
...Logan Jonathan
🍀🍀🍀
Suara nada dering ponsel memenuhi telinga, pria itu sampai kesal dan membanting sebuah berkas di meja.
"Ck! Mau apalagi sih dia?" Ia mendecak gusar, menatap layar ponsel yang tertera sebuah nama.
Ia menghela napas panjang, lalu ibu jarinya hendak menekan tombol "dial". Namun urung, malah meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan kasar.
Pintu ruangannya terbuka, seseorang melongokan kepalanya sedikit sambil tersenyum. "Lagi sibuk?" tanya pria itu.
Dia melirik sejenak. "Masuklah."
Pria tadi berjalan masuk sambil membawa sebuah berkas, lalu duduk di sebuah kursi yang berseberangan dengannya. "Kenapa? Mukanya kok kusut kayak baju belum disetrika?"
Tatapan dingin itu dilemparkan ke arah pria tadi. "Gue lagi nggak pengin bercanda," ujarnya sinis. "Ada apa lo kemari?"
"Nggak ada. Gue cuma mau mengunjungi teman gue yang lagi bete dari kemarin," jawab pria itu. "Buat bikin lo ceria lagi. Kita makan siang yuk!"
"Sorry, Ken. Gue lagi nggak lapar," timpal pria tampan berwajah oriental itu, kemudian melirik ponselnya yang berdering lagi.
Temannya melirik ponselnya, dan bertanya, "Kok cuma dilihat aja? Jawab dong?"
Pria itu tampak muak. Alih-alih menjawab telepon, dia justru mematikannya.
"Logan, kenapa dimatikan?" tanya temannya heran.
"Kenan, lo ngajak gue makan, 'kan?" kata pria itu setelah mendecak gusar. "Yuk, kita makan!"
🍀
Anna menunduk, jemarinya digerakkan gelisah. Diam-diam, ia melirik, tak berani menatap ibunya yang tampak marah.
Di ruang tamu ini, dia, Anna, mama, dan ayah duduk bersama, akan membahas suatu informasi yang didapat ibunya dari tante Asti.
"Anna, benar kamu sudah tidak perawan?" tanya ayah, yang memulai dengan kesabarannya.
Anna mendongak. "Aku masih 100% perawan kok."
__ADS_1
"Terus, kenapa kamu bilang kalau kamu sudah tidak perawan sama Adam?" Mama menimpali kemudian, tak dapat menahan amarah.
Dasar cowok rese! Gumam Anna dalam hati, gusar.
"Aku cuma mengetes dia aja kok, Ma," jawabnya setelah itu.
"TES?!" seru mama, membuat Anna terhenyak. "Kamu pikir, Adam sedang mengikuti ujian PNS? Sampai kamu uji begitu?"
"Anggap aja begitu," sahut Anna menaikkan kedua bahunya, bicaranya enteng. "Ma, untuk mendapatkan seorang suami yang berkualitas, tentu ada tesnya. Ya, termasuk yang tadi itu. Apakah Adam akan terus cinta sama Anna, kalau Anna udah nggak perawan?"
Jawaban yang malah membuat kemarahan mamanya semakin dobel. "Tes macam apa itu? Pantas aja semua orang yang tante kamu kenalkan pada menyerah. Kamu malah bilang begitu ke mereka?"
"Iya," jawab Anna disertai anggukkan. "Ya, aku lihat. Semua cowok cuma lihat kecantikan aku aja, nggak pernah aku lihat ketulusan mereka."
Ayah menepuk keningnya, mama menghela napas, sedangkan Tasya menatap kakaknya dengan heran.
"Iya, tapi nama kamu jadi tercemar karena tindakan kamu, " kata ayah.
Lebih tepatnya nama keluarga Anna. Cowok sialan itu buat Anna susah!
"Ayah tenang aja," kata Anna, tatapannya berubah misterius. "Anna akan urus semuanya."
🍀
Logan menghisap dalam-dalam rokoknya, lalu menghela asapnya di dalam ruangan yang jendelanya dibiarkan terbuka. Ia melamun, lalu menoleh pada bingkai foto yang ia telungkupkan di atas meja.
"Lima tahun aku mencintainya. Apa dia tidak bisa mengalah sedikit buat aku?" ratapnya, menatap ke langit-langit ruangan sambil termenung.
