
Anna terlalu terpana, sampai tak lihat kalau kecerobohannya membawa petaka. Kotak merah milik Logan terlempar di bawah kaki seseorang, yang kemudian diambil olehnya.
Logan langsung berdiri, sementara Anna terkejut begitu tahu bahwa mantannya yang mengambil kotaknya.
"Itu milik saya! Kembalikan!" kata Logan, mengulurkan tangan sambil menghampiri pria itu.
"Iya, Gilang. Kembalikan kotaknya!" Anna menimpali.
Gilang tersenyum mencemooh. Diperhatikannya kotak itu. "Kalian mau ini?" Dia mengacungkan kotak itu. "Boleh. Tapi kamu Anna, mendekat ke saya."
"APA?!" seru Logan dan Anna berbarengan. Menyadari hal itu, keduanya lantas saling memandang sambil mengernyit.
Kemudian, Logan berkata dengan geram. "Kalau kalian sedang bertengkar, jangan bawa-bawa saya! Sini! Kembalikan kotak itu!"
"Eh, Gilang! Dia nggak ada hubungannya sama kita," kata Anna, yang hampir saja mengatakan bahwa Logan adalah calon bosnya.
Sepertinya, cowok itu tuli—tak berpengaruh sama sekali. Malah, dia makin mengejek mereka dengan membuka kotak dan melihat isinya.
"Wah! Sebuah cincin yang cantik," kata Gilang.
"JANGAN SENTUH CINCIN ITU!" sergah Logan marah, spontan menghampiri Gilang.
"Eits!" Gilang melangkah mundur, tangannya hendak melempar kotak itu. "Maju selangkah, kotak ini saya lempar ke bawah."
"Berani kamu mengancam saya?" bentak Logan.
Senyum mencemooh Gilang semakin melebar. "Ayo! Kamu mau tidak turutin saya?"
Logan melirik Anna. Sadar tatapan pria itu mengarah padanya, Anna pun menoleh. Kayaknya, ini pertanda kalau Logan meminta dirinya untuk menyerahkan diri pada cowok gila itu.
"Huh! Okelah!" Anna menghela napas, lalu berkata dengan lantang pada Gilang. "Oke, nggak usah buat keributan. Gue akan ke sana. Terus habis itu, kasih kotaknya."
"Oke," kata Gilang.
Anna mendesis. Sial sekali bertemu dengan Gilang dan berada dalam situasi ini.
Kini, ia berada di samping Gilang, menatapnya sebagai tanda agar dia memberikan kotak itu pada Logan.
Namun, Gilang tidak bodoh. Anna terkejut saat tangannya digenggam erat oleh Gilang, agar ia tidak lari seperti tadi.
Logan melihat ekspresi ketidaksukaan Anna pada Gilang. Ia pun mulai mendekat pada Gilang, lalu, mengambil kotak itu dari tangannya.
Kemudian, matanya memancarkan tatapan misterius. Dia tersenyum, sekelebat tendangan diarahkan ke perut gilang.
"Lari!" seru Logan, sambil menggenggam tangan Anna.
"Eeehh!" pekik Anna, yang bingung, tapi ikut berlari bersama dengan pria itu.
"Nih, titip!" kata Logan, memberikan kotak cincin pada Anna.
Anna heran, tetapi tanpa bertanya dimasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Ia paham kemudian, mungkin Logan takut kotaknya hilang saat berlari.
Mereka dikejar oleh orang itu, melewati kerumunan, hampir menabrak orang, dan diihat oleh orang lagi. Namun, Logan sendiri memiliki persiapan. Saat itu, ia menghubungi seseorang untuk membantu mereka.
Gilang hampir mendekat, dan keduanya hampir berlari mencapai sebuah lift. Dan disaat itu, tiba-tiba ada dua orang pria yang menghadang Gilang.
"Minggir! Siapa kalian!" sergah pria itu sambil memberontak.
Logan dan Anna berhenti, lalu menoleh melihat Gilang dibawa oleh dua pria berjas hitam itu. Mereka berdua menghela napas lega dan tersenyum. Entah mengapa, tatapan mereka saling bertemu.
