Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUAPULUH TIGA


__ADS_3

Kehidupan tenang Anna berlangsung selama seminggu setelah pesta pertunangan Logan dan Nina. Logan tidak mengusiknya lagi dengan tuduhan penipuan.


 


 


Senyum Anna tampak, bersemangat untuk bekerja ke kantor pada Senin ini. Ia menuruni tangga dengan agak melompat kecil. Namun tiba-tiba, ada aroma tak sedap menusuk hidungnya, hingga ia merasa mual.


 


 


Anna menutup mulutnya, mencari asal bau, yang ternyata berasal dari dapur.


 


 


"Tasya, lo lagi masak apa?" tanya Anna.


 


 


"Mau bikin sayur kangkung," jawabnya sambil menumis bawang putih.


 


 


Aroma bawang itu menyeruak sampai menembus hidungnya yang sudah ditutup. "Huek!"


 


 


Tasya menoleh kaget. "Kenapa lo, Kak."


 


 


Anna tak sempat menjawab karena rasa mual yang tak tertahankan, dan ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.


 


 


Ia menghela napas panjang. "Kayaknya, gue masuk angin deh," gumamnya.


 


 


Anna keluar dari dalam kamar mandi. Tasya menoleh, dan bertanya padanya:


 


 


"Lo kenapa, Kak?"


 


 


"Cuma masuk angin," jawab Anna sambil menutup hidungnya karena tak mau mencium bau bawang lagi. "Eh, lo nggak kerja?"


 


 


"Kerja, tapi agak siangan," sahut Tasya. "Sarapan dulu deh, Kak."


 


 


Sarapan? Mungkin tidak sempat. Waktu pada arlojinya menunjukkan pukul 8. "Gue sarapan di kantor aja."


 


 


Sambil berjalan keluar, Anna menyapuh leher dan keningnya dengan minyak angin. Meskipun kepala terasa agak pusing, ia melajukan motornya ke kantor—tentunya, sempat mampir ke warung nasi uduk dekat rumah yang super enak dan murah.


 


 


Dikira, ia akan membaik setelah sarapan, nyatanya ia malah mual lagi. Minyak angin tak dapat menyembuhkan pening di kepalanya.


 


 


"Aduh, pusing banget!" keluh Anna sambil memegang keningnya, berhenti mengerjakan pekerjaannya.


 


 


Seorang karyawati, yang umurnya terlihat masih muda, menghampiri meja kerjanya. "Kak, punya persediaan pembalut, nggak?" bisiknya.


 


 


Gadis yang bernama Sifa itu memang sudah akrab dengannya karena Anna baik dan mau membantunya jika ada pekerjaan yang tidak dimengertinya.


 


 


"Ada. Butuh berapa?" tanya Anna.


 


 


"Satu aja."


 


 


Anna memutar kursi, membuka sebuah laci di sebelah kirinya. Ia tertegun melihat satu pak pembalut masih utuh pemberian Logan beberapa minggu yang lalu.


 


 


Lalu, Anna memberikan dua bungkus pembalut pada Sifa. "Yang satunya buat ganti," bisiknya, tersenyum lebar.


 


 


"Terima kasih, Kak," serunya girang.


 


 


Anna termenung menatap kepergian gadis itu sambil terpikirkan sesuatu. Lalu, buru-buru ia mengecek ponselnya, masuk ke aplikasi "Pencatat Menstruasi".


 


 


Matanya membulat, heran. "Sudah telat seminggu?"


 


 


Selama itu? Kenapa ia belum datang bulan juga?


 


 


Jangan-jangan….


 


 


Hatinya berdetak kencang ketika memikirkan hal buruk itu, ditambah lagi terlintas dalam benak mimpi buruk yang terjadi seminggu yang lalu.


 


 


"Ah, tidak, tidak, tidak!" bantahnya cepat, menghela semua pikiran negatif itu.


 


 


Bu Eka keluar dari ruangannya dengan terburu-buru, lalu menghampiri meja Anna.


 

__ADS_1


 


"An, ibu saya sakit. Tolong, gantikan saya memimpin rapat nanti siang, ya?" katanya, lalu pergi tergesa-gesa.


 


 


Anna menghela napas, memijat keninganya. "Baiklah—" Ia akan berdiri, tetapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh kalau saja tangannya tidak refleks menyentuh meja.


 


 


Dalam kondisi seperti ini, apa ia sanggup memimpin rapat nanti?


 


 


Sifa yang beranjak dari kursi sambil membawa berkas melirik pada Anna. "Kak, yuk, mulai rapatnya."