Sebatang demi sebatang rokok telah habis dihisapnya, menyisakan bungkusan yang kemudian dibuangnya ke tempat sampah. Beberapa saat kemudian, ia beranjak dari kursi, berjalan keluar dari ruangan menuju dapur.
Ting-tong.
Ia berhenti melangkah karena mendengar suara itu dari arah pintu masuk rumah. Entah siapa yang bertamu malam-malam begini ke rumahnya? Namun, ia tetap membukakan pintunya.
Seorang gadis tersenyum getir muncul dari balik pintu yang dibukanya. Ekspresi Logan mendadak dingin.
"Logan, boleh kita bicara?" kata gadis itu, suaranya agak pelan.
"Apa kamu nggak tahu malu? Kita sudah putus," kata Logan.
Gadis itu langsung meraih tangan Logan, memasang wajah memelas dan mulai terisak. "Please, Logan. Beri aku kesempatan. Aku mau menikah sama kamu."
__ADS_1
Logan memiringkan kepala, senyum sinis terkembang kemudian. "Kenapa tiba-tiba berubah pikiran begini? Apa urat malu kamu sudah putus?"
Ia tahu Logan sangat sinis pada orang lain, tapi tak pernah padanya. Gadis itu mendelik mendengarnya, seolah terkejut oleh rasa sakit yang menghantam dadanya.
"Logan. Terserah kamu mau mengatakan apa pun," balasnya terisak. "Tapi aku ingin mempertahankan hubungan kita karena aku mencintaimu."
Mungkin, Logan pria yang paling lemah. Kata "cinta" menyihir hatinya menjadi luluh. Ekspresinya tak lagi dingin. Jujur, ia juga masih mencintai gadis itu.
"Nina," katanya, setelah menghela napas panjang. "Kamu yang menolakku. Kamu bilang, kamu masih ingin melanjutkan karier sebagai pianis."
"Maaf, Logan," tukas Nina, semakin terisak. "Aku sudah berpikir soal ucapanmu waktu itu. Dan menurutku itu memang benar. Pernikahan kita tidak akan mempengaruhi karierku. Aku menyukai piano dan musik klasik, tapi aku lebih mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu."
Logan mengernyit, mulai ragu. Dan di saat itulah, Nina memanfaatkannya dengan menggenggam erat tangan pria itu, menatapnya dengan lembut, dan membelai pipinya.
"Aku janji, ini terakhir kalinya aku mengecewakanmu," ucapnya lirih.
Cinta ini masih menggebu. Senyuman Nina menghempaskan keraguannya untuk menerima permintaan maaf Nina.
Ia mengangguk, lalu berkata, "Baiklah. Kita balikkan."
Sangking senangnya, Nina memeluk Logan yang awalnya terkejut, lalu merasa bahagia sama seperti Nina.
"Logan, kamu merokok, ya?" tanya Nina, setelah melepaskan pelukan dan mengendus bau tembakau dari helaan napas Logan.
Nina tersenyum simpul. "Ya, sudah tidak apa-apa. Tapi ini terakhir kali, ya. Aku tidak mau kamu merokok lagi."
Logan mengangguk, tersenyum. Kemudian, lengannya mendekap bahu Nina, akan mengajaknya ke dalam rumah.
"Yuk, masuk...."
Pria itu berhenti dan tertegun, begitu melihat leher putih Nina tanpa dihiasi apa pun.
"Nina, mana kalung kamu?"
"Ah!" Nina sontak memegang lehernya. "Iya, maaf. Waktu itu kalungnya hilang. Aku tidak tahu hilang di mana," jawabnya, lalu memasang wajah memelas. "Maaf, ya, Sayang."
Logan menghela napas. Masalahnya, ini bukan soal harga, tapi kalung itu sangat berarti bagi hubungan dengan Nina. Sebuah hadiah pertama yang diberikan Nina, ketika mereka mulai menjalin kasih.
"Sudahlah. Yang hilang, biarkan saja hilang. Nanti, akan aku belikan yang baru," kata Logan.
"Nggak usahlah, Sayang. Mending, kamu beliin aku cincin," kata Nina, lemah lembut dan penuh perhatian, sambil mengamit lengan Logan. "Dua minggu lagi, aku mau ke Inggris untuk mulai latihan lomba. Aku berpikir, bagaimana kalau kita tunangan sebelum aku pergi ke London?"[]
__ADS_1