Matthelina

Matthelina
chapter 27


__ADS_3

Sesuatu? Dari matanya, ini bukan sebuah pembicaraan biasa. Elina belum sempat mengartikan sepenuhnya, tetapi Matthew telah mengalihkan pandangannya ke arah Raima.


"Motormu aku letakkan di tempat lain, untuk mengelabuhi orang itu. Salah satu tukang parkir sedang mengisi bensinmu."


Saat pandangannya teralih, saat itu juga seorang tukang parkir datang dengan membawa motor Raima. Wanita itu sangat berterimakasih, dan memberi Matthew uang untuk mengganti membeli bensin.


Matthew mengulurkan tangannya, menghela pelan uang itu ke arah Raima lagi. "Kau simpan saja. Anggap saja sebagai balas budi karena membantu Elina."


"Makasih, Mister." Raima kembali memasukkan uangnya ke dalam dompet, lalu menatap Elina. "Elin, gue pulang dulu ya?"


Elina tersenyum. "Hati-hati, ya."


Raima naik ke atas motornya dan memakai helm. "Iya. Lo juga, jaga diri lo."


Kemudian, mesin motor dihidupkan, Raima pun pergi meninggalkan mereka berdua. Matthew bertanya apa dia sudah makan, dan Elina menggeleng sambil menjawab bahwa ia belum makan.


"Ya udah, kita cari restoran," usul Matthew. "Aku juga belum makan."


Meskipun rasa lapar tak terasa, tapi Elina menyetujui usul itu agar pria itu mau makan. Lagi pula, ia penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Matthew. Tapi ... apa harus di restoran seramai ini?


Elina menengok kiri dan kanan seisi restoran. Hari apa sih, ini? Kenapa setiap meja diisi oleh banyak pasangan dan beberapa keluarga yang makan bersama? Ia ragu, membicarakan hal penting di sini.


Dua porsi bistik wagyu, dua gelas jus, spagetti, ayam bakar mentega lumer, dan beberapa desert yang berbahan dasar cokelat terhidang di meja. Elina menatap Matthew, pria ini sedang menghukumnya? Mana sanggup ia menghabiskan makanan sebanyak ini? Dia bilang supaya bobot bayinya tidak kurang. Tapi jika bayinya lahir terlalu gemuk, Elina bisa pingsan saat melahirkannya.


"Aku makan bistik saja dan puding cokelat," kata Elina menarik piring berisi bistik.


Matthew mengambilkan sepotong ayam yang kemudian diberikan pada Elina. "Ini juga dimakan."


Elina menghela napas. Nyerah deh. Tetapi ia tak menerima piring itu dan membiarkannya terletak di samping piring bistik. Sambil memotong daging, ia berkata, "Jadi, kau ingin ngomong apa?"


"Nanti aja di rumah," jawab Matthew acuh tak acuh.


Jemari Elina *** gagang pisau. Menyebalkan! Kalau begitu, Elina cepat-cepat menghabiskan makanannya, walaupun menyisakan setengah porsi ayam bakar.


"Sudah kenyang. Aku mau pulang," gumam Elina.


Dessert tidak disentuh, dan masih ada sisa makanan, jadi Matthew meminta Elina untuk menghabiskannya. Tetapi Elina menggeleng, dan berpendapat agar makanan itu dibungkus saja.


"Kau ini seperti orang kesusahan saja ya? Kekasihmu ini punya banyak uang," komentar Matthew.


Elina memandang tak setuju. Dan, tadi dia bilang apa? Kekasih? Sejak kapan Tuan Matthew Jonathan?

__ADS_1


"Mubazir," sahut Elina dongkol. "Aku diajarkan untuk tidak membuang makanan. Aku bisa menghangatkannya dan memakannya jika aku lapar pada waktu tengah malam."


Matthew terdiam, di dalam hati memuji sifat Elina. Setelah itu, ia memanggil seorang pelayan, memintanya untuk membungkus semua makanan yang tersisa, lalu membayar makanannya.


Akhirnya pulang juga. Cukup lelah badan ini, sampai mata menghianati dirinya untuk terlelap di dalam mobil Matthew, lagi.


