
Akhir liburan part 1
Kevin menunggu di depan kamar Matthew, sejak pria itu menghilang tadi sore. Hampir jam 12 malam, tetapi batang hidung Matthew tak terlihat juga.
Ke mana dia? Decak Kevin dalam hati.
Lelah menunggu, akhirnya ia masuk ke kamar. Namun, Matthew muncul saat ia akan berbalik ke kamarnya. Senyum lega terulas.
“Dari mana saja kau?” cecar Kevin, tapi Matthew tidak mengacuhkannya.
“Kenapa? Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku tidak butuh, jawab Matthew dingin, sambil membuka pintu.
Sungguh, ia sangat menyesal. Tapi Kevin sedih jika sahabatnya masih bersikap seperti ini padanya, walaupun ia mengerti bahwa tindakannya itu tidak bisa dimaafkan.
Ia juga ingin menanyakan soal lebam yang ada di wajah Matthew, tapi urung karena Matthew pasti tidak mau membahasnya. Maka, hanya ini yang diucapkannya, sebelum kembali ke kamarnya:
“Besok, kita akan mengunjungi tante Dewi. Jadi, bersiaplah.”
Tanpa menoleh, Matthew menjawab, “Hmm … iya.”
-;-;-;-
Mungkin, hanya beberapa orang yang mendekorasi rumahnya seperti adat Jawa. Ukiran pintunya sangat detil dan khas, dengan warna emas dan cokelat.
Kevin dan Franz baru pertama kali ke rumah ibunya Matthew; begitu pagar tinggi berwarna hijau dibuka, dan mobil mereka masuk ke dalam area depan rumah, tatapan kagum langsung terlihat di wajah mereka.
Mereka berdua menaiki anak tangga menuju teras sambil melihat-lihat. Seorang wanita setengah baya, yang memakai kebaya modern berwarna hitam, dan rambut pendek berwarna hitam pekat membuka pintu.
Senyumannya merekah, melihat anak lelaki satu-satunya datang untuk menemuinya. Matthew pun langsung menghampiri, mencium tangannya, dan memeluk wanita yang kecantikannya tidak memudar hanya karena beberapa kerutan di wajah.
“Apa kabar, Mama?” tanya Matthew.
Sambil menepuk pelan pundak Matthew, wanita itu menjawab, “Baik, Sayang.” Lalu melepaskan pelukan.
Dewi kaget dan cemas begitu melihat wajah Matthew penuh dengan lebam. Dielusnya pipi Matthew—sontak pria itu meringis.
Dewi pun terhenyak dan spontan menjauhkan tangannya dari wajah Matthew. “Apa yang terjadi, Nak? Kenapa wajahmu jadi begini?”
“Jangan khawatir, Ma. Hanya ada sedikit masalah.” Matthew mengalihkan dengan menengok ke dalam rumah. “Mana Justin, Ma? Aku kangen sama dia?”
“Ah, iya!” seru Dewi, sadar jika ketiga pria itu belum dipersilakan masuk ke dalam rumah. “Kalian masuklah dulu, aku akan panggil Monika.”
Dewi masuk terlebih dahulu sambil berjalan dengan cepat, berseru memanggil pembantu yang ada di dapur. Matthew dan kedua temannya masuk setelahnya, lalu duduk di ruang tamu setelah dipersilakan oleh Matthew.
Matthew akan berjalan ke dapur untuk mengambil minum, tapi seorang pria tua yang memiliki paras seperti dirinya, sedang menuruni anak tangga menuju lantai bawah, bersama dengan seorang wanita muda yang seumuran dengan Monika, kakaknya Matthew, yang beda selisih umurnya 5 tahun.
__ADS_1
Kevin dan Franz bergegas berdiri, langsung tersenyum dan menyapa pria itu. “Halo, Om William.”
Berbeda dengan mereka, Matthew bahkan langsung memalingkan wajah dan pergi dari sana dengan acuh tak acuh.
