
...Anna Yuanita Kirani
...
Jadi malu rasanya. Anna gelisah karena lift ini terasa lama mencapai lantai 5. Tak tahan bersama dengan calon bosnya, apalagi setelah insiden tadi. Anna hanya dapat menundukkan kepala sejak tadi.
Begitu pintu lift terbuka, Anna bergegas keluar dengan langkah panjang. Ia menghela napas setelah jauh dari sana.
"Aduh, kalau orang itu merasa tersinggung dengan kelakuan aku tadi, bisa-bisa aku nggak jadi kerja di sini," kata Anna. "Belum kerja aja udah ada aja masalah."
Sekarang, bukan itu yang harus dipikirkannya. Ia harus buru-buru ke ruangan yang menjadi tempat wawancara. Untungnya, ia belum terlambat.
.
.
.
Anna keluar dari ruangan tempat wawancara sambil tersenyum. Pengumuman hasil wawancara kurang lebih 5 hari ke depan. Jadi, ia bisa mempersiapkan semuanya.
Sebelum pulang, ia ingin menemui Gita. Ia berpapasan dengan gadis itu, ketika akan menuju lift.
"Bagaimana interview-nya?" tanya Gita, di tangannya menenteng sebuah berkas bermap merah.
"Lancar. Terima kasih banyak, ya," kata Anna, tersenyum lebar.
"Masih kecepatan bilang 'terima kasihnya'. Kalau udah diterima kerja, baru deh traktir," seloroh Gita, lalu tertawa. "Oh, iya! Kapan pengumumannya?"
"Lima hari lagi," jawab Anna. Kemudian, ia tertegun karena pintu lift terbuka.
Anna masuk ke dalam lift, tetapi Gita tetap bergeming.
"Gue nggak turun," kata gadis berkulit sawo matang itu sambil tersenyum.
"Ya, udah. Gue pergi dulu, ya," balas Anna sambil melambaikan tangan.
Gita baru melangkah, tiba-tiba Pria berjas krem tadi muncul. Dia menghentikan pintu lift tertutup, lalu masuk ke dalam.
Anna praktis terkejut. Pria itu lagi! Ia langsung menundukkan kepalanya. Pintu lift tertutup. Penderitaan akan rasa malu dimulai. Apa ia harus turun di lantai berikutnya untuk menghindari pria itu?
Apa yang harus dilakukan sekarang? Entah mengapa mulutnya gatal untuk menyapa calon bosnya itu.
"Selamat pagi, Pak." Anna sedikit membungkuk canggung saat mengatakannya.
Logan yang semula menatap lurus, menoleh sedikit hanya sekejab sambil membalas sapaannya, "Iya."
Dingin sekali. Dugaannya, pria itu bersikap begini pasti karena merasa kesal pada Anna karena kejadian tadi.
Anna memalingkan wajah, bergumam tanpa suara sambil memejamkan mata. "Aduh bagaimana ini?"
Ya, sudah. Tak perlu bicara, anggap tak kenal. Tahan sebentar, lift akan turun ke lantai satu dalam waktu sekejab. Setelah itu, Anna keluar dari lift dengan jalan terbirit-birit.
__ADS_1
Anna menghela napas dengan kencang, sesampainya ia di depan gedung. Oh, iya! Ia jadi teringat sesuatu, dan langsung mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi seseorang.
"Halo, kamu di mana? Aku mau ketemuan sama kamu," ucapnya, dingin.
Anna berbicara di telepon sambil berjalan ke arah tempat parkir, sampai tak melihat dan menabrak seseorang. Ia terkejut, hampir saja ponselnya terjatuh karena pundaknya membentur lengan pria itu.
"Maaf, Mas," kata Anna, merasa bersalah ketika menatap pria itu.
Namun, alih-alih menjawab, pria itu malah terpana sambil tersenyum pada Anna. Gadis yang ditatapnya tentu saja bingung. Elina melambai-lambaikan tangannya di depan pria itu.
"Halooo! Mas?"
Pria itu tersentak, lantas tersenyum setelah menyadarinya. "Maaf, saya jadi terpesona sama kamu," katanya kikuk.
Anna hanya menyeringai enggan. Gombal sekali pria ini!
"Kalau begitu, saya permisi dulu, ya, Mas," kata Anna.
Anna buru-buru meninggalkan pria itu, yang masih menatapnya sampai menghilang dari balik tembok menuju tempat parkir.
"Apa semua cowok-cowok di sini aneh-aneh?" gumam Anna. "Bosnya ganteng, tapi dingin banget kayak es—mana sadis, pula. Yang tadi itu, ganteng-ganteng mupeng." Anna bergidik seperti orang yang sedang menggigil.
Sementara itu, pria tadi berjalan ke dalam kantor. Seperti biasa, ingin bertemu dengan sahabatnya, yang merupakan presdir perusahaan ini.
Sifatnya yang ramah, selalu tersenyum, membalas atau bahkan menyapa orang-orang yang ditemuinya sambil berjalan di lobi gedung. Makanya, para karyawati memujanya.
"Selamat pagi, Pak," sapa salah satu karyawati yang sedang bersama dengan temannya.
Setelah kepergiannya, dua gadis itu melihatnya dengan histeris, begitu riang.
