Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER ENAMBELAS


__ADS_3

Anna tercengang begitu mobil yang dinaikinya berhenti di sebuah rumah besar berhalaman luas.


Rumah siapa ini?


Tahu-tahu, Logan sudah membuka pintu dan ada di sampingnya. Tangan kekarnya langsung mencengkeram pergelangan tangan Anna, menariknya paksa.


"Keluar!"


"Iya, iya! Aku keluar!" Anna menarik tangannya, berkata gusar. "Aku bisa turun sendiri kok."


Namun, Anna hampir saja terjatuh, saat kaki kanan melangkah keluar dari mobil. Untung saja dipegangi oleh Logan, yang tangannya dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Kakiku sakit," desis Anna, meringis ngilu sambil memegangi pergelangan kakinya. "Kayaknya terkilir deh."


Seakan tak peduli, Logan memutar bola matanya, jengkel. "Jangan banyak alasan!" Lalu, digenggamnya kembali pergelangan tangan Anna. "Ayo, masuk!"


"Kakiku benaran sakit tahu!" debat Anna, setengah menjerit. "Tuh, lihat!"


Ya, Logan memang melihat pergelangan kaki Anna memerah. Hati nuraninya jungkir balik antara kasian dan benci.


"Penjahat tidak perlu ada keistimewaan," ujarnya ketus. "Lihat tidak di koran? Penjahat saja digiring dengan tubuh penuh luka."


"Setidaknya polisi masih memperlakukan mereka seperti manusia, bukan diseret-seret layaknya anjing!"


Benar-benar gadis ini! Logan mendengus, mengalah juga akhirnya. Lantas, ia sedikit membungkuk, menggendong gadis itu keluar.


Anna jelas saja terkejut. Kenapa malah tiba-tiba pria itu melakukan ini? Tadi, bukannya sikapnya kasar? Jangan-jangan, nanti Anna main dihempaskan begitu saja.


"Turunkan saya!" protes Anna.


"Berisik!" gumam Logan, dingin. "Kalau kamu bicara dan memberontak lagi, aku akan berbuat kasar lagi!"


Anna mengatup bibirnya, meski sebenarnya ia tak takut dengan ancaman itu. Namun, ia tak memberontak. Ia sengaja ingin memberi sedikit hukuman kecil atas kekasarannya tadi.


Logan membawanya masuk ke dalam rumah. Anna takjub lagi melihat seluruh sudut ruangan tamu yang mewah dan luas itu. Banyak bertengger lampu kristal, juga beberapa barang antik yang tersusun rapi.


Logan menurunkannya di sofa dengan sedikit agak dihempaskan. Anna meringis, lalu melotot kesal pada Logan.


Setelah itu, Logan bertepuk tangan dua kali. Anna pun menoleh dengan tercengang.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya?" tanya Anna, bergumam sangat pelan.


"Bawa orang itu ke sini!" Logan berseru kencang, entah pada siapa.


Siapa? Anna akan segera mengetahuinya dari dua orang pria berseragam yang menggiring seorang pria dengan kepala ditutupi oleh kantong kresek hitam.


Pria itu dipaksa berlutut di hadapan Logan yang sedang berdiri dengan tatapan dinginnya. Ia akan mengajukan pertanyaan, tanpa membuka penutup wajah pria itu.


"Apa kamu kenal Anna?"


Septian menggeleng. "Tidak sama sekali, Pak. Saya sudah katakan kalau saya hanya dibayar oleh seorang pria, asal saya mau kasih seragam dan identitas saya ke dia."


Logan jadi ragu. Tatapannya dialihkan pada Anna yang tersenyum menang.


"Buka penutup kepalanya!" perintah Logan. Setelah dibuka, Logan kembali bertanya, "Kamu kenal dia?"


Anna terhenyak, sementara Septian menoleh padanya. Lagi-lagi, jawaban yang tidak diinginkan didengar oleh Logan. Septian menggeleng.


"Saya akan kasih kamu uang yang banyak, asal kamu mau jujur dan mengaku." Logan memberikan penawaran.


Alih-alih tertarik, Septian merangkak dan memelas. "Pak, tolong lepaskan saya. Saya tidak tahu apa-apa soal pria itu."


"Kayaknya, dia jujur," celetuk Anna. "Kenapa tidak lepaskan aja dia?"


Logan kehilangan akal, sampai kemarahannya meluap. Namun, demi mendapatkan jawaban, ia berpikir untuk menahan emosinya.


