Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER LIMABELAS


__ADS_3

Brak!


Pintu kayu reyot itu dibuka dengan kencang, berdiri sebuah siluet yang dengan cepat masuk ke dalam ruangan yang gelap, menghampiri lemari kayu jati yang warnanya telah pudar.


Napas sosok itu memburu, memasukkan asal beberapa pakaian dan barang-barang berharga di sebuah tas. Ia terhenyak kala mendengar suara pintu dibuka paksa. Semakin paniklah ia, mempercepat pekerjaannya, lalu pergi dari pintu lainnya.


Beberapa detik kemudian, pintu rumah ini terbuka, beberapa pria berjas hitam masuk ke dalam dan mulai menggeledah rumah ini.


"Tidak ada di manapun, Pak," lapor seorang pria pada atasannya setelah selesai menggeledah.


"Berarti, dia sudah kabur," gumam si atasan berbadan besar dan berkumis tebal itu. "Cepat, cari di luar! Kemungkinan, dia belum lari jauh dari sini!"


Perintah itu segera dilaksanakan. Mereka bergerombol mencari di gang sempit yang ada di daerah pinggiran ibu kota. Matahari terik membakar semangat mereka untuk mencari Septian Halim.


Pria yang mereka cari sedang berlari dengan wajah pucatnya di sebuah lapangan bola yang dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain.


Salah satu pria berseragam itu berhasil menemukannya, dan menyusulnya ke sana. "Jangan lari!" teriaknya, hingga anak-anak yang ada di lapangan menoleh padanya.


Laju pria yang diburunya itu larinya semakin kencang sambil memegang erat tas hitam di dadanya. Oleh karena itu, pria berseragam tadi mengeluarkan sebuah pistol lalu ditembakkannya ke atas.


Sontak, bukan hanya pria itu, tetapi orang-orang yang mendengarnya menutup telinga. Pria itu jongkok, menutup matanya erat dan gemetaran.


Saat pria berseragam itu menghampirinya, Septian Halim bergumam ketakutan, "Tolong, ampuni saya ... Saya tidak tahu apa-apa, Pak. Tolong jangan tembak saya...."


Kedua tangan Septian dibekuk dan diikat oleh pria berseragam itu.


"Pak, saya sudah membekuk Septian Halim," lapor pria itu lewat sambungan telepon.


"Kerja bagus! Nanti teman-teman kamu yang lain akan menyusul, lalu bawa dia ke mobil," kata si atasan.


"Baik, Pak."


🍀


Anna merenung, membiarkan mesin fotocopy mengkopi sebuah kertas. Nada dering ponselnya membuyarkan lamunan itu, sebuah telepon masuk dari Kenan.


"Halo."


"Nanti aku jemput, ya?" kata Kenan.


"Nggak usah, Pak. Saya kan bawa motor," tolak Anna, setelah menghela napas.


"Ditolak lagi," keluh Kenan, tapi tetap terdengar nada ceria. "Jadi, kapan kita bisa pulang dan makan bareng lagi? Apa nggak bisa kita jadi lebih dekat?"


Mungkin tidak untuk saat ini, pikir Anna. Namun, ia tak akan ungkapkan hal itu. Makanya, ia terdiam beberapa saat untuk mencari kata yang tepat.

__ADS_1


"Em—"


"Jangan bilang next time lagi, ya?" sela Kenan, kemudian terkekeh. "Yang kreatif dikit dong."


"Aku nggak pengin bilang itu kok," tepis Anna, tak mengakui bahwa memang ucapan itulah yang sebenarnya ingin dikatakan tadi.


"Em, oke. Jadi, mau bilang apa?" goda pria itu dengan nada mencemooh.


Anna mengatupkan bibirnya rapat. "Kenan, beri aku waktu untuk mengenalmu. Bisa?"


Tak ada suara di seberang sana. Anna cemas kalau pria itu menjadi kecewa. Namun, tidak seperti pikirannya, tawa Kenan terdengar kemudian.


"Tentu saja. Aku akan sabar menunggumu, Anna," ucap Kenan seolah menghembuskan angin segar yang melegakan hati Anna. "Tapi, aku mau jujur padamu."


Anna tersenyum. "Jujur soal apa?"


"Sejak awal, aku suka sama kamu."


Rasa apa ini? Pipi Anna memerah, dan hatinya terasa hangat mendengar pernyataan cinta yang sering didengarnya dari pria lain. Sungguh, kini ia kehilangan kata.


