Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH ENAM


__ADS_3

"Pak, saya hamil."


Setelah itu ... Apa? Anna menelan air liurnya. Pria yang ada di hadapannya hanya menatapnya. Apa ini bukan berita yang mengejutkan?


Anna berpikir, mungkin pria itu ragu dan menganggap bahwa ucapannya itu hanya karangannya saja. Makanya, ia sudah mempersiapkan senjatanya.


"Ini, surat pernyataan dari dokter kandungan, dan ini test pack yang saya lakukan sendiri pengecekannya."


Logan melirik semua benda yang Anna letakkan di atas mejanya, tapi hanya sekejab saja. Anna berdiri dengan gelisah sambil melihat reaksi pria itu.


"Jadi, kamu meminta saya bertanggung jawab dan menikahimu, begitu?" ujar Logan, tenang dan datar.


"Em ... Saya—"


"Apa kamu menginginkan bayi ini?" potong Logan.


Anna hanya bergeming, menelan air liurnya. Soal anak ini, ia memang tidak menginginkannya, tapi ia tetap ingin anak ini lahir. Hanya saja, ia tidak tahu rencana selanjutnya tentang anak ini.


"Jujur," Logan mengambil surat pernyataan kehamilannya, hanya melihat tanda tangan dokter kandungan yang memeriksa Anna, "aku tidak menginginkannya."


Anna mengernyit, tetapi tak terkejut karena ia tahu bahwa kenyataannya memang begitu.


"Kita tahu kalau yang terjadi pada kita karena kecelakaan," lanjut Logan. "Kita tidak saling menyukai, dan kita berbeda keyakinan. Jadi, pernikahan tidak akan mungkin terjadi."


"Saya juga tidak meminta hal itu, Pak," sahut Anna. Lagipula, hatinya sudah telanjur memasukkan Logan dalam black list tipe pria yang tidak disukainya.


Logan mengangguk. "Ya, sudah kalau begitu. Jalan satu-satunya hanya 'menggugurkan janin itu'."


Anna terbelalak. Bukan ini yang diinginkannya!


"Bapak salah paham, saya juga tidak menginginkan itu."


Logan mengeluarkan sebuah cek, menulis sebuah nominal, lalu menandatanganinya. "Ini. Cukup?" Ia menyodorkan cek itu pada Anna.


Akan tetapi, Anna hanya melihat saja. Hatinya terbakar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap bengis pada Logan. Cek itu diambilnya, diremasnya, kemudian dilemparkan ke wajah Logan.


Logan mendelik, murka, sambil berteriak, "Beraninya kamu!"


"Saya sudah berbuat dosa malam itu, dan saya tidak mau melakukannya lagi!" tukas Anna tak goyah oleh bentakan Logan. "Silakan Anda menikmati kehidupan indah Anda!"


Anna berbalik pergi, air matanya tertahan karena tak ingin ada orang lainnya yang melihatnya. Ia telah menjauh dan tak akan berurusan dengan pria itu, meskipun anak yang akan dilahirkan darah daging Logan.


Matanya terlalu buram untuk melihat, sampai tak sadar menabrak Kenan yang akan menuju ke ruangan Logan. Kenan terkejut, Anna menunduk seraya meminta maaf.


Kenan mengernyit memperhatikan dengan seksama wanita yang menabraknya. "Anna?"


Suara Kenan, Anna sangat mengenalnya. Ia hanya melirik sekejab dan berkata, "Iya, ada apa?"


Ada yang aneh dengan gadis ini. Kenan mencoba melihat Anna meski gadis itu bersikeras menyembunyikan wajahnya. "Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu? Kamu masih sakit?"


"Saya tidak apa-apa. Permisi."

__ADS_1


Anna langsung pergi meninggalkan Kenan yang tercengang. Dari analisanya, wajah gadis itu memang pucat, tapi bukan karena sakit. Sikapnya itu seperti sedang terjadi sesuatu.


Lalu, ia menoleh pada ruangan satu-satunya di lorong ini—ruang kerja Logan. Pikirnya, mungkin ada hubungannya dengan pria itu?


"Apa mereka sedang berselisih?" Kemudian, Kenan mendelik. "Apa Logan mau memecatnya?"


Kenan melangkah cepat menuju ruangan itu. Geram sekali! Gadis yang disukainya akan dipecat, padahal belum ada sebulan dia bekerja.


Tapi tunggu dulu!


Kenan tiba-tiba berhenti di depan pintu ruangan itu. Ia tidak mungkin menanyakan hal itu dalam keadaan marah. Kalau ia salah menyangka bagaimana?


"Mungkin saja, bukan karena itu permasalahannya?" gumamnya.


Kenan berpikir cukup lama di sana, sebelum akhirnya ia menekan gagang pintu dan membuka pintu.


"Logan," serunya memanggil, dengan nada lucu, berdiri di depan pintu.


Logan tampak termenung kesal? Kenan menduga bahwa ada suatu hal yang mengganggu pikirannya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Logan, ketika Kenan berada di hadapannya.


"Gue mau ngajak Anna makan siang, tapi kayaknya dia nggak bisa," jawab Kenan. "Dan, sekalian gue mau ngasih tahu soal tanah yang pengin lo beli buat membangun rumah impian lo sama Nina."


Bukankah ini berita yang menggembirakan? Kenan saja menyampaikannya dengan senyum lebar dan riang, yang menjadi ciri khasnya. Namun, kegusaran Logan tak kunjung lenyap. Malah, dia membalasnya dengan dingin.


