Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER TIGAPULUH TIGA


__ADS_3

Anna menegang tatkala wajah pria itu semakin dekat. Serius, pria ini mau menciumnya di sini?


Sepertinya, yang menunggu momen itu cukup banyak. Gadis-gadis muda yang mengapit mereka tersipu, bergumam "so sweet", memuji pasangan baru itu.


Namun, detik mendebarkan tak terjadi, Logan hanya mengusap-usap bibir Anna sambil bergumam, "Kayak anak kecil, makan masih berantakan."


Anna mendelik tajam, rasanya pengin dijitak aja cowok ini.


Logan pun menjauhi wajahnya dari Anna, membuat gadis-gadis itu menghela napas kecewa.


"Ada yang punya tisu?" tanyanya pada teman-teman Tasya. "Beri saya dua helai."


Seorang gadis berkerudung putih yang memberikannya. Satu helai untuk mengelap bibir Anna, sedangkan yang satunya untuk Logan.


Wajah tak senang terlihat lagi pada wajah Anna. "Dramatis"! Pria itu sengaja melakukan hal itu untuk menarik simpati para tamu undangan. Muak rasanya! Padahal, ia sempat menahan napas tadi.


Saat Logan mengelap tangannya, lirikan matanya mengarah pada Kenan sambil tersenyum mencemooh. Di dalam hati ia berkata: "Apa kamu lihat itu, Kenan?"


Kenan memang melihatnya, ekspresinya berubah kesal dengan rahang mengeras dan kepalan tangannya yang menguat. Lalu, dia pergi dari sana, sementara Logan tersenyum menang.


Sesi foto bersama dilakukan setelah itu. Skenario pernikahan dramatis berlangsung cukup lama bagi Anna. Apa bisa segera disudahi saja? Apa ia pura-pura pingsan saja supaya pesta ini cepat selesai?



London, pukul 13.00


Meski kehidupannya sudah mulai tenang, apalagi keberhasilannya mendapatkan kemenangan yang diinginkan, pikiran Nina masih tertuju pada Logan.


Kini, ia sedang menikmati waktu makan siangnya di sebuah restoran, melihat-lihat salah satu media sosial. Saat mengusap-usap layar ponsel ke atas, ia melihat akun milik Logan. Akun itu sudah ia unfollow sejak hubungan mereka putus.


Jarinya membeku, antara ingin men-klik akun itu atau tidak. Pasalnya, ia hanya ingin sekadar tahu kabarnya. Namun, akhirnya ia menyerah oleh rasa sakit hati, ia lebih memilih mengabaikan rasa keingintahuannya.


Baru saja layar ponsel mati, ada notifikasi yang masuk dari Tita. Gadis itu kembali ke Indonesia karena ada urusan. Pesan Whatsapp ini, apa pertanda bahwa Tita akan kembali ke London?


Awalnya, senyum Nina merekah. Namun, begitu melihat isi pesan yang berisi tiga buah foto, sinar wajahnya meredup. Lambat laun, matanya telah digenangi oleh air mata. Dadanya sesak, isak tangis terdengar.


Tita menguak luka dulu hingga membuatnya semakin menganga. Tiga buah foto yang memperlihatkan pasangan yang baru menikah, Logan dan Anna. Lalu, di bawahnya Tita mengirim pesan teks.


"Lupakan Logan, fokuslah pada kariermu!"

__ADS_1


Nina meletakkan ponselnya, tangisan semakin deras tanpa suara. Tega sekali! Alih-alih minta maaf dan memintanya kembali memperbaiki hubungan, Logan malah menikahi wanita yang merusak hubungan mereka.


Nafsu makannya hilang, Nina mengambil tas dan ponselnya sambil menangis meninggalkan restoran.



Pesta usai, Anna dan Logan dibawa ke kediaman keluarga Jonathan. Logan dan Anna tercengang saat memasuki sebuah ruangan.


Kamar yang tadinya ditempati oleh Logan, disulap menjadi kamar pengantin penuh bunga, cahaya remang, dan lilin. Mereka penasaran, ide siapa ini.


"Norak!" gumam Logan dingin, lalu berjalan menuju ranjang, menghempaskan kelopak bunga mawar yang menghiasi selimut. Anna dengan canggung menghampiri sebuah sofa, lalu duduk di sana.


"Pak—eh, maksudnya Logan. Apa Anda punya handuk lagi?"


