
Seorang pria berkacamata bersembunyi di balik sebuah tembok rumah bercat kuning. Dia memperhatikan rumah kontrakan yang ditempati Elina dari kejauhan.
Penyelidikannya ternyata tidak sia-sia, sebuah mobil berwarna hitam memasuki rumah itu. Si pemilik mobil ternyata Matthew. Pria itu keluar dari mobil, mengeluarkan beberapa kantong belanjaan dari bagasi. Kemudian, dia mengetuk pintu; seorang wanita hamil muncul dan mempersilakan Matthew masuk. Pria misterius itu terkejut. Wanita itu adalah seseorang yang disuruh bosnya untuk diselidiki.
Ini info yang bagus. Pria itu bergegas mengambil ponselnya dari saku celananya, mencari nomor Tuan Jonathan. Responnya cepat, baru pada dering kelima, Tuan Jonathan telah mengangkatnya.
"Bos, ada berita bagus," ujarnya, senyumnya licik.
Pria itu menceritakan apa yang telah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia juga memberitahukan alamat rumah yang sering dikunjungi Matthew.
Bosnya itu tersenyum puas, dan juga memuji hasil kerjanya. Sebuah bonus ia janjikan akan dikirimkan lewat rekeningnya. Dengan ini, kerja sama di antara keduanya selesai.
Seperti perkiraan Matthew, papanya yang mengutus pria asing itu. William, langsung meluncur ke Jakarta untuk melakukan pekerjaan berikutnya: mendatangi alamat wanita itu tinggal.
Kini, ia telah berada di rumah ini, duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan Elina. Pria tua itu memperkenalkan diri pada Elina, yang sudah mengingatnya dari foto keluarga Matthew. William. G. Jonathan, ayah Matthew
"Saya Elina," giliran ia yang memperkenalkan diri setelah William. "Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Anda datang ke sini?"
William tersenyum. Tipe inikah yang anaknya suka? Lugas dan tenang. "Aku mau menawarkan kesepakatan."
Elina mengernyit, kurang paham. "Maksud Anda?"
"Kau butuh berapa? seratus? Dua ratus? Ah..." William mengeluarkan sebuah cek dari saku bajunya, menuliskan sebuah nominal angkal dan membubuhkan tanda tangan di atasnya. Kemudian, cek itu diberikan kepada Elina. "Delapan ratus juta. Kurasa cukup? Sepuluh kali lipat dari harga tubuhmu yang kau jual ke germo itu."
Kali ini rasa sopannya pada pria itu telah hilang. Elina melirik marah. Apa ini? Pria tua itu melecehkannya?
"Maaf, saya tidak bisa terima ini," kata Elina mengembalikan ceknya ke meja William.
Wanita serakah. Baiklah, ia tak masalah berapapun yang dia minta. "Kurang? Katakan berapa yang kauminta...."
"Apa maksud Anda?" sela Elina geram.
"Ini adalah kesepakatan; kau terima uang itu, dengan syarat," William memajukan tubuhnya dan berkata dengan nada angkuh, "kau pergi dari kehidupan Matthew."
Elina mendelik. Meninggalkan Matthew?
"Matthew adalah pewarisku, dan kau sama sekali tidak pantas menikah dengannya. Status kalian berbeda, dan anak itu, tidak akan aku anggap bagian dari keluarga ini." William duduk bersandar di punggung sofa.
Elina tak dapat mengatakan apa pun. Ya, memang benar, dia tak sepadan dengan Matthew, inilah yang telah ia pikirkan sejak lama. Tapi hati ini ... kenapa begitu sakit? Kenapa ia tak rela menyanggupi permintaan William, padahal sudah ditawarkan uang yang begitu banyak?
Ia menunduk, tangannya bergetar karena susah payah menahan air matanya untuk keluar. Luka di hati semakin perih dan menganga, apalagi saat William menambahkan bahwa Matthew akan dijodohkan dengan seorang wanita berstatus sama dengannya.
William beranjak dari tempat duduknya. "Kau pikirkan saja dulu penawaranku itu. Aku harap, kau tidak membuat keputusan yang salah."
Pria itu berlalu. Dan saat pintu tertutup, tangis Elina pecah. Ia memegangi perutnya, di mana bayi di dalam kandungannya menendang-nendang perutnya. Ia tahu, anaknya juga merasakan hal yang sama, tapi apa yang harus ia lakukan?
Ia tak ingin berpisah dengan pria itu. Ia ingin sampaikan padanya nanti bahwa ia mencintainya, bahwa ia bersedia menggenggam tangannya, bersumpah sehidup-semati di hadapan Tuhan, dan membesarkan buah cinta mereka bersama-sama. Merengkuh kebahagiaan sampai maut memisahkan.
__ADS_1
Tetapi apa daya, dinding besar berada di tengah mereka, yang tak bisa dipanjat maupun dihancurkan.
"Matthew, aku mencintaimu. Katakan padaku, aku harus bagaimana?" isaknya.
