Matthelina

Matthelina
Chapter 21


__ADS_3

Damn!


Brak! Matthew mendobrak pintu sebuah ruangan. Seorang pria mendongak, terlonjak melihat kedatangan adik iparnya tiba-tiba ke kantornya. Lalu, Matthew menghampirinya secepat kilat.


"Matthew, ada ap...."


Tanpa sempat menyelesaikan ucapannya, Matthew telah mencengkram kerah bajunya. Pria itu mendelik, menatap mata Matthew yang penuh kemarahan. Tak tahu apa salahnya, Matthew telah melayangkan sebuah tinju ke wajahnya sampai terjungkal.


Matthew menghampiri dengan ekspresi sangar, dan pria itu beringsut mundur ketakutan sambil menatapnya. Matthew mengangkat tubuhnya dan kembali memukul tanpa ampun, meski pria itu berkali-kali memohon.


Teriakannya terdengar sampai luar ruangan. Beberapa orang datang, menjauhi Matthew dari pria itu, dan memeganginya.


"Apa yang kau lakukan, Matthew? Kenapa kau memukulku?" tanya pria itu.


Matthew mendengus, lalu meronta. "Lepaskan! Biar aku pukul lagi dia, supaya dia ingat pada kesalahannya!"


Pria yang bernama Dimas itu mengernyit, tapi tak menanggapinya. Karena Matthew terus meronta, salah satu dari satpam mengancam akan melaporkannya ke polisi.


"Polisi? Ide bagus. Sekalian saja kita bawa si penculik itu ke sana!" sindir Matthew sembari menunjuk Dimas.


Penculik? Dimas sendiri tak mengerti maksudnya. Namun tak lama kemudian, ia menyadari sesuatu. Matthew telah tahu bahwa dirinya dalang yang membawa kabur Justin dari vila keluarga Jonathan.


-;-;-;-


Elina tercengang dan berhenti melangkah, keadaan Matthew yang acak-acakan. Rambut kusut, dasi melonggar, dan lengan kemeja yang tergulung, serta seorang pria dengan wajah babak belur duduk di sampingnya.


Tak beberapa lama taksi menurunkannya dan Justin di rumah Dewi, Bi Jumi mendapatkan sebuah telepon dari kantor polisi. Di sampingnya, Dewi, sedang termangu khawatir mendengarkan, lalu merebut Justin dari gendongan Elina.


"Ada apa, Nyonya?"


"Tadi, polisi bilang Matthew ditahan atas kasus pemukulan Dimas," jawab Dewi agak bergetar.


Pemukulan? Pria itu tidak bisa ya, menahan amarahnya? Elina berinisiatif untuk ke kantor polisi, dan ia menyarankan Dewi untuk di rumah, karena kondisi kesehatannya yang masih belum pulih.


Elina bergegas berlari, seolah lupa ada janin di dalam perutnya, mencari sebuah taksi untuk ditumpangi. Sebuah taksi berwarna biru mendekat, ia langsung melompat masuk dan mengatakan tempat tujuannya.


Sesampainya di sana, inilah yang ia lihat. Elina perlahan berjalan mendekat. Matthew melihat ke arahnya sampai wanita itu berdiri di sampingnya.


"Mana Justin?" tanya Matthew. Mendengar namanya disebut, Dimas menoleh dan memasang telinga.


"Sudah di rumah bersama neneknya," jawab Elina.


Baguslah. Matthew lega mendengarnya. Sekarang, waktunya berurusan dengan pria ini. Ia melirik tajam pada Dimas, hingga pria itu bergidik dan menunduk. Polisi mengalihkan perhatiannya pada wanita berseragam pengasuh berwarna biru yang ada di samping Matthew.


"Anda siapa?"


"Elina, Pak. Pengasuh dari keponakannya Tuan Matthew, jawab Elina.


"Keluarganya di mana? Kenapa Anda yang datang?"


"Begini, ibunya Tuan Matthew kurang sehat, dan kakaknya, Nyonya Monika, sedang dalam perjalanan."


"Baiklah. Silakan duduk di sana." Polisi itu menunjukkan deretan tempat duduk yang agak jauh dari Matthew. Dan Elina pun duduk di sana.