"Septian," ucapnya, berjalan mendekat perlahan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Tolong kerja samanya. Sebelum saya benar-benar melemparkan sesuatu ke kamu, lebih baik kamu mengakui semuanya! Siapa yang membayar kamu? Apa wanita itu terlibat?"


Aura dingin menusuk, Septian semakin gemetaran, sampai air matanya mengalir deras. "Sumpah, Pak. Demi Allah. Saya tidak tahu apa-apa."


Rahang Logan mengeras, bersamaan dengan kepalan tangan yang kuat. Dengan cepat ia meraih vas bunga bening yang ada di atas meja, lalu dilemparkannya ke arah samping Septian.


Pria itu mendelik, melemas begitu melihat vas bunga yang pecah di dekatnya. Tak terbayangkan seberapa beratnya luka di kepalanya jika benda itu mengenainya.


Anna sontak berdiri. Melihat Logan akan melemparkan lampu meja, dengan sigap menahan tangan pria itu. "JANGAN! Bapak udah gila, ya?"


"Lepas!" Logan menghela Anna dengan kuat, menyebabkan gadis itu terjatuh dan keningnya membentur tangan sofa.


Anna menjerit pelan, lalu memegang keningnya yang terasa sakit. Logan terkejut, bergegas meletakkan lampu hias itu ke meja, berjongkok menghampiri Anna.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, cemas.


"Nggak apa-apa ..." lirih Anna, lalu mendesis karena merasakan pening di kepalanya.


Logan menggendong tubuh Anna, kemudian diletakkan di atas sofa.


"Kepala kamu benjol," gumam Logan, menyingkap poni Anna dan memeriksa keningnya. Lantas, ia menoleh pada salah satu pengawalnya. "Ambilkan kotak obat!"


"Tidak usah!" seru Anna, mencegah pria berjas hitam itu melangkah. "Ambilkan saya air dan handuk kecil. Kalau begini sih tinggal dikompres aja."


"Dikompres?" tanya Logan, alisnya naik sebelah.


"Iya," jawab Anna.


Terserahlah! Logan menyuruh satu orang pengawal untuk mengambil benda yang diinginkan Anna, sementara dua orang lainnya diperintahkan untuk melepas Septian.


Beberapa saat kemudian, semangkuk air dan handuk kecil berwarna putih dibawa oleh pria itu. Logan menerimanya dan meletakkan mangkuk itu di meja.


Logan mencelupkan handuk itu ke dalam air, lalu diperas, setelahnya handuk itu akan di arahkan ke kening Anna yang benjol.


Namun, suasana ini terasa aneh. Anna spontan beringsut mundur, menatap Logan skeptis, dan berkata, "Saya bisa sendiri."


Logan menghalau tangan Anna yang akan mengambil handuk itu dari tangannya. "Memangnya, saya tidak bisa melakukannya?"


Anna menyipitkan mata. Perubahan sikap yang begitu drastis, dari kasar menjadi baik. Ia pun tersenyum, ketika sebuah kesimpulan terbentuk.


"Kalau merasa bersalah, lepaskan saya dong," kata Anna. "Tadi Bapak sudah dengar, 'kan? Septian tidak kenal saya. Jadi, saya nggak ada hubungannya sama kejadian tadi malam."


Logan menoleh dengan tatapan dingin yang membuat Anna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Septian memang tidak tahu apa-apa. Tapi, bukan berarti kamu bebas dari tuduhan. Saya akan menangkap pria yang berpura-pura jadi pelayan itu."


Sudahlah, Anna menyerah. Ia menghela napas panjang. Sementara itu, Logan terus mengompres keningnya sampai dirasa cukup.


"Oke," desah Anna. "Kalau begitu, saya mau pulang."


Anna beranjak dari sofa, berusaha berdiri tegak di tengah rasa sakit yang ia coba tahan. Anna menunduk sedikit, lalu berpamitan.


"Saya pulang dulu, ya, Pak."


Logan memperhatikan Anna, tampak cemas. Tak mungkin membiarkan gadis itu berjalan pulang sendiri ketika keadaan Anna seperti ini.

__ADS_1


Sebelum gadis itu melangkah, Logan tiba-tiba menggendong Anna. "Saya akan antar kamu pulang."


Antara terkejut dan terpana, Anna tak mengatakan sepatah katapun, menatap pria itu, dan membiarkannya menggendong dirinya sampai ke mobil.[]


__ADS_2