
Dewi terbengong melihat Matthew menggendong Elina, wanita yang berstatus lebih rendah dari anaknya. Ia jadi teringat oleh dugaan Monika tentang Matthew dan Elina. Sepertinya memang benar, mereka berdua punya hubungan.
Elina berbisik, menyuruh Matthew untuk menurunkannya. Tetapi pria itu tidak melakukannya, bahkan dia beralasan:
"Ma, Elina kakinya terkilir tadi."
Alasan apa itu? Matthew membuat mereka semakin dicurigai. "Ah, saya bisa jalan sendiri kok—"
Elina bersikeras untuk turun, tapi Matthew mencegahnya dan malah membawa Elina masuk ke dalam rumah. "Ma, aku akan antarkan Elina sampai kamar, ya?"
Dewi masih belum sadar akan keterpanaanya. Ia akan membicarakan ini dengan Matthew, setelah mengantarkan Elina ke kamarnya. Kebetulan, ia berpapasan dengan Monika. Wanita itu sama terkejutnya dengan Dewi, ketika baru sampai di rumah dan melihat adegan itu.
"Kenapa Matthew....?"
"Entahlah," bisik Dewi, "kata Matthew, kaki Elina terkilir."
-;-;-;-
Matthew membaringkan Elina perlahan di atas ranjangnya. Tidak ada kata lagi yang terucap, hanya Elina mengatakan "terima kasih", lalu Matthew berlalu ke luar dari kamar.
Elina sudah menetapkan akan kembali menjaga jarak dengan Matthew, seperti malam ini. Matthew yang sudah menyadari kesalahannya, berencana untuk berdamai dengan Elina. Ia akan ke dapur, membuatkan segelas susu untuknya, lalu meminta maaf.
Namun, sesampainya di sana, Elina sudah membuat susunya. Matthew menghampiri, berharap ada kesempatan untuk berbicara. Tapi nyatanya tidak, Elina tersenyum singkat, kemudian berlalu begitu saja setelah mengatakan, "Selamat malam, Tuan."
Matthew tercengang. Apa? Bahasa formal? Bukannya kini mereka hanya berdua? Kenapa Elina begini? Serius, Elina benar-benar marah. Lantas ia berbalik, memanggil Elina.
"Katanya kau mau mengatakan sesuatu tadi. Baik, akan aku dengarkan."
Mengatakan sesuatu? Oh, maksudnya yang di restoran. Elina berbalik sedikit. "Saya sedang tidak mau membahasnya."
Matthew berjalan mendekatinya. "Tapi saya sudah siap mendengarkan."
Meski kelihatannya bersungguh-sungguh, Elina tetap menolaknya. "Itu bukan hal yang penting. Lagi pula, ucapan pembantu itu belum tentu benar. Mungkin saja hanya gosip."
Mampus, kata-kata Matthew tadi dibalikkan oleh Elina, dan kesalnya lagi Matthew tidak dapat membalasnya.
"Kalau begitu, saya permisi."
Di dalam pikiran Matthew, wanita itu sedang menyindirnya. Tapi Elina sendiri tidak berpikir demikian. Ini cara menjaga jarak dengan Matthew. Lagi pula, ia tak mau Matthew marah gara-gara cerita yang masih diragukan kebenarannya, apalagi ini menyangkut kakaknya dan Dimas.
Para pria berpikir, kemarahan wanita hanya singgah sesaat, besok mereka akan baik lagi. Itulah yang diyakini Matthew. Pagi nanti, ia akan melihat senyuman dan sapaan ramah Elina kembali. Tapi boro-boro tersenyum, sapaan dingin saja yang didapatnya. Perhatian Elina terlalu sibuk pada Justin, sedangkan dirinya sama sekali tidak dilirik.
__ADS_1
"Elina, apa kakimu sudah sembuh?" tanya Monika tiba-tiba.
Matthew berhenti meraih roti panggang rasa cokelat, lalu melirik Elina. Sedangkan gadis itu gugup, juga melirik Matthew sambil berpikir.
"Ah, iya. Sudah. Saya sudah memberikan minyak urut ke kaki saya," jawab Elina agak terbata.
"Oh, baguslah. Tolong hati-hati, jangan sampai Justin jatuh ketika kau menggendongnya," ujar Monika, membuat Matthew bernapas lega. Salut pada Elina, pandai mencari alasan yang tepat.
Matthew melihat Elina berjalan ke lantai atas. Tadinya, ia akan mengikuti, tapi Monika tiba-tiba membahas soal Dimas.
"Matthew, kasus Dimas sudah diperkarakan, dan sekarang dia mendekam di penjara," kata Monika sambil menyantap sarapannya.
"Oh, bagus itu." Habis, Matthew sedang tidak tertarik untuk membahasnya. Lalu, ia beranjak dari kursi. "Aku mau ke atas. Ada dokumen yang ketinggalan."
Sebelum kesempatannya hilang, Matthew berlari menaiki tangga dan menyusul Elina di kamar Justin. Wanita itu baru saja keluar dari kamar Justin, dan mereka langsung berpapasan di depan kamar.
Elina menatap heran. Pria ini terengah-engah seperti habis berlari saja. Tapi memang begitu kenyataannya. Demi bisa bicara dengannya, pria itu melakukan ini.
"Beri aku waktu sebentar saja. Oke," kata Matthew, terpotong-potong ucapannya karena napasnya belum teratur.
"Maaf, Tuan. Justin harus ganti baju, takut masuk angin," jawab Elina. Ini bukan alasan, tapi memang begitu adanya.
