Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER ENAM


__ADS_3

Halo, apa kabar? Karena aku sakit, jadi nggak update. Tapi sebelum lanjut baca novel ini, tolong dibaca dulu tulisan yang di bold ini biar nggak bingung.


Jadi begini. Saya udah pikirkan dan diskusikan sama beta reader. Karena bab yang udah di review nggak bisa dihapus, jadi aku mengubah nama tokohnya.


Matthew namanya berubah jadi Logan.


Elina namanya diubah jadi Anna.


Raima \= Ranti


Frasya \= Tasya


Oke, segitu aja pengumumannya. Makasih buat yang menyampaikan pendapat supaya season 2 nya dipisah, tapi maaf kalau author nggak bisa kabulkan 😔.


Happy reading.


.............


.......


.......


Adam memang tersinggung dengan penghinaan itu, tetapi ia merasa menyesal kemudian. Demi mendapatkan Anna, ia harus mengalah, kan?


Ia pun tak akan menyia-siakannya. Dikejarnya Anna yang belum jauh, memblokir laju jalannya.


Anna mengernyit. "Apa?" tanyanya galak.


Adam terengah-engah, mengatur napas sejenak sebelum berkata, "Saya minta maaf. Saya akan membersihkan nama baik keluarga kamu."


"Ha!" dengus Anna. "Apa segitu putus asanya kamu, sampai memohon begini?"


Adam terdiam sejenak, lalu menunduk seraya berkata dengan terbata-bata, "Saya suka sama kamu sejak awal bertemu. Bagi saya, kamu sangat sempurna; cantik, rajin, dan ba ... IIIIIK! Au! Aduh!"


Adam menjerit sambil memegangi tulang keringnya yang ditendang oleh Anna. Seandainya Anna tidak berpikir jernih, mungkin yang dilakukannya lebih barbar dari yang ini.


"Heh! Simpan kata-kata sampah kamu ke cewek lain!" ucap Anna bengis. "Kalau kamu nggak membersihkan nama keluarga aku, bakal aku cari kamu, terus akan aku buat kamu kehilangan 'itu' kamu! Ngerti!"


.


.


.


"Lo lakukan hal itu?!" seru Ranti, tak percaya. Anna mengunjunginya pada sore harinya, lalu menceritakan kejadian tadi siang.


"Iya." Angguk Anna. "Tadinya, gue mau bikin rencana balas dendam, tapi gue mikir ulang lagi."


"Tapi gila banget lo nendang tulang keringnya," komentar Ranti, tapi akhirnya tertawa kecil karena lucu juga kedengarannya.


"Itu nggak seberapa gila!" sahut Anna menimpali. "Maunya gue sih tadi nendang 'itunya' dia. Tapi kalau gue lakukan itu, kasihan dia. Entar dia nggak bisa bereproduksi lagi."


Selorohan Anna membuat keduanya tertawa cukup keras. Lalu, seorang wanita setengah baya hadir di tengah-tengah mereka, tampak tak senang sambil berkacak pinggang.


"Kalian bisa diam? Berisik!"

__ADS_1


Kedua wanita muda itu saling menatap dan menutup mulutnya rapat. Anna menggerutu dalam hati. Ibu mertua sahabatnya itu sama sekali tidak ada rasa segannya marah saat ada tamu.


Wanita menoleh pada Ranti dengan tatapan garangnya. "Buatkan aku teh. Bawa ke kamarku, ya."


Ranti mengangguk, tak kuasa menatapnya. "Iya, Bu."


Setelah wanita itu pergi, Ranti meminta izin pada Anna untuk pergi ke dapur.


"Sini, biar gue yang gendong Dito." Anna menawarkan diri.


Meski sudah 2 tahun tidak bertemu, bocah 3 tahun itu cepat sekali akrab dengan Anna. Rasa sukanya pada anak kecil yang membuat Dito nyaman dan betah bermain bersama dengan Anna.


Selang beberapa menit, suami Ranti, Frans, masuk ke dalam sambil melonggarkan dasi. Ia tersenyum dan menyapa Anna begitu menyadari keberadaannya, lalu merenggut Dito dari gendongannya.


"Kapan datang, An?" tanya Frans.


"Tadi sore," jawab Anna seraya tersenyum simpul. "Tumben pulang cepat?"


"Iya." Lalu Frans menengok ke sekeliling apartemen itu, seperti sedang mencari sesuatu. "Ranti di mana?"


"Lagi buat teh untuk ibu—" Tiba-tiba ia melirik pada Ranti yang sedang memasuki ruang tamu. "Nah, tuh dia!"


Dito dikembalikan ke gendongan Anna, sementara Frans memghampiri Ranti.


"Sayang, tolong siapkan air hangat untuk aku mandi. Terus, bikinin aku kopi, ya," pintanya.


Ann menggelengkan kepala. Belum ada semenit Ranti bernapas, tapi Frans sudah menyuruhnya lagi. Anna tak mau berkomentar meski ingin. Ranti tampak tak keberatan kembali ke dapur untuk memanaskan air.


Setelah Frans berjalan ke kamar, Ann mengikuti Ranti ke dapur sambil membawa Dito.


"Kenapa gue harus capek?" tanya Ranti sambil menghidupkan kompor. "Kan tugas gue."


Anna menghela napas. Selalu saja Ranti mengelak. "Makanya, gue nggak mau nikah," gumam Anna selanjutnya.