Sejenak, keduanya terpana, tetapi jadi canggung. Logan mendeham, kemudian berkata sambil mengulurkan tangan.
"Kembalikan kotak saya."
__ADS_1
"Oh!" Anna terkesiap, bergegas mengambil kotak merah itu dari tasnya. "Nih. Maaf, ya, Pak. Gara-gara mantan saya, Bapak jadi mengalami masalah."
"Ya. Saya tidak tahu kenapa? Setiap bertemu sama kamu, saya harus mengalami hal yang tak terduga," sindir Logan.
Anna melongo. "Maksudnya ... Hah! Bapak ingat saya?" serunya.
Logan tersenyum sinis. "Kamu calon pegawai di perusahaan saya, 'kan?"
Mata Anna membulat. "Iya. Bapak kok bisa tahu?"
Logan memasukkan tangannya ke saku celananya, berkata dengan santai. "Sampai jumpa di kantor."
"Sampai jumpa di kantor"? Maksudnya? Anna menatap kepergiannya dengan dahi mengkerut, heran.
"Nggak bisa ditebak banget sih, nih, orang?" gumamnya.
🍀
Brak!
Seorang pria berambut cepak tersentak. Lelaki setengah baya berjalan mondar-mandir di depannya, setelah menggebrak sebuah meja kayu.
"Bagaimana caranya supaya kita bisa membuat Logan Jonathan itu mengurungkan niatnya?" kata pria yang bernama Manto.
"Nggak tahu juga deh, Pak," kata anaknya yang bernama Tama itu.
Manto menggebrak meja lagi lebih keras dengan tinjunya. "Aduh!" keluhnya, melihat jari-jarinya memerah.
"Ih, si Bapak. Kalau nggak kuat, jangan dipukul mejanya," tegur Tama.
"Alaaaah!" sergah Manto, menarik tangannya dari pegangan tangan Tama dengan kasar. "Kenapa kamu malah meledek saya?"
"Nggak maksud, Pak...." Tama memelas.
"Em ... cara apa, Pak?" tanya Tama pelangak-melongo.
Manto kehilangan kesabaran, sampai menjitak kepala Tama dengan gemas. Tama meringis kesakitan. Namun, mungkin jitakan bapaknya itu menjadi sebuah berkah bagi mereka. Sebuah ide tercetus tak segaja oleh Tama.
"Kita jebak dia aja, Pak," gumam Tama sambil mengelus kepalanya.
Manto menoleh geram. "TAPI, GIMANA CARA—" Dia tertegun, lalu tersenyum licik.
Tama yang tidak mengerti, menatap bapaknya dengan bingung.
"Tama, Bapak punya ide!"
🍀
Anna mengunjungi restoran yang waktu itu menjadi tempat pertemuannya dengan Adam. Sudah hampir seminggu kalung ini bersamanya, tapi pemiliknya tak kunjung menghubunginya.
Maka dari itu, ia datang ke sini, menemui manager restoran untuk menanyakan soal kabar si pemilik kalung.
"Maaf, mengganggu waktu Bapak," kata Anna, lalu bergegas meletakkan sebuah kalung di meja pria itu. "Saya hanya menanyakan soal ini. Apa pemiliknya menanyakan kalungnya?"
Pria bertubuh agak gemuk itu berpikir sejenak sambil menaikkan kacamatanya yang turun. "Sepertinya tidak ada yang menanyai soal kalung."
Anna melirik ke bawah, kecewa, menghela napas.
"Mungkin, orangnya sudah mengikhlaskannya?" duga si manager.
Kalau Anna jadi orang itu, mana mungkin ia rela kehilangan kalung mahal ini. Ya, mungkin karena pemiliknya terlalu kaya, sehingga kehilangan kalung inipun tak masalah baginya.
Anna mengambil kalung itu, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas. "Saya permisi, Pak."
__ADS_1
Ia berjalan keluar dari restoran, menghela napas. Menyimpan barang orang lain itu rasanya berat; berat karena was-was—soalnya bukan barang miliknya—dan berat menahan godaan untuk memakainya. Habisnya, kalungnya bagus banget!
