Matthelina

Matthelina
Chapter 29


__ADS_3

Monika sedang membereskan mainan Justin yang berserakan di teras lantai atas. Justin telah tidur di kamar.


Sungguh melelahkan, setelah Elina meninggalkan rumah ini, ia yang mengurus Justin. Belum ada pengasuh pengganti saat ini, ia masih ingin lebih dekat dengan anaknya, sebelum kembali menjadi wanita karier dan memimpin perusahaan yang ada di Jakarta.


Layar ponsel Justin menyala, membuatnya mengalihkan pandangannya. Sebuah senyuman terulas di bibirnya, Dimas mengirimkan foto saat mereka bertemu di sebuah taman hiburan. Beberapa foto lain juga dikirimkan, hingga tanpa sengaja melihat sebuah video yang terekam sekitar beberapa minggu yang lalu.


Ia mengernyit. "Video apaan ini?"


Lantas, ia menekan tombol play. Sebuah rekaman dengan percakapan antara seorang pria dan wanita terdengar, tetapi posisi kamera tidak mengekspos mereka, hanya saja ia mengenal suara keduanya. Pada menit selanjutnya, barulah kamera mengarah pada kedua insan itu.


Monika terkejut, lalu menutup mulutnya. Ia tak percaya Justin, dengan tidak sengaja, merekam video yang selama ini menjadi keraguannya akan dugaannya.


"Ini nggak mungkin."


-;-;-;-


Ini hari terakhir Matthew tinggal bersama dengan Elina di rumah kontrakan. Seminggu menghilang dengan alasan palsu tidak bisa dipertahankan, apalagi jika sampai ketahuan oleh kakaknya.


Suara desis minyak panas terdengar di dapur. Matthew yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya, menghampiri Elina dan berdiri agak jauh.


Sedang masak rupanya. Ia berpikir untuk membantu wanita itu daripada hanya menunggu makanannya matang. Maka, ia pun melangkah ke kamar dan bergegas berpakaian.


Elina tidak sadar jika Matthew telah berada di sampingnya, mengambil sebilah pisau dan meraih bawang untuk dikupasnya. Tetapi, begitu sudut matanya menangkap sosok tampan--walaupun rambutnya yang basah masih berantakan--ia bertanya heran:


"Sedang apa kau? Duduk saja, biar aku yang masak."


Pria itu tampak kaku saat memegang pisau dan mengupas lapisan kulit bawang. Air matanya telah menggenang di matanya, akibat aroma menusuk bawang yang membuat matanya pedih.


"Tidak. Aku hanya bosan, jadi aku ingin memban ... aw!"


Mendengar jerit kesakitannya, Elina langsung menoleh dan meletakkan pisaunya. Darah. Elina mendelik. Jari telunjuk Matthew teriris pisau dan mengeluarkan darah.


Elina yang panik, mematikan kompor, lalu membawa Matthew duduk di sofa. Sambil berlari kecil, Elina mencari kotak obat, lalu cepat-cepat menghampirinya. Ia membersihkan luka Matthew dengan antiseptik terlebih dahulu, lalu memakaikan obat merah, dan terakhir membalutkan jarinya dengan plester.


Matthew, Matthew. Dia yang terbiasa memegang pena, sekarang memegang pisau dan mengupas bawang, pula. Lihat kan? Sekarang, jari mulusnya terdapat luka dan ditempeli plester.


Luka ini memang sedikit perih, tapi membawa keuntungan bagi Matthew. Tangannya bersentuhan dengan tangan Elina, menatapnya begitu dekat meski tak ada senyuman yang melekat di bibirnya. Ia sangat suka pada aroma lotion Elina yang membelai hidungnya, membuat darahnya kembali berdesir, seperti saat ciuman mereka di bawah hujan waktu itu. Apa hal itu bisa terulang lagi? Kebetulan sudah seminggu ia tak menyentuh bibir itu. Elina sudah sangat berhati-hati dalam bersikap, sehingga tak bisa memanfaatkannya.


Sudah selesai, luka itu telah diobati. Entah mengapa, lirikkannya langsung mengarah ke Matthew. Pria itu tersenyum, tapi malah membuat Elina risi. Pasalnya, senyuman itu memiliki arti yang berbeda; begitu lama, penuh hasrat. Ia berfirasat, mungkinkah pria ini akan....

__ADS_1


Belum sempat otaknya selesai mengartikan hal yang dipikirkannya terjadi, Matthew menariknya mendekat ke tubuhnya, mengelus pipi Elina lembut, sehingga jantung wanita itu berdetak kencang. Tetapi lama-lama sentuhan itu membuai; meskipun ingin, tapi Elina tak sanggup menolak--perasaan di dalam hati yang mendorongnya untuk terus seperti ini.


Tetapi benaknya berteriak. Ciuman adalah awal terciptanya nafsu yang mengarah ke sesuatu yang lebih intim lagi. Ia tak mau melakukannya lagi karena itu perbuatan yang salah. Bagaimanapun juga mereka belum menikah.


Matthew akan mendekatkan bibirnya pada bibir Elina, tapi wanita itu menoleh, perlahan menjauhkan tangan pria itu dari pipinya.


"Jangan, Matthew," ucapnya lirih.


Matthew tertegun sejenak, kemudian mengerti. Ia tidak akan menanyakan kenapa. Jika Elina tak menginginkannya, maka ia tak memaksa.


