Matthelina

Matthelina
Chapter 7


__ADS_3

Inisial “E”


Matthew duduk di sebuah sofa berwarna krem, memandangi liontin kalung yang ia temukan.


Siapa dia? Apakah “E” itu adalah wanita yang ia peluk dari belakang, yang ia cium, dan disetubuhi olehnya?


Wajahnya tadi terlihat samar, tapi kini ia bisa melihat wajah wanita itu; halus, cantik, dan rapuh seperti itulah dia.


Matthew memejamkan mata.


Betapa bodohnya ia tadi malam. Pikirannya telah dikuasai nafsu, sehingga mengabaikan air mata wanita itu mengalir di pelupuk mata indahnya.


Bagaimana ini bisa terjadi? Sungguh, ia telah membuat sebuah kesalahan, prinsipnya telah dilanggar.


Ia melirik geram pada ponselnya yang telah hancur karena dibanting. Sehabis mandi, Matthew bergegas menghubungi ketiga temannya; nomor Fritz tidak aktif, sedangkan Franz dan Kevin tidak mengangkatnya sama sekali.


Sial! Mereka sengaja menghindar karena sudah tahu reaksi apa yang akan ditunjukkan olehnya nanti.


Lihat saja, ia akan memberi perhitungan saat ini juga! Mereka pasti ada di kamarnya. Ia akan ke sana dan minta penjelasan.


Namun begitu ia menyambangi kamar ketiga pria itu, tak ada satu pun yang membuka pintu. Lantas, ia mencari tahu, apakah ketiga temannya telah check out atau tidaknya.


“Pak, Tuan Fritz telah check out tadi pagi. Kalau Tuan Franz dan Tuan Kevin, masih menginap di hotel ini.” Begitulah jawaban yang Matthew dapat dari petugas hotel.


Matthew bergumam di dalam hati dengan penuh amarah. Jadi kedua pria itu masih di sini? Lihat saja, ia akan memberikan hukuman untuk mereka. Dan si pengecut Fritz, tenang saja, akan ada sebuah kejutan yang tidak akan dilupakannya sesampainya ia di London.


-;-;-;-


“Tempatnya bagus-bagus, tapi Jakarta sangat panas,” komentar Franz, ketika keluar dari dalam lift.


“Ya,” sahut Kevin, perlahan air mukanya berubah murung. “Sayangnya, kita tidak bisa menikmati jalan-jalan tanpa Matthew.” Lalu, ia menghela napas. “Bagaimana cara menghadapinya?”


“Entahlah,” timpal Franz, mengeluarkan sebuah kartu untuk membuka pintu kamarnya. “Aku yakin, Matthew sudah menyadarinya. Coba lihat saja, dia menghubungi kita sampai berkali-kali.”


Franz membuka pintunya, tapi tidak langsung masuk ke dalam. Ia menoleh sedikit pada Kevin, tersenyum, menghapus kegundahannya yang tadi melanda. “Minum dulu di kamarku, yuk.”


Kevin mengangguk setuju. Setelah itu, mereka masuk ke dalam kamar Franz yang gelap gulita.


Franz meraba dinding, mencari tombol lampu. Setelah menemukannya, ia menekan tombol itu, dan lampunya menyala. Namun, mereka mematung, dengan mata melotot seperti sedang dikejutkan oleh sesuatu.


Kejutan! Sosok Matthew terlihat sedang duduk di sofa, memegang sebuah gelas kecil berisi wine yang tidak terlalu penuh, tersenyum misterius yang membuat kedua pria itu bergidik.


“Dari mana saja kalian?”


Memang nada bicara dingin seperti biasanya, tapi kedua pria itu malah merinding, seperti suara bisikan iblis yang dipenuhi oleh amarah.


“Matthew, sedang apa kau di sini?” tanya Franz terbata-bata dan gemetaran.


Matthew mengangkat gelasnya. “Ingin merayakan sesuatu. Biasanya, kita minum bersama di saat seperti itu, kan?”


Kevin dan Franz merasakan firasat yang tidak enak, begitu mendengar ucapannya itu. Mereka mengangguk dan tersenyum dengan terpaksa.


