Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH DUA


__ADS_3

Cinta dan rindu memang terkadang masih dirasakan. Namun, semua itu sudah berlalu, berusaha ia kubur dalam-dalam.


Dan ketika dia datang lagi ke kehidupannya, ia mulai goyah. Anna tidak bisa menggantikan dirinya dalam hatinya, meskipun ia mulai menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya.


Logan membiarkan Nina memeluknya, merasakan kerinduan itu luruh perlahan. Ia tetap bergeming ketika bibir Nina mencoba menyentuh bibirnnya, perlahan menutup mata.


Hanya dalam sedetik, ia menyadari sesuatu. Matanya langsung nyalang.


Ini salah!


Nina terkejut karena Logan tiba-tiba menjauhkan tubuhnya, tercengang karena tak biasanya pria itu menolaknya seperti ini.


Logan mengernyit menatap Nina sekilas. Rasanya ingin marah, tapi tidak tega. Lalu, ia pergi meninggalkan Nina, berjalan memasuki toilet wanita.


"Anna!" serunya, mengetuk dan membuka masing-masing bilik kamar mandi yang kosong.


Nina mengikutinya. "Logan! Logan, tolong dengarkan aku!" serunya, lalu meraih tangan pria itu.


"Apa?!" bentak Logan, menghela tangan Nina, lalu terhenyak melihat Nina tampak syok.


Tidak, ia menyakitinya.


Logan menghela napas, menenangkan dirinya dari jerat rasa kalut. Ditatapnya Nina dengan lembut, lalu berkata, "Maaf, lain kali saja kita bicara. Kembalilah ke dalam, aku harus mencari Anna."


Namun, Nina tidak mau. Ia menghentikan kepergian Logan dengan meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang. "Apa sekarang ... aku tidak lebih penting lagi bagimu? Logan, aku tahu pernikahanmu dengan wanita itu adalah sebuah kesalahan. Aku melihat kau melakukan hal itu dalam keadaan tidak sadar. Aku sadar, cintamu sangat besar untukku."


Logan mendongak, merasakan perih di dadanya berdenyut. Penyesalan itu, tidak penting lagi baginya. Semua yang telah terjadi, tidak bisa diputar ulang.


"Nina," katanya, melepaskan tangan Nina yang melingkar di pinggangnya. "Lupakanlah aku. Carilah seorang pria yang bisa membahagiakanmu."


"Tapi cuma kau yang bisa melakukannya," sahut Nina di tengah-tengah isakannya.


"Aku sudah memiliki Anna."


"Tapi kau tidak mencintainya, 'kan?"


Logan tertegun. Sekalipun memang benar, ia tak bisa kembali mencintai Nina lagi seperti dulu.


"Aku tahu," ujar Nina, menghela rasa sesak di dada. "Kau tidak bisa meninggalkan wanita itu karena anak yang sedang dikandungnya, tapi kau tidak harus terikat. Kita bisa tetap saling mencintai, menjalin hubungan rahasia. Atau, kau bisa jadikan aku yang kedua."


Mata Logan mendelik, sontak berbalik. "Kau sudah gila!" bentaknya pelan.

__ADS_1


"Ya, aku memang gila! Gila karena merindukanmu! Gila karena mencintaimu! Hatiku hancur saat kau lebih memilih dia!"


"Cukup!" tukas Logan, mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Nina. "Ini terakhir kalinya kau menunjukkan wajahmu!"


Logan berbalik dengan hati perih. Ucapan yang akan melukai hati Nina hingga air matanya terjatuh itu terpaksa keluar dari mulutnya agar Nina menjauh darinya.


Namun, Nina masih memiliki asa. Ia pikir, Logan berhenti melangkah untuk kembali padanya. Nyatanya, Logan hanya untuk mengangkat telepon dari Aurellie.


"Iya, halo Tante?"


"Logan, kau ada di mana?"


"Aku mencari Anna di sekitar kamar mandi. Ada apa, Tante?"


"Tadi aku bertemu dengan Anna. Wajahnya terlihat pucat. Tadi katanya mau istirahat di mobil."


Antara cemas dan lega itulah yang dirasakan oleh Logan. Setelah itu, ia mematikan ponsel, setengah berlari meninggalkan tempat ini tanpa peduli pada Nina yang sedang tertunduk sedih.



Logan memasuki area parkir, bergegas ke arah mobil mewah warna hitam yang terparkir. Sopirnya sedang berdiri di luar mobil, menunduk hormat ketika Logan sampai di sana.


Anna tertidur.


Lantas Logan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Anna. Jas yang dipakainya dilepaskan untuk menutupi tubuh Anna. Kemudian, Logan memindahkan letak kepala Anna bersandar ke bahunya.


Pria berseragam sopir masuk ke dalam mobil. Logan memerintahkannya untuk melajukan mobil ke hotel mereka menginap. Ia juga meminta sopir untuk melajukan mobil secara hati-hati.


