
"Apa kau hamil?"
Pertanyaan itu cepat atau lambat akan terhela dari mulut sang ibu. Yang ditakutkan terjadi. Bagai ditembak tepat di keningnya, Elina terkejut bukan main. Lidahnya kelu, seakan sulit untuk mengatakan sesuatu. Ia menoleh, menghindari tatapan Ibu, sembari berkata dengan terbata:
"Tidak ... kenapa ibu berkata begitu?"
"Hanya firasat Ibu saja," jawab Ibu.
Dan firasat ibu memang selalu benar. Elina menoleh pedih karena tak bisa lari pada kenyataan yang berasal dari hati ibu. jika kebimbangan tak memaksanya, ia akan mengadukan penderitaan yang menyakitkan ini sambil memeluk ibu dan menangis. Sayang, itu takkan pernah dilakukannya.
"Ibu," kata Elina lembut, menoleh dan berusaha menahan air matanya keluar.
"Mana mungkin aku hamil. Ibu pasti cemas karena ada majikanku yang masih lajang di rumah kan? Aku sudah bilang, tidak terjadi apa-apa dengan kami." Saat itu suara Elina mulai bergetar dan serak.
Sejak kecil Ibu sangat tahu bahwa Elina paling sulit dipahami. Ketika bahagia datang, senyumannya begitu lebar. Tapi kesedihan selalu ditutupi oleh senyuman itu sehingga orang lain terkecoh. Ibu biasa jadi tempat berbagi, hanya saja tidak semua hal yang ia ceritakan padanya. Adakalanya Elina jujur, tapi ia memilih diam dan menghindar daripada berbohong.
Akan tetapi, anak ibu ini telah berusia 22 tahun. Bisa berubah sifat seiring berjalan waktu. Dan hari ini, ibu tak menyadari bahwa anaknya telah berbohong. Ia mempercayai kejujuran Elina, sehingga apa yang dikatakan adalah benar.
Ia tersenyum mengelus kepala anaknya. Dan Elina membalasnya dengan pelukan pedih, di mana air mata mengalir diam-diam di balik punggung sang ibu.
Mungkin ini sudah kesekian kalinya, kata maaf yang terucap takkan cukup menghapus dosanya pada sang ibu yang surganya masih di telapak kakinya. Suatu saat nanti, ia akan menebusnya.
-;-;-;-
Sejak tadi, yang Raima lihat hanya wajah murung. Ia melirik kaca spionnya sambil mengendarai motor. Ia sangat tahu apa yang sedang dirasakan Elina saat ini.
"Gue rasa, Matthew nggak akan keberatan kalo lo nginep di rumah ibu lo," celetuk Raima.
Elina tertegun dan melirik. "Bukan itu yang lagi gue pikirin."
"Terus?"
"Gue udah bohong sama dia."
Lampu merah di perempatan jalan menyala, motorpun berhenti. Raima kembali bertanya soal topik mereka tadi. "Bohong gimana maksud lo?"
"Nggak mungkin kan, ibu gue nggak curiga waktu gue mendadak mual tadi?"
Raima mengangguk membenarkan.
Firasat seorang ibu sangat kuat dan tidak pernah salah. "Jadi, itu yang lo bicarain sama ibu lo?" Tiba-tiba ia terkejut dan berseru agak pelan. "Dia tahu lo--"
"Iya," sahut Elina menimpali. "Tapi gue bilang kalo itu cuma rasa cemas dia aja. Lo lihat tadi kan? Ibu gue syok banget waktu ceritain soal Matthew?"
Siapa yang tidak terkejut jika anaknya tinggal satu atap dengan seorang pria yang belum menikah? Rasa cemas pastilah muncul, apalagi jika anaknya tidak bisa menjaga diri.
Raima tak berkomentar lagi. Lampu hijau telah menyala dan ia kembali melanjutkan perjalanan. Ia merasa ada yang aneh pada sebuah motor matik hitam yang dikendarai oleh seorang pria. Dari kaca spionnya, motor itu mengikuti mereka terus sejak di pemberhentian lampu merah tadi. Sekarang, ia sedang melajukan motornya di jalan yang menuju sebuah perumahan.
__ADS_1
"Elin, kayaknya ada yang ngikutin kita deh?" katanya sedikit pelan.
Elina tersentak. "Hah? Siapa?"
Raima menggeleng sambil berkata tidak yakin, "Nggak tau. Tapi gue rasa dia orang jahat ... eh, jangan nengok ke belakang! Entar dia sadar kalo kita udah curiga sama dia."
