
Sudah hampir 3 hari berlalu. Elina memberitahukan soal pria misterius itu dan menyarankan Raima untuk berhati-hati. Dan selama itu juga Raima tak pernah mengunjunginya di rumah ini.
Tiba-tiba Elina teringat padanya dan ingin tahu kabarnya. Maka, malam itu juga ia menghubungi Raima.
"Halo, Ima. Lagi di mana lo sekarang?" kata Elina begitu tersambung.
"Gue lagi menuju ke hotel Sarnila," jawab Raima, terdengar suara klakson mobil dari sana. Wanita itu sedang mendapat panggilan. Dengan menaiki taksi, Raima ke hotel itu.
Elina mengangguk. "Apa ada berita soal pria itu?"
"Hmm ... nggak kayaknya. Tapi gue tetap waspada, dan nggak ke tempat ibu lo. Takut, nanti dia bisa ngincer adek dan ibu lagi."
Elina lega mendengarnya. Namun, suasana damai ini bukan berarti melonggarkan kewaspadaan. Elina tetap memperingatinya, karena pria itu bisa saja sedang merencanakan sesuatu.
"Oke!" sahut Raima ceria, lalu menutup teleponnya.
Selama bertahun-tahun, Raima selalu mendapat berbagai macam jenis pelanggan yang memiliki perbedaan sifat, karekter, dan tentunya gaya bermain seks. Kali ini, pelanggan ini membuatnya mengernyit sekaligus curiga. Bukannya tidak mau memberi tahu, tapi Mami Sarah tidak tahu siapa nama pelanggannya itu. Katanya demi menjaga kerahasiaannya. Pasalnya, pria itu adalah orang yang paling berpengaruh di perusahaannya. Ya, whatever lah! Yang penting uang yang akan didapatkannya malam ini.
"Mas, ini saya Raima," ia berseru sekalian masuk ke dalam kamar. "Sayang, aku sudah nunggu kamu nih?"
Raima terpaku saat menemukan sebuah bilik yang terdapat sebuah ranjang kosong, tidak ada orang. Apa dia sedang dikerjai? Atau salah masuk? Ia cek nomor kamarnya di pesan dari Mami Sarah berar kok, ini kamarnya.
Raima mendengus. Orang niatnya cuma mau usil kayak gini nih? Buang uang aja pakai naik taksi ke tempat ini, kalau yang didapatkan cuma nihil. Lebih baik ia berbalik, pergi ke Angel's Night Club untuk mencari pria berdompet tebal yang mau dipuaskan olehnya.
Tiba-tiba ia terhenyak. Sebilah pisau ditempelkan ke lehernya oleh seseorang. Ia panik, napasnya dihelanya pendek karena saking ketakutannya. Ia tak bergeming, hanya tangannya yang merasa bergetar.
"Siapa lo? Mau apa lo dari gue?" pekiknya.
"Diam! Gue akan melepaskan lo, asal lo nurut sama gue."
Suara pria yang suaranya teredam. Pasti dia pakai penutup mulut. Wajah Raima seketika memucat menduga orang yang mengancamnya ini. Dia ... pria asing yang mengejarnya dan Elina beberapa hari lalu.
Tangan pria itu yang satunya mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah foto, yang mana ada potret Elina yang dilingkari oleh spidol, yang sedang bersama dengan Matthew.
"Katakan, siapa wanita itu," tanya pria itu, suaranya garang dan mengancam.
"Memangnya lo siapa? Kenapa lo tanya soal wanita itu?"
Pria itu mendesis geram. Kesabarannya sulit di kendaliakan lagi, tetapi masih memberi kesempatan pada nyawa Raima. "Cepat katakan!" sergahnya.
"Kalau gue nggak mau mengatakannya memangnya kenapa? lo mau bunuh gue pun juga silakan, gue nggak ta--" Raima memejamkan mata, perih karena sebuah sayatan kecil di lehernya.
Tawa pria itu menggema di telinganya, bagai nyanyian maut yang meminta nyawanya untuk dilemparkan ke neraka.
"Oke. Tapi gue nggak akan sia-siakan duit gue yang udah gue bayar ke germo lo yang serakah itu, sebelum gue membunuh lo."