"Elina, please!"
Matthew menghela napas. Apa lagi yang harus ia lakukan jika wanita itu selalu berusaha menghindar. Ia sungguh tidak tahan, padahal belum ada 24 jam Elina memperlakukannya begini. Ia sudah terlalu bergantung pada Elina. Wanita itu sudah membuatnya kehilangan akal.
-;-;-;-
Pukul 11 malam. Elina yang tidak bisa tidur berjalan ke dapur untuk membuat susu dan mengisi botolnya dengan air minum. Ia mengernyit, lampu di dapur menyala. Apa ada orang di sana?
Memang benar, Matthew sedang di dapur, duduk di meja makan dengan segelas susu di dekatnya dan sebotol wine. Dia mabuk lagi ternyata. Pria itu mengacungkan gelasnya, bergumam tanpa melihat Elina, ketika gadis itu berada di ambang pintu.
"Ini susumu. Aku sudah buatkan."
Elina menghela napas. Apa lagi yang akan diperbuat pria yang sedang mabuk itu? Ia akan menjaga jarak. Ia berdiri agak jauh dari Matthew, meraih gelas berisi susu.
"Terima kasih."
Tanpa buang waktu, ia berbalik dan berjalan ke dispenser untuk mengisi botolnya.
"Kau masih marah?"
__ADS_1
Elina mematung, tapi tetap tak menanggapi. Botol air yang telah diisi penuh ditutup rapat, lalu meminum susunya.
"Duduklah. Nanti kau tersedak jika minum sambil berdiri," kata Matthew, menepuk-tepuk kursi yang ada di sampingnya.
Elina berhenti minum sejenak, lalu melirik Matthew sekilas. Ia tak mengacuhkan pria itu, malah melanjutkan meminum susunya.
Matthew meletakkan gelasnya, mengacak rambutnya gusar. Wanita itu telah menguji kesabarannya. Jika Elina tidak mau menghampirinya, maka dialah yang akan mendatanginya. Elina pun menurunkan gelasnya, ketika dia ada di hadapannya.
"Elina, cukup. Kau sudah keteraluan." Matthew mengacungkan jarinya ke Elina. "Kalau kau marah karena ucapanku, aku minta maaf."
Elina memandang skeptis, lalu mendesah. "Sebaiknya Anda istirahat, Tuan—"
"Matthew!" tegurnya tiba-tiba. "Memangnya bibir cantikmu itu kesulitan mengucapkan namaku? Baiklah, akan aku eja. M-a-t-t-h-e-w. Matthew."
Sudah berapa gelas yang dia minum? Elina sampai menutup mulutnya, mual mencium bau alkohol yang menyengat. Biarlah. Segera habiskan susunya, lalu kembali ke kamar. Menanggapi orang mabuk, sama saja menuang air di dalam ember yang pecah.
Gelas yang sudah kosong, lantas Elina cuci dan diletakkan kembali ke rak piring. Ia berbalik dengan acuh tak acuh, akan pergi dari hadapan Matthew. Tetapi pria itu mendapatkan tangannya, menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukannya tanpa sempat Elina hindari.
Elina meronta dan berbisik. "Lepaskan, Tuan. Nanti akan ada yang lihat."
"Biarkan saja mereka tahu kalau kita pernah berhubungan intim, dan kau mengandung anakku. Aku tidak peduli. Aku muak seperti ini terus. Aku ingin mereka menikahkan kita, supaya kita bisa membesarkan anak itu. Aku tidak mau kau memisahkan aku dengan anakku."
Benarkah yang diucapkannya? Atau ini hanya ocehan ngaco orang mabuk? Perlukah ia memercayainya. Perlahan, Elina terdiam, menatap Matthew yang matanya setengah terbuka, juga menatapnya. Ia bingung. Selama ini, ia telah melihat kesungguhan Matthew untuk bertanggungjawab. Tetapi ia masih mempertahankan prinsipnya untuk tidak menikah.
Kandungan sudah memasuki bulan kedua. Sampai sekarang, ia tak kunjung membuat keputusan. Kepalanya dipenuhi oleh keraguan. Takut, jika keputusannya salah.
"Tidak, Matthew. Aku sudah katakan, kalau aku tidak mau menikah—"
Pria itu mengejutkannya lagi. Matthew tiba-tiba menciumnya, takkan membiarkan kata yang tak ingin didengarnya terucap oleh Elina.
"Bibirmu cantik, tapi sangat tajam dan menyakitkan," ujar Matthew setelah melepaskan ciumannya. "Setiap kata yang keluar hanya membuatku marah dan sakit hati. Dan aku tidak tahan untuk menciumnya, agar kau berhenti berbicara."
Elina **** bibirnya.
"Dengar. Jika kau mengatakan sesuatu yang tidak kusuka atau membantahku, maka aku akan menciummu. Kau ingat!" Matthew melanjutkan.
Setelah itu, Matthew terkulai tak sadarkan diri di pelukan Elina. Untung saja, Elina cepat-cepat menahannya, kalau tidak, ia juga akan ikut terjatuh.
Aduh, sekarang ia harus membawa pria ini ke kamarnya. Elina menegadah, menatap tangga. Dengan badan seberat ini? Sanggup nggak ya? Yang ada Elina malah pingsan.
Dengan susah payah, Elina memindahkan tubuh Matthew ke sofa yang ada di ruang tamu. Tetapi Elina sulit menyeimbangkan badan, sehingga ia yang terjatuh di sofa dan tertimpa badan Matthew.
__ADS_1
Oh, ya ampun.[]