Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH ENAM


__ADS_3

Mata Anna membulat. Melindungi? "Kenan, aku rasa kita jangan terlalu dekat. Kamu tahu Logan sangat marah—"


"Meskipun aku masih punya perasaan padamu," potong Kenan. "Tapi aku melakukan ini untuk sahabatku."


Demi sahabat, iya! Kemarin, saat Logan berada di rumah sakit, ia menghubungi Kenan sejenak. Saat itu, Kenan sendiri baru sampai di kamarnya, akan menenggak segelas air putih.


"Halo, Logan," sahutnya.


"Bagaimana keadaan Anna?"


"Dia sedang istirahat di kamarnya," jawab Kenan sambil duduk di sofa. "Setelah lo pergi, Anna tidak menghabiskan makanannya karena merasa mual. Jadi, aku antar dia ke kamar untuk istirahat."


Tak ada jawaban di ujung telepon, hanya ada suara helaan napas. "Kalau gue belum pulang, ajak dia makan malam."


"Oke."


"Kenan,"


"Hmm?"


"Tolong lindungi Anna, kalau gue lagi nggak ada di sisinya."


Itulah yang dikatakan Logan waktu itu, walaupun Kenan masih ragu dengan perasaan Logan pada Anna saat ini. Namun, ia tahu bahwa Logan juga mengkhawatirkan Anna, sama seperti dirinya.


"Maksud kamu apa, Kenan?" tanya Anna, setelah tercengang beberapa saat.


"Logan yang minta aku untuk melindungi kamu", kata itu yang harusnya keluar dari mulut Kenan. Namun, ia malah tersenyum dan berkata, "Hmm ... Kita jalan-jalan sebentar, yuk! Aku nggak betah bau rumah sakit."


Anna merasa ragu awalnya, tetapi Kenan menatapnya sambil menunggu keputusannya.


"Ayolah! Kita beli makanan yang enak dan halal," bujuk Kenan. "Bayi kamu kasihan tuh! Dia juga pasti nggak betah di sini, dan mau makan enak."


Anna tersenyum pura-pura kesal. "Sok tahu kamu! Tapi ya, udah. Asal kamu mau traktir aku sih, ayo aja."


"Boleh," sahut Kenan sambil berjalan. "Tapi minta traktirannya jangan sampai aku bangkrut. Kan aku udah bilang kalau aku nggak bawa uang banyak."


Anna tertawa. Pembawaan Kenan memang selalu bisa membuatnya kembali ceria. "Aduh, gimana dong? Bayinya lagi pengin banyak makan," selorohnya.


"Masa? Ya, ampun." Kenan pura-pura terkejut, lalu ia agak membungkuk, seolah akan berbicara dengan si bayi. "Kalau memang begitu, oke deh! Baby, kamu boleh pesan makanan apa saja."


Kenan dan Anna saling tertawa, melupakan sejenak kegetiran yang baru saja Anna alami.

__ADS_1



Nina meminta Logan untuk membawanya jalan-jalan dengan menggunakan kursi roda. Gadis itu tersenyum bahagia sambil membicarakan banyak hal, tanpa ia tahu bahwa pikiran Logan sedang tertuju pada hal lain.


Mereka berhenti di sebuah tempat dekat dengan beberapa bunga tumbuh. Nina menyentuh salah satu bunga, tersenyum membayangkan karangan bunga saat pernikahannya dengan Logan nanti.


"Logan, nanti kita ke Jakarta bareng, ya. Nanti, kita langsung membicarakan pernikahan kita pada papa dan mama kamu," kata Nina.


Namun, saat itu Logan sedang melihat pesan Whatsapp masuk dari Kenan yang berbunyi:


"Logan, aku akan membawa Anna pulang duluan."


Nina menyadari bahwa Logan tak menyahutinya. Maka, ia menoleh ke belakang, kesal melihat Logan mengabaikannya dengan memainkan ponselnya.


"Logan, kamu dengar, nggak, sih sama yang aku omongin tadi?" tegurnya.


"Ah! Maaf, aku sedang membaca pesan dari Kenan," jawab Logan, kikuk.


"Kenan? Oh, iya! Ke mana dia? Dari tadi ke toilet dia nggak balik-balik. Pegawai kamu tadi juga."


Logan ingin sekali bilang bahwa wanita yang Nina tanyakan tadi bernama Anna.