Belum sempat Raima merasa panik, tubuhnya di dorong ke ranjang. Pisau lipat diletakkan di dekatnnya, agar mudah menyayat tubuh indah Raima setelah nafsunya terpuaskan. Dibukanya jaket hitam yang ia kenakan, lalu dilemparkan asal. Seringai jahat terbentuk di sudut bibirnya, mendekati mangsanya yang beringsut mundur ketakutan, secara perlahan.
-;-;-;-
Semangkok nasi goreng ayam yang baru matang diletakkan di atas meja makan. Lalu, Elina menata meja makan, meletakkan dua piring di meja yang berbeda, dua gelas, dan sepasang sendok-garpu di masing-masing piring.
Televisi menyala di ruang tamu, menampilkan sebuah berita kriminal di sebuah stasiun TV swasta. Telinga Elina menegak, kala mendengar sebuah pembunuhan seorang wanita di Hotel Sarnila. Hotel itu, bukannya tempat Raima melayani pelanggannya tadi malam? Gumamnya dalam hati.
Elina meninggalkan perhatian kecilnya dari meja makan, menuju ke ruang tamu. Menempati salah satu sofa yang berhadapan dengan televisi, mendengarkan berita itu secara seksama.
Diberitakan, seorang petugas hotel menemukan seorang wanita yang sudah tak bernyawa di salah satu kamar. Wanita itu terlentang di ranjang tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Wajah dan tubuhnya dipenuhi oleh luka sayat, dan lehernya digorok hampir putus. Elina menutup mulutnya, sewaktu pembawa acara itu menjelaskan bahwa kemungkinan wanita itu adalah seorang wanita malam yang disewa oleh sebuah pria hidung belang. Inisial wanita itu adalah "R".
Elina terduduk lemas, air matanya mulai menggenang dan tumpah. Seketika suara isak bergema di ruang tamu, membuat Matthew, yang baru saja keluar dari kamar, berlari menghampirinya.
Matthew bersimpuh di hadapannya. "Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanyanya cemas dan bingung.
__ADS_1
"Raima ..." isaknya, lalu menunjuk ke arah TV yang masih menampilkan berita itu.
Matthew menoleh ke TV. Kasus pembunuhan? Kalau dari nama inisialnya memang merujuk ke arah Raima. Tidak mungkin, wanita itu dibunuh?
Matthew beringsut ke sampingnya, meletakkan kepala Elina di dadanya. Membiarkan gadis itu larut dalam tangis kehilangan dari orang yang paling disayang dan dipercaya, sekalipun kaus hitam lengan panjangnya dibasahi oleh air mata.
Suara bel pintu mengalihkan pandangannya. "Aku mau buka pintu dulu," kata Matthew yang melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju pintu.
Dibukanya pintu kayu bercat putih itu.
Seketika air mukanya berubah kaget melihat sosok yang bertamu sepagi ini di rumah yang disewanya untuk Elina.
Matthew berbalik, memperlihatkan pada Elina seseorang yang datang itu. Elina berhenti menangis, sama seperti Matthew, alangkah terkejutnya ia, sementara orang itu tercengang melihat ekspresinya itu.
"Ada apa ini?" tanya wanita itu renyah sembari masuk ke dalam rumah, setelah dipersilakan oleh Matthew.
Mata Elina membulat, tak percaya bahwa Raima ada di hadapannya dengan masih bernyawa, tanpa ada luka sayatan di tangan, kaki, dan wajahnya. Rasa haru membuncah. Dipeluknya sahabatnya itu erat.
"Syukurlah, lo masih hidup?"
Raima melepas pelukannya. "Ya, emang gue masih hidup. Kok, lo ngomongnya gitu?"
Matthew menyahuti, duduk di lengan sofa di samping Elina. "Dia panik waktu melihat berita pembunuhan di Hotel Sanrila."
Kini Elina menimpali. "Iya. Kemarin elo dapat panggilan di hotel itu, kan?"
Oh, gitu. Raima terkekeh. "Elina, Elina. Emang cuma gue doang yang ngejablay di sana. Enggak kali. Banyak."
