
Dua hari rasanya cukup untuk menunggunya. Jadi, kali ini Kenan akan melancarkan aksinya untuk PDKT.
"Malam, Ladies," sapanya, pandangan mengarah pada Anna. "Baru pulang kerja?"
"Iya, Pak." Tidak sesuai harapan. Malah Gita yang menjawab, bukan Anna.
"Oh," seru Kenan, berusaha tak terlihat kecewa. "Apa mau saya antar?"
Gita kembali membuka suara. "Boleh kok, Pak. Iya, kan Anna."
Anna menatap Gita tanpa ekspresi, lalu menukas, "Saya bawa motor." Tunjukknya ke arah sebuah motor matik warna biru yang sedang terparkir.
Ini bukan suatu hal yang bisa menghalangi usahanya. "Tapi kan, ini sudah malam, bahaya kalau perempuan pulang malam-malam sendirian."
Ada saja alasan yang keluar dari bibir mungil Anna. "Jalan menuju rumah saya ramai kok. Jadi, saya nggak khawatir."
Barulah, Kenan menyerah untuk hari ini. Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Dengan senyum kecut, ia berkata, "Baiklah, saya tidak memaksa." Ia menyingkir sedikit, merentangkan tangan sembari agak membungkuk. "Silakan. Hati-hati di jalan, ya."
Anna dan Gita berjalan menuju motor mereka masing-masing. Gita menyikut Anna sambil berbisik, memprotes yang dilakukan oleh Anna tadi.
"Iiih! Gimana sih kamu, Anna?" bisik Gita. "Padahal, itu kesempatan kamu buat PDKT sama Pak Kenan lho."
Anna tersenyum mencemooh. "Biarin. Lagian, aku belum tertarik buat cari gebetan kok."
🍀
Orangtua Logan sudah membuat janji dengan orangtua Nina. Dan malam ini, mereka makan malam bersama untuk membicarakan soal hari baik pertunangan anak-anak mereka.
"Nina dan Logan sudah sepakat kalau pertunangan mereka akan diadakan sebelum keberangkatan Nina ke London," kata papa Nina.
Matthew dan Elina tersenyum saling berpandangan, lalu mereka memandang Logan dan Nina.
"Kalau memang begitu, bagaimana kalau hari sabtu depan? Bagaimana?" Matthew angkat bicara.
Papa Nina tertawa senang. "Hari yang bagus."
Kemudian, istrinya menimpali, "Ya, saya juga setuju. Untuk masalah tempat acara, bagaimana kalau di sebuah aula Hotel Heaven milik keluarga kami?"
"Apa tidak masalah?" tanya Elina.
Kedua orangtua Nina tertawa kecil, lalu mamanya Nina menimpali:
"Tentu saja tidak. Ballroom kami sangat luas dan mewah. Tentu akan cocok untuk pesta pertunangan mereka."
Keduanya sudah sepakat dengan acara pertunangan itu. Logan tersenyum pada Nina, yang juga merasakan kebahagiaan sama, sambil menggenggam tangannya.
🍀
Kartu undangan. Anna malas melihatnya. Makanya, ia singkirkan dari pandangannya, beralih pada berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Semoga, ia tidak lagi melihat ataupun mendengar soal undangan pernikahan lagi.
Akan tetapi, Tuhan yang menentukan takdirnya. Malam ini, kata yang keluar saat ibunya menyambut kepulangannya ke rumah adalah:
__ADS_1
"Pak Sam, kamu tahu, 'kan? Anak bungsunya akan menikah."
Anna menghela napas, duduk di sofa. "Terus emang kenapa?"
Kenapa? Mama merasa tersinggung. "Ya, kita semua diundang. Kamu harus ikut nanti."
Oh, ya Tuhan. Rasanya, ia ingin menyumbat kedua telinganya dengan sesuatu. Mama terus berbicara, sementara ia beranjak dari sofa sambil menenteng tas tangannya dengan tubuh letih.
"Aku nggak mau ikut," gumam Anna datar.
Seolah tak mendengarnya, mama menyahut keras. "Harus! Mama tidak enak sama Pak Sam kalau kamu tidak ikut."
Mama begitu ngotot, sampai mengikuti Anna ke kamar. Gadis itu hanya menghela napas, memijat keningnya.
"Ya, bilang aja aku lagi sakit. Lagipula, aku ada banyak kerjaan, Ma," kata Anna.
"Nggak ada alasan!" lugas mama, tegas, bahkan sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Anna menghela napas jengkel. Tawar-menawar ini berakhir karena mama meninggalkan kamar Anna.
"Huft! Bulan apa sih sekarang? Kenapa udah musim kawin?" gumam Anna, menutup pintu kamar, kemudian berjalan ke ranjang dan duduk di tepinya. "Minggu ini aja ada dua undangan. Sabtu ini, Yerin nikah."
Anna menoleh pada ponselnya yang tergeletak di dalam tas. Pas sekali, Yerin yang baru disebutnya menghubunginya. "Hmm ... Wae?"
