
Apa bagus jika Anna menceritakan semuanya? Kalau malah jadi bertambah masalahnya? Ia tidak yakin Kenan dapat dipercaya. Tapi....
Anna akhirnya mengangguk.
Kenan memejamkan mata, pedih mengetahui kenyataan ini. "Terus, bagaimana reaksi Logan?"
"Dia memberiku cek untuk menggugurkan kandunganku," jawab Anna.
Logan. Kenan tak menyangka dia bisa setega itu! Panas hati ini, rahangnya mengeras seperti kepalan tangannya yang menguat.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan dengan bayi itu?" tanya Kenan, menahan geram.
Anna hening cukup lama, matanya menyendu. "Aku tidak tahu. Yang pasti, aku akan melahirkan bayi ini." Ia menunduk, tangannya mengelus lembut perutnya.
"Apa orangtuamu sudah tahu?"
Pertanyaan Kenan dijawab Anna dengan gelengan lemah.
Kenan menghela napas panjang. "Oke. Sebagai teman, aku hanya bisa menawarkan bantuan. Jadi, jika ada apa-apa, beritahu aku."
"Sebagai teman", Anna merasa tersindir karena selama ini ia terkesan menjauhinya. Kebaikan hati pria itu, membuatnya bertambah segan, bahkan ia tak dapat mengiyakan ucapan Kenan ataupun menatapnya.
"Terima kasih," gumam Anna, lalu keluar dari mobil.
Kenan juga turun dari mobil hanya untuk melihatnya berjalan sampai ke motornya, lalu melaju pergi meninggalkan area parkir.
Logan melihat adegan itu dari kejauhan, geram. Anna, baginya, wajah cantik gadis itu hanya sebagai alat untuk mendapat keuntungan. Setelah dia hamil dan Logan menolak tanggung jawab, kini Anna malah lari ke Kenan.
Logan tertawa sinis. "Jadi, dia mau menjadikan Kenan sebagai mangsa?
Pria itu bermaksud untuk membicarakannya dengan Kenan, tetapi Kenan sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Mungkin ia bisa membicarakannya besok, karena mereka akan bertemu lagi.
π
Padahal hari Senin, tetapi rumah Anna sedang ramai oleh kedatangan abangnya, beserta istri dan anak tunggal mereka.
Seorang anak lelaki berusia 4 tahun mendekat padanya sambil merentangkan tangan. "Tante, gendong."
Anna tersenyum, sedikit membungkuk, lalu membawa anak lelaki itu dalam dekapannya. "Tumben banget nih? Biasanya langsung nadahin tangan kayak Om Adnan," selorohnya.
Mama mengupas sebuah mangga, yang membuat Anna hampir meneteskan air liurnya. Setelah itu, mama memanggilnya.
"Anna, katanya mau makan mangga? Nih, Mama beliin."
Anna tersenyum, tapi abang, kedua adiknya, dan ayahnya tercengang menatapnya.
"Bukannya Kak Anna lebih suka mangganya di jus?" celetuk Tasya, heran.
"Lagi pengin aja," sahut Anna. "Emang salah, ya?"
"Ya, aneh aja lah! Biasanya ogah gue sodorin mangga yang udah gue kupas."
__ADS_1
Ya, aneh. Apa ini salah satu perubahan karena bayi ini? Anna mencari tahu semua hal tentang kehamilan, setelah kumpul-kumpul dengan keluarga selesai.
Ia menandai semua gejala, termasuk "mengidam". Ia melirik, menyipitkan matanya sambil berpikir.
"Apa tadi itu yang namanya 'mengidam'?" gumamnya.
Ia ingat permintaannya pada mama waktu itu: ingin mangga yang dikupas!
"Huh!" keluhnya, menepuk keningnya. "Sekarang, benar-benar yakin kalau aku sedang hamil."
Anna yang sedang di duduk di depan meja rias, merebahkan kepalanya pada tangan kanannya yang direntangkan. Perlahan termenung dan bergumam pelan:
"Kalau aku hamil, apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Bagaimana reaksi mama dan ayah?"
Apa ia lakukan rencana semula saja? Apa uang tabungannya cukup? Anna sudah melihat uang tabungannya dari mobile banking.
"Oh, gaji gue udah dikirim," gumamnya.
Ia tampak sedang berpikir lagi. Apa ini saatnya untuk melakukan rencana itu?
π
Malam telah larut, Kenan masih berkutat dengan dokumen dan laptop yang masih menyala. Pikirannya sudah fokus pada pekerjaan, tapi wajah Anna terbayang dalam benaknya.
Di samping meja terdapat bingkai fotonya bersama dengan Logan saat wisuda. Lalu wajahnya dipalingkan, seakan tak sudi melihat wajah sahabatnya itu.
Tidak disangka, ia berteman dengan pria sebrengs**k itu. Marah, tapi tak sanggup. Pasalnya, ia sudah janji tidak akan mencampuri urusannya. Ia tahu, Anna mengkhawatirkan hubungan baiknya dengan Logan.
Iya, dia hampir bisa melakukannya pada keesokan harinya, meskipun ia jadi tidak begitu banyak bicara.