“Hei, di mana letak sopan santunmu, Matthew?” tegur William.
Langkah Matthew terhenti, lalu mendengus. Meskipun enggan dan malas, Matthew terpaksa berbalik, menatap pria tua itu dan istri mudanya.
“Ada apa lagi, Tuan William Jonathan?”
Kevin dan Franz terkejut. Meskipun mereka tahu bahwa Matthew sangat membenci ayahnya, tapi setidaknya jangan bersikap seperti itu. Kevin sering menegurnya ketika Matthew sering memperlakukan ayahnya dengan dingin. Tapi kali ini, sepertinya tidak bisa.
“Mana rasa hormatmu padaku?” seru William berang, menuruni anak tangga.
“Memangnya, aku harus apa? Mencium tangan seperti yang kulakukan pada Mama?” Matthew tersenyum sinis. “Kau lupa, aku dibesarkan di Inggris selama 10 tahun, dan kebiasaan seperti itu tidak ada di sana. Jadi aku rasa, hal seperti itu tidak perlu diterapkan juga padamu.”
Wajah Willliam merah padam. Tinggal selama hampir 10 tahun bersamanya, kekurangajarannya makin menjadi padanya. Apa menampar wajahnya sebagai teguran belum cukup selama ini? Apa sekarang waktunya mengacungkan tangannya lagi ke wajah Matthew?
“William!” teriak Dewi menegur, yang baru keluar dari dapur bersama seorang wanita yang menggendong seorang anak.
William membeku. Orang-orang yang ada di sana menoleh pada wanita itu, yang sedang melotot marah. Kemudian, Dewi bersama dengan Monika menghampiri kedua pria itu.
“Apa-apaan ini?” tanyanya.
Apa-apaan? Tidakkah William sering mengeluhkan sikap anak laki-lakinya pada Dewi? Kenapa masih bertanya?
“Kenapa tanya sama mama? Selama 10 tahun, aku tinggal bersamamu. Seharusnya, pertanyaan itu cocok denganmu,” celetuk Matthew menyindir.
“Matthew!” Rupanya Tuan selalu benar itu merasa tersindir.
Dewi merasa pening melihat kedua pria yang pernah akrab itu, saling melempar kebencian. Dia meminta Matthew dan William untuk berhenti. Sambil melirik kedua teman Matthew, Dewi memohon agar mereka saling menjaga sikap.
Matthew menurut. Tanpa banyak bicara ia melangkah ke ruang makan, sesuai dengan permintaan Dewi. Kevin dan Franz, dengan sikap yang sopan, menyusulnya kemudian. Begitu juga dengan William dan Chaterine, istri mudanya.
Suasana di ruang makan menjadi tegang. Matthew menolak untuk duduk di dekat ayahnya, memilih duduk di sisi lain meja makan yang berhadapan dengan Dewi. Kevin dan Franz terpaksa mengalami atmosfir yang sama. Tidak ada yang berani angkat bicara, kecuali menanggapi ucapan Dewi.
Makanan yang disajikan Dewi tidak dilahap dengan nikmat. Rasanya tercekat di tenggorokan dan susah ditelan. Matthew pun terpaksa memakannya sesuap demi sesuap untuk menghormati Dewi yang telah susah payah memasak.
Suasana hening di meja makan terusik oleh suara dering ponsel milik Matthew. Dari nomor yang tidak dikenal? Cukup ragu juga ia menjawabnya.
“Ma, Matthew mau angkat telepon dulu, ya,” izinnya, beranjak dari kursi.
Dewi mengangguk, mempersilakan.
Matthew menjauh, kira-kira di perbatasan antara ruang tamu dan ruang makan, ia berdiri, menjawab telepon itu. “Halo?”
__ADS_1
Terdengar suara wanita di ujung sana, tapi bicaranya agak tergesa-gesa, sehingga tak terdengar jelas oleh Matthew.
Ia memiliki ingatan yang kuat dan mampu mengenal suara orang dengan baik. Suara yang tak terdengar asing itu, pastinya milik Raima.