"Ada di dalam lemari," jawab Logan, kini sedang berbaring sambil memijat batang hidung.


"Saya duluan, ya, yang mandi?"


"Terserah."


Anna mencari sebuah handuk yang ada di lemari yang begitu besar, dengan empat pintu. Ia menoleh karena ada yang mengetuk pintu.


"Siapa sih?" gumam Logan merasa terganggu, lalu spontan beranjak untuk membuka pintu.


"Ini baju ganti buat kamu."


Pas sekali! Anna dengan senang hati menerima. Ia memang membutuhkan baju ganti karena pakaiannya belum dibawa ke sini.


"Terima kasih."


"Maaf, kalau saya memberikan baju-baju bekas saya waktu masih muda," kata Elina tampak tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kok, Nyonya ... Maksud saya Mama. Baju ini kelihatan masih bagus."


"Iya, saya jarang memakainya." Elina tersenyum senang. "Dan Anna, mulai sekarang, kamu harus terbiasa panggil saya Mama. Kalau begitu, Mama permisi. Selamat istirahat."


"Selamat malam, Ma," sapa Logan.


"Malam," balas Elina, lalu lenyap di balik pintu kamar.

__ADS_1


Anna membawa pakaian-pakaian itu ke sebuah sofa, memilih pakaian yang nyaman untuk dipakaianya. Namun, dahinya semakin mengkerut dan tercengang saat melihat-lihat pakaian-pakaian itu.


"Lingerie?" gumamnya heran, merentangkan pakaian itu di depan wajahnya.


Logan yang sejak tadi memperhatikannya, sengaja tertawa agak keras. "Aku tidak percaya mama mengusulkan pakaian itu untukmu."


Elina berpikir bahwa Anna dan Logan akan melakukan malam pertama sejak menikah. Anna tidak mau pakai ini. Dengan wajah masam, ia singkirkan pakaian itu ke dalam lemari.


Logan kembali terkekeh, lalu beranjak menuju lemari. Entah apa yang dicarinya, Anna tidak tahu dan tidak mau tahu. Ia sudah pusing karena tak ada pakaian yang bisa dipakainya. Lebih baik, ia mandi.


Di dalam kamar mandi, ia mulai membuka gaunnya. Namun, sulit sekali meraih retsleting yang ada di bagian belakang.


"Percuma. Apa aku minta bantuan sama Logan, ya?" gumamnya sambil berpikir keras. "Tapi...."


Dibukannya pintu kamar mandi perlahan, melongokkan kepala, mencari keberadaan Logan.


Ternyata pria itu sedang berbaring di ranjang, tapi dia beranjak karena mungkin mendengar suara derit pintu.


Logan memandang tanpa ekspresi, lalu bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"


"Maaf, tapi bisa tolong bukakan retsleting gaun saya?"


Logan mendecak. "Memangnya tidak bisa buka sendiri?"


"Kalau saya bisa, saya nggak akan minta bantuan Anda."


Logan menghela napas, berjalan sambil merutuk di dalam hati. Ia menyuruh Anna untuk berbalik, lalu mulai menurunkan retsleting gaun itu.


"Buka sedikit saja. Nanti, sisanya saya sendiri yang buka."


Seakan tak mendengar, Logan malah melepas menurunkan retsleting


sampai ke bawah. Matanya mendelik, tertegun melihat punggung Anna yang mengingatkannya pada kejadian malam di kapal pesiar.


Ia menarik tangannya dengan tiba-tiba, terhenyak. Bergegas ia berbalik untuk menyembunyikan pipinya yang memerah sembari berkata agak gugup, "Sudah saya buka."


"Oh, terima kasih." Bergegas Anna masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu.


Logan memegangi dadanya. Kenapa detak jantungnya kencang lagi? Sewaktu di pelaminan, hal sama juga dialaminya. Bibir dan punggung Anna membuatnya teringat pada kejadian itu, lalu membangkitkan gairahnya.

__ADS_1


"Gila!" rutuknya, bergumam sangat pelan sambil berjalan ke arah ranjang. "Bisa-bisanya pikiran kotor itu melintas di kepalaku!"


Tidur dengan Anna? Logan menatap ragu pada ranjang, lalu menghempaskan pikiran itu. Tidak! Malam ini tidak akan terjadi apa pun di ranjang ini![]


__ADS_2