"Batalkan saja!"


"Lho? Kenapa?" tanya Kenan heran.


Kenan paham sekarang. Jadi, ini yang membuat wajah tampan Logan tidak enak dilihat? Syukurlah, ini bukan karena masalah yang dipikirkannya tadi. Untung saja, niat melabrak Logan dibatalkan.


"Ya, sudah kalau begitu," kata Kenan, mengeluarkan secarik kertas kecil yang bertuliskan sebuah nomer telepon. "Aku tidak memerlukan nomer orang ini lagi. Lagipula, aku malas berbicara dengannya—orangnya ketus."


Alih-alih mendengarkan, Logan beranjak sambil memakai jasnya. "Bukannya kamu mau makan siang? Ayo, pergi!"


"Eh? Oke!"


Sementara Logan berjalan pergi, Kenan meremas kertas tadi dan akan membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping meja kerja Logan.


Mimiknya berubah ketika ia membuka dan melihat isi tempat sampah itu.


"Test pack?" gumamnya dalam hati, mengernyit.


Selain itu, ia menemukan secarik kertas yang di bagian kepala suratnya tertera nama sebuah klinik. Kenan mengambil kedua benda itu.


Entah beberapa baris yang dibacanya, sampai kerutan di dahinya bertambah dengan mata menyalak kaget.


🍀


Mata sembab, tubuh lemas, pandangan kosong, Anna kembali ke ruangannya dengan kondisi seperti itu. Selama 10 menit ia menangis di dalam kamar mandi, tak mengindahkan ponselnya yang menjerit berkali-kali.

__ADS_1


Sifa menghampirinya ketika Anna sampai di ruang kerjanya. Mulutnya sudah terbuka, akan mengatakan sesuatu yang penting. Namun, ia urung melihat kondisi Anna yang membuatnya sangat cemas.


"Kakak masih sakit?" tanyanya, meletakkan tangannya di bahu Anna dan memapahnya.


"Ada kerjaan buatku, ya?" Anna melantur.


Sifa mengatup mulutnya meski ingin menjawab ucapan Anna. Dalam kondisi begini, mana mungkin ia melimpahkan pekerjaan padanya? Nanti malah tambah sakit.


"Kakak mau makan siang? Aku beliin, ya?"


"Nggak usah. Aku nggak nafsu makan," jawab Anna.


"Jangan gitu dong, Kak. Nanti Kakak malah tambah sakit," protes Sifa, lalu mencoba membujuk lagi. "Kakak makan, ya. Abis itu minum obat. Nanti aku kasih tahu deh tugas Kakak."


Anna menghela napas. Ini bukan karena bujukan dari Sifa, tetapi karena pikirannya mulai agak jernih lagi. Ia sudah bertekad untuk membesarkan bayi ini, jadi ia harus makan dan minum obat supaya bayinya sehat.


"Oke, pesankan aku ketoprak, cabenya 3 atau 4, ya? Terus, jangan pakai bawang putih—aku nggak suka. Kerupuknya banyakin, bihunnya juga. Eh, atau ... Sekalian porsinya juga banyakin deh! Nanti, aku bayar."


Sifa tercengang mendengarnya. Anna benaran nggak nafsu makan? Kok pesannya seperti orang kelaparan gini?


"Oke, Kak!"


Setelah Sifa membawa Anna ke meja kerjanya, gadis itu pergi untuk membeli makanan pesanan Anna. Kini, Anna termenung, menangkupkan wajahnya.


Ponselnya berbunyi dan layarnya menyala. Anna melirik, melihat nama si pengirim pesan.


Kenan?


Anna meraih ponsel, lalu membaca pesan itu.


"Aku ingin bertemu denganmu nanti. Jadi, jangan pulang dulu."


Pesan yang tersirat menandakan bahwa ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakannya. Apa ini tentang hubungan pertemanan mereka? Apa dia mau nembak lagi?


Anna akan mendapatkan jawabannya pada saat pulang nanti. Seperti perkiraan, pria itu menunggunya di tempat motornya terparkir.


Senyumannya dingin, dengan tatapan serius yang membuat Anna menggigil. Baru kali ini ia melihat ekspresinya seperti itu.


"Mau bicara apa?" tanya Anna.


"Ikut aku ke mobil," jawab Kenan datar.


"Kalau ini caramu untuk membuatku pulang bersama denganmu, aku tidak mau."


"Pembicaraan ini tidak bisa kita bahas di sini," buru Kenan. "Aku tahu, kamu menolakku. Makanya, aku mengajakmu ke sana."


Cukup masuk akal untuk meyakinkan Anna. Gadis itu mengangguk, lalu Kenan berjalan duluan ke mobil, dan Anna menyusulnya.


Tanpa buang waktu lagi, Kenan memperlihatkan sebuah kertas dan sebuah test pack pada Anna. "Benarkah ini punyamu?"


Wajah Anna mendadak pucat, yang membuat Kenan menarik kesimpulan bahwa "ini memang milik Anna".

__ADS_1


Kenan menyingkirkan benda itu dari hadapan Anna. "Apa Logan yang menghamilimu?"


Anna menunduk dalam, bingung apakah harus mengaku atau berkelit. Ia tak mau membuat masalah, apalagi Logan dan Kenan bersahabat.[]


__ADS_2