Perhatian polisi itu kembali pada Matthew dan Dimas. Lalu, sebuah pertanyaan dilayangkan ke arah Matthew. "Kenapa Anda memukul Pak Dimas?"


Serasa hati ini dibakar oleh panasnya hasutan setan, Matthew melirik Dimas, murka. "Dia telah menculik keponakan saya."


"Jika memang begitu, tidak seharusnya Anda bertindak main hakim seperti itu."


Main hakim sendiri? Matthew mendengus sambil memalingkan wajah. Ia sangat mengenal negara ini; hal seperti itu sering terjadi. Jadi, kenapa ia dilarang menghukum bajingan ini.


"Dan Anda, Pak Dimas." Polisi menoleh pada Dimas. "Kenapa Anda menculik keponakan Pak Matthew?"


Dimas terdiam lama. Menunduk layu, meratap sedih. Semua karena rasa sayang ini. Cinta terhadap darah dagingnya yang ia tunggu selama 9 bulan di dalam rahim Monika. Rindu pada tawa, pelukan, dan celotehannya saat memanggilnya "Papa".

__ADS_1


"Tuan Dimas?" tegur polisi melambungkan angannya. Ia terkejut melihat setitik air mata mengalir di pipi Dimas.


Dimas mengusap air matanya. "Anak itu adalah anak saya," jawabnya lirih.


Polisi itu menjauhkan tubuhnya, bersandar di kursi sambil menghela napas. Kasus macam apa ini? Gumamnya dalam hati. Benar-benar dunia sudah aneh.


Tapi Matthew mendengus. "Anakmu? Kau yang tidak becus menjadi suami, mana pantas disebut seorang ayah."


Dimas beranjak dari kursi, tersulut amarahnya. "Kau tidak tahu apa-apa, Matthew!"


Matthew juga berdiri, mencengkeram kerah Dimas. Polisi yang terkejut sontak berdiri, dan Elina juga langsung menghampiri Matthew.


"Apa yang tidak aku tahu, hah? Kakakku sampai di rumah dengan wajah penuh lebam dan menangis. Itu adalah hasil perbuatanmu!"


Tangan kiri Matthew terangkat, akan memukul. Tetapi, Elina memegangi lengannya. Matthew menoleh, dan Elina menggelengkan kepala dengan tatapan memohon.


Jika bukan demi Elina, nyawa Dimas sudah melayang di tempat ini dan detik ini juga. Karena sampai kapanpun, perbuatannya kepada kakaknya dan Justin tidak akan pernah termaafkan.


Kedua pria itu kembali duduk. Saat itu juga, Monika memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Namun, ia mematung melihat Dimas, yang juga sedang menatapnya, sejak kehadirannya.


Karena sudah ada Monika, Elina memutuskan untuk keluar. Udara di tempat ini sangat menyesakkan. Tak ada aroma perdamaian, yang ada pertikaian dan amarah untuk saling menuding.


Elina akan beranjak dari kursi; tapi seorang wanita setengah baya, berbadan gemuk dan pendek, berpakaian sederhana berdiri di ambang pintu. Terlihat resah, berkali-kali mondar-mandir di sana, dan ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


Ia pun akhirnya menghampiri wanita itu, yang sedang berdiri membelakanginya. "Ibu—" panggilnya, menyentuh pundak wanita itu.


Wanita itu menoleh, gugup menatap Elina. Jika dilihat, ada sesuatu keraguan yang tersimpan, entah itu apa.


"Ibu siapa? Kenapa tidak masuk saja ke dalam?"


Wanita itu menunduk. Jemarinya bergerak gelisah, menimbang sesuatu. Wanita cantik yang ada di depannya ... apa bisa dipercaya? Ya Tuhan, ia bingung sekali, sementara sesuatu yang ingin disampaikannya terus mendesaknya untuk bicara.


"Ibu kenal sama Pak Dimas?" tanya Elina memancing, dan wanita itu berhasil mendongak menatapnya.


"Eneng kenal Pak Dimas?"


Wanita itu terdiam, menunduk sambil **** bibirnya. Mungkin keraguannya sempat dienyah, sehinga dia kembali berkata, "Saya Bibi Onah, pembantunya Pak Dimas."


