Matthelina

Matthelina
chapter 8


__ADS_3

Sebuah utang budi


“Elina terpaksa menjual tubuhnya seharga 80 juta untuk operasi pengangkatan sel kanker ibunya dan membayar utang ayahnya pada rentenir. Hidupnya selalu menderita; terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya tidak bekerja. Pagi bekerja di mall sebagai kasir, dan malam menjadi pelayan di klub malam.”


Kisah yang diceritakan oleh Raima sangat banyak, tapi hanya sepenggal kalimat itu yang diingat oleh Matthew.


Matthew mendesah, menyesal karena telah menodai Elina. Memang ini bukan hal yang disengaja, hanya saja ia tetap merasa bersalah. Ia takut, ada akibatnya yang harus ditanggung Elina setelah ini. Hidup gadis itu semakin sengsara, dan hidupnya sendiri jadi tidak tenang karenanya.


Matthew melajukan mobilnya ke arah klub malam yang diberitahukan oleh Raima. Baru akan memarkirkan mobil, ia melihat seorang wanita sedang digendong di atas pundak seorang pria kekar.


“Elina?” Matthew mendelik.


Karena mobil yang membawa Elina telah melaju, Matthew tidak jadi turun dari mobil dan menyusul sedan hitam itu.


Matthew mengencangkan laju mobilnya agar dapat menyalip mobil itu. Akan tetapi, lalu lintas malam itu cukup padat, dan mobilnya berjarak satu mobil lain dari mobil sedan itu.


Ia mengumpat sambil memukul setirnya, hampir saja ia kehilangan jejak. Akhirnya, ia tahu bahwa mobil itu berhenti di Heaven Hotel.


Tidak mau kehilangan jejak lagi, Matthew asal memarkirkan mobil. Ia bergegas turun, berlari ke lobi hotel. Sial! Sesampainya di sana, mereka telah membawa Elina masuk ke dalam lift.


Menunggu lift terlalu lama, maka ia menaiki tangga darurat. Ia yakin mereka membawanya ke lantai 5. Ia berlari sangat cepat seperti melompati dua anak tangga sekaligus.


Firasatnya ternyata benar, setelah mencari di koridor, Matthew menemukan pria yang menggendong Elina tadi.


Pria berwajah seram itu bertanya dengan mata menantang, sesampainya Matthew di depan sebuah kamar. “Siapa Anda? Sedang apa Anda di sini?”


Tak perlu menjawabnya dengan ucapan, melayangkan beberapa buah tinju ke wajahnya sudah cukup. Setelah pria berbadan besar itu tak sadarkan diri, Matthew mengambil sebuah kartu untuk membuka pintu kamar.


Ia bergegas masuk ke kamar, melihat pria tua biadab itu sedang mencoba mencium Elina.


Matthew menerjang pria itu, sebelum bibirnya sempat mencicipi bibir manis Elina. Dipukulnya pria itu tanpa ampun dan tak berdaya.


Ternyata, pengawal pria tua itu sudah sadar. Dia langsung menolong tuannya yang sudah terkapar, melayangkan sebuah pukulan di pipi kanan Matthew.


Pertarungan terjadi dengan sengit dan seimbang. Matthew hampir dipukul jatuh oleh pria kekar itu, wajahnya lebam di beberapa bagian. Tetapi ia berhasil mengalahkan pria itu. Pukulan terakhirnya membuat pria itu tersungkur dan tak mampu lagi membalas.


Setelah itu, Matthew menghampiri Elina yang tengah menutupi tubuhnya dengan selimut. Takut, bingung, dan tercengang itulah yang ada di rona wajahnya. Riasannya luntur, rambut acak-acakan, dan mata sembab karena menangis.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Matthew, kedua tangannya mencengkram kedua lengan Elina.


Mata bening berwarna cokelat itu membulat, menatap Matthew dengan sejuta pertanyaan di benaknya. Kedatangannya mengejutkan—entah dari mana Matthew bisa tahu kalau Elina ada di sini, menolongnya hingga membuat wajah tampan pria itu lebam.


Satu utang budi yang harus dibayar Elina pada pria itu, dan Elina harus membayarnya kelak.


Elina tertegun setelah sekian detik hanyut dalam lamunannya. Ia mengangguk pelan, tapi tidak menatap Matthew lagi.


“Baguslah. Ayo, kita keluar dari sini.” Lega Matthew.


Matthew melihat baju Elina yang telah robek. Kemudian, ia membuka kardigan hitam miliknya untuk menutupi tubuh Elina. Setelah itu, mereka bergegas keluar dari kamar hotel menuju mobil Matthew yang terparkir di lantai bawah.


Canggung, saat seorang pria yang bersamanya pada malam itu, datang menjadi penyelamatnya. Elina menatapnya lama, seperti mencari sebuah jawaban, yang membuat detak jantungnya berdegup tak beraturan sambil berjalan menuju mobil. Matthew sendiri tak menyadari tatapan itu.


