Matthelina

Matthelina
Chapter 45


__ADS_3

Elina menatap wanita yang sedang berjalan di sampingnya. Tak pernah menyangka bahwa wanita yang dulu ia panggil "Nyonya", kini ia panggil dengan sebutan "Kakak". Bukan apa-apa, tapi Monika yang memaksa.


Katanya: "Karena kau akan menikah dengan adikku, jadi kau harus panggil aku 'kakak' oke! Harus!" Elina hanya nyengir saat mendengarnya.


Langkah mereka berhenti di sebuah butik yang menjadi tempat langganan Monika. Hari pertama adalah jadwalnya mereka memesan gaun pengantin.


Sejak hari lamaran itu, Monika sudah mengajukan diri untuk mengurus semua persiapan pernikahan. Benar-benar niat banget! Sore hari, bertepatan dengan keluarnya Elina dari kantor, Monika menjemputnya, bersama dengan Justin, yang saat ini sedang Elina gendong.


"Gaun sangat penting untuk acara pernikahan. Jadi, kita memilih gaun dulu, oke!" cetusnya semangat.


Elina hanya tersenyum saja dan menurut.


Seorang pelayan menyapa mereka, terlebih lagi pada Monika yang sangat dikenalnya. "Mau beli gaun pengantin?" tanyanya, setelah Monika menjelaskan kedatangannya ke sini. "Baiklah, silakan ikut saya."


Pelayan tadi membawa mereka ke sebuah ruangan yang terdapat banyak gaun pengantin yang indah. Tidak hanya berwarna putih, ada yang juga berbagai jenis warna gaun, yang dipadupadankan dengan aksesoris, dan rancangan yang memukau. Elina langsung terpesona melihat jejeran gaun terpajang di ruangan ini.


"Mbak, tolong gendong Justin," panggil Monika pada pengasuh anaknya. "Sini, Elina. Kita lihat gaun yang ada di sudut sana."


Setelah Justin berpindah tangan dari Elina ke pengasuh itu, ia berjalan mengikuti Monika, di mana sebuah gaun terpajang dalam etalase khusus.


"Gimana menurutmu?" tanya Monika. "Temanku yang punya butik ini, sewaktu kami kuliah di Belanda. Dulu, aku pernah minta dia membuatkan aku gaun, tapi gaun yang kuminta dia untuk dirancang tidak jadi aku pakai."


Karena Monika tidak menikah dengan orang yang dicintainya, itulah alasan yang Elina simpulkan. Lalu, apa hubungannya dengan Elina? Apa ia yang akan memakai gaun ini?


Si pelayan datang bersama dengan wanita yang Monika ceritakan tadi. Anastasia Evangelista, seorang desainer terkenal di dunia yang berparas cantik dan rendah hati. Tentu saja, Elina mengenalnya lewat televisi. Senang sekali bisa bertemu dengannya. Apalagi, dia teman dekatnya Monika.


"Anas," sapa Monika sembari menghampiri wanita itu, lalu memeluknya. "Apa kabar? Mana Bella?"


"Kabarku baik, begitu juga dengan Bella. Dia ada di rumah sekarang." Senyumnya perlahan memudar sekejab, begitu melihat sosok wanita yang berdiri di belakang Monika. "Siapa dia, Monik?"


Monika menghela Anastasia ke hadapan Elina. "Calon istrinya Matthew. Elina, kenalkan ini Anastasia, temanku waktu kami kuliah di Belanda."


Elina menjabat tangan Anastasia. Wah, dia sangat ramah, seperti yang diberitakan.


"Monik, Matthew pintar juga cari istri. Dia cantik," puji Anastasia sambil tertawa kecil. "Hmm ... jadi, kau datang ke sini mau memberikanku undangan?"


"Bukan. Kau tidak perlu undangan, datang saja nanti ke acara pernikahan mereka. Aku ke sini mau membeli gaunmu," kata Monika.


"Pilihlah gaun yang kau suka." Anastasia mengalihkan perhatiannya pada Elina, dan membimbingnya ke sebuah gaun yang dipajang di sudut kirinya. "Apa kau suka ini?"


Gaun putih dengan pundak terbuka, yang terbuat dari kain yang sangat halus saat Elina pegang. Kesannya elegan, dengan pernak-pernik yang terbuat dari rubi merah, yang menghiasi gaun.


Cantik, tapi Monika sama tidak setujunya dengan Elina. "Yang memakainya adalah gadis istimewa yang sangat sederhana. Elina pasti tidak nyaman memakainya."


Tanpa menganggukpun, Elina membenarkan ucapan itu.


"Bisa tunjukkan gaun yang sesuai dengan kepribadiannya?" kata Monika lagi. "Aku melihat gaun rancangan yang kaubuatkan dulu untukku. Bagaimana kalau yang itu saja?"