Penandatangan berkas-berkas kerja sama dengan klien berjalan dengan lancar, Logan berencana mengajaknya makan siang setelah ini.
Padahal, Kenan sudah bersusah payah menahan diri untuk tetap di sampingnya, menanggapi ucapannya seperti biasa. Namun, Logan malah meruntuhkan pertahanannya dengan membicarakan topik ini:
"Apa lo masih berhubungan dengan Anna?" tanya Logan ketika mereka memasuki area parkir.
"Kenapa memang?" tanya Kenan, agak ketus.
"Gue kasih tahu, supaya lo hati-hati milih cewek buat lo pacarin."
Kenan mengepalkan tangannya. "Tumben banget lo nasihatin gue?"
"Memang salah kalau gue kasih saran sama lo?"
Orang brengs**k seperti Logan beraninya menasihati Kenan? Apa pantas?
"Nggak apa-apa sih," sahutnya. "Terima kasih atas sarannya. Menurut gue, Anna cewek yang tepat buat dapetin cinta yang tulus dari gue."
Logan seakan tak setuju, matanya menyipit tajam. "Tahu dari mana lo? Lo ngomong gitu karena terpana sama kecantikannya, 'kan?" Ia tertawa sinis. "Kenan, jangan lihat orang dari luarnya."
Ucapan itu lebih tepat mengarah pada Logan, yang tampan tapi tak punya perasaan. Jujur, Kenan sebenarnya sudah diambang batas kesabaran. Tapi, ia tetap menahan diri, ucapannya mulai ketus.
__ADS_1
"Kenapa lo ngomong gitu tentang Anna?"
Logan mulai merasakan hal aneh pada Kenan. Ia berhenti, tampak tak enak hati. "Ini bukan cuma berlaku buat Anna, tapi untuk cewek yang lainnya."
Kenan pikir itu hanya dalih, ia tahu kalau Logan memang menyindir Anna. Ekspresinya berubah murka. Tangan kanannya meraih kerah jas Logan, lalu sebuah pukulan mengarah ke wajah pria itu.
"Brengs**k!"
Logan tersungkur. Benar-benar mengejutkan! Ia memegangi rahangnya dengan mata mendelik.
"Kenapa lo nyerang gue?"
Kenan tersenyum sinis. "Gue menghajar cowok pengecut dan yang cuma mikirin selangkangannya doang!"
Logan menghampiri Kenan, murka, menggenggam kerah baju Kenan dengan kedua tangannya. "APA MAKSUD LO!"
"Nggak usah pura-pura nggak tahu!" sergah Kenan, menghempas tangan Logan. "Lo yang menghamili Anna, 'kan? Tapi gue nggak nyangka, lo nggak mau tanggung jawab!"
Logan tersenyum mencemooh. "Dia yang pasti ngadu ke elo, 'kan?"
Kenan berjalan ke mobilnya, mengambil sesuatu, lalu memperlihatkannya pada Logan.
"Gue nemuin ini di tong sampah yang ada di ruangan lo!" Sangking murkanya, Kenan melempar kertas dan test pack itu ke tanah. "Dan lo menolak bertanggung jawab? COWOK MACAM APA LO?!"
"DIAM LO!" bentak Logan, lalu menghajar Kenan.
Kejadian ini mengundang para karyawan lain untuk melihatnya. Perkelahian ini tidak ada yang melerai. Sifa yang melihat hal ini, menghubungi Anna. Kebetulan, Anna baru saja selesai shalat.
Dua orang satpam datang menghampiri mereka, lalu melerai. Logan dan Kenan meronta. "Lepaskan!" teriak kedua.
Anna dan Sifa baru saja sampai, kedua pria itu menyadari keberadaan Anna. Lantas, Logan menghampirinya, meraih dan menggenggam tangannya.
"Ikut aku!" gumamnya geram.
Kenan menyadari tatapan penuh kemurkaan di wajah Logan. Kekhawatirannya muncul, menduga bahwa Logan akan melakukan hal kasar pada Anna.
Tak mau hal itu terjadi, dihempaskannya genggaman tangan Logan dari tangan Anna, lalu ia menghela Anna berada di belakangnya.
"Jangan sentuh dia!" gertaknya
"Minggir," gumam Logan geram seraya menghela pundak Kenan.
Logan meraih tangan Anna, tapi ditepisnya. Logan pun meradang.
"Saya ingin bicara sama kamu!"
"Nggak! Tidak ada yang perlu dibicarakan!" tegas Anna. "Kalau Anda menolak bertanggung jawab, saya tidak akan memaksa. Anda bisa pergi tanpa perlu merisaukan hal ini lagi!"
Kemudian, Anna berbalik menghadap Kenan. "Dan kamu, Kenan. Tolong jangan campuri urusan saya lagi!"
"Tapi, Annaβ" protes Kenan, jelas tidak setuju. Namun, Anna keburu pergi dari tempat ini, yang kemudian disusul oleh Sifa.
__ADS_1
Beberapa meter dari tempat mereka, Matthew dan asistennya melihat kejadian itu. Matthew tampak geram. Lalu, tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah pergi dari tempat itu.[]