Hah? "Pembantu Pak Dimas?"


-;-;-;-


Kasus ini akhirnya Monika yang selesaikan. Matthew dimintanya untuk pulang dan beristirahat lebih dulu, nanti Monika akan menyusul.


Matthew berjalan lemas memasuki pekarangan kantor polisi. Matahari sudah tergelincir, tergantikan oleh bulan. Ia menyadari ada seseorang yang ia lupakan sejenak. Elina.


Lantas, ia menghubungi ponsel wanita itu. Tiba-tiba suara dering telepon terdengar di belakangnya. Ia menoleh, melihat Elina sedang memperlihatkan ponselnya.


"Aku di sini," kata Elina, lalu berjalan menghampirinya.


"Kau dari mana tadi?" tanya Matthew, cemas.


Elina melirik ke bawah, sedang memikirkan sesuatu. "Matthew, ada yang ingin aku bicarakan."


Matthew memiringkan kepalanya sedikit. "Soal apa?"


"Nanti akan aku ceritakan. Lebih baik, kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara."


Tempat yang nyaman. Satu-satunya yang ia tahu adalah di dalam kamar. Sayangnya, Matthew tidak berani bercanda seperti itu pada Elina. Karena hari sudah malam dan waktu makan malam sudah masuk, Matthew melajukan mobilnya ke sebuah restoran.


Makanan yang banyak sudah dipesan. Elina tampak heran melihat meja mereka yang lebih mirip seperti meja prasmanan. Sengajakah pria ini? Memangnya ada perayaan apa?


"Makanlah," kata Matthew membentangkan tangan kanannya.


Elina mengelus keningnya. "Tapi ini terlalu berlebihan, Matthew."

__ADS_1


"Tidak. Karena masalah ini hampir selesai, Justin juga sudah ditemukan, jadi kita perlu merayakannya," sahut Matthew, meletakkan sebuah bistik daging ke piring Elina. "Dan lagi pula, seorang ibu hamil perlu makan yang banyak. Aku tidak mau anakku terlahir dengan bobot yang kurang."


Elina menatap daging itu. Benarkah ini? Mood Matthew sedang bagus saat ini, tapi yang akan dibicarakan akan mempengaruhi moodnya. Sekarang ia jadi ragu, apa hal itu perlu dibahas?


"Jadi," kata Matthew, meraih sendok, akan menyantap sup krim ayam, "apa yang ingin kau katakan."


Sudah ditetapkan, hal itu perlu dibahas sekarang juga. "Seseorang yang mengaku sebagai pembantunya Pak Dimas, mengatakan sesuatu padaku."


Benarkan? Sorot mata pria itu tampak tak suka. Dia meletakkan sendoknya ke mangkok, menatap Elina dingin. "Kenapa bahas soal orang itu sih? Nafsu makanku jadi hilang."


Sabar Elina. "Ini penting, dan kau harus mendengarkannya."


"Seberapa pentingnya omongan seorang pembantu yang kerjanya hanya bergosip dan menyebarkan rumor, hah?" tukas Matthew gusar.


"Tapi aku percaya sama kata-katanya. Aku bisa melihat kejujuran di matanya," sahut Elina keras. "Kalau kau tidak mau mendengarkan, ya sudah."


"Kenapa memangnya, kau mau mogok makan?" tantang Matthew, kemudian melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajah sambil mendengus. "Kenapa para wanita selalu memakai cara licik untuk membuat para pria takluk."


Apa katanya? Licik? Hah, tidak menyangka Matthew mengatakan hal itu padanya. Elina menatap Matthew, meradang. Pria egois, bertemperamen buruk, dan suka berprasangka ini, lihat saja, Elina buktikan bahwa ucapannya salah.


Elina tak bicara apa-apa lagi. Bistik yang diletakkan Matthew, dipindahkan—ia tak sudi memakannya. Ia mengambil spageti daging asap, lalu memakannya. Takkan ia menatap, menyahut, ataupun menimpali ucapan pria itu. Biar saja!


Matthew memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Elina benar-benar marah. Oh, baiklah, ia mengalah. "Ya sudah, katakan," ucapnya masih marah dan diusahan melunak.