"Oke, udah dulu, ya. Pulangnya hati-hati." Kenan menambahkan. "Jangan melamun. Soal ini, nggak usah dipikirin, oke?"


Jangan dipikirkan? Setelah Anna menutup teleponnya, ucapan itu terngiang-ngiang di telinganya. Jadi kurang konsen kerja.


Apa Anna mulai suka sama cowok itu?


Daripada memikirkan hal itu, lebih baik Anna meraih sebuah dokumen untuk diselesaikan. Namun, ia termenung lagi sambil memangku dagu.


"Kenan memang baik, tapi—"


"Anna!" seru seseorang yang membuatnya terlonjak.


"Iya!" sahut Anna, langsung menoleh. "Eh, Gita."


"Bengong aja. Nggak pulang?"


"Ah!" Anna langsung melirik arlojinya—sudah jam 5 sore. Cepat sekali hari menjemput senja.


"Ya, gue beres-beres dulu, ya," kata Anna, mengumpulkan beberapa berkas, mematikan komputer, dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Ya, udah. Gue turun ke bawah duluan, ya," kata Gita, akan beranjak.


"Tungguin gue dong."


Gita berhenti dan menoleh sedikit. "Gue mau bareng sama Jojo."

__ADS_1


"Jojo?" gumam Anna heran, dahinya mengernyit. "Bukannya lo sama dia udah putus? Jangan bilang, lo balikan lagi sama dia?"


Anna pernah mendoktrinnya, bahwa balikan sama mantan bakal jadi hubungan yang beracun dan keputusan yang bodoh. Namun, Gita memiliki keyakinan lain yang begitu kuat pada cintanya.


Maka, ia membalas Anna dengan nada sedikit memelas. "Tulus atau tidak, dia berhak mendapatkan kesempatan kedua."


"Tapi dia bakal nyakitin lo lagi, Gita Asmarani."


"Sakit hati? Hadapi saja. Toh, itu risiko percintaan. Aku itu bukan pengecut, tahu! Cuma gara-gara sakit hati aja. Paling, cuma nangis sebentar, terus lupa lagi."


Senyum Gita sangat meyakinkan, tapi Anna tetap khawatir. Gadis itu beranjak pergi, dan Anna memperhatikanya sampai sosoknya menghilang dari pandangan.


"Benar juga kata Gita," renung Anna. "Gue terlalu pengecut buat ngerasain sakit hati."


.


.


.


Anna keluar kantor. Suasana tempat parkir sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan. Perasaannya biasa saja, tak berpikiran akan terjadi sesuatu padanya.


Ia tak mengindahkan suara langkah di belakangnya. Pikirnya, ada seseorang karyawan yang baru keluar kantor. Namun, tiba-tiba tangan Anna ada yang menggenggam dan menariknya dengan kasar.


Langsung saja, Anna menoleh cepat. "Hei!" Matanya terbelalak, lantas tercengang. "Pak Logan?"


"Ikut saya! Sini!" sergah Logan menarik paksa Anna.


"Maaf, Pak. Tapi bisa kan secara baik-baik?" Ronta Anna.


"Perempuan macam kamu, tidak perlu bicara baik-baik."


"Apa maksud, Bapak?" tanya Anna, mengernyit kesal.


"Jangan banyak tanya!"


Logan menyeretnya, tak peduli seberapa kerasnya Anna melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Anna dipaksa masuk ke dalam mobil.


"Aduh!" Anna meringis ketika tubuhnya dihempaskan secara kasar. "Pak! Kalau Bapak masih ingin meminta penjelasan soal kejadian malam itu, saya tetap akan menjawab: saya juga korban, dan Bapaklah yang memperkosa saya!"


Logan sudah bosan dan jengkel mendengarnya. Apa pun jawaban yang dikatakan Anna, akan percuma karena Logan hanya mempercayai teorinya sendiri.


"Saya tahu wanita seperti apa kamu," geramnya tertahan. "Kamu akan melakukan semuanya, bahkan melakukan skenario menjijikkan demi mendapatkan uang."


Anna menggeleng putus asa. Apalagi yang harus dikatakan agar pria itu percaya padanya?

__ADS_1


Logan merasa menang dengan terdiamnya Anna. Wajahnya didekatkan ke arah wajah Anna, sehingga gadis itu beringsut mundur karena terintimidasi. Apalagi, pria menyeringai, semakin membuatnya gemetar.


"Dengar! Untuk membuka topeng seseorang, aku membutuhkan umpan. Dan aku sudah menangkap orang bisa yang mengungkap kedok kamu sebenarnya."[]


__ADS_2