
Elina membuka matanya perlahan, termenung melihat langit-langit kamar yang putih. Lalu, ia mendengar suara Monika, setelah itu ia melihat Dewi dan Monika berada di hadapannya. Raut wajah mereka terlihat lega.
Apa yang terjadi? Seingatnya, ia mendengar berita buruk tentang Matthew. Kecelakaan. Ia ingat! Tapi ia tidak bisa membedakan apa itu hanya mimpi atau kenyataan. Ia tak percaya bahwa Matthew mengalami hal itu.
"Matthew," panggil Elina lirih. Kepalanya masih terasa pusing.
Monika dan Dewi saling menatap, bingung harus mengatakan apa.
"Ma, Kak Monika, di mana Matthew?"
Monika menyuruh Dewi agar tabah dan tidak menangis. Akan tetapi, sulit membendung air matanya agar tidak tumpah, apalagi iba melihat kondisi Elina.
Elina semakin cemas melihat tangisan Dewi. Jadi benarkah yang didengarnya bukan mimpi? Air matapun kembali tumpah.
Dewi dan Monika mencoba menenangkannya, tetapi sia-sia, tangisannya semakin kencang. Lalu, ia perlahan bangkit. Ia baru menyadari bahwa tangannya diinfus, dan kini sedang di rumah sakit.
"Elina, apa yang kau lakukan? Kata dokter, kau harus istirahat," kata Dewi, yang langsung ditimpali oleh Monika.
"Ma, Kak. Antarkan aku ke tempat Matthew. Aku ingin menemuinya," kata Elina, bersikeras untuk bangun.
"Matthew telah ditangani oleh dokter, dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit di London," ujar Monika menjelaskan.
Elina tetap ingin beranjak dari ranjangnya, bahkan meminta Monika untuk mengantarkannya ke rumah sakit itu. Monika tentu menolak, dan menjelaskan soal kondisi janinnya yang lemah.
Meskipun begitu Elina bersikeras, hingga ia merasakan sakit di perutnya. Ia meringis dan mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Monika yang panik, bergegas memencet sebuah tombol, memanggil seorang dokter.
Erick datang tak lama kemudian, bergegas menghampiri dan memeriksakan kandungan Elina. Erick mempersilakan Monika dan Dewi keluar kamar dulu, memohon agar ia menangani Elina.
Monika dan Dewi menunggu resah di depan kamar, menunggu dokter muda itu datang. Dan saat Erick keluar kamar, mereka langsung menghampiri dan mencecar.
Elina sudah tidak merasakan sakit karena Erick memberikan suntikan pereda sakit. Erick menjelaskan, kandungan Elina sangat lemah, jadi diusahan agar Elina jangan sampai tertekan atau stres.
"Itu bisa membahayakan janinnya," tambah Erick.
Dewi dan Monika cemas. Bagaimana bisa Elina pergi ke Inggris jika kondisinya seperti ini?
"Erick, apa Elina bisa ikut bersama dengan kami ke London?" tanya Monika.
Erick berpikir sangsi. "Mungkin sebaiknya jangan."
"Tapi kami ingin melihat kondisi Matthew di London, dan Elina bersikeras untuk ikut."
"Begini saja, kita tunggu sampai kondisinya membaik," Erick menyarankan.
Mungkin akan lama bisa menemui Matthew, tapi mau tidak mau, Monika dan Dewi menemani Elina sampai pulih. Hanya saja, kekeraskepalaan Elina menghambat proses pemulihan. Gadis itu termenung sambil mengelus perutnya, dan menangis tanpa terisak. Susah payah Dewi dan Monika membujuknya untuk makan dan minum obat.
Monika menurunkan sendoknya, dan meletakkannya di atas piring. Menyerah. "Apa kau tidak memikirkan anakmu, Elina? Kalau kau seperti ini, bisa membahayakan bayimu."
Elina memang tak ingin itu terjadi. Tapi ia tak bisa makan apa pun, yang terpikirkan adalah Matthew.
"Kalau kau memang ingin menjenguk Matthew, kau harus memulihkan kondisimu dulu. Dokter sudah berjanji akan mengijinkan kau ke London setelah kau pulih." Mungkin hanya ini cara terakhir yang bisa Monika lakukan untuk membujuk Elina.
__ADS_1
Ternyata tak sia-sia, Elina menoleh padanya, mulai percaya. Akhirnya, ia mau makan dan minum obat demi bisa menemui kekasihnya yang kunjung belum bangun dari koma--kata Dewi, yang telah lebih dulu ke London.
Sekitar dua hari, akhirnya Erick mengijinkan Elina pergi ke luar negri, meski kondisi masih belum terlalu pulih. Monika telah memesan tiket, perjalananpun dilakukan pada hari itu dan malam itu juga.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar kurang lebih 15 jam memang melelahkan. Tetapi Elina berusaha menguatkan diri, yang setelah turun dari bandara, langsung menuju ke rumah sakit.