Elina menggigit bibir bawahnya, cemas. "Terus, gimana dong, Ima."
Jangan tanyakan itu padanya, sebab Raima sendiri juga tidak tahu. Konsentrasinya kini terbelah, antara berkendara dengan memikirkan cara untuk menghindar dari pria asing itu.
"Elin, dengerin gue! Pegangan yang kuat, dan siapin duit buang bayar bensin gueeee!"
Deruman mesin motor yang digas kencang menyentak. Elina terhenyak, spontan memegangi pinggang Raima. Motor Raima seketika melaju kencang di jalan, menyalip pengendara lain. Sementara itu, si pengendara misterius juga mengikuti dengan kecepatan yang sama. Jalan yang dilalui tak lagi jalan menuju rumah Elina; Raima membelokkan motor ke gang, yang entah ada di mana.
Sebenarnya, Raima dan Elina cukup panik saat mereka tersesat, tapi biarlah, lebih baik begini daripada menghadapi bahaya yang terus mengejarnya. Namun, mau sampai kapan begini?
Elina melirik jam tangannya, menjelang Magrib, kemungkinan kesibukan Matthew telah berkurang. Ia berinisiatif untuk menghubunginya, meminta bantuan.
Ia mendecak. Sibuk! Diremasnya geram ponselnya. Mungkin pria itu sedang di jalan atau menghubungi seseorang. Oke, ia akan mengirim pesan suara saja.
"Matthew, tolong aku dan Raima! Ada orang asing yang sedang mengikuti kami! Saat ini kami ada di ..." Kebetulan Elina melihat ada papan nama sebuah nama perumahan. "Perumahan Pondok Hijau." Kemudian, ia kirimkan pesan itu.
Raima menoleh ke belakang. "Gimana, Lin?" tanyanya penuh harap, yang tadi mendengar Elina berbicara di telepon.
Ekspresi Elina tak yakin, tetapi ia mencoba menenangkan Raima dengan mengatakan bahwa ia telah mengirim pesan suara ke nomor Matthew. Tapi Elina, itu tidaklah cukup. Raima sudah lelah, ngos-ngosan, dan kehabisan akal sekarang. Sementara pengendara itu terus gigih mengejarnya.
Ini usaha terakhirnya sebelum bensinnya habis. Ia akan keluar perumahan ini, mencari tempat untuk bersembunyi. Ia berpikir untuk berhenti di sebuah restoran cepat saji yang sedang ramai.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Elina heran.
"Isi perut sekalian isi otak," jawab Raima asal. "Udah, cepetan serlok ke Matthew. Siapa tau dia ke sana dan bantuin kita."
Elina mengangguk dan secepatnya melakukan perintah Raima--apa pun itu rencananya. Begitu motor terparkir, ia dan Raima bergegas melompat masuk ke dalam restoran. Si pengendara asing itu juga; tanpa melepas penutup mulutnya, dia mengikuti kedua gadis itu ke dalam.
Pria itu menghela napas dan tercengang sesampainya di dalam. Manusia sebanyak ini, tidak ada satu pun dari mereka, baik Elina maupun Raima. Ke mana mereka? Geramnya dalam hati.
Dia mengarah ke kamar mandi wanita; cukup lama dia berdiri di luar kamar mandi, sosok mereka tak kunjung muncul. Kesabarannya habis, hingga nekat masuk ke dalam sana, tak peduli para wanita itu memandang aneh padanya. Diperiksanya tempat itu, sampai membuka bilik kamar mandi satu per satu. Ia mengepalkan tangannya. Kosong, kedua wanita itu memang tidak ada di sana.
Ia keluar dengan kemarahan yang ada di atas kepalanya. Dilihatnya, motor Raima sudah tidak terparkir di sini. Sial, pencarian hari ini gagal! Bagaimana ia bisa memberitahukan pada bosnya soal ini. Dan ... ah, kebetulan orangnya menelepon. Mau tidak mau diangkatnya telepon itu.
"Yes, Sir?" jawabnya. "I'm sorry, i'm fail...."
Sepertinya pria di ujung sana memarahinya. Bisa dilihat dari desahan napasnya berkali-kali, dan menunduk sambil menganggukkan kepala. Setelah mematikan ponsel, pria itu mengumpat kesal, sebelum meninggalkan restoran.