"Bukan gitu," tukas Matthew. "Masalahnya, inisial wanita itu 'R', sama kayak kamu."
Raima mengangguk paham. "Oh. Jadi gini, emang ada kasus pembunuhan kemarin di sana. Nama perek itu Rena, salah satu anak buah Mami Sarah. Dia dibunuh pelanggannya yang ternyata psikopat. Dia dibunuh, baru diperkosa."
Elina meringgis ngilu. Untung saja ia tak memilih jalan yang sama dengan Raima. Entah kapan maut akan menghampiri, yang dibawa oleh pelanggan haus akan gairah seks.
"Leher lo kenapa, Ima?"
"Hah?" Raima mengelus bagian leher yang ditunjuk. "Oh. Sebenarnya ini yang mau aku kasih tahu sama lo dan Mister."
Raima memajukan badannya ke arah Elina, dan mulai bercerita, "Semalam pria misterius itu mendatangiku, menyamar menjadi pelanggan. Lalu, dia menempelkan pisau ke leherku sembari memperlihatkan fotomu."
Hah? Sudah sejauh itu? Elina bergidik.
"Lalu?" tanya Matthew.
"Aku menolaknya. Setelah itu, dia mendorongku ke ranjang, ingin bercinta denganku."
Setelah itu, Raima yang ketakutan, berpikir keras untuk menghindar pria itu. Namun, baru saja pria itu melempar jaketnya, suara gaduh di luar membuatnya ketakutan. Pasalnya, itu suara polisi yang berasal dari kamar sebelah.
Pria itu panik, lalu mengambil pisaunya, dan bergegas pergi dari kamar ini. Raima yang bingung, ingin tahu apa yang terjadi; dipungutnya jaket itu, kemudian dipakainya.
Di luar orang-orang sedang berkumpul di kamar sebelah. Ia mendekati kerumunan itu dan bertanya pada seseorang. Barulah ia tahu, bahwa tadi ada kasus pembunuhan seorang wanita malam yang bernama Rena.
Bulu roma Elina seketika berdiri, bergidik. Betapa bahayanya orang itu. Dia bisa melakukan hal yang mengancam jiwa seseorang. Lantas, ia melirik pada Matthew, yang juga sedang berpikiran sama dengannya.
"Aku harus menghentikan ini," gumamnya.
Raima mengernyit. "Maksudnya?"
"Pria itu adalah orang suruhan papaku. Dia sedang berusaha mencari tahu hubunganku dengan Elina."
"Apa?" seru Raima kaget. "Terus, gimana sekarang, Mister?"
__ADS_1
"Kau mau kembali ke Inggris?" tanya Elina langsung menimpali.
Matthew melirik. "Kenapa? Kau mau ikut?"
Elina langsung menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku ke sana?"
Sikap Matthew tiba-tiba berubah misterius, dengan senyuman yang membuat Elina seperti merasakan sebuah firasat buruk.
"Daripada dia penasaran, lebih baik aku mengenalkanmu langsung padanya," ucapnya. "Sebagai calon istriku."
Elina melotot tajam. Apa-apaan ini? Apa ini triknya untuk memaksanya menikah dengannya? "Nggak, aku nggak setuju. Kau pikir itu permainan?"
"Hanya pura-pura saja."
"Nggak ada cara lain?"
"Ada!" sahut Matthew. "Kau tidak perlu ikut, aku akan tetap mengatakan bahwa kau adalah calon istriku yang sedang mengandung anakku. Beres."
Raima diam terkekeh sambil menutup mulutnya. Pasangan yang aneh. Bisa sekali Matthew menggoda Elina sampai pipinya menggembung karena kesal. Mereka terlalu serasi. Ia bahagia, Elina mendapatkan pria yang tepat untuknya. Semoga mereka bisa saling sama-sama untuk membuka hatinya.
"Oh, iya Mister. Kok Mister ada di sini, sepagi ini, dan berpakaian santai?" Raima menyela.
"Sejak pria itu mengejar Elina, aku tinggal di sini," jawab Matthew polos.
"Kalian tidur bersama?"
"Nggak!" sahut Elina cepat, memprotes. "Dia di kamar terpisah."