"Iya, tapi kan gaun itu khusus untukmu."


"Memang. Tapi aku tidak menginginkannya lagi. Anggap saja, itu adalah hadiah dariku untuk adik iparku ini." Saat Monika mengatakannya, ia melirik pada Elina.


Anastasia akhirnya menyetujuinya. Kemudian, ia meminta Elina untuk mengepaskan gaunnya di ruang ganti. Saat keluar, semua orang terpana, bahkan Monika sampai memotretnya dan mengirimkannya ke nomor ponsel Matthew.


"Cantik nggak?" tulisnya keterangan di bawah foto.


Matthew yang saat itu sedang makan siang, langsung membaca pesan gambar yang dikirimkan Monika. Ia tersenyum dan membalas pesannya.


"Cantik orangnya." Tapi kemudian, ia mengirim pesan lagi. "Gaunnya juga cantik."


Monika terkekeh membaca pesan adiknya itu, sampai Anastasia penasaran dan bertanya:

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang lucu?"


"Iya, tadi ada pesan WhatsApp yang masuk," jawab Monika, setelah tawanya reda.


"Jadi, bagaimana menurutmu?"


Monika memperhatikan sekejab. Sepertinya, ukurannya agak sedikit kebesaran dan kepanjangan. Itu karena Anastasia memakai ukuran tubuh Monika saat menjahit gaun itu.


"Kecilin sedikit ukuran pinggangnya, terus pendekin gaunnya sesuai tinggi badan Elina," ujarnya.


Anastasia mengerti dan langsung memerintahkan pegawainya untuk menyimpan gaun itu. Monika melihat Elina berjalan ke arah salah satu gaun, saat Anastasia menghelanya untuk dibawa ke sofa di depan ruangan ini.


"Elin, lihat-lihat saja dulu. Aku sama temanku ngobrol di luar," katanya.


Elina tertegun dan menoleh. "Ah, iya, Kak." Kemudian, Elina melihat gaun yang dipajang itu.


Tangannya memegang gaun itu, begitu halus dan cantik. Rancangannya memang tidak sederhana, tapi gaun-gaun ini dibuat dengan kain yang mahal. Selain itu, desainnya yang luar biasa. Tak salah jika banyak orang yang membeli gaun di sini, tak peduli seberapa banyak uang yang harus dikeluarkan sekalipun.


Elina tertegun saat ponselnya berbunyi--sebuah pesan masuk. Matanya membulat menerima beberapa buah pesan dari kekasihnya yang sedang jauh di sana. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya sedang memakai gaun yang dipilihkan oleh Monika. Di bawahnya ada keterangannya: "Aku tak sabar ingin memiliki seutuhnya wanita tercantik ini." Lalu, ada emotikon orang sedang mencium.


Elina tersenyum sambil menutup mulutnya. Setitik air mata haru menggenang di sudut matanya. Kemudian, ia pun membalas.


"Iya, aku juga tidak sabar untuk menikah denganmu."


Tak lama kemudian, balasan dari Matthew masuk. "Hanya begitu? Kau tidak romantis."


Sambil bergumam kecil, Elina mengetik balasannya. "Biarin. Aku memang nggak pintar ngegombal sepertimu."


Elina berjalan lagi ke arah gaun lainnya sambil sebentar-sebentar mengecek ponselnya. Kok nggak ada balasan? Sudah hampir 10 menit. Mungkin Matthew sibuk? Tetapi, baru akan menyimpan ponselnya di tas, ada pesan baru masuk.


"Yang kukatakan semuanya berasal


Hati Elina langsung mencair bagai lelehan gunung es yang terkena hangatnya sinar matahari. Ia percaya bahwa itu bukan sekadar kata, ia telah membuktikan hangatnya cinta Matthew selama ini.


Seperti yang ia bilang tadi, Elina tidak bisa ngegombal, tapi ia tetap akan membalas seperti yang ada di dalam hatinya, dengan mata tergenang oleh tangis haru.


"I Love you, my only one."


-;-;-;-


Elina langsung menyandarkan diri di sofa sambil menghela napas. Capek! Pergi ke butik, makan-makan dan mengobrol, lalu jalan-jalan ke mall.


"Besok apa lagi?"


Frasya datang menghampiri, lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum. Di tepuknya paha kakaknya itu, hingga Elina menoleh padanya.


"Kenapa, Kak?"


"Capek. Pijitin dong," kata Elina.


"Enak aja! Aku juga capek."


"Capek ngapain?"


"Belajar. Mau semesteran tahu!"


Kemudian, mereka hening sejenak, sampai Frasya menanyakan kegiatan yang telah dilakukannya hari ini.


"Beli gaun pengantin, makan, jalan-jalan... udah, gitu aja," jawab Elina.