 


 


"Hah!" Anna menoleh. "Iya…."


 


 


Gadis itu cemas dan langsung menghampiri Anna begitu melihat wajahnya yang pucat dan dipenuhi oleh keringat dingin.


 


 


"Kakak sakit?" tanyanya.


 


 


"Aku tidak apa-apa…," lirih Anna suaranya parau, tubuhnya terasa lemas sekali.


 


 


"Apanya yang tidak apa-apa," omel Sifa sambil menghela tubuh Anna untuk duduk di kursinya. "Wajah Kakak pucat banget. Aku ambil minum dulu, ya—"


 


 


"Nggak usah." Anna mencegah dengan menyentuh lengan gadis itu, lalu dengan perlahan berdiri kembali. "Kita harus rapat. Tolong papah aku sampai ke ruang rapat, ya."


 


 


Sifa mengalah oleh kekeraskepalaan Anna. Akhirnya, ia terpaksa membawa Anna ke ruang rapat yang telah dipenuhi oleh karyawan.


 


 


Namun, tubuh Anna semakin lemas, hingga akhirnya ia pingsan di depan pintu ruang rapat. Sifa sendiri juga tidak kuat menahan tubuhnya, jadi Anna pun terbaring jatuh.


 


 


"Tolong!" jerit Sifa, cemas.


 


 


Karyawan yang ada di sana mendengar jeritan itu dan bergegas menghampiri mereka. Melihat Anna pingsan, mereka terkejut, bahkan ada yang menanyakan penyebabnya.


 


 


Seorang pria yang berambut klimis maju ke depan untuk menggendong tubuh Anna. Mereka membawa tubuhnya ke dalam ruang rapat dan merebahkannya pada sebuah tempat duduk.


 


 


"Sifa, ambil minyak angin!" perintah pria itu. "Dita, tolong ambilkan air putih!"


 


 


 


 


Tak lama kemudian, Anna beraksi, mengernyit dan mulai membuka matanya perlahan.


 


 


"Alhamdulillah, udah sadar," ucap Sifa, lega, yang diikuti oleh karyawan lain.


 


 


"Mbak Anna," kata pria tadi, setelah Anna membetulkan posisi duduknya. "Biar rapat ini saya yang pimpin. Lebih baik, Mbak Anna istirahat aja."


 


 


Anna merasa tidak enak hati. Tapi apa boleh buat, ia harus menurut kali ini, mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bekerja.


 


 


Ia menganggukkan kepala. "Terima kasih, Pak Rudi," kata Anna.


 


 


🍀


 


 


Biasanya, lantunan piano bergema di ruangan baca, tetapi yang terdengar hanya isakan lirih dari bibir Nina.


 


 


Tita yang khawatir, menjenguknya. Ia memasuki ruangan, menemuinya yang tengah duduk di depan piano. Namun, ia tak langsung menyapa, dan berhenti melangkah karena mendengar suara getar ponsel tanpa dering milik Anna.


 


 


Ia pun berjalan ke sana, memeriksa ponselnya. Ia menghela napas melihat 20 panggilan tak terjawab dan 10 pesan masuk yang tertera di layar ponsel. Dan semua itu berasal dari satu nomer: Logan.


 


 


"Mau sampai kapan kamu begini? Sudah seminggu kamu menghindari Logan," kata Tita.


 


 


Sebenarnya, Nina mendengarnya, tapi ia masih tetap bergeming.


 


 


Tita lelah begini. Sambil membawa ponsel itu, dihampiri Nina, lalu menyodorkan benda itu. "Telepon dia. Tanyakan kebenarannya."


 


 


Nina hanya melirik sambil berpikir, tapi kemudian memalingkan wajah. "Semua sudah jelas. Kamu lihat sendiri kan, pria yang di video itu adalah Logan?"


 


 


Ketika menyebut nama pria itu, dada Nina terasa sakit, hingga ucapannya tercekat di tenggorokannya.


 

__ADS_1


 


"Terus kamu mau gantungin dia kayak gini?" sahut Tita gusar, kemudian ia mendengus kencang. "Begini aja, kamu buat keputusan, terus sampaikan ke dia tanpa harus dengar penjelasannya. Jangan sia-siakan waktu dan air mata kamu cuma buat ini!"


 


 


Tita meletakkan kedua tangannya di bahu Nina, memutar tubuhnya ke hadapannya, dan menatapnya serius.


