Matthelina

Matthelina
Chapter 20


__ADS_3

Finding Justin


Yang dibutuhkan saat ini hanya kau, Elina. Tidak apa-apa tanpa memeluk tubuhnya, bersandar di bahunya sudah lebih dari cukup.


Jujur, ia menyesal—tolong maafkan—ucapannya telah menyakiti Elinanya. Tapi ia ingin Elina di sisinya, memberikan ketenangan dan kekuatan untuk tetap tegar.


Elina hanya terdiam. Rasanya perasannya dengan Matthew seperti terhubung. Bukan mencoba mengerti, tapi sangat mengerti dengan yang dirasakannya. Hanya saja, ia enggan membuka mulut, karena takut salah bicara lagi. Entah ini salah atau benar, sadar atau tidak, ia mengenyahkan prinsipnya. Ia menggenggam tangan Matthew, hingga pria itu merasa nyaman dan melepaskan semua bebannya.


Kini, ia sedikit lebih tenang. Tanpa bergeming, Matthew berkata, "Besok, aku akan ke Jakarta. Aku akan mencari Justin di sana."


"Aku akan ikut," cetus Elina.


"Jangan, kau sedang hamil. Kau bisa kelelahan nanti."


Elina tahu itu, jangan diingatkan lagi. "Biarkan aku ikut. Aku janji tidak akan merepotkanmu."


Matthew langsung menegak. Keras kepala sekali wanita ini! "Bukan itu masalahnya."


"Aku mengerti. Tapi aku tidak apa-apa kok," sahut Elina bersikeras. "Please, Matthew, aku juga mau mencari Justin."


Matthew senang jika Elina menemaninya, ia hanya kuatir pada keadaannya. Namun, ia paling tidak bisa menolak jika dia bersikeras. Terpaksa ia mengalah.


"Hmm ... baiklah."


Untunglah, kalau saja Matthew melewatkannya sedikit saja, ia tidak akan pernah melihat senyuman Elina yang manis itu. Ia pun juga luluh dan menariknya turun ke bawah untuk makan, meski tak berselera. Lihat saja, raut wajah kuatirnya terlihat saat ia menolak untuk makan, dan ia tak ingin hal itu terjadi. Ia juga menyuruh Elina untuk makan, demi bayinya yang ada di dalam kandungannya.


Di meja makan, ibu dan Monika telah duduk. Di depan mereka sudah tersedia makanan, tapi tak ada satu pun yang memulai untuk menyantapnya. Matthew bergabung dengan mereka, dan menyendokkan nasi ke piringnya.


Elina mengambilkan nasi untuk Dewi dan Monika. Matthew pun meletakkan sepotong ayam pada masing-masing piring Dewi dan Monika.


"Ma, Kak. Besok aku dan Elina akan mencari Justin ke Jakarta," kata Matthew, yang membuat Dewi dan Monika menoleh. "Mungkin saja, penculiknya membawa Justin ke sana."


Kini, pandangan Monika tertuju pada Elina, yang mengangguk sambil tersenyum.


"Kakak, fokuskan pencarian di sini. Aku akan mengerahkan beberapa pekerja kita untuk membantu Kakak," lanjut Matthew. "Jadi, Kakak dan Mama harus mengisi tenaga kalian untuk pencarian besok."


Matthew mengatakannya sambil menuangkan sup ayam ke piring Monika dan Dewi. Keduanya tersenyum hambar. Bujukan Matthew sedikit berhasil, mereka mau makan walau hanya sedikit. Elina juga tersenyum, bukan hanya pada Monika dan Dewi, tapi pada pria itu. Matthew berusaha menjadi penguat kedua wanita yang amat disayanginya.


-;-;-;-

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Matthew dan Elina berangkat ke Jakarta. Mereka mencari ke berbagai sudut, dengan memperlihatkan foto Justin, tetapi hanya gelengan kepala dan ucapan "tidak tahu" yang mereka dapatkan. Akhirnya, hari pertama pencarian hasilnya nihil.


Pencarian kedua juga sama. Matthew telah melaporkan kasus ini ke polisi. Foto Justin telah disebar ke seluruh kota, tapi Elina dan Matthew tetap terus mencari. Ia menanyakan kabar dari Monika, hasilnya pun juga sama. Matthew hampir membanting ponselnya, putus asa.


"Sudahlah. Kita cari lagi besok," gumamnya, melihat matahari telah terbenam, dan merasa kasihan pada Elina yang sudah kelelahan.


Waktu berlalu, pencarian sudah memasuki hari kelima. Matthew berangkat lebih pagi karena tidak ingin Elina ikut dengannya. Ia panik melihat wajah Elina memucat saat pencarian hari keempat. Dan ia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa pada Elina dan calon buah hati mereka.


Memangnya dikira Elina tidak tahu. Ia juga bangun sangat pagi karena rasa mual yang hebat tadi Subuh. Karena tidak bisa tidur, ia mandi dan sarapan. Ia juga melihat Matthew telah rapi, menuruni tangga sambil berjingkat. Tetapi Elina tidak langsung menciduknya, ia bersembunyi, lalu mengikuti. Saat ia melihat Matthew masuk ke mobil, Elina langsung berlari dan masuk ke dalam mobil.


Matthew terkejut, tak menyangka wanita ini tahu juga siasatnya. Ia membiarkan gadis itu duduk di sampingnya, dan memakai sabuk pengaman.


"Ayo, jalan," kata Elina acuh tak acuh.