Raima mengangguk paham. Tapi rasanya ingin sekali menggoda mereka, terutama Elina. Ia terkekeh lalu berujar, "Tidur bareng juga nggak apa-apa kok."
Elina memelototkan matanya, sedangkan Matthew diam-diam tersenyum. Obrolan mereka terhenti karena Raima harus pamit pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket ke kampung. Elina sedih karena selama 2 minggu Raima tidak ada di sini. Padahal, ia membutuhkannya untuk membelikannya sesuatu, begitu candanya.
Matthew juga ingin pergi bersama Elina ke rumah sakit tempat Erick bekerja. Untuk ke sana, mereka menyamar dan tidak memakai mobil Matthew, melainkan sebuah taksi online. Mobil Matthew sendiri terparkir di rumah ibunya.
Matthew menyamar dengan memakai baju denim lengan pendek dan celana jins, serta menempelkan janggut, ditambah lagi kacamata sebagai pelengkap. Lain dengan Elina, yang menyamar dengan menggunakan burka berwarna cokelat susu, sehingga hanya matanya saja yang terlihat.
Tapi hanya ketika dari rumah ke rumah sakit saja, semua atribut dilepas sebelum mereka memasuki ruangan Erick.
Senyum khas berlesung pipit menyapa mereka, meninggalkan perhatiannya pada sebuah data seorang pasien yang sedang diperiksanya. "Mau check, ya?" tanyanya. "Ya udah, bantu istrimu berbaring di ranjang."
Matthew bersorak girang di dalam hati, ketika Erick memanggil Elina sebagai istrinya. Kalau Elina sebaliknya, malah risi dan malu. Ingin rasanya ia memprotes: "Aku bukan istrinya, tau!"
"Semuanya baik." Erick duduk di tempatnya setelah pemeriksaan. "Kau suami dan calon ayah yang baik, Matthew. Anak dan istrimu sehat."
Dipanggil begitu lagi, Matthew tersenyum semringah. Elina yang tadinya agak dongkol, akhirnya pasrah oleh ketidakberdayaannya mendengar dirinya disebut begitu. Saat kelas parenting juga.
Erick yang telah mendaftar mereka kelas parenting tanpa persetujuan Elina. Kelasnya ada di sebelah ruang dokter kandungan. Pasangan itu adalah anggota baru di sana, dan mereka datang sesaat kelas sudah memulai pelajaran. Para anggota sangat takjub melihat mereka. Katanya pasangan serasi--suami yang tampan dan istri yang cantik.
Rata-rata yang menjadi anggota adalah para calon orangtua yang masih muda seperti mereka. Wanita yang bernama Dara, adalah pengajarnya. Karena Matthew dan Elina, Dara mendekati mereka dan mengarahkannya.
"Sebagai seorang suami harus memberi perhatian lebih pada istri," kata Dara, lalu meletakkan tangan Matthew pada pundak Elina. "Pijatlah pundak dan punggung istri Anda. Bagian tubuh ini sering sakit."
Matthew melakukan perintah Dara dengan canggung, begitu juga dengan Elina. Dara tersenyum melihat tingkah pasangan muda ini, seperti tak biasa saja menyentuh pasangannya.
Meski awalnya begitu, lama-lama Matthew terbiasa. Elina pun memuji pijatannya yang dirasa lumayan, di dalam hati.
"Aku akan melakukan ini jika kau mau," bisik Matthew.
Pipi Elina merona, seketika hatinya dialiri rasa hangat yang mendebarkan. Tubuhnya menegang, dan tangannya berkeringat. Ia menunduk terus.
Semua wanita hamil yang ada di sini memiliki suami. Hati Elina menggelitik, andai Matthew suaminya, hal ini pasti menyenangkan. Ia tak perlu malu, tersenyum bahagia seperti wanita lainnya. Tetapi hal seperti itu hanya ada di dalam angannya saja. Jika cinta itu tumbuh di antara mereka berdua, bukan karena harus mempertanggung jawabkan anak yang ada di dalam kandungannya, ia akan bersedia menerimanya sebagai suaminya.[]
__ADS_1
P.S mulai minggu besok up seminggu sekali oke. see you