Pria macam apa dia? Kenapa menolongnya? Mereka hanya dua orang asing yang bertemu karena sebuah kesalahan. Apa dia sudah menyadari kejadian malam itu? Apa dia lakukan ini karena peduli, atau karena merasa bersalah?


Elina menunduk muram. Ya, pertanyaan terakhirlah yang menurutnya masuk akal. Ia menyadari siapa dirinya bagi pria itu. Bukan apa-apa, hanya dua insan, yang nantinya akan saling melupakan dan berpisah.

__ADS_1


-;-;-;-


“Di sini saja.”


Elina meminta Matthew menurunkannya di tengah jalan, padahal jarak menuju gang rumahnya cukup jauh.


Elina bergegas membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil dan berkata, “Terima kasih sudah mengantarkanku.”


“Elina,” panggil Matthew, membuat Elina berhenti bergerak dan menoleh. “Apa hanya seperti ini? Tidak adakah kata yang ingin kau ucapkan lagi padaku?”


Di dalam hati Matthew merasa geram, sikapnya jadi bodoh begini di depan Elina. Apa yang sedang ia pikirkan? Malu sekali, tapi kata yang diucapkan tidak dapat ditarik lagi.


Elina terlihat berpikir. “Bukannya aku sudah mengucapkan ‘terima kasih’ tadi?” jawabnya polos.


Matthew menahan senyumnya. Sikap gadis ini menggemaskan. “Em … bukan itu maksudku.”


Elina berpikir lagi. Apa yang mau dibicarakan? Sepertinya tidak ada. Kemudian, ia melirik wajah Matthew yang babak belur.


“Ayo, ikut aku.” Hanya mengatakan itu tanpa penjelasan, Elina hendak turun dari mobil, jika Matthew tak bertanya lagi:


“Ke mana? Kenapa kita mesti turun?”


Elina mengela napas. “Memangnya, mobilmu muat masuk ke dalam gang?”


Manusia purba tahu kalau soal itu. Jika Elina menjelaskan ke mana arah tujuan mereka, Matthew tidak akan mengajukan pertanyaan bodoh itu.


Mereka masuk ke dalam gang. Matthew tahu, Elina sedang membawanya ke rumah Raima, karena jalur yang dilewati mengarah ke sana. Di depan rumah, mereka berpapasan dengan Raima, yang bergegas pulang setelah mendapat SMS dari Elina.


“Lo nggak apa-apa, kan, Elin?” Kemudian, Raima tercengang melihat wajah Matthew yang lebam.


Raima melirik Elina, bertanya-tanya. Tapi Elina menyuruhnya membuka pintu, agar mereka bisa masuk. Elina meminta Raima untuk menyiapkannya baju, juga memberi tahu di mana letak kotak obat.


Elina duduk di sofa yang ada di samping Matthew. Lamunannya pada kejadian malam itu dienyahkan, kala Elina berada di hadapannya.


“Mendekatlah,” kata Elina, memajukan tubuhnya sedikit. Di tangannya terdapat sebuah kain basah.


Matthew mendekat dengan canggung. Pandangannya berusaha dialihkan pada yang lain, walaupun usahanya sia-sia. Bibir merah jambu Elina, itulah yang ia lihat sejak tadi. Lalu, beralih pada kedua mata cokelat bulat yang berkilau—sungguh, ia mengaguminya.


“Au!” pekik Matthew. Lamunannya buyar, kala rasa sakit menyengat di pipinya. “Tolong pelan sedikit.”


Elina terlonjak, lalu merasa bersalah. Ia mengangguk, menerima permintaan Matthew. Maka, ia mengompres pelan-pelan luka itu, walaupun Matthew masih saja meringis.


Tapi lama-kelamaan Matthew terbiasa pada sakitnya. Mata dan bibir Elina menarik perhatiannya lagi. Mungkin Matthew tidak menyadari ini, tapi sungguh, baru kali ini ia begitu mudah tertarik pada wanita.


Raima berdiri di depan pintu, memegang gantungan kunci. “Elin, gue pergi lagi, ya? Lo di rumah gue aja dulu.”


Elina menoleh; setelah mendengar semua ucapan Raima, ia mengangguk dan kembali mengobati Matthew.


Ruang tamu yang luasnya sangat kecil itu, suasananya berubah jadi hening. Elina sibuk mengobati Matthew, tak menyadari ada sepasang mata biru yang sedang mengagumi kekuasaan Tuhan yang ada pada dirinya.


Tapi tak selamanya Elina sepolos itu. Akhirnya, mata itu saling bertemu dan larut dalam tatapan yang mendorong Matthew untuk lebih mendekat.