Ponselnya berdering, Anna tertegun, ada notifikasi e-mail masuk. Ia tersenyum, buru-buru membuka e-mail itu.
"Aku diterima di perusahaan?" bacanya lama-lama senyumnya terkembang. "Yes! Tapi tunggu dulu. Bukannya pengumumannya lima hari lagi, ya? Baru dua hari. Ah, masa bodo! Aku harus-harus cepat-cepat pulang."
Tanpa buang waktu, Anna tancap gas meninggalkan tempat parkir restoran menuju rumahnya. Pas sekali, Tasya baru saja turun dari motor ketika ia sampai di rumah.
"Baru pulang, Sya?" tanya Anna, setelah menurunkan standar motor.
Tasya menoleh. "Iya, Kak. Lo dari mana?"
"Mengembalikan kalungnya," jawab Anna sambil berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan adiknya itu.
"Pemiliknya udah ketemu?" sahut Tasya, pengin tahu.
Anna menggelengkan kepala. "Belum. Kayaknya, orangnya udah nggak butuh tuh kalung."
Anna mengisi gelasnya yang ada di dekat dispenser dengan air putih, menyegarkan tenggorokannya yang kering sejak perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit itu.
Kemudian, kedua gadis itu berjalan menaiki tangga, kembali mengobrolkan soal kalung itu.
"Terus, mau lo apain tuh kalung," tanya Tasya.
"Dipakai dong," sahut Anna. "Besok, mau gue pakai ke tempat kerja baru gue."
Tasya berhenti di depan kamarnya, lalu berseru senang. "Lo diterima kerja?"
"Iya," sahut Anna tak kalah senangnya. "Tadi pengumumannya. Makanya, gue mau siap-siap buat kerja besok."
🍀
Anna berjalan dengan percaya diri memasuki area kantor. Hari ini, ia ke sini dengan mengendarai mobil. Tidak mau kan kesan hari pertama masuk kerja jadi buruk?
Saat ia akan melangkah masuk, ia berpapasan dengan Kenan dan Logan. Anna terhenyak, kikuk, sampai tak berani menatap mereka.
Namun, ia tetap menyapa Logan. "Selamat pagi, Pak."
"Pagi." Logan membalas sapaan sambil melengos pergi.
Akan tetapi, Kenan berhenti, tetap bergeming di hadapan Anna sambil tersenyum. "Bukannya, kamu yang waktu itu?"
Anna mengernyit, bingung. "Bapak siapa, ya?"
"Kamu tidak ingat saya?" seru Kenan, tercengang.
Logan menyadari bahwa Kenan tidak mengikutinya. Langkahnya terhenti, lalu menengok ke belakang. "Ternyata dia malah di sana," dengusnya. "Kenan!"
Seruan Logan sontak membuat Kenan dan Anna menoleh. Logan memberi sinyal pada Kenan dari tatapannya yang garang. Mengganggu sekali pria itu. Gumam Kenan dalam hati.
Kenan menoleh pada Anna, lalu berkata, "Nanti kita ngobrol lagi, ya. Saya permisi."
Anna tersenyum, melihat kepergian Kenan, yang setengah berlari menghampiri Logan. Tak lama kemudian, ia pun berjalan agak pelan agar tidak sejajar dengan mereka.
Logan yang baru saja akan berbalik, terhenyak kemudian. Ada sesuatu hal yang baru disadarinya. Ia kembali berbalik, dengan langkahnya yang panjang dan cepat, dihampiri Anna.
Anna tertegun, Logan tiba-tiba berdiri di hadapannya. Kenan pun menyusul, lalu bertanya:
"Ada apa, Logan?"
Iya, ada apa? Anna pun juga pengin tahu, apalagi melihat tatapan dingin Logan yang membuatnya terintimidasi.
"A ... ada apa, Pak?"
__ADS_1
Tangan kanan Logan diulurkan ke arah leher Anna, lalu memegang liontin berpermata rubi itu sembari bertanya dengan nada serius. "Dari mana kamu dapatkan kalung ini?[]