"Kalau besok?"

__ADS_1


"Pilih kartu undangan, suvenir...."


Kalau membayangkan semua persiapan itu, membuatnya lelah. Selama seminggu, ia akan berkutat pada kegiatan itu. Tapi ia berpikir, setidaknya semua itu akan terbayarkan dengan kebahagiaan bersama cintanya. Tiba-tiba ia terkesiap, teringat oleh sesuatu.


Oh, iya! Ada pemotretan prewedding lusa! Apa Matthew akan pulang ke Jakarta tepat waktu?


Lantas, ia mengecek ponselnya. Jari-jarinya dengan cepat mengetik sebuah pesan untuk Matthew. Namun, jari-jari itu perlahan berhenti. Beberapa detik kemudian, ponsel itu diletakkan di atas meja.


Frasya menatapnya dengan heran. Tadi Elina terlihat resah dan terburu-buru mengutak-atik ponselnya. Kini, ia terdiam dan bersandar lagi di sofa?


"Kenapa, Kak," tanyanya, kedua alisnya naik.


"Nggak ada." Elina berdiri, mengambil tas dan handphone-nya, lalu beranjak ke kamar. "Tidur dulu ya?"


Dihempaskan tubuhnya ke ranjang, setelah masuk ke dalam kamar. Tas dan ponsel diletakkan di atas nakas, sebelum meletakkan sepatu hak tinggi hitamnya di dalam lemari kecil yang berisi berbagai macam sepatu.


Riasan belum dibersihkan, baju juga belum diganti, dan belum membersihkan badan, tapi ia sudah terlelap duluan. Matanya yang sudah berat mengkhianati aturannya yang selama ini ia terapkan dalam hidupnya.


Tadinya, ia tidak akan terbangun oleh apa pun, kecuali ada bencana dan suara panggilan Ibu. Tapi matanya seketika mendelik, mendengar suara nada dering notifikasi.


Entah karena hati mereka sudah saling menyatu, Elina terbangun oleh pesan masuk dari Matthew. Senyumnya merekah, meski mata telah setengah terkatup.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam. Aku harap kau membacanya, tidak apa jika tidak dibalas sekalipun. Good night, my love."


Ponsel diletakkan, dan Elina terbaring dengan senyum bahagia. Mungkin malam ini, ia akan bermimpi indah."


-;-;-;-


Retro studio photo. Itu yang tertulis di pesan WhatsApp, yang dikirimkan oleh Monika. Wanita itu tidak datang karena harus menemani Justin ke rumah sakit. Anak itu sedang demam.


Karena janji yang dibuatnya pagi hari, Elina terpaksa ijin tidak masuk kantor, dan pergi sendirian ke studio foto itu.


Tapi masalahnya... masa ia foto sendirian sih? Kan foto prewedding sama pasangan, sedangkan Matthew saja belum datang.


Elina berbalik badan, tidak jadi melanjutkan langkahnya ke arah pintu masuk studio. Dicobanya menghubungi Monika, yang tersambung saat panggilan ketiga.


"Halo, Kak. Jadwal pemotretannya ditunda aja, ya?"


"Lho, kenapa?" jawab Monika terdengar heran.


"Ya kan, Matthew belum pulang. Aku tidak mungkin ambil gambar sendirian."


Elina tak mendengar bahwa ada suara langkah mendekat ke arahnya. Begitu Monika menjawab lagi, Elina merasakan pundaknya ditepuk. Otomatis Elina menoleh, ucapan Monika di telepon tak didengarkan sampai tuntas.


"Nanti kita ngobrol lagi ya, Kak?" tutup Elina.


Pandangannya kembali ke arah pria yang telah menyakitinya bertahun-tahun yang lalu. Pria itu sedang membawa kamera di tangannya, tersenyum renyah padanya seolah lupa pada masa lalu, memandangnya dengan tatapan terpukau.


"Hei, Elina. Apa kabar?" ucapnya begitu ramah.


Sudah lebih dua tahun berlalu, seharusnya rasa sakit hati itu terlupakan. Apalagi, kini Elina telah memiliki seseorang yang membuatnya tersenyum, dan akan membahagiakannya. Sudah saatnya memaafkan pria ini.


Elina tersenyum. "Kabar baik. Bagaimana kabarmu, Austin?"


Austin merentangkan tangannya. "Seperti yang kau lihat? Oh ya, sedang apa kau di sini?"


"Aku...."


"Tentu saja ingin melakukan foto prewedding," sahut seseorang di belakang Elina.


Keduanya menoleh ke arah suara itu. Elina tersenyum melihat Matthew telah kembali ke Jakarta. Ini sebuah kejutan! Pria itu berjalan ke arah Elina, berdiri di sampingnya dan merangkul pundaknya.[]

__ADS_1


__ADS_2