Matthew mendengus. "Tidak. Kau tidak boleh ikut."


"Kenapa?" tanya Elina tanpa menoleh.


"Elina, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu," jawab Matthew gemas.


Sebenarnya Elina mau menyahut, tapi tak ada gunanya berdebat. Ia pun terdiam sejenak, lalu berkata, "Oke, gini aja. Aku akan tetap di mobil, sementara kau mencari Justin. Lagi pula, aku berpikir untuk mencari Justin di tempat permainan anak—siapa tahu dia di sana. Dan susu hamilku sudah habis, jadi sekalian kita beli."


Matthew mengernyit. "Tempat permainan anak" hanya kata itu saja yang ia tangkap. Tapi apa memang ada di sana? Ia agak ragu, tapi tidak ada salahnya mencoba.


-;-;-;-


"Justin, di mana kamu?"


Waktu sudah berjalan setengahnya, dan Matthew belum juga menemukan Justin. Banyak anak-anak yang bermain di tempat bermain yang biasanya Elina kunjungi bersama dengan Justin dan Monika.


"Bagaimana?" tanya Elina, sesampainya Matthew di dalam mobil.


Matthew menggeleng putus asa. Elina mendesah, lalu melirik pria itu. Astaga, wajah Matthew pucat sekali. Dari pagi belum makan, dan sekarang jam menunjukkan pukul 3 sore. Ia tak mau membujuk Matthew karena akan percuma. Maka, ia mencari alasan lain agar pria itu makan dulu sebelum kembali mencari.


"Matthew, maaf merepotkanmu. Tapi aku lapar," kata Elina.


"Oh, maaf aku lupa. Baiklah, kau makan saja dulu."


Matthew akan keluar dari mobil, tapi Elina menahan tangannya. "Tapi kau juga makan. Hmm?"

__ADS_1


Meskipun rasa laparnya tidak ada, mau tidak mau Matthew mengangguk. Mereka kembali memasuki mall, dan pergi ke restoran cepat saji terdekat. Mereka memesan ayam dan nasi 2 porsi, serta minuman.


Elina memperhatikan Matthew yang tidak menyentuh makanannya. Ia kehabisan akal untuk membujuk pria itu. Sebenarnya, ia juga sama khawatirnya dengan Matthew, tapi pria itu bisa sakit jika memaksakan diri. Maka, ia terpaksa makan agar tidak menambah bebannya.


Elina meletakkan sendok dan garpunya, lalu mendorong jauh piring yang berisi makanan yang masih tersisa banyak. Matthew tertegun.


"Kenapa tidak dihabiskan?" tanyanya.


"Sudah kenyang," jawab Elina.


"Apanya yang sudah kenyang? Kau hanya makan sedikit."


Lalu Elina menyahut. "Melihatmu seperti itu, sudah cukup membuatku kenyang."


Matthew menghela napas. Oh, baiklah. Demi bayi yang ada di dalam kandungan Elina, ia akan melahap makanan itu, bahkan sampai habis. Kau puas, Elina.


Sangat. Elina tersenyum dan kembali menyantap makanannya. Setelah itu, mereka terlebih dahulu singgah di swalayan untuk membeli susu hamil untuk Elina. Ya, hanya itu.


Matthew membawa keranjang belanjaan ke kasir, tapi ia mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat familiar di telinganya. Elina menengok ke segala arah, lalu memanggil Matthew tanpa menoleh ke arahnya. Hanya saja, Matthew telah pergi entah ke mana.


Ya sudahlah, ia saja yang cari sendiri. Ia berjalan ke arah suara itu berasal, mencari ke setiap lorong rak, hingga suara itu semakin jelas terdengar.


Di rak makanan kaleng, Elina menemukan seorang pengasuh berseragam merah muda, sedang menggendong anak laki-laki, yang ciri-cirinya mirip Justin. Anak itu menjerit digendongannya sambil meronta-ronta, dan mengucapkan beberapa kata yang terdengar tak sempurna: "Mama", "Mbak Elina".


Elina mendekat, dan saat itu juga wajah anak itu terlihat. Ia terkesiap. Benar, itu Justin!


Lantas, Elina menghampiri mereka, merebut Justin dari gendongan pengasuh itu. Seketika Justin terdiam, memeluk Elina. Pengasuh tadi mencoba merebut kembali Justin dari tangan Elina, tapi ia takkan menyerahkannya dan berusaha menjauhkan Justin.


Hal itu menimbulkan keributan, sampai orang-orang berdatangan, termasuk Matthew. Beberapa orang berusaha memisahkan Elina dan si pengasuh. Lalu Matthew menghampiri Elina.


"Siapa kamu? Kenapa mengambil anak majikan saya?" pekik si pengasuh.


Elina menoleh pada Matthew yang baru datang. "Matthew, ini Justin."


Matthew mengamati wajah anak itu, lalu mengambilnya dari gendongan Elina. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan ke arah si pengasuh. "Siapa majikan kamu? Ini anak kakak saya, Monika."


Mendengar nama Monika, si pengasuh terdiam. Dia sempat tahu mengenai Monika dari pembantu yang ada di rumah majikannya, sebab majikannya tidak mau memberi tahu.


"Nama majikan saya Pak Dimas, Pak," kata si pengasuh melunak.

__ADS_1


Matthew dan Elina saling bertukar pandangan, mengernyit.


"Kak Dimas?" gumam Matthew.[]


__ADS_2