Matthew sendiri juga tidak tega membangunkan Elina, jadi ia menggendongnya sampai ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia duduk di tepi ranjang, meraih tangan Elina menggenggamnya. Dipandangi wajah wanita itu, Tuhan menciptakannya sangat sempurna; mata indah dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung yang mungil, lalu bibirnya ... Matthew sangat memujanya. Tangan ini, meski tidak halus, tapi ia sangat suka menggenggamnya. Kenangan di malam pertemuan pertama mereka, terpatri dalam ingatannya dan takkan pernah terlupakan.


Momen ini juga. Memandanginya dalam tidur, begitu membahagiakan. Ia sampai tersenyum ketika tak habis-habisnya matanya terpaku pada setiap inchi wajah cantiknya.


Diciumnya tangan Elina lembut. Kenapa sulit menyentuh hatinya yang terpagari oleh dinding besi dan berduri? Apa yang membuatnya enggan untuk menerima ketulusannya? Oh Elina, andai ia tahu bahwa bukan hanya tubuh mereka yang menyatu, tetapi hatinya juga. Elina telah memikatnya, sehingga jatuh dalam cinta yang pernah menyakitinya sampai ke sebuah dasar jurang penghianatan.


Sayangnya, waktu tak senang melihatnya bahagia walau sesaat. Mata yang sedang terpejam itu kini terbuka perlahan. Genggaman tangan Matthew segera dilepaskan, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa pun.


Elina tersentak dan bingung. Dilihatnya seluruh sudut kamar ini, dan tersadar. Sudah sampai di rumah? Pria ini ... kenapa tidak membangunkannya, malah menggendongnya sampai ke kamar?


"Kau pulas sekali, jadi aku tak membangunkanmu." Sangka Elina, Matthew tahu isi di dalam pikirannya sehingga menjawab begitu. Padahal, Matthew hanya membuka topik pembicaraan agar tidak tercipta kecanggungan di antara mereka.


Elina tak berkomentar apa pun, menutup rapat mulutnya sampai teringat oleh sesuatu. "Tadi kau mau membicarakan soal apa?"


Matthew mengernyit; awalnya sempat bingung, lalu mencoba mengingat. "Oh, itu. Aku jawab, tapi jangan menyela ya."


Elina mengganguk cepat, tak sabar. Diperbaiki posisi duduknya, sedikit menghadap Matthew.


Inggris? Tempat yang sangat jauh, di mana ia takkan bisa menatap wajahnya secara langsung meski ada aplikasi yang bisa tetap melihatnya lewat layar ponsel. Mendadak Elina sama lesunya seperti Matthew. Ia menunduk.


"Kau tidak tanya kenapa?" Matthew menagih.


"Untuk apa? Itu urusanmu," jawab Elina datar.


Matthew memalingkan wajah sembari menghela napas. Lagi-lagi sikapnya begitu dingin. Tuhan menciptakannya tidak sinkron; Elina yang berwajah malaikat, tapi hatinya sebeku es.


Karena ini berkaitan dengan pria misterius tadi, maka ia jelaskan, "Papaku bilang, perusahaan di sana sedang membutuhkanku. Tapi aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku pada perusahaan di Jakarta dan ..." Kemudian, ia menatap lembut Elina. "Kau."


Saat mata indah Elina membulat, Matthew tak kuasa melepaskan pandangannya--terlihat begitu menggemaskan. Namun hanya sekejab, setelah itu, sinar matanya layu, Elina kembali menunduk. Tak ada apa pun yang keluar dari mulutnya selama beberapa menit. Tadi sempat terhanyut oleh hangatnya ketulusan Matthew, tetapi sebuah kenyataan bahwa ia tak boleh mengekang Matthew dalam hal apa pun, membuat hatinya mencelus.


"Jika kau pergi, siapa yang akan menggantikanmu di perusahaan?"


"Kak Monika," jawab Matthew heran. "Kenapa?"


Elina menggeleng pahit. "Kau tetap tidak akan melepaskan tanggung jawabmu padaku. Kembalilah ke Inggris, tapi kau tetap kirimkan aku biaya selama aku hamil dan setelah 40 hari melahirkan."

__ADS_1


Matthew tercengang sesaat, lalu menyadari sesuatu. Ia tersenyum sinis. Apa yang dipikirkan wanita ini? Dia sedang mencoba menghempaskannya jauh darinya? Dasar wanita bodoh! Matthew bisa gila jika jauh darinya. Jangan katakan itu dengan bibirmu, Elina! Itu menyakitkan!