"Kenapa? Kok sewot gitu? Nggak senang sahabatnya telepon?" goda Yerin.
"Nggak. Gue lagi ngantuk aja," jawab Anna, kembali duduk di tepi ranjang.
Anna tahu Yerin hanya bercanda, dan ia membalasnya, "Beda banget, ya, yang mau nikah sama abang tukang minyak."
"Njir," tawa Yerin. "Tukang minyak. Dia emang turunan arab, tapi dia pengusaha dan anak menteri tahu!"
Anna terkekeh. "Iya, deh. Tapi gimana rasanya?"
"Belum gue cicipin. Entar lah, pas malam pertama," seloroh Yerin, di sana berusaha menahan tawa.
"Porno otak lo. Bukan itu yang gue maksud, Mak Yeye."
Wanita berwajah oriental itu tertawa keras. "Iya, gue ngerti. Em ... Farhat itu mungkin bisa dikatakan perfect. Ganteng, perhatian, walaupun nggak terlalu romantis."
"Tajir! Satu kata yang ketinggalan," sela Anna cepat.
"Kalau yang itu, nggak usah ditanya," sahut Yerin. "So, Miss An. Lusa lo harus datang ke pernikahan gue."
"Iya lah! Lo mau kado apa?" Anna terkekeh.
"Em ... kartu undangan pernikahan lo." Lagi-lagi, Yerin mencandainya.
"Sue! Nggak usah macam-macam deh. Udah, ah! Gue mau tidur. Bye!" Tutup Anna.
🍀
Petang hari, Kenan berdiri di depan pintu masuk kantor. Ia memperhatikan setiap orang yang lalu-lalang keluar dari gedung. Namun, tak ada satu pun terlihat gadis cantik yang sedang diincarnya itu.
__ADS_1
Ia melirik arlojinya, bergumam pelan, "Kok belum keluar?"
Lantas, ia melihat seorang wanita berkacamata, yang dikenalnya dengan nama Eka. Dihampiri wanita itu, lalu ia bertanya:
"Sore, Madam," sapa Kenan terlebih dahulu.
Eka menoleh dan tersenyum. Sore, Kenan."
"Em ... Begini. Anna itu asisten Ibu, 'kan?"
"Benar." Eka mengernyit. "Memang kenapa?"
"Apa Anna masuk kantor hari ini?" tanya Kenan, enggan tapi rada tersipu.
"Oh. Anna masuk kerja tadi. Tapi pulang cepat karena ada urusan katanya."
"Urusan?" gumam Kenan dengan dahi mengkerut.
.
.
.
Sebuah mobil Ayla berwarna merah berhenti di tempat parkir yang terdapat pada area dermaga. Seorang wanita bergaun warna pastel turun dari dalam mobil.
Kakinya yang bersepatu hak tinggi warna putih melangkah ke dekat kapal. Anna memandang kapal pesiar yang begitu mewah itu dengan takjub sambil tersenyum.
"Yerin, lo emang hebat," gumamnya. Lalu, tiba-tiba ia bersin.
Ini bukan karena cuaca dingin yang menerpa kulit bahunya yang tak tertutup, tetapi karena Anna memang sudah sakit sejak pagi.
Dengan anggunnya, Anna melangkah masuk ke kapal. Dua orang pelayan menyapa dengan ramah, lalu meminta kartu undangan. Barulah, ia bisa masuk ke dalam.
Anna menelepon saat memasuki kapal, melirik ke setiap sudut, mencari seseorang yang mungkin dikenalnya.
"Halo, Ye. Lo lagi di mana? Gue mau foto-foto sama calon pengantin nih," kata Anna, sesudah telepon tersambung.
"Tanya aja sama salah satu pelayan. Mereka bakal kasih tahu di mana ruang ganti pengantin perempuan," jawab Yerin.
Anna menutup teleponnya setelah mengerti. Akan tetapi, kepalanya yang pusing membuat tubuhnya tiba-tiba terhuyung. Ia hampir saja terjatuh, jika seseorang tidak memegangi tubuhnya.
Ia mendelik, terhenyak. Lalu, ia melirik pada pria yang menolongnya itu. Terpana sejenak, menatap pria tampan itu. Logan, dialah penolongnya.
"Eh!" Anna spontan berdiri. Merasa malu, ia menundukkan kepala. "Maaf, Pak."
"Kamu pegawai baru itu, 'kan?" tebak Logan.
Anna mendongak. "Iya, Pak. Saya nggak nyangka bisa ketemu di sini."
"Kebetulan aja," gumamnya dingin, lalu melangkahkan kaki tak mengacuhkan Anna.
Dasar! Anna meradang. Kalau bukan bosnya, akan ia balas deh.[]
Sebenarnya, bab ini belum selesai. Maaf segini dulu ya. Soalnya ada urusan. Sambung di chapter selanjutnya.
__ADS_1