 


 


"Nin, kamu ingat kan, tujuan kamu ke sini?"


 


 


Nina mengangguk. Tujuannya adalah untuk memulai karier sebagai pianis, yang dimulai dari perlombaan piano yang diadakan dua minggu lagi.


 


 


"Gara-gara masalah itu, kamu jadi tidak konsentrasi berlatih," kata Tita lagi. "Apa kamu mau usaha kamu sia-sia, dan cita-cita kamu pupus gara-gara ini?"


 


 


"Nggak. Aku nggak mau …," lirih Nina sambil menggelengkan kepala.


 


 


"Kalau gitu, kamu ikutin saran aku!"


 


 


Tita menyodorkan ponsel yang digenggamnya sejak tadi pada Nina. Dengan ragu, Nina mengambilnya. Nina terdiam, berpikir beberapa saat, sebelum mencari kontak Logan dan menghubunginya.


 


 


Nina menghela napas selama nada panggil terdengar, tetapi ia kembali tercekat kala mendengar suara pria itu. Padahal, ia sudah mempersiapkan hatinya tadi.


 


 


"Halo, Nina. Kenapa baru diangkat teleponnya? Apa kamu sibuk?" tanya Logan, di ujung sana.


 


 


Nina terdiam, tak dapat membendung air mata yang menetes di pelupuk matanya. Cukup lama ia bergeming seperti ini, hingga Logan kembali bersuara.


 


 


"Nina? Nina? Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?"


 


 


Tangisannya semakin deras. Kata "sayang", semakin membuat hatinya teriris. Ia tak sanggup mendengarnya, apalagi pria itu telah berkhianat.


 


 


Tita meletakkan tangannya di bahu Nina untuk menenangkannya, kemudian ia berbisik, "Kalau kamu nggak sanggup, biar aku aja yang ngomong."


 


 


Nina mengacungkan telapak tangannya sambil menggeleng. Tidak, masalah ini dia sendiri yang menyelesaikannya. Tita mengerti akan hal itu, dan memilih meninggalkan Nina agar bisa bebas berbicara dengan Logan.


 


 


"Logan," ujar Nina, setelah bersusah payah menenangkan diri. "Aku sudah melihat video itu. Kamu dan wanita itu … dia ... Kamu telah memperkosanya, 'kan—"


 


 


Bagai ledakan yang dahsyat, menghantam dada Logan hingga matanya mendelik. Tak pernah ia duga bahwa rahasia yang disimpannya rapat-rapat, akhirnya diketahui juga oleh Nina.


 


 


"Nina, aku bisa jelaskan. Semua itu hanya kecelakaan, dan aku tidak—"


 


 


Nina pun menyela, "Logan, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini…."


 


 


Tangis Nina pecah, dan Logan membeku karena terkejut. Hati mereka hancur berkeping-keping. Cinta yang dijaga selama 5 tahun pupus karena kesalahan satu malam.


 


 


Tak tahan lagi membahas soal ini, Nina menutup teleponnya tanpa mengatakan apa pun. Tubuh Logan seketika lunglai. Baru kali ini, ia merasakan sakitnya patah hati dan menangis karena hal ini.


 


 


Iya! Cintalah yang membuatnya lemah.


 


 


🍀


 


 


Semua yang terjadi hari ini membuat Anna semakin cemas.


 


 


"Mungkinkah aku …," gumamnya seperti itu terus menerus.


 


 


Daripada menduga, Anna lebih memilih memastikannya. Sebelum ke rumah, ia mampir ke apotek untuk membeli 5 buah alat tes kehamilan dari berbagai merek.


 


 


Mungkin ini terlalu over, tetapi lebih baik mencari tahu kebenarannya, 'kan? Menduga-duga terus membuatnya stress.


 


 


Anna mencoba alat itu sebelum azan Subuh berkumandang, dengan memakai air kencing pertama yang keluar di pagi hari.


 


 


Pada tes pertama, dua garis merah tertera jelas di alat itu. Anna menggigit bibir bawahnya, mulai cemas.


 


 


"Nggak! Mungkin saja salah! Kan alat ini bisa aja nggak akurat," gumamnya pelan. "Tenang Anna, kita coba lagi pakai test pack merek lain."


 


 


Baik test pack kedua dan ketiga, hasilnya tetap sama. Anna mulai lemas, menyerah, tak mau lagi melakukan tes kehamilan itu. Hasilnya pun tetap "positif", tidak bisa dibantah lagi kalau ia memang sedang mengandung.[]

__ADS_1


__ADS_2