Matthew menggenggam kedua bahu Elina, memajukan wajahnya dan mencium bibir yang telah menusukkan duri ke dalam hatinya lewat kata-kata. Itu hukuman bagi Elina, dan wanita itu menyadarinya sehingga tak melawan.


"Siapa kau? Beraninya mengaturku," ucapnya dingin setelah melepaskan ciuman.


"Aku hanya tidak ingin mengekangku," jawab Elina bergumam.


"Justru kau yang malah mengekangku," Matthew melepaskan genggaman tangannya pada kedua lengan Elina. "Kau pikir, bertanggung jawab atas bayi ini berarti hidupku tidak bebas?" Ia menggeleng. "Tanggung jawab bukan beban, tapi keharusan. Aku tidak merasa terpaksa, ataupun terkekang. Semua yang kulakukan adalah atas kehendakku. Jadi, aku tidak akan ke mana-mana. Di sini! Bekerja dan menjagamu."


Tegas dan jelas. Elina rasa, ia tak perlu menginterupsinya lagi.


Matthew menghela napas. Melihat Elina tertunduk layu, membuatnya iba. Ia segera menenangkan diri, bersikap melunak, dan mengatakan hal lain selanjutnya.


"Kau tahu, pria yang mengejarmu dan Raima tadi?" Elina menaikkan kepalanya, tertegun. "Dia orang suruhan papaku."


Elina terkejut. Dengan amat menyesal, Matthew mengatakan keburukan papanya yang ingin mencelakai dirinya.


"Saat aku menyembunyikan motor Raima, tidak sengaja aku mendengar seorang pria menyebut nama belakang papaku," Matthew melanjutkan.


"Kau yakin itu nama belakang papamu?" tanya Elina.


"Tentu saja," sahut Matthew yakin. "Aku berpikir, alasan tidak masuk akal papa untuk menyuruhku pulang karena--"


Elina mendelik pucat sambil bergumam. "Dia sudah tahu tentang hubungan kita?"


Matthew terdiam sejenak, melirik Elina. "Belum sepenuhnya. Aku mendengar, pria itu hanya mengikutimu saja untuk mencari informasi tentangmu. Tapi mungkin karena terlalu terobsesi, dia jadi mengincarmu seperti tadi."


Kenapa hidupnya jadi sesulit ini? Apa maunya mereka? Sebegitu berbahayakah berada di sekitar Matthew? Ia menunduk sembari berpikir, *** selimutnya dengan tangan yang bergetar.


Matthew bisa melihat kecemasan Elina dari sikapnya. "Sekarang, yang kita lakukan adalah bertindak waspada. Kau jangan ke mana-mana sendirian. Kau juga harus memperingati Raima, karena mungkin pria itu bisa mengincarnya untuk mencari informasi."


Raima terlibat? Ya Tuhan, masalah jadi melebar begini? Ia berharap, sahabatnya itu baik-baik saja. Mereka tidak tahu orang seperti apa yang sedang dihadapinya.


-;-;-;-


Raima telah mendapat pesanan dari seorang pria di sebuah hotel yang cukup mewah. Kakinya yang bersepatu merah hak tinggi, melangkah dengan percaya diri, keluar dari lift. Berjalan di lorong yang lantainya di alas oleh karpet merah.


Ia berhenti di sebuah kamar. 1280, nama kamar yang ditunjukkan oleh Mami Sarah. Ia tekan knop pintunya perlahan. Pesonanya mulai ia kerahkan, dari sebuah panggilan lembut dan manja, lalu gerak-gerik genit menuju bilik yang terdapat sebuah ranjang.


Kosong? Ia tercengang. Mana orang yang akan dilayaninya? Apa ini sebuah lelucon? Ia tak menyukai ini. Lebih baik ia kembali ke klub malam, mencari pria berduit yang mau ia layani.

__ADS_1


Maksud hati ingin berbalik, sebuah pisau ditempelkan pada lehernya oleh seseorang dari belakang. Ia melirik panik, tetap bergeming agar tidak mengancam nyawanya.


"Siapa lo? Mau apa lo dari gue?[]


__ADS_2