Lantas, Matthew berdiri dan meraih kotak obat. "Lanjutkan saja memasaknya," katanya datar, lalu beranjak pergi ke kamar.


Elina menatap punggungnya yang baru beberapa langkah menjauh. Merasa bahwa dirinya telah mengecewakan pria itu, sehingga dia marah.


Suara ponsel Matthew terdengar di balik saku celana pendeknya. Ia berhenti untuk mengangkat telepon. Ia mengernyit heran melihat nomor Monika tertera di layar ponsel. Entah ada apa? Mungkin saja penting.


"Halo."


Suara Monika terdengar tegas dan dingin. Perasaannya jadi tidak enak, apalagi dia menanyakan keberadaannya sekarang. Tentu saja, ia menjawab bahwa dirinya sedang ke Bandung untuk urusan bisnis.


"Katakan, di mana kau sekarang!" ulang Monika mulai geram.


"Jangan bohong!" potong Monika, menghardik. "Aku sudah tahu tentang kau dan Elina."


Matthew melirik Elina yang perlahan berdiri sambil menatapnya. Wajahnya pucat pasi, sehingga membuat Elina ikut gugup.


"Baiklah, aku akan serlok tempatnya," ujar Matthew akhirnya menyerah.


Elina tak menanyakan apa yang terjadi, tetapi otaknya dipenuhi oleh pertanyaan dan dugaan.


-;-;-;-


Deru mesin mobil terdengar dari luar--dalam kurang satu jam, Monika sudah menemukan rumah ini. Matthew beringsut dari jendela menuju pintu dengan resah. Elina yang ada di sudut sofa, duduk dengan gugup sambil memperhatikannya.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Dengan langkahnya yang besar, Matthew bergegas ke arah pintu dan membukanya. Ia terpana melihat Monika datang bersama dengan ibunya yang terlihat sedih.


Elina spontan berdiri melihat kedatangan mereka. Dan Matthew mempersilakan kakak dan ibunya masuk, sementara Elina membuatkan tiga cangkir teh.


Para tamu sudah duduk, tetapi pembicaraan belum kunjung dimulai sebelum si penghidang teh duduk bersama dengan mereka.

__ADS_1


Diliriknya kedua insan ini dengan tatapan serius dan kesal. Tak dihiraukan ucapan Elina, yang menawarkannya minuman yang sudah terhidang di meja.


"Kenapa kau bohong, Matthew?" tudingnya langsung, tatapannya mengarah tajam pada adiknya.


Matthew melirik ke bawah, seperti termenung. "Aku memiliki alasan...."


"Dengan tinggal bersama dengan Elina?!" Monika tak dapat memahan emosinya lagi.


Dewi menyentuh lengan Monika agar menahan diri, karena bukan seperti ini cara berbicara dengan Matthew.


"Monika menemukan video kau sedang mencium Elina di ponsel Justin," kata Dewi hati-hati, memberikan sebuah ponsel warna hitam, yang mana layarnya telah menampilkan sebuah video.


Matthew menekan tombol "play". Anak yang pintar, merekam sebuah rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat olehnya dan Elina. Mereka tak bisa berkata apa-apa lagi, menyangkalpun percuma. Yang ingin mereka dengar adalah klarifikasi tentang apa yang mereka lihat.


"Matthew, benarkah kau telah mencium Elina?" tanya Dewi, berharap bahwa yang dilihatnya bohong.


Matthew terdiam, memejamkan mata, pedih kalau pada akhirnya ia harus menyakiti ibunya dengan jawaban ini: "Iya, benar. Aku memang melakukannya."


Sebenarnya, Dewi agak sedih mendengarnya. Tetapi, itu bukanlah sesuatu yang salah, karena ciuman adalah hal yang lumrah di jaman ini. Tetapi tinggal berdua dalam satu atap, itulah yang tidak bisa ia terima. Itu bukanlah nilai moral yang diajarkannya pada anak lelakinya itu.


"Ada hubungan apa di antara kalian?" Dewi bertanya dengan berusaha sesabar mungkin.


"Kami tidak memiliki hubungan apa pun."


Jawaban apa itu? Kalau memang tidak punya hubungan, kenapa mereka berciuman? Kenapa mereka tinggal satu atap. Buat Monika naik pitam saja.


"Lalu, apa maksudmu melakukan ini--ciuman, bersama? Apa ini, Matthew?" Setelah puas membentaknya, lalu Monika beralih pandang pada Elina, dengan sinis. "Oh, pasti gadis ini yang merayumu, kan?"


Elina menoleh spontan. Ia menggeleng, akan membantah. Tetapi Matthew keburu menyelanya:


"Tidak. Aku yang memang ingin melakukannya. Elina tidak merayuku sama sekali."


Seperti disambar petir, Dewi hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada apa dengan anaknya ini?


"Tapi kenapa? Sebenarnya, apa yang terjadi? Coba ceritakan dari awal," cecar Dewi.


Matthew menghela napas. Satu hal yang paling berat harus ia lakukan ini: sebuah pengakuan besar. Entah apa yang akan terjadi jika hal ini dikatakannya. Apa ibunya akan pingsan? Itulah yang dingerikannya.


"Elina sedang mengandung anakku."[]

__ADS_1


__ADS_2