-;-;-;-
Matthew menatap uluran tangan wanita itu. Karenina Adams, anak dari seorang pengusaha elektronik terbesar di Inggris. Ia dengar, perusahannya yang ada di Inggris sedang mencoba bekerja sama dengan perusahaan itu. Tetapi semua orang tahu, bahwa sebuah kerja sama akan berjalan baik dan saling percaya jika terdapat sebuah ikatan. Pernikahan.
Ia mendengus. Ini pasti trik ayahnya. Mana sudi ia menjabat tangan wanita itu, apalagi menikah dengannya. Lupakan saja! Itu hanya dalam mimpimu Tuan William!
"Aku masih ada janji. Jadi maaf, saya permisi," katanya datar dan dingin, lalu akan berbalik.
"Apa kita tidak bisa mengobrol sebentar?" seru Karenina, buru-buru bangkit dari tempat duduknya.
Matthew menoleh sedikit. "Jika yang ingin dibicarakan soal perjodohan, aku tidak mau membahasnya. Beritahukan pada ayahku dan kedua orangtuamu: tidak akan ada pernikahan di antara kita. Aku mencintai orang lain."
Tegas dan jelas. Matthew rasa itu sudah cukup sebagai bentuk penolakan yang tak perlu ditanyakan lagi alasannya. Ia pergi dari tempat itu, tak memedulikan hancurnya hati Karenina yang telah tertarik padanya sejak melihatnya di berbagai majalah bisnis di Inggris. Ketampanan dan kecerdasan yang dimiliki, adalah daya tarik yang membuatnya jatuh cinta padanya.
-;-;-;-
Cukup. Pria yang ia sebut sebagai ayah itu, tidak bisa mengatur hidupnya lagi. Ketika mobil dilajukan meninggalkan hotel, ia segera menghubungi papanya. Ia tahu bahwa pria itu ada di Jakarta. Maka, ia akan menemuinya dan membicarakan hal itu sekarang juga.
Kebetulan William sedang berada di rumah. Saat ia memasuki ruang tengah, pria itu tengah menikmati teh yang disajikan oleh Dewi. Keduanya menoleh, dan Dewi langsung menyapa, berbeda dengan William yang tampak tak acuh sambil menyeruput tehnya.
"Apa maksudnya ini?" Matthew sudah tahu, William pasti mengerti arah pembicaraan ini.
Dewi menatap kedua pria yang disayanginya secara bergantian. Bingung, bertanya-tanya: ada apa ini? Kenapa Matthew membentak ayahnya?
Matthew mendelik. Bagaimana pria itu tahu soal Elina? Ia melirik pada ibunya--mungkinkah Dewi yang memberitahu? Sial, ia hampir lupa! Tentu saja, mata-matanyalah yang menginformasikannya.
"Kau sedang berusaha menjodohkanku dengan Karenina, kan?" hardik Matthew.
"Kau memang anak yang cerdas. Kau tahu, kan, perusahaan kita dengan perusahaannya mengadakan kerja sama?"
"Aku tak peduli!" sahut Matthew geram. "Aku menolak perjodohan itu!"
Perjodohan? Dewi juga tidak setuju. Ia pun turut angkat suara. "Iya, William. Kau tak bisa menjodohkannya dengan wanita lain. Matthew mencintai seorang wanita yang sedang mengandung anaknya.
Tak perlu mendikte, William sudah tahu dan tak peduli. "Tapi mereka belum menikah kan?"
"Menikah atau tidaknya, aku tetap tidak akan menerima perjodohan itu!" Matthew menegaskan, lalu akan beranjak pergi.
Tapi tidak semudah itu. William akan membuat Matthew berubah pikiran dan menurutinya. "Tunggu, Matthew!"
Matthew berhenti, tetapi tidak berbalik. Entah apa yang mau dikatakan pria tua itu lagi.
"Baik, jika kau memilih wanita itu. Tapi, kau tidak boleh menginjakkan kakimu di rumah ini lagi!" ancam William.
__ADS_1
Matthew mendelik, sementara Dewi terkejut bukan main.
"Apa-apan ini, William? Kau tak boleh mengusirnya dari rumahku!" jerit Dewi memprotes.
William hanya melirik, tak menggubris. "Dia juga tidak berhak atas semua harta warisan, dan namanya juga dicoret dari daftar keluarga."
"WILLIAM!" jerit Dewi disertai tangisan.
Matthew memejamkan mata, pedih. Begitu kejam ayahnya mengancamnya seperti itu. Begitu niatnya dia menghancurkan kehidupan putra satu-satunya.
Dengan tertatih dan dibantu oleh tongkat, William beranjak dari kursinya. Tangannya ditegadahkan ke arah Matthew, seperti seseorang yang sedang meminta. "Kembalikan semua fasilitas yang aku berikan dari hasil perusahaanku."