“Oh, ya. Di mana Fritz?” tanya Matthew tiba-tiba berseru, bikin jantung kedua pria itu melonjak.


“Fritz? Dia pulang. Ada urusan penting katanya,” jawab Kevin takut-takut.


Matthew mempererat genggamannya pada gelas. “Pulang? Sayang sekali. Padahal, acara kita ini akan seru jika ada dia.”


Apa ini cuma perasaan mereka saja? Kenapa aura tempat ini semakin mencekam? Apa sebentar lagi kemarahan Matthew akan meledak?


Matthew beranjak dari sofa sambil membawa sesloki wine yang tadi dituangkan dari botol. Kemudian, ia menghampiri Franz, menyodorkan gelas itu ke arahnya.


“Kalau begitu, kita saja yang minum. Ambilah,” kata Matthew.


Franz melihat gelas itu ragu-ragu, lalu pandangannya dialihkan ke Kevin. Pria itu memberikan isyarat anggukan yang meragukan.


Perlahan, Franz meraih gelas itu, akan mengambilnya dari tangan Matthew. Tetapi tiba-tiba, Matthew melemparkan gelas itu sampai pecah ke samping Franz.


Franz dan Kevin mendelik kaget. Tanpa diduga, Matthew meraih kerah kemeja Franz, dan sebuah pukulan mendarat ke pipinya.


Kevin mencoba mendekati mereka dan melerai. “Matthew, hentikan!”


“Minggir!” hardik Matthew, menyikut Kevin. “Giliranmu akan tiba nanti.” Kemudian, Matthew kembali memukul Franz.


Mungkin Franz menyadari kesalahannya, makanya dia tak mengelak pukulan Matthew, ataupun meminta pengampunan. Ia pasrah, jika kesalahan itu bisa ditebus dengan hukuman seperti ini.

__ADS_1


Puas memukul Franz, Matthew membangunkan tubuh Franz dengan menarik kerah bajunya.


“Katakan, kalian bertiga yang menjebakku dengan obat perangsang dan mengirimkan seorang wanita ke kamarku, kan?” tuding Matthew.


Franz dan Kevin tak terkejut jika Matthew sudah menduganya. Tak perlu mengelak lagi, Franz akan menjawabnya dengan lemah.


“Iya.”


Matthew semakin berang. “Kenapa kau lakukan itu?!”


Kevin tak mau kalau hanya Franz yang disalahkan. Maka, ia yang menyahuti, “Semua itu idenya Fritz.”


Matthew menoleh tajam. “Fritz? Sudah kuduga dia otaknya,” dengusnya.


“Maafkan kami, Matthew. Tadinya maksud kami hanya ingin membawamu jalan-jalan saja, tetapi Fritz memberi ide seperti itu,” ujar Kevin.


Matthew melepaskan genggamannya dari kerah baju Franz dengan kasar, kemudian berjalan menghampiri Kevin.


“Lalu, kenapa kalian menyetujuinya?” bentak Matthew.


Kevin menunduk, menyesal. Matthew benar, kenapa mereka memaksakan Matthew untuk melanggar prinsipnya, sekalipun tak disengaja oleh Matthew. Ia tak menjawab pertanyaan Matthew, hanya meminta maaf dengan penuh penyesalan.


Matthew menggeram, mengacak rambutnya dengan frustasi. “Kalian tahu, siapa wanita yang kalian kirim itu?”


“Ya. Namanya Elina,” sahut Franz memelas.


“Di mana dia tinggal?”


Kevin maju selangkah ke arah Matthew. “Kami tidak tahu. Franz dan Fritz menyewanya dari rumah pelacuran Angel’s Club.”


Nama itu terdengar tidak asing. Tapi tunggu dulu, “rumah pelacuran”? Mungkinkah….


“Elina seorang pelacur?” gumam Matthew mengernyit.


“Iya. Tapi dia pelacur baru. Kau mendapatkan gadis yang masih suci,” timpal Franz, yang sedang dibantu Kevin untuk berdiri.


Matthew terdiam—dari tatapannya ke arah lain terlihat tidak tenang. Sepertinya, dia sedang berpikir. Matanya tiba-tiba melirik kedua temannya, membuat mereka langsung bergidik.


