke seorang wanita bergaun putih yang rambut cokelatnya dibiarkan tergerai itu.


Saat tiba di depannya, wanita itu menoleh dan tersenyum. Dia berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya sambil berkata dalam bahasa Inggris, "Hi, I'm Karenina Adams."


-;-;-;-


Elina yang baru saja mendapat pesan WhatApp dari Matthew merasa kecewa. Padahal, ia sudah bersiap akan pergi.


Pada saat ia akan menuju kamarnya, suara pintu diketuk berbunyi. Lantas ia berbalik, menghampiri pintu, yang kemudian ia buka.


Seorang pria setengah baya yang sangat familiar, berdiri dengan sebuah tongkat kayu jati yang mengkilat di hadapannya, dengan senyum yang tampak penuh arti.


Elina tercengang menatapnya, dan bertanya agak ragu, "Siapa ya?"[]


**Maunya up sekaligus dalam seminggu, tapi beta readerku tersayang memang benar, up aja setelah dikoreksi, takut hilang lagi filenya. Ya, mau diapain, oke ajalah.


Maaf kalo nggak bisa tiap hari upnya. Author juga punya kehidupan cuy. Terperangkap dalam dunia fiksi yang dibuat cukup bikin stress. Apalagi aku harus mengkoreksi ceritanya dulu. Jadi, mungkin upnya suka2 author aja. Oke gitu aja, selamat membaca. Dukungan kalian di kolom komentar bikin semangat nulis. Jgn lupa dilike. Makasih.**

__ADS_1


__ADS_2