Namun, meskipun begitu, Logan tetap mendekap Anna, memastikan kepala Anna tetap bersandar di bahunya. Bahkan, ia juga memegangi perut Anna, tempat janin kecil itu berdiam karena sangking cemasnya.


Tanpa sengaja, ditatapnya wajah Anna lamat-lamat. Kemudian, seluruh ucapan dan kejadian antara dirinya dan Nina terlintas.


"Tapi kau tidak mencintainya, 'kan?"


Entahlah, Logan tidak tahu perasaan seperti apa yang sedang dirasakannya pada Anna. Tapi yang pasti, ia tak membencinya, ia ingin melindunginya.



Charlotte menggenggam erat gelas anggurnya. Setiap penjelasan yang terucap dari orang kepercayaannya membuat hatinya semakin panas.


Anggur yang disesapnya terasa pahit seperti obat. Ia tak lagi berhasrat untuk berendam di air panas yang penuh dengan kelopak bunga.

__ADS_1


Lantas, ia keluar dari bak mandi, memakai piyama mandi, lalu berjalan menuju kamarnya. Di sudut ruangan ini, terdapat sebuah cermin panjang, ia berdiri di sana, memperhatikan tubuh dan wajahnya yang telah menua.


"Sial!" umpatnya. "Rencanaku gagal! Para pemegang saham tak berguna! Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku mendapatkan kekayaan Matthew?"


Tangannya terkepal kuat, terengah-engah akibat ledakan kemurkannya. Diraihnya sebuah vas bunga, lalu dilemparkannya ke cermin itu hingga pecah berkeping-keping.


"Hanya satu rencana yang tersisa. Pokoknya, rencana itu harus berhasil!"



Karena keponakannya dan istrinya datang ke London, Aurellie mengundang mereka ke pesta barbeque di pekarangan rumahnya setelah pulang dari Gereja.


Anna sangat senang, apalagi Logan tidak tahu mau mengajaknya jalan-jalan ke mana.


Aurellie memiliki sepasang anak kembar perempuan identik yang sangat manis. Usia mereka sekitar 7 tahun. Mereka sangat akrab dengan Anna, tapi tidak dengan Logan. Sikapnya kaku, padahal Logan kakak sepupunya.


Logan memilih membantu suami Aurellie yang sedang memanggang barbeque. Sementara Anna dan anak kembar Aurellie menata meja dengan berbagai makanan lain.


"Apa setiap minggu keluarga Tante mengadakan acara ini?" tanya Anna sambil mengisi gelas dengan es sirup berwarna merah.


"Tidak," jawab Aurellie, meletakkan stroberi di meja. "Kadang, kami makan di luar, pergi ke taman hiburan. Pokoknya, kami melakukan kegiatan keluarga setiap minggu. Aku menyiapkan acara ini karena kau dan keponakanku ke London."


Anna tersenyum. Ternyata, keluarga Jonathan semuanya sangat baik—lebih mementingkan keluarga, kecuali pria yang sedang memanggang daging di sana itu! Sifatnya sangat lain dengan papa dan mama. Ia menduga, jangan-jangan Logan anak pungut Elina dan Matthew.


Namun, Anna tidak tahu, di balik sifat angkuh Logan, terdapat tatapan perhatian yang hangat di matanya. Anna tak menyadari itu karena sedang mengobrol dengan si kembar.


Hanya saja, Logan terlalu gengsi untuk menunjukkannya, sehingga ia bergegas menoleh ke arah lain ketika Anna memalingkan wajahnya pada pria itu.


Setelah selesai memanggang daging, Logan hendak menghampiri Anna. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti karena kedatangan seseorang yang membuat suasana hatinya langsung rusak.


"Halo, selamat pagi, Kak Aurellie," sapa Kenan pada si pemilik rumah sambil menghampirinya.


Anna menoleh pada pria itu, terkejut sejenak, lalu tersenyum. "Kenan? Kapan kamu di sini?" tanyanya ketika pandangan mereka saling bertemu.


Logan mendengus. Anna menyapanya di depan matanya? "Ya, ada urusan apa kau ke sini?" tanyanya sambil berjalan ke arah Anna, lalu berdiri di sampingnya.


Anna mengernyit jengkel mendengar pertanyaan bernada sinis itu, apalagi sikap aneh Logan yang tiba-tiba merangkul bahunya. Apa-apaan pria itu?


Ekspresi wajah Kenan berubah dingin ketika melihat adegan itu. Tak lama kemudian, ia tertawa mencemooh. "Tentu saja karena aku merindukan seseorang."


Ketika Kenan mengatakan hal itu, pandangan dan senyumannya mengarah pada Anna. Logan menatapnya dingin dengan tatapan tajam dan tangan terkepal kuat.[]

__ADS_1


__ADS_2