“Coba tenang sedikit, lalu ceritakan,” kata Matthew.
Di ujung telepon, terdengar suara helaan napas yang lama-kelamaan memelan. Lalu, barulah Raima berucap dengan sedikit tenang, “Elina ditahan polisi.”
Ditahan? Matthew bisa membayangkan betapa bingung dan ketakutannya Elina, saat beberapa orang berseragam cokelat datang ke rumahnya. Dan adiknya pasti menangis, memohon agar kakaknya tidak dibawa pergi.
Selama pembicaraan dengan Raima berlangsung, suara bel pintu terdengar. Wanita berbadan agak gemuk, dan umurnya beberapa tahun lebih tua dari ibunya terpogoh-pogoh membuka pintu.
“Tuan Muda,” panggil wanita itu, otomatis Matthew menoleh. “Ada polisi yang mencari Tuan.”
Matthew terpana, melihat beberapa orang polisi memasuki ruang tamu, mengarahkan pandangan dingin ke arahnya.
“Siapa yang da—” seru Dewi, yang datang dari arah ruang makan.
Ia terkejut, ada pria berseragam polisi datang, apalagi katanya ingin menangkap anak laki-laki kesayangannya.
Dewi maju ke depan. “Kenapa anak saya ditangkap? Apa salahnya?”
Jeritan Dewi sampai terdengar ke ruang tamu, yang membuat semua orang menghampiri Dewi dan Matthew.
Bukannya membela, William malah menghakimi Matthew tanpa tahu penyebabnya. “Dasar anak tidak berguna. Apa aku mendidikmu menjadi penjahat?”
Dewi menoleh cepat padanya—tak terima—dan menjerit. “Diam kau, William!”
Raima bisa mendengar bahwa Matthew mengalami masalah yang sama. Sepertinya salah jika meminta bantuan pada pria itu. Ia meminta maaf dan akan mematikan telepon tanpa mengatakan alasannya.
Inspektur menyuruh anak buahnya untuk segera memborgol Matthew, tak peduli seberapa kencangnya Dewi menangis, memohon dan menahan anaknya untuk tidak dibawa. Kevin dan Franz juga berusaha bernegosiasi dengan polisi, tapi hasilnya nihil.
Aneh, Matthew terlihat tenang saat borgol itu mengunci kedua pergelangan tangannya. Kevin dan Franz heran, menanyakan sikapnya itu. Namun, Matthew malah menanggapinya dengan senyuman dan berkata:
“Kalian berdua ikut aku. Dan kau, Kak Monik, tolong tenangkan mama dan jaga dia.”
Monika mengangguk, mengelus pundak sang ibu untuk merelakan Matthew pergi. Ia juga meyakinkan Dewi bahwa Matthew pasti bisa mengatasi hal ini. Karena ia yakin, Matthew pasti tidak bersalah.[]
***Cuap2 Author 😆
Halo, apa kabar?🙋 Makasih banyak sebelumnya atas respon novel Matthelina yang banyak kurangnya ini 😅. Semangat nulis jadi tambah 💝 . Tapi untuk chapter ini gabut melanda tiba-tiba. Bukan karena block writer, kerangka bab ini udah aku buat kok, tapi nggak tau kenapa bawaannya gabut. Biasanya mood boster aku naik kalau udah baca novel, nonton film, dengerin musik, tapi nggak ada ngefek sama sekali.
Walaupun lagi gabut, pada akhirnya selesai juga chapter ini sekitar kurang sejam, pada hari ini juga.
Cuman capek banget pas tau chapter 8 belum lolos review juga, padahal udah aku serahin naskahnya ke mangatoon 24 jam yang lalu 😢 Jadi sabar aja ya? Maunya posting chapter di wattpad, tapi males dan repot.
__ADS_1
Oke itu aja. Maaf kalo author suka curhat gaje, gapenting, gaguna, dst. Nantikan chapter selanjutnya ya 😘***