Tanpa mengatakan apa pun, Matthew pergi dari tempat itu dengan langkahnya yang panjang dan terburu-buru. Mau ke mana dia? Itulah yang ingin diketahui oleh Kevin dan Franz. Mereka saling memandang.


-;-;-;-


Bergegas ia menyelesaikan riasannya, lalu keluar kamar dengan ditemani oleh seorang pengawal. Pria itu sedang menghadap ke belakang, entah apa yang membuatnya tertarik pada rumah mewahnya.


Senyum menggodanya terkembang semakin lebar. Pria tinggi dan kekar, begitu ideal. Apa dia mau menyewa salah satu pelacurnya?


Matthew berbalik, menyadari Mami Sarah telah datang. Ditatapnya wanita cantik itu, yang kini malah terpesona pada ketampanannya. Mami Sarah tidak jadi duduk di sofanya, malah menunjukkan sisi anggunnya, dengan cara ia berjalan menghampiri Matthew.


“Halo, ada yang bisa saya bantu?” ucap Mami Sarah, mengerahkan seluruh pesonanya. Ujung jari telunjuknya mulai bermain di wajah Matthew, mengusap lembut dagunya.


Namun, Matthew tampak tidak tertarik. Ia mengenggam tangan itu, menjauhkannya dari wajahnya. Menatap dingin wanita itu. Mami Sarah terkejut. Baru kali ini ada yang menolak pesonanya.


“Apa kau tahu di mana rumahnya Elina?” tanya Matthew tanpa berbasa-basi lagi.


“Elina? Ya, dia adalah gadis yang menjual tubuhnya di sini,” jawab Mami Sarah sambil berjalan ke sofa.


“Di mana dia tinggal?”


Mami Sarah menaikkan alisnya sebelah. “Kenapa Anda ingin tahu?”


“Jawab saja!” sahut Matthew dongkol.


“Aku tidak tahu. Dia datang bersama pelacurku, Raima, yang juga teman Elina,” jawab Mami Sarah, yang sama sekali tidak terprovokosi pada emosi Matthew.


Benarkah wanita ini tidak tahu? Matthew menghela napas panjang. Sekarang, yang ia cari terlebih dahulu adalah Raima.


Matthew terpaksa pergi dari tempat itu dan harus puas dengan hasil pencariannya malam ini. Untungnya, ia berhasil membuat Mami Sarah memberitahukan alamat rumah wanita yang bernama Raima.


Sekitar kurang lebih setengah jam, Matthew sampai di alamat yang diberikan oleh wanita itu. Ternyata jarak rumah Raima dengan rumah pelacuran cukup dekat, tapi harus masuk gang dulu sebelum mencapainya. Jadi, Matthew memarkirkan mobilnya di luar jalan menuju rumah Raima.


Rumah berwarna hijau toska, itu petunjuk yang diberikan oleh orang yang ditanyakannya di jalan. Matthew telah sampai di depannya, dan langsung mengetuk pintu.


“Sia … pa?” Ucapan Raima terputus-putus karena terpukau melihat seorang pria tampan muncul di depan rumahnya.


Seorang pria asing yang memiliki tubuh atletis, tinggi, dengan dagu terbelah. Wajahnya sangat aristokrat, sangat mirip seperti pangeran. Aroma parfum menyentuh hidung Raima, tubuhnya sangat wangi dan menggairahkan. Apa dia datang untuknya?

__ADS_1


“Raima?”


Raima tercengang sesaat dalam lamunannya, lalu menjawab dengan terbata-bata. “Yes. Who are you?”


Matthew tersenyum mendengar pengucapan bahasa Inggris Raima yang tidak lurus.


“Saya bisa berbahasa Indonesia,” kata Matthew.


Raima tersipu. “Silakan masuk….”


“Tidak usah,” sela Matthew terburu-buru. “Kau temannya Elina?”


Kecewa sekali, ternyata dia mencari Elina. “Iya. Kenapa, Mister?”


“Matthew,” sahut pria itu, yang tidak suka dipanggil begitu.


Tapi Raima masih saja canggung. “Iya, Mister Matthew.”


Pria itu menggelengkan kepalanya, heran.