"Nggak presdir, nggak temennya, sama-sama ganteng," komentar karyawati yang berhijab, setengah berbisik.
"Iya," timpal temannya. "Mana masih sama-sama jomlo."
Itulah komentar yang sering terlontar dari para pegawai wanita pemuja ketampanan di kantor, entah kedua pria itu tahu atau tidak bahwa mereka sering dibicarakan.
.
.
.
Logan yang sedang memeriksa hasil laporan keuangan di ruangannya, tak terusik oleh bunyi ketukan pintu. "Masuk!" serunya, tanpa menoleh sedikitpun.
"Logan," sapa pria tadi, ketika pintunya dibuka. Di dalam benaknya, jika melihat pria itu tampak tenang ketika sedang bekerja, berarti harinya dalam keadaan baik.
Lantas, tanpa ragu pria itu menghampiri Logan, meletakkan berkas yang dikeluarkan dari tasnya.
"Selamat," katanya, tersenyum lebar. "Tanah itu sudah jadi hak milik lo sekarang."
Logan melirik berkas itu, lalu menatap pria itu sambil membuka berkasnya. Dibacanya dalam beberapa saat, senyum lebarnya terkembang.
"Kerja bagus, Tuan Kenan Risyad," pujinya. "Nggak salah gue telah memercayai lo selama bertahun-tahun."
__ADS_1
"Woah, Tuan Jo. Pujian berlebihan ini ... apa lo lagi senang?" goda Kenan. "Gue dengar, para karyawan pabrik sabun di Pekalongan berdemo di depan kantor."
Logan menghela napas panjang. "Ya, tapi sudah selesai. Gue rasa, mereka tidak akan tinggal diam setelah ini. Ancaman dipenjara tidak akan mempan lagi."
"Lalu ..." Kenan berjalan ke sebuah sofa dan duduk di atasnya. "Apa yang akan lo lakukan?"
Tatapan mata Logan mendadak dingin dan misterius, menjalin jemarinya di depan wajahnya. "Tinggal tunggu bom itu meledak."
🍀
Pukul 11 pagi, Pasar Tanah Abang sudah mulai agak ramai. Anna mampir ke toko yang dikelola Adam karena sudah janjian untuk ketemu. Saat ia sampai tokonya, ia melihat Adam dan karyawannya sedang memajang gamis.
Anna hanya berdiri, membiarkan Adam selesai memajang. Kebetulan, pria itu menyadarinya tak lama kemudian. Senyum dan sapaan ramahnya ditanggapi dingin oleh Anna.
.
.
.
Adam mengajaknya ke sebuah warung makan, tapi yang dipesan oleh Anna hanya teh manis es meski Adam bersusah payah memaksanya untuk memesan makanan.
"Ada apa, ya, Elina?" tanya Adam agak sedikit kikuk, merasa terintimidasi oleh tatapan dingin Anna.
Anna terdiam beberapa saat, lalu tertawa kecil, yang justru tampak aneh di mata Adam. "Kenapa ketakutan gitu? Aku nggak makan orang kok."
Adam terkekeh ragu. Rasanya, Anna seperti ingin menelannya hidup-hidup lewat pesonanya itu.
"Mas Adam," ucap Anna lembut sambil memajukan tubuhnya. Lagi, tatapan dingin menusuk ditunjukkannya seraya berkata, "Cowok-cowok yang dijodohin ke saya, semuanya saya tes. Tidak ada yang lulus semua karena mereka tidak ada yang tulus sama saya. Mereka hanya menyukai kecantikan saya, bukan apa adanya saya."
"Tes apa?" tanya Adam, alisnya meninggi sebelah.
Anna tersenyum sinis, tangannya memangku dagu. "Tes ketulusan. Mas masih ingat, nggak? Saya pernah bilang kalau saya sudah tidak perawan?"
Adam mengangguk ragu. Selang sedetik kemudian ia mendelik, menyadari sesuatu. "Apa tes kelulusan yang kamu maksud adalah itu?"
Anna mengangguk, mengacungkan jari telunjuknya sambil berseru, "Nah, itu tahu! Saya memberitahukan mereka soal tes ini, setelah mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan."
Adam tampak tak senang, dalam kebingungan sesaat. "Kenapa kamu lakukan itu?"
"Tersinggung?" sahut Anna, mencemooh. "Tapi saya tidak mau minta maaf. Karena, Mas membuat nama keluarga saya tercemar di depan keluarga Mas," katanya penuh penekanan.
"Ya, saya nggak tahu," jawab Adam, membela diri. "Habisnya, ibu saya tanya alasan saya membatalkan perjodohan kita."
Masih nggak mau mengaku? Anna mendengus, menggebrak meja agak pelan dengan kepalan tangannya yang sangat kuat.
"Mas," ucap Anna dengan geram tertahan. "Mau tau bagaimana penilaian saya tentang Mas?"
Adam hanya diam, tegang menunggu jawaban.
"Mas itu cuma cowok munafik, yang nggak pantas mendapatkan cewek serajin saya."
Adam tercengang, matanya mendelik. Anna menyeruput teh manis esnya sampai setengah gelas, lalu meraih tasnya dan beranjak dari tempat itu.[]
__ADS_1