Tapi usahanya sia-sia, Elina menanggapinya dingin. "Tidak."


"Elina, jangan buat aku marah."


Elina mendongak, membanting garpunya. "Marah saja. Dan katakan bahwa aku wanita penggoda yang datang kepadamu untuk meminta pertanggungjawaban atas bayi dari pria lain!"


"Aku tidak mengatakan itu."


"Kenapa tidak? Kau saja bisa mengatakan aku wanita licik. Mungkin kata itu akan keluar dari mulutmu juga."


Matthew meradang. "Hentikan Elina!"


Elina mendelik. Pria itu membentaknya? Astaga, kini semua orang menoleh pada mereka berdua karena suara keras Matthew yang menggema ke seluruh ruangan. Matthew tak peduli akan hal itu, tapi ia menyadari bahwa ini adalah kesalahannya.


Elina pun begitu. Di dalam hati, pertanyaan itu bergema terus: kenapa ia marah? Dan ia menyadari setelah mengingat kilas balik yang terjadi beberapa hari ini. Ia menyadari, tidak seharusnya ia melewati batas. Andai ia tetap pada prinsipnya. Andai ia tak terenyuh pada setiap perhatian pria itu. Andai ia tak membalas pria itu dengan emosinya yang selalu berusaha ditutupinya. Mungkin lebih baik seperti kemarin, menjadi wanita yang melapisi hatinya dengan dinding besi dan kawat berduri.


Andai saja....


Elina memejamkan matanya, pedih. Ciuman di hari itu melintas di dalam benak. Bisakah waktu diputar ulang kembali?


-;-;-;-


Pertengkaran tadi menetapkan hati Elina untuk kembali menjadi dirinya sebelum mengenal hangatnya hati Matthew.


Makanan tadi jadi mubazir karena nafsu makan mereka hilang. Elina menatap keluar jendela selama perjalanan pulang, dan Matthew enggan membuka mulut.


Kisah hari ini benar-benar membuat Elina capek hati, pikiran, dan badan. Melihat ke arah jalan, yang menggoda matanya untuk terpejam lalu terlelap. Ia bahkan tidak sadar bahwa mobil telah terparkir di rumah Matthew.


Matthew baru menyadari bahwa Elina tertidur, ketika ia membuka sabuk pengaman. Dibiarkan atau dibangunkan saja? Tapi ia kasihan melihat wanita itu kelelahan.


Akhirnya, Matthew memutuskan untuk menggendongnya. Dibukanya sabuk pengaman Elina. Namun, ia berhenti saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Elina. Saat tidur aja cantik begini. Dan bibirnya, ia sangat mengaguminya. Seringkali ia gemas melihat bibirnya wanita itu saat berbicara dengan dingin. Bahkan tadi, begitu cibiran tadi terucap. Rasanya, ia ingin meraih dagunya dan menciumnya agar dia berhenti.


Matthew menggeleng. Tidak, jika ia melakukan hal yang di dalam pikirannya, wanita ini akan semakin marah, mungkin saja tak mau melihat wajahnya lagi, atau bisa saja Elina membawa pergi anaknya. Jangan sampai deh.


Lantas, ia menjauh begitu sabuk pengamam Elina terlepas. Bergegas ia turun dari mobil, menggendong tubuh Elina keluar dari mobil, lalu berjalan menuju pintu rumah.


Sebelum mencapai ke sana, Elina sudah terbangun dan tersentak, mendapati dirinya dalam gendongan Matthew. "Turunkan aku. Apa yang kau lakukan?"


"Aku tahu kau marah, tapi aku tidak akan melakukan apa yang kau minta," gumam Matthew, terus berjalan.


Elina mengernyit. Maksudnya? "Bukan itu. Kalau ketahuan sama Nyonya Dewi dan Nyonya Monika...."

__ADS_1


Tapi itu semua sudah terlambat. Matthew berhenti melangkah, terperanjat kaget melihat ibunya telah memergokinya menggendong seseorang yang statusnya lebih rendah darinya.


Elina sudah tahu, hal ini pasti akan terjadi. Kenapa pria itu tak mau mendengarkan? Sekarang, bagaimana ini? Ketahuan sudah![]


__ADS_2