"Kenapa?" Ranti meraih gula di rak, lalu menuangkan dua sendok makan gula ke sebuah cangkir. "Lo takut kesakitan waktu malam pertama, ya?"


Wajah Anna memerah. "Ledekin aja terus! Bukan itu. Melihat hidup lo kayak gini, gue jadi nggak kepikiran mau nikah. Lihat aja muka lo!" Anna berseru menunjuk beberapa jerawat di wajah Ranti. "Laki lo nggak pernah kasih duit buat beli skincare?"


Ranti terdiam sejenak. "Pelembab dan pakai masker seminggu sekali sudah cukup buat perawatan."


Anna tak percaya mendengarnya, sampai mendengus kesal. "Haloooo! Siapa yang dulu saranin aku buat beli macam-macam skincare? Siapa yang bilang kalau perempuan itu harus perawatan? Termakan sama omongan sendiri, kan, sekarang?"


Memang, semua itu yang dikatakan Ranti saat masih melajang. Namun, ia hanya tertawa kecil menanggapi Anna.


"Na, kalau lo udah nikah, lo bakal tahu apa yang paling penting dalam hidup lo."


Dan Anna pun mencomooh. "It's me! Gue nggak mau hidup gue terkekang oleh komitmen pernikahan."


Anna memang keras, dan Ranti sudah cukup bosan untuk membujuknya. Terserah, jika pilihan Anna menjadi perawan tua.


🍀


Semua perhiasan mas putih di toko perhiasan langganannya sangat bagus, sampai Logan bingung untuk memilihnya. Ia sengaja ingin mencari cincin untuk pertunangannya nanti.


"Saya pilih yang ini," kata Logan, menunjuk sebuah cincin polos berpermata sapir yang berkilauan.

__ADS_1


Sementara itu, Anna sedang berjalan-jalan di sebuah mall, mencari pakaian untuk dipakainya saat masuk kerja. Entah mengapa, tangannya sangat gatal untuk membeli beberapa helai baju.


Setelah selesai memilih dan membayar semjua barang belanjaan, Anna keluar dari toko. Ponselnya berbunyi.


"Nomer tidak dikenal?" Anna mengernyit.


"Halo—"


"Anna, masih ingat sama suara aku?" jawab seseorang di seberang sana.


"Siapa, ya?" tanya Anna, merasa tak asing dengan suara ini, tetapi tidak mengingat siapa pemiliknya.


"Coba diingat," kata pria bersuara berat itu. "Akan aku ingatkan. Aku ada di belakangmu, lho."


Anna mendelik. Stalker! Mengerikan sekali mengetahui seseorang macam itu berada di sekitarnya. Penasaran ingin lihat, tapi merasa takut. Namun, pada akhirnya ia berbalik perlahan.


Ia ingat pada suara ini. Di dalam hati, ia sembari bergumam, "Semoga bukan cowok gila itu. Semoga, ya, Allah!"


Tidak dikabulkan ternyata. Mata Anna melotot, bergidik bahwa memang cowok yang dimaksudkannya berada di hadapannya kini.


Pria itu tersenyum, membuat Anna merinding. Tangannya diturunkan, tatapannya tak terlepas dari Anna yang diam-diam ketakutan. Ia melangkah, dan Anna juga ikut melangkah mundur.


Anna tak ingin dekat-dekat dengan pria itu. Maka, ia merentangkan tangan kanannya ke depan. "SETOOOOP!"


Berhasil, pria itu menghentikan langkahnya. Anna yang perlahan menurunkan tangannya, menatap gusar, lalu mendengus.


"Ha! Ngapain lagi lo ke sini?" tanyanya, berusaha tenang. "Kita udah putus setahun yang lalu."


"Tapi—" Pria itu kembali melangkah.


"Stay di sana!" jerit Anna, merentangkan tangannya lagi. "Ngomong di sana aja!"


"Kamu kenapa begini sih, An?" kata pria itu memelas.


"Jangan sebut nama gue!" tukas Anna, membentak. "Gue jijik sama lo! Jangan ngikutin gue! Atau nggak, gue laporin lo ke polisi."


Raut wajah kecewa tampak dari pria yang dikenal oleh Anna di sosmed. Ia mengepalkan tangannya. Beberapa detik Anna beranjak dari tempatnya, pria itu berlari menghampirinya.


Anna menyadarinya, lalu menoleh ke belakang dan terkejut. "Mau apa dia?" Tanpa pikir panjang, Anna langsung berlari.


"Anna! Berhenti!" seru pria itu.


"Berhenti, berhenti! Emang siapa yang mau dikejar-kejar sama cowok gila kayak dia?" gumam Anna dengan napas terengah-engah. "Kok, rasanya kayak dikejar-kejar penagih utang, ya?"


Anna menoleh ke belakang, pria itu hampir sedikit lagi mencapainya. Tanpa dapat dielak, tiba-tiba ia menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah toko sambil melihat cincin yang ada di dalam sebuah kotak merah.


"Aduh!" pekik Anna.


"Cincinnya!" teriak Logan, melihat kotak cincin terlempar


Entah tabrakan itu keras tidaknya, sampai Anna dan orang itu terjatuh. Anna mendelik, pas tahu siapa yang ditabraknya.


Logan, calon bosnya!


Takdir macam apa ini? bertemu dengan Logan dalam keadaan yang memalukan begini?[]

__ADS_1


__ADS_2