“Elina … saya tahu di mana rumahnya. Tapi saat ini, dia sedang bekerja. Di rumahnya juga tidak ada orang,” kata Raima melanjutkan.


“Bekerja?”


-;-;-;-


Walaupun uang 80 juta sudah didapatkannya, tapi Elina masih bekerja di klub malam sebagai pelayan.


Elina berjalan canggung karena bajunya yang sangat ketat, berjalan ke sebuah meja seorang pria setengah baya yang tadi memanggilnya.


“Hei, cantik. Sini, tuangkan segelas minuman untukku,” katanya, tatapannya nakal—tak lepas dari belahan dada Elina yang sangat terlihat.


Elina hanya sedikit membungkuk saat melakukan perintah itu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria tua itu, makanya sikapnya berhati-hati. Setelah gelas terisi, Elina memberikannya pada pria itu.


Gemas dengan sikap sok jual mahal Elina, lantas pria itu menariknya ke dalam pangkuannya.


Elina terkejut, sekaligus marah. “Apa yang kau lakukan?”


“Ayolah, jangan sok jual mahal gitu? Aku akan membuatmu senang malam ini,” kata pria itu, memaksa Elina menciumnya dan tangannya mulai menggerayangi pahanya.


Elina menjerit, lalu spontan menjauhkan diri dari pria itu. Matanya melotot marah, tanpa pikir panjang, menampar pria itu.


Suasana di sekitar tempat itu membeku. Semua orang menoleh dengan ketercengangannya. Pria itu terkejut sambil memegangi pipinya, lalu berdiri menghadap Elina.


“Dasar wanita murahan!” hardiknya, menampar balik Elina.


Kemudian, pria itu meyuruh pengawalnya untuk menyeret Elina ke mobil. Tentu saja, Elina meronta. Akan tetapi, perlawanannya berhasil dipatahkan, pengawal itu menggendong Elina di pundaknya.


Tubuh Elina dihempaskan ke dalam mobil. Pada saat Elina mencoba keluar, pria tua itu menyergap tangannya dan mengikatnya.


“Antarkan kami ke Heaven Hotel,” perintah pria itu pada supirnya.


Elina mendelik. Hotel? Apa pria itu mencoba memperkosanya? Elina tidak mau hal itu terjadi. Ia mencoba meronta lagi, tapi pria itu semakin beringas. Satu tamparan keras didapatkannya lagi.


“Diam! Kalau kau tidak bisa dengan cara lembut, maka aku akan melakukannya dengan cara kasar!” ancamnya membentak.


Elina tak bisa berkata, hanya terisak dalam diamnya selama perjalanan menuju hotel.


Sesampainya di sana, pengawal tadi memesan hotel, dan pria tua itu membawa Elina ke kamar setelah mendapat kuncinya.


Pria itu menghempaskan tubuh Elina ke ranjang, tak sabar langsung **** tubuh Elina. Terpaksa dia merobek pakaian Elina, karena gadis itu mencoba melawan.


Berahi pria itu meningkat, melihat kemulusan tubuh Elina yang sangat putih. Pria itu mulai melepas paksa bra Elina, tapi gadis itu berusaha mencegahnya.


“Jangan … aku mohon. Jangan,” tangis Elina.


Sepertinya pria itu tidak peduli pada tangisan Elina. Yang terpenting baginya adalah, nafsunya yang harus tertuntaskan.


Wajah pria itu mendekat, akan mencium bibir Elina. Namun, hal itu tidak terjadi. Seseorang menjauhkan tubuhnya dari Elina, lalu dia terkapar ke lantai karena terkena pukulan yang tidak mampu dibalasnya.


Elina mendelik kaget, bergegas menutupi tubuhnya dengan selimut saat perkelahian di depan mata terjadi.


Pria yang menolongnya itu berhasil mengalahkan pria tua itu dan pengawalnya. Lalu, pria berparas tampan, yang kini wajahnya telah dipenuhi beberapa luka lebam, menghampiri Elina.


“Kau tidak apa-apa, Elina?”

__ADS_1


Elina tercengang. Ingatan pada malam itu berputar lagi di kepalanya. Matthew, pria yang pertama kali menyentuh tubuhnya, kenapa bisa ada di sini?[]


__ADS_2