London saat itu sedang menjelang siang. Wajah Elina terlihat pucat dan lelah. Monika meliriknya cemas, lalu menyuruh supir untuk membawa mereka ke sebuah hotel.
"Kenapa kita ke hotel?" tanya Elina, protes.
"Elina, kau harus istirahat dulu," jawab Monika lembut. "Perjalanan kita sangat lama tadi, dan wajahmu terlihat pucat."
Elina akui itu, tubuhnya terasa lemas dan lelah. Tapi ia menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Kalau Kak Monika mau istirahat, silakan saja ke hotel duluan.
Monika menghela napas. Apa cinta membuatnya sekeras ini? Mana mungkin ia membiarkan Elina yang tengah hamil berkeliaran di kota asing, meski tujuannya telah jelas ke rumah sakit.
Akhirnya, ia terpaksa mengalah lagi. Ia memerintahkan supir taksi untuk membelokkan setirnya ke rumah sakit tempat Matthew dirawat. Gadis itu tak lagi mendebatnya. Dilihatnya Elina menoleh ke arah jalan dengan tak sabar.
Di dalam hati Monika berkata, "Matthew, beruntungnya kau mendapatkan cinta dari seorang Elina. Sayang, cobaan cinta kalian terlalu berat."
-;-;-;-
Tadinya, yang menunggu Matthew bukan hanya Dewi, William dan istri keduanya turut menemani. Namun, yang terlihat sedang duduk di koridor hanya Dewi. Wanita itu tengah menangkupkan wajahnya, tanpa sadar tertidur.
Elina dan Monika berjalan cepat memasuki rumah sakit, setelah Monika membayar taksi. Tas mereka dititipkan sementara ke petugas rumah sakit, setelah itu bergegas ke dalam lift.
Kamar Matthew terdapat di lantai tujuh. Lift yang saat itu berisi hanya Monika dan Elina, dilingkupi oleh suasana sunyi dan resah. Elina yang telah kelelahan, merasa sulit menopang tubuhnya untuk terus berdiri. Spontan, ia memegangi perutnya, merasakan sakit lagi, yang terpaksa ia tahan.
"Kau tidak apa-apa, Elina?"
Elina berhenti meringis, menegakkan badannya, lalu menoleh dan memaksakan senyum. "Iya, aku tidak apa-apa," jawabnya, tapi suaranya lirih dan serak.
Bagi Monika, keadaan Elina justru sebaliknya. Lantas, ia mendekatinya dan merangkul tubuhnya yang semakin sulit berdiri. "Ayo, kita ke ruang dokter dulu, kita periksakan kandunganmu."
Elina menggeleng. Bersamaan dengan itu, suara lift terbuka berbunyi. Elina melepaskan tangan Monika dari pundaknya, kemudian bergegas keluar lift, mengindahkan seruan Monika.
Ia tersenyum karena sebentar lagi ia akan sampai di kamar Matthew dirawat. Dengan penglihatannya yang mulai memburam, terlihat sosok seorang wanita, yang diyakini itu Dewi, sedang berdiri karena mendengar seruan Monika, dan langsung menghampirinya. Dewi berhasil menangkap tubuh Elina yang hampir terhuyung ke depan, menatapnya cemas.
"Ma, di mana Matthew?" tanya Elina, napasnya terengah-engah. "Antarkan aku menemuinya, Ma."
Tanpa mengatakan apa pun sambil melirik Monika yang sedang mengangguk, Dewi menuntun Elina memasuki sebuah kamar.
Elina termenung sesaat, lalu air matanya tumpah tatkala melihat sosok seorang pria terbaring tak bergeming, dengan di kelilingi alat medis yang menancap di tubuhnya.
Ia menghela pegangan tangan Dewi--dengan sisa tenaga yang ia punya--ia berlari ke sisi ranjang Matthew dan terisak.
"Matthew, bangunlah," ucapnya menahan tangisan. Mendekap tangan Matthew dengan kedua tangannya, lalu menempelkannya di pipinya. "Aku sudah datang. Dan anak kita juga. Dia ... merindukan belaian papanya."
Monika dan Dewi mencelus. Air mata tak dapat dibendung lagi oleh Dewi.
"Kau berjanji untuk cepat pulang, dan menikah denganku, kan?" lanjut Elina. "Kau bilang akan membesarkan bayi kita bersama kan?"
__ADS_1
Hening, tak ada respon. Hanya ada suara denting alat patient monitor yang ada di sebelah kiri. Lalu, Elina berdiri, meletakkan tangan Matthew ke perutnya.
"Dia bergerak, kan? Kau tahu, dia merindukanmu, sama sepertiku." Elina tak kuasa menahan tangisannya lagi. Sumber kekuatan sekaligus kelemahannya terbaring tak berdaya antara hidup dan mati. Berkali-kalipun ia mencoba dan memohon, Matthew tetap tidak bangun.
