
Secangkir teh hangat dihidangkan di atas meja makan. Logan meraihnya dan menyeruputnya perlahan dengan getir. Anna duduk di sampingnya, menatap iba tapi tak mengatakan apa pun. Kejadian ini, pasti membuat Logan sedih.
"Kamu pasti bertanya, kenapa mama seperti itu?" ujar Logan sambil meletakkan cangkir tehnya.
Memang sih. "Kalau aku tanya, kamu pasti bakal bilang: 'bukan urusan kamu. Kamu bukan siapa-siapa!', begitu, 'kan?"
Logan menyipitkan mata. Oh, ia mengerti, Anna pasti ingin diakui, 'kan? "Kamu menantu di keluarga ini, nama belakangmu sekarang 'Jonathan'."
"Nggak. Nama belakang aku tetap 'binti Ali Syarif'," sahut Anna, menegaskan.
Apa Anna tidak mengerti, bahwa Logan sebenarnya ingin bilang kalau kini ia adalah istri dari Logan Jonathan? Ah, terserahlah. Logan menyeruput tehnya lagi dengan memendam kegeramannya.
"Makan siang, yuk!" kata Anna setelah terdiam beberapa saat.
"Aku tidak nafsu makan."
Anna tahu, tapi ia tidak bisa membiarkan perut Logan kosong. Bisa sakit dia nanti. "Ayolah! Bayinya minta ayahnya juga makan bareng sama ibunya."
Logan tersenyum sinis. "Nggak masuk akal, jadikan anak sebagai alasan?"
Anna terhenyak, lalu tersipu. "Terserah nggak percaya. Orang lain ngidam lebih aneh lagi."
Tetap saja, Logan malah menganggapnya sebagai lelucon. Meski begitu, Anna tetap tidak menyerah untuk membujuknya.
"Ya, sudah. Nanti jangan salahin aku, kalau bayi ini lahir dengan air liur yang terus-terusan menetes."
Logan tidak tahu hal yang tidak masuk akal ini sebuah ancaman atau bukan. "Baiklah. Siapkan makanannya!"
Anna tersenyum lebar, beranjak ke meja dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah dimasak dengan dibantu oleh pelayan.
☘
__ADS_1
Elina merasa lebih baik keesokan harinya. Anna datang ke kamar untuk membawakannya sarapan. Ia menyedari Anna sedang berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum, lalu berkata, "Masuklah, Anna."
Anna menghampirinya. Nampan berisi nasi goreng dan susu diletakkan di atas nakas. "Gimana keadaan Mama?"
"Sudah lebih baik. Kemarin, kamu pasti terkejut?"
"Ya, sih."
Elina menatap Anna sambil menimbang sebuah keputusan. Apakah ia bisa menceritakan masa lalunya yang pahit itu pada menantunya ini?
"Wanita itu," ujar Elina seraya termenung. "Adalah pembunuh Morgan, anakku."
Anna menaikkan wajahnya, tertegun. Ia baru tahu bahwa keluarga ini memiliki putra selain Logan.
"Dua puluh lima tahun yang lalu, saat Morgan masih berumur 5 tahun, ada seorang wanita yang mengaku pelayan dan menjemputnya lebih awal dari waktu pulang sekolah," cerita Elina. "Aku dan suamiku panik, mengerahkan para pengawal untuk mencari Morgan. Sekitar 5 jam kemudian, penculik itu menghubungi kami."
"Hatiku perih," isak Elina, lalu menghela napas. "Mendengar suara lirih Morgan yang gemetaran. Dia memanggilku terus-menerus … Hanya sekejap saja."
"Tapi penculik itu tetap tidak mau melepaskan Morgan, hingga suamiku bertindak untuk menyelidiki si penculik. Meskipun kami sudah menemukan lokasi penyekapan, sayangnya … Kami sudah terlambat…."
Tangisan Elina semakin jadi, Anna langsung memeluknya dan berujar lirih, "Udah, Ma. Jangan diteruskan."
Anna juga tak sanggup membuat Elina menguak luka lamanya yang begitu pilu. Ia membiarkan Elina meluapkan tangisannya, hingga wanita itu lelah.
Meski masih ada sedikit isakan, Anna menunggu tangisan itu mereda. Lalu, ia berkata, "Ma, mau nemenin aku sarapan? Makan sedikit aja, ya."
"Apa cucuku yang minta?"
__ADS_1
Anna mengangguk tak yakin sembari tersenyum. Elina luluh. Makanan yang diantarkan Anna tadi dibawa oleh ke dapur agar mereka bisa makan bersama.
Meskipun Anna sudah sarapan tadi, inilah cara membujuk wanita itu untuk makan. Sebab, dari semalam Elina hanya makan sedikit, Anna khawatir jika hal itu bisa mempengaruhi kesehatannya.
☘
Seorang wanita paruh baya berparas bule, memasuki kantor Logan. Namun, yang dicarinya bukan pria itu, tetapi seseorang yang jabatannya lebih penting darinya.
Saat ia tiba di ruangan pria itu, sekretaris yang berada di luar ruangan langsung mencegatnya. "Anda siapa? Maaf, Anda tidak bisa langsung masuk," tegas pria muda berkacamata itu.
Wanita itu membuka kacamatanya, memperhatikan pria itu dengan remeh. "Minggir! Saya perlu bertemu dengan Matthew!"
"Apa Anda sudah buat janji?"
"Saya tidak perlu membuat janji apapun untuk bertemu dengannya. Minggir!"
Dengan ujung jarinya, wanita itu mendorong si sekretaris. Akan tetapi, pria itu tetap berusaha mencegatnya, hingga menimbulkan keributan di depan ruangan.
Wanita itu sangat keras kepala, dan akhirnya mampu menerobos masuk ke dalam ruangan Matthew.
Matthew mendongak, terkejut sejenak, lalu tatapannya dingin. Sekretarisnya memucat, lalu meminta maaf pada Matthew karena tidak berhasil mencegah wanita itu masuk.
Wanita itu tersenyum menang. "Apa kamu mengingatku, Matthew?"[]
__ADS_1