Di sebuah sudut tergelap, seseorang telah mendengar pembicaraan pria misterius tadi dengan orang yang menyuruhnya. "Tuan Jonathan" dalang dari semua ini.
-;-;-;-
__ADS_1
Raima lega setelah meminum setengah gelas cola dingin yang mengaliri tenggorakannya yang kering. Sejak tadi, mereka tak sempat bernapas melihat pria itu berada di dalam restoran ini. Untung saja, seorang pegawai perempuan restoran ini mau berbaik hati menolong, memperbolehkan mereka bersembunyi di kabin khusus penjualan es krim yang ada di dekat pintu masuk.
Elina menatap aneh temannya itu, memperhatikan dia makan sampai satu porsi ayam dan nasi, juga dua gelas cola ludes dalam sekejab.
"Ah!" desah Raima, meneguk cola terakhirnya. "Kenyang gue. Lo nggak makan?"
Raima melirik segelas lemon tea yang tidak terlalu dingin di meja Elina. Gadis itu sepertinya sudah cukup kenyang memakan masakan ibunya, yang memang diakui oleh Raima, enak banget!
"Nggak. Gue sendiri sebenarnya nggak haus," jawab Elina yang sedang memangku dagu dengan tangannya, lalu memalingkan wajah ke kaca jendela.
Matthew, kok dia nggak datang? Apa dia tidak membaca pesannya? Saat Elina mengecek ponselnya, tanda centang dua telah berwarna hijau. Artinya sudah dibaca. Tapi, kenapa tidak ada kabar darinya? Coba ditelepon, nomornya sekarang malah nggak aktif.
"Nggak diangkat?" tanya Raima, melihat wajah sahabatnya yang ditekuk sambil melihat layar ponsel.
Elina menggeleng, meletakkan ponselnya ke meja. "Nggak aktif."
"Ya udah, biarin aja. Lagian, kita udah lolos kok, dari orang itu." Plus udah kenyang juga.
Entah kenapa Elina masih kecewa. Baru kali ini pria itu mengabaikannya. Diambilnya ponsel miliknya, lalu beranjak keluar dari restoran itu. Sambil menghampiri motornya, Raima menggoda Elina untuk membelikan bensinnya. Akan tetapi, wajah mereka memucat setelah menemukan motor Raima raib di tempat.
"Ke mana motor gue?! ***! Jangan-jangan orang itu yang ambil!" umpat Raima.
Elina sebenarnya cemas juga, tapi ia berusaha menenangkan Raima, walaupun gadis itu terus mengumpat dengan kata kotor. Akhirnya, ia menyerah dan berdiri di sana, kehabisan akal. Lalu kemudian, sebuah tangan menepuk kedua pundak mereka. Mereka terkesiap tapi tak bergeming, maupun menoleh. Wajah keduanya memucat, ketakutan karena pada akhirnya pria asing itu mendapatkan mereka.
Elina dan Raima saling melirik, perlahan memutar ke arah seseorang yang meletakkan tangannya di pundak mereka. Namun, setelah melihat wajah seseorang itu, ketakutan melenyap seketika.
Seorang pria tinggi berbaju jas hitam rapi, dengan ketampanan yang membuat siapapun terpukau, memiringkan kepala menatap kedua gadis itu. Helaan napas lega terdengar kencang dari keduanya.
"Kenapa? Habis melihat hantu?" Entah ini dimaksudkan bertanya atau bercanda, tapi yang jelas Elina dongkol mendengarnya.
Air muka Elina berubah seketika kesal. Ia mendengus, seolah semua kekecewaan yang berubah menjadi kemarahan berkumpul di atas kepalanya.
"Baru datang?"
Matthew bisa menangkap nada ucapan yang penuh kemarahan itu. "Maaf, aku kesulitan menemukan kalian."
"Lalu, kenapa ponselmu tidak aktif?"
Matthew mengeluarkan ponselnya dari saku, memperlihatkan ponselnya. "Baterainya habis."
"Kau tau, aku dan Raima ...."
"Ssstt." Matthew meletakkan jari telunjuknya di mulut Elina. "Nanti saja, aku akan ceritakan sesuatu padamu."
Mata Elina membulat. Sesuatu? Soal apa?[]
**P.S from Author
__ADS_1
*Bagi yang ketinggalan, bab 25 udah ada. bab duplikat 24 udah diganti jadi bab 25 oke. maaf kalo belum diedit, coz beta reader lagi ngambek, dan saya harus go sekarang***