"Sedang apa kau di sini!"
Suara bentakan seorang pria berasal dari pintu. Mereka tak menyadari bahwa seseorang telah membuka pintu dan melihat detik-detik mengharukan, yang tetap saja tidak membuat hatinya tergerak.
William bersama dengan istrinya mudanya berdiri di depan pintu. Lalu, dengan derap langkah yang kencang, menghampiri Elina, menarik lengannya dan membawanya keluar ruangan. Kasar sekali pria itu, tak peduli Elina sedang mengandung cucunya, menghempaskan tubuh Elina sampai terjatuh.
"Kau ke sini mau membuat keadaan Matthew bertambah parah, hah?"
Monika dan Dewi menghampiri Elina, berusaha membangunkannya. Mereka tak menyadari, bahwa Elina sempat meringis sambil memegang perutnya yang bertambah sakit.
"Papa! Apa-apaan ini!" jerit Monika. "Elina sedang mengandung."
"Aku tidak peduli! Gara-gara wanita pembawa sial ini, Matthew kecelakaan dan sekarat!" tukas William lebih keras.
"Semua itu bukan karena Elina," sahut Dewi membela. "Ini murni kecelakaan."
William mendengus, tak acuhkan ucapan Dewi. Ia tetap menuding Elina si pembawa bencana dalam hidup Matthew, setelah mereka menjalin kasih.
Air mata Elina berlinang. Semakin perih hati ini, dibandingkan rasa sakit di perutnya. Ia mengiba dan memohon agar tetap di sisi Matthew.
"Untuk apa? Mendapat simpati dariku?" dengus William menyindir. "Aku tidak bodoh seperti mantan istri dan anakku. Kau menggoda Matthew hingga kau hamil karena ingin menguasai kekayaannya, kan? Memangnya, berapa banyak uang yang kau inginkan, Elina? Apa uang yang kuberikan waktu itu kurang?"
Elina menggeleng, tangisannya semakin deras, tetapi sulit mengucapkan sepatah katapun untuk membantah William. Sakit di perutnya membuatnya tercekat.
Sementara itu, Dewi dan Monika kaget dengan apa yang didengar. Benarkah Elina telah menerima sejumlah uang dari William? Rasa percaya pada Elina perlahan sirna, meskipun mereka masih merangkul Elina.
"Nih!" William melemparkan sebuah koper yang terbuka. Isinya uang dengan nilai mata uang Poundsterling, yang bila dikonversikan ke Rupiah menjadi sekitar 3 miliar.
Elina hanya menatap uang itu, tapi tak ada niat untuk menyentuhnya, apalagi setelah William memberinya syarat untuk segera menghilang dari hidup Matthew selamanya.
Prang! Hati Elina hancur berkeping-keping bagai potongan puzzle yang mungkin sulit untuk disatukan lagi. Perutnya semakin sakit, bersamaan dengan tangisannya yang semakin menjadi.
Tertatih ia berdiri dan berbalik. Melangkah pergi tanpa ada yang menuntunnya. Bertahan pada rasa sakit, yang tak ia sadari terdapat darah mengalir dari pahanya. Kemudian, dirasanya dunia seolah berputar, hingga tubuhnya tak sanggup untuk berdiri lalu terjatuh tak sadarkan diri.[]
**😄😄😄 kenapa para pembaca pada kompak sama beta readerku, yang baru baca bab 32 setelah aku up kemarin?
"Pasti Matthew amnesia." Gitu katanya.
jika aku pembaca, aku malah berpikir: "siapa yang membuat Matthew kecelakaan ya? Terus, ngapain dia di London selama 3 hari?"
Beta readerku punya jawaban yang pertama (karena pertanyaan yang kedua dia tahu kalau itu rahasia author): jelas aja yang menyebabkan kecelakaan Matthew adalah ayahnya sendiri. Mobilnya mungkin disabotase dan bla bla bla gitu?
Aku ketawa. Segitu skeptisnya dia sama figur seorang bapak? tapi jika dilihat secara logika, William orang yang sangat berambisi--melakukan apa pun demi mencapai sesuatu. Jadi, bisa aja dia yang lakuin. Cuma, aku nggak jawab gitu.
Dan soal amnesia. Emang setiap kecelakaan harus berakhir kayak gitu ya? Hallo... aku pernah buat cerita, di mana pemeran cowok kecelakaan, dan kondisinya membuatnya harus cacat. Amnesia itu memang cukup menarik jika diramu jadi cerita, tapi bukankah itu terlalu klasik? Tapi, ini bukan bocoran yang sesungguhnya. Siapa yang tahu, bakal jadi apa nasib Elina dan Matthew selanjutnya? Kalau Matthew malah dead, gimana? 😈😈😈
Okelah itu aja kali ya. Makasih udah like dan komen. Komenan kalian lucu dan makin bikin aku semangat. See you next part.**
__ADS_1