Serius? Baiklah. Lagi pula, Matthew tak membutuhkan apa pun dari papanya. Ia mengacungkan kunci mobil ke hadapan William, yang kemudian diletakkan di atas meja. Jam tangan emas yang melekat di pergelangan tangannya, juga ia lepaskan. Lalu dompet, bergabung dengan kedua benda itu, bersama dengan ponselnya, yang merupakan benda terakhir yang harus diserahkan pada William. Hanya tinggal pakaian saja yang melekat di badan.
Matthew pergi dari rumah itu tanpa membawa apa pun. Tetapi, ia masih memiliki Elina yang ia cintai, yang takkan ia biarkan pergi. Semua benda itu tidak ada artinya, dibandingkan dengan keluarga kecilnya yang akan segera ia bentuk bersama dengan wanita itu.
Kini, tujuannya adalah rumah kontrakan yang ia sewa untuk Elina. Meski harus berjalan kaki, akan ia tempuh sejauh apa pun itu. Tak peduli pada hujan yang mengguyur deras tubuhnya.
Malampun tiba menjemput. Bumi masih dibasahi oleh hujan yang tak kunjung reda, dan petir yang saling bersahutan. Elina duduk di tepi jendela dekat pintu sambil menatap ke arah luar. Sepi dan dingin. Ia mengelus perutnya, merasakan bayinya menendang-nendang, bersamaan dengan bunyi dentuman kilat.
"Kau takut, ya?" ucap Elina lirih, mengusap lembut perutnya. "Itu petir, tidak akan menyambar selama kita di dalam rumah. Tenanglah, di sini ada Mama yang selalu bersamamu."
Si jabang bayi kembali tenang, dan Elina berhenti mengelus. Pandangannya kembali ke luar, memangku dagunya dengan tangan. Sekelebat bayangan melintas, di mana setiap kenangan indah, lucu, dan mendebarkan bersama dengan Matthew.
"Mama juga takut, Sayang," gumamnya lirih. "Mama takut kehilangan cinta Mama. Mama tak ingin dipisahkan oleh Papamu."
Tiba-tiba matanya terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk matanya, lalu mengalir perlahan ke pipinya. Diusapnya air mata itu.
Embun menutupi jendela, sehingga pandangan di luar menjadi kabur. Jari telunjuknya di arahkan ke kaca jendela, digerakkan membentuk sebuah nama dari seorang pria yang telah terpatri di dalam hatinya. Matthew.
Pada celah huruf "M" yang ia tulis, sesosok pria tengah berdiri di depan pagar. Ia terlonjak, spontan berdiri dari kursinya. Lalu, menghapus seluruh embun yang menempel di kaca jendela, agar dapat melihat sosok itu dengan jelas.
Setelah jelas siapa sosok itu, Elina bergegas meraih payung, membuka pintu dan menghampiri seseorang yang juga menghampirinya melewati pagar.
Matthew datang dengan tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan. Elina langsung memayunginya, sesampainya ia di hadapannya. Raut wajah Elina terlihat cemas, tapi tak ada ucapan yang keluar dari mulutnya dalam beberapa detik. Memuaskan diri dalam rindu, dan menghilangkan kegundahan yang dirasakannya seharian ini.
Tatapan Matthew menyendu. Dirogohnya saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah cincin emas putih, yang diacungkan ke arah Elina.
"Elina, aku tidak akan kapok memintamu, sekalipun aku tahu kau menolaknya," ucapnya kemudian. "Elina, menikahlah denganku."
Elina menatapnya tercengang. Cincin itu diliriknya sambil menimbang-nimbang, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada wajah tampan itu. Di matanya terlihat ada keraguan karena masalah yang terjadi hari ini.
Matthew menunggu dengan resah. Tetapi kini, melihat Elina tertunduk, kekecewaannya muncul. Perlahan, tangan yang memegang cincin terkulai dan jatuh. Hilang sudah harapannya. Mungkin, impian membina keluarga kecil yang bahagia bersama dengan Elina tertunda, atau bahkan musnah.
Elina melirik dan mendongak. Payung yang ia pegang disingkirkan sedikit. Ia berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Matthew. Tanpa pria itu duga dan tak bisa dihindari, Elina mencium bibirnya.
Karena tubuhnya pendek, dan kakinya tak tahan terlalu lama berjinjit, Elina terpaksa melepas ciumannya. Tetapi Matthew tak rela itu terjadi. Matthew meraih pinggangnya dan mendekapnya, lalu gantian memangut bibir yang selama ini ingin ia dambakan.[]
__ADS_1
**Ini adalah chapter terakhir di minggu ini. aku kasih judul love in rain (eh, yang ini kayak judul drakor hehehe). Malam minggu ini ditemani sama kisah baper dan membahagiakan atau mengharukan? (nggak yakin kayaknya deh 😅) bukannya sengaja, emang begitulah outline yang kutulis. Kukira bakal di up hri jumat, tapi pas banget sabtu.
Okelah. selamat baca aja. Makasih udah like dan komen. Sampai jumpa dichapter selanjutnya.**