Elina seperti tersihir. Dia diam ketika Matthew dengan lancang mendekatkan bibirnya padanya. Pada saat bibir mereka hanya berjarak satu senti, Matthew terpaku. Elina pun tertegun.


“Aku sudah bilang pelan-pelan,” gumam Matthew, lalu menjauhkan wajahnya. “Sudah, langsung obati saja lukanya.”

__ADS_1


Elina tercengang sesaat. “Ah, iya,” sahutnya tertegun, mengambil kapas dan obat merah.


Elina masih tidak mengerti, sedetik yang lalu, pria itu membuatnya menahan napas dan detak jantungnya berdegup kencang. Kini, ia malah membuatnya bingung dengan perubahan sikap yang tiba-tiba. Pria macam apa Matthew Aditya Jonathan ini?


Elina menutup kotak P3K milik Raima sembari berkata, “Sekarang, kita impas.”


Matthew tertegun. “Maksudmu?”


“Kau tadi menolongku, dan aku sudah mengobatimu. Jadi, aku tidak punya utang budi padamu,” jawab Elina, memangku kedua lengannya di atas kotak P3K.


Utang budi? Matthew mengernyit, lalu ia tersenyum setelah mengetahui maksudnya. “Oh, itu. Aku tidak pernah menganggap sebuah pertolongan adalah utang budi.”


Elina terdiam seraya berpikir lalu langsung berkesimpulan. “Rasa bersalah?”


Dor! Tembakan Elina menusuk ke jantung Matthew. Itu memang benar, dan Matthew tidak menyanggahnya.


Matthew mengangguk. “Bisa dibilang begitu.”


Elina menegakkan badannya. Entah ia harus kecewa ataupun lega. Di sisi lain, ia tidak harus menyusahkan pria ini dan mereka bisa berpisah, menjalani hidup seperti biasanya.


“Kenapa harus merasa bersalah?” tanya Elina.


“Aku telah menodai gadis malang sepertimu,” jawab Matthew lirih.


Elina tidak kaget jika Matthew mengetahui beberapa hal tentang dirinya.


“Aku tidak peduli siapa yang memberitahukanmu tentang aku, dan seberapa banyak orang itu ceritakan. Kau tidak perlu merasa bersalah karena kejadian malam itu—akulah yang memilih untuk menjual diri padamu,” kata Elina.


“Aku tahu,” sela Matthew bergumam.


“Pergilah, dan hiduplah dengan tenang. Lupakan aku, pertemuan kita, dan … kejadian malam itu,” ucap Elina, tercekat pada ujung kalimat.


Matthew menoleh cepat. Mana bisa seperti itu! Malam itu, Elina telah sah memiliki tubuhnya. Ia akan selalu mengingatnya, karena hal itu adalah salah satu kenangan terburuk. Ia menjadi pria berdosa dalam satu malam.


Matthew langsung mencengkram kedua lengan Elina. “Tidak. Aku tidak bisa melupakannya,” serunya gusar.


Elina menatapnya dalam. Di matanya, ada penyesalan di sana. “Itu bukan kesalahanmu.”


“Aku juga salah. Bagaimana hidupmu nanti setelah kejadian itu?”


Pasti yang dikhawatirkan adalah kehamilan? Elina juga memikirkan itu, tapi ia bersikeras menyakinkan Matthew dengan senyuman.


“Itu tidak akan terjadi. Kita hanya melakukannya sekali. Jadi,” Elina melepaskan cengkraman kedua tangan Matthew dari lengannya, “Kau tidak perlu memikirkannya.”


Matthew bergerak mundur. Jika memang seperti itu, ia tidak bisa memaksa. Elina sepertinya gadis yang sangat keras kepala, dan ia tak ingin menyakitinya dengan sikap yang sama. Tapi melupakan? Tidak akan bisa. Begitu juga dengan hidup tanpa beban. Ia akan terus mencemaskan Elina.


Sambil beranjak dari tempat duduk, Matthew berkata, “Aku mau pamit pulang dulu.”


Elina mengangguk, menatap Matthew dengan senyum tipisnya. “Selamat tinggal.”


Matthew tidak sanggup mendengar ucapan itu. Jadi tolong Elina, jangan ucapkan! Jeritnya dalam hati.


Matthew akan berjalan menuju pintu, akan menyentuh knop pintu. Tapi ia hanya membeku dalam beberapa saat, sebelum berbalik menghadap Elina yang masih duduk di sofa.


“Apa kita bisa saling bertemu lagi?”

__ADS_1


Elina tertegun, lalu berpikir sambil menatap Matthew. Iba, itulah yang dirasakannya saat melihat sebuah harapan yang tergambar pada bola mata Matthew.


Elina menjawabnya dengan ekspresi datar dan nada bicara yang dingin. “Aku harap, ini adalah pertemuan terakhir kita.”[]


__ADS_2