"Tapi kamu sini dulu." Nina menarik tangan Logan, menghelanya untuk jongkok di depannya dan menatap wajahnya yang polos tanpa make up. "Kalau aku sembuh, aku ingin kembali ke Jakarta bersama denganmu. Habis itu, kita katakan rencana pernikahan kita pada kedua orangtua kamu."


Logan mendelik. Pernikahan? Cukup! Ia tak tahan lagi untuk menyembunyikan ini.


"Nina, aku—"


"Nina, Logan," sapa suara lembut seorang perempuan setengah baya, yang sedang berjalan dengan seorang suaminya.


"Papa, Mama." Nina menoleh, tersenyum membalas sapaan mereka.


Logan berdiri, langsung mencium tangan mereka. "Om, Tante. Apa kabar?" tanyanya.


"Baik, Logan," jawab papanya Nina.


Nina tersenyum. Pikirnya, mungkin sudah saatnya membicarakan soal gagasannya tadi. "Pa, Ma. Aku pengin ngomongin sesuatu."


Mama dan papanya menoleh padanya, siap mendengarkan. Nina meraih tangan Logan, lalu menggenggamnya.


"Kalau aku sudah sembuh, aku mau ke Jakarta, ketemu sama om Matthew dan tante Elina, mau ngomongin soal pernikahan aku dengan Logan."

__ADS_1


Papa dan mamanya saling menatap kaget, lalu papa memberi aba-aba pada mama, yang langsung berdiri di belakang Nina.


"Nina, pergilah ke kamarmu bersama dengan mama," kata papa. "Ada yang ingin Papa bicarakan dengan Logan."


"Tapi, Pa—"


Nina hendak memprotes, tetapi mamanya buru-buru menyela. "Nina, turuti kata papamu, ya. Ayo, kita kembali ke kamar."


Meski tidak rela, mau tidak mau Nina diam saja saat mama mendorong kursinya menjauh dari Logan. Setelah Nina benar-benar telah jauh, papa mempersilakan Logan untuk ikut berjalan bersamanya, mencari sebuah tempat untuk mengobrol.


Akhirnya, mereka duduk disebuah bangku taman, yang di depannya terdapat air mancur.


"Logan, sebaiknya kamu kembali pada istrimu. Saya tidak mau melibatkanmu dalam hal ini. Rumah tangga kamu jadi berantakan, dan mungkin hubungan antara keluarga Jonathan dengan keluarga kami merenggang karena Nina," kata pria berbadan kurus, di mana hampir semua rambut ditumbuhi uban.


Logan mengernyit. "Tapi, Om. Bagaimana dengan Nina? Om tahu sendiri kalau dia hanya mengingat saya sebagai tunangannya."


Dan pria itu juga takut kehilangan Nina, kalau sampai mengetahui kebenaran tentang Logan. Ia bergeming cukup lama untuk membuat sebuah keputusan.


"Soal Nina, biar Om yang urus. Om akan memberitahukan semua kebenarannya, kalau dia sudah benar-benar sembuh."


Pria itu menyakinkan Logan dengan menepuk pundaknya, dan berkata dengan serius, tanpa keraguan sedikitpun. "Logan, jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa pun pada Nina. Jagalah istrimu dengan baik."


Logan menatap pria itu beberapa saat sambil menimbang-nimbang gagasannya. Lalu, ia tersenyum getir.



Pada sore hari, Anna baru saja kembali ke kamar hotel. Ia tertegun memasuki kamarnya, begitu melihat lampu ruangannya telah menyala. Apa Logan sudah pulang?


Ia berjalan terus sampai ke bilik tempat ranjang berada. Ia terhenyak, saat menemukan Logan sedang duduk di sofa, menikmati secangkir kopi sambil memainkan ponsel.


"Baru pulang?" tanya Logan dengan acuh tak acuh, tanpa menoleh padanya Anna.


Anna tercengang beberapa saat, lalu menjawab, "Iya. Sejak kapan kamu di sini?"


"Dari tadi siang," sahut Logan, melirik arlojinya sesaat.


Anna berjalan menghampirinya, meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di sofa yang satunya. "Kok, nggak kasih tahu aku?"


Logan tak menjawab, meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap Anna sambil berkata, "Besok malam, kita akan ke Jakarta."[]


Maaf hari ini sedikit soalnya migrain aku kambuh